Chapter 1
'Pekerjaan sebagai editor adalah hal yang kuimpikan sejak dulu.'
Aku mengulang kata-kata itu berkali-kali dalam pikiranku. Sudah seperti kaset rusak sejak satu jam yang lalu. Mataku mengerjap untuk kesekian kalinya. Menatap deretan kata-kata di komputer maupun kertas terlalu lama membuat mataku kering dan terasa perih. Namun, ini pekerjaanku. Pekerjaan yang sejak dulu aku impikan, tapi ternyata tidak begitu sesuai dengan harapan.
Dulu, kupikir dengan menjadi editor di tempat kerjaku ini, aku bisa berburu naskah sesuka hati. Mencari atau menjadi penyeleksi naskah mana yang layak terbit. Menyunting naskah menjadi lebih baik. Juga, mengurus hal-hal lainnya sampai buku yang aku pilih tersebut bisa dinikmati orang banyak. Dalam pikiranku, penulis adalah ibu atau ayah dari bukunya. Sedangkan aku adalah godmother. Seorang wali.
Hanya saja, masuk di penerbit ini, mimpiku ternodai.
Ah, tidak. Sebenarnya tidak seburuk itu. Cuma, aku tidak bisa memilih naskah sesuka hati.
Bisa dikatakan, dalam pekerjaanku ini, aku hanyalah tanah. Di atas tanah masih ada langit. Dan di atas langit masih ada langit yang lainnya. Terus dan terus sampai surga.
Tempat ini kurang kebebasan. Punya aturan sendiri dan terlalu kaku. Seandainya saja gajinya tidak bagus dan mencari pekerjaan di luar sana tidak sulit, sudah lama aku mengundurkan diri.
"Hahhhhh!" Aku mendesah panjang dan menghempaskan punggungku di sandaran kursi.
Tugasku di sini sepenuhnya diatur oleh Editor Senior dan Chief Editor. Mereka yang menyeleksi naskah-naskah mana saja yang harus kukerjakan. Aku mendapatkan tugas menyunting novel romansa. Aku tidak membencinya. Malahan suka. Sangat suka. Genre ini yang membawaku menyukai novel dan dunia buku tiga belas tahun lalu.
Namun, dijejalkan dengan novel romansa dengan tipe-tipe yang mirip dari waktu bersamaan membuatku jenuh. Perusahaan penerbit ini selalu terlalu berpaku pada selera pasar. Saat beberapa tahun lalu vampir dan manusia serigala sedang naik daun, semua naskah yang diambil adalah naskah tentang mahluk mistis itu. Lalu, ada kalanya novel-novel e****s naik daun, aku sampai panas dingin hampir setiap hari karena mengedit naskah seperti itu selama beberapa bulan. Pernah juga yang populer adalah kisah cinta mafia kasar, bengis dan tidak punya belas kasih dengan gadis biasa, membuatku sakit kepala terlalu banyak membaca tokoh wanitanya yang terlalu sabar jika diperlakukan kasar.
Tidak salah sih kalau mereka mengikuti selera pasar. Bagaimanapun juga, ini adalah perusahaan. Tujuan utamanya tetap meraup untung. Hanya saja, kadang aku kasihan melihat naskah-naskah bagus yang mungkin saja tergeser dari meja editor sini karena sedang tidak nge-tren. Dan lagi, aku butuh variasi untuk naskah yang kukerjakan. Kalau ada yang sedang tren, delapan dari sepuluh naskah yang harus aku sunting pastilah bergenre hal yang sedang populer itu.
Nah, untuk sekarang ini, yang sedang digandrungi adalah novel-novel tentang CEO. Pengusaha yang sukses, kaya, dan tampan. Tipe kali ini membuatku semakin sakit kepala! Di mana para CEO kaya, sukses, tampan, berbadan tegap-proporsional dan bahkan romantis serta setia itu di kehidupan nyata? Kenapa aku tidak pernah menemukannya? Kenapa CEO kaya dan sukses yang pernah kulihat hanya lelaki tua botak, buncit, beruban, tidak tampan, atau malah sudah beristri? Aku bosan melihat tokoh-tokoh CEO ini masuk ke otakku, terasa begitu dekat, tapi sulit dijangkau dan agak tidak masuk akal. CEO perusahaan penerbit ini saja hanyalah laki-laki paruh baya yang sudah buncit dan memiliki istri hampir dua.
"Hahhhhh!" Lagi-lagi aku mendesah panjang. Kuputar-putar kursi kebangsaanku untuk menghibur diri. Salah satu hal yang membuatku tetap sabar selain gaji adalah kursi komputer yang nyaman ini.
"Desahan frustrasi seperti itu menurunkan semangat kerja, Bianca." Suara itu menangkap perhatianku.
Aku memutar kursi ke kiri dan mendapati wajah Dea, teman sekantorku muncul di atas pembatas kubikel. Rambut keritingnya awut-awutan. Kacamatanya sudah hampir sampai pangkal hidung, melorot karena hidungnya yang pesek. Matanya sayu, terlihat jelas kelelahan.
"Lo pasti tau alasanku mendesah frustrasi kayak gitu, De," balasku dengan bibir mengerucut sebal.
"Karena naskah-naskah itu?" Dea menunjuk dengan dagu tumpukan bundel di atas mejaku.
"Apa lagi?" Aku menegapkan duduk. Meraih benda yang kumaksud dan menguraikannya satu per satu. "CEO Marry Me, CEO Tampan Itu Suamiku, Cinta Seorang CEO, Billionare In Love, Falling For Billionare, Menikahi CEO Posesif. CEO ... CEO ... CEO ..." Aku membanting bundel terakhir. "Biasanya ada dua atau tiga naskah yang berbeda. Tapi kali ini semuanya sama. Tentang CEO!"
Dea tertawa miris saat aku menunjukkan ekspresi menangis yang dibuat-buat. "Terus lo mau tukaran sama gue?"
Aku mendelik. "UGH! No thanks!" tolakku mentah-mentah. Permasalahan hidup Dea tidak jauh denganku. Dia bertanggung jawab untuk naskah fiksi remaja atau teenlit. Kalau aku harus berurusan dengan tokoh CEO yang tipikalnya sama di tiap naskah, dia sendiri berurusan dengan Bad Boy. Cowok dingin, sok cuek, kalau bisa jago berkelahi dan punya geng motor, sedang digandrungi pembaca remaja saat ini.
Dea mengambil gelas plastik berisi kopi di atas meja yang masih tersisa sedikit, lalu menghabiskannya dalam sekali sedot. "Bersabar aja. Kecuali lo mau keluar dan buat perusahaan penerbitan sendiri," sarannya kemudian.
Aku mengembuskan napas kasar. Bibirku semakin mengerucut sebal. "Gue baru 25 tahun. Baru tiga tahun kerja di sini. Uang tabungan gue belum cukup. Buat beli rumah aja susah, apalagi bangun perusahaan."
Dea mengangguk maklum. "Gue denger-denger juga Chief Editor kita bakalan ganti. Lo berdoa aja dia enggak kayak si Medusa itu." Yang dimaksud Dea sebagai Medusa adalah Mba Ratna, Chief Editor kami. Yang pendapatnya susah dibantah dan enggak mau dengar masukan, plus, memberi kami pekerjaan tak kenal belas kasih.
"Semoga. Kalau pun sifatnya kayak Medusa, semoga mukanya ganteng." Aku mengangkat satu naskah. "Biar cerita-cerita kayak di novel ini bisa sedikit terealisasi. Meskipun bukan CEO, kan tetep aja bos. Kali aja bisa bisa kita goda."
Kulihat Dea mendengkus geli.
"Judulnya bakal jadi Chief Editor Marry Me," lanjutku dengan tawa membahana.
"Selamat berharap dan sakit hati," ledeknya sembari melempariku dengan tisu yang sudah diremas menjadi bola. Aku menghindar, tapi masih saja tertawa. Di antara orang-orang yang kukenal, Dea adalah manusia paling realistis. Dia sudah pasti tidak pernah mengkhayalkan hal-hal seperti itu, atau istilah lainnya menjadi halu. Aku heran kenapa dia bisa tahan dengan naskah-naskah fiksi kalau pikirannya saja tidak pernah berfantasi.
Baru saja aku akan membalas lemparan Dea tadi ...
"Bianca!"
Aku terlonjak. Seruan tersebut sontak membuatku bangkit dari duduk. Panggilan Medusa.
"Ya?" jawabku sambil merapikan baju dan rambut yang kusut. Medusa berdiri di depan pintu ruangannya yang terletak di samping mesin fotocopy.
"Ke ruangan saya sekarang!" perintahnya. Tangannya yang lentik dengan kuku jari berwarna merah mengayun. Artinya aku harus segera beranjak dari tempatku berdiri.
Buru-buru aku melangkahkan kaki ke ruangannya dengan tanda tanya besar di kepala. Medusa jarang memanggil editor secara langsung. Biasanya dia akan berkordinasi dengan editor senior, baru kemudian diturunkan ke kami. Kira-kira kenapa dia memanggilku?
x-x-x
Dea memundurkan kursinya begitu melihatku kembali. "Doi bilang apa?"
Aku mengangkat dua bundel naskah, menunjukkannya pada gadis bermata sipit itu. "Apa lagi? Ngasih gue kerjaan, lah!"
"Tumben langsung ke kita," gumam Dea.
Aku menarik kursi dan menghempaskan diri di sana. Punggungku seketika pegal karena mendapat tambahan pekerjaan. "Mba Vera katanya lagi sakit. Izin enggak masuk beberapa hari ini. Makanya tugas langsung dari dia."
Mulut Dea membentuk huruf O tanpa suara. "Terus lo dikasih tugas apa? Bukannya tugas lo yang ini aja belum selesai."
"I know, right!" seruku sebal. "Jadi, di dalam tadi Medusa ceramahin gue soal laporan penjualan novel. Yang mana aja yang laris. Kata dia, novel e****s tentang pengusaha kaya juga lagi banyak peminat. Dan itu masih kurang kita terbitkan. So, dia ngasih gue dua naskah ini. CEO On My Bed sama Sleeping With Mr. Billionare."
"Terus dia pasti nyuruh lo cepat-cepat selesaikan naskah itu. Iya, kan?" tebak Dea.
Tepat sekali. Aku mengangkat dua jempol untuk membenarkan. Namun, wajahku menunjukkan kekesalan yang kentara.
"Gue kayaknya harus begadang lagi ngerjain naskah ini. Gue yakin besok dia bakal tanyain progress-nya," keluhku.
Dea memandang prihatin. "Kerja bagai kuda."
Aku mengangguk setuju. "Gue enggak sabar dia diganti."
"Gue enggak setuju sama pendapat lo sebelumnya. Kalau menurut gue enggak papa cewek atau enggak ganteng, yang penting manusiawi. Jangan kayak Medusa ini."
"Berdoa tuh harus untuk segala kebaikan, De. Bagusnya kalau ganteng, manusiawi, terus sayang gue."
Aku terkekeh melihat Dea hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah Dea kembali merapat ke dalam kubikelnya, kubuka email dari Medusa yang mengirimiku soft file dari dua naskah itu. Jemariku mengetuk mouse untuk membuka salah satunya. Setelah itu, aku menggulir dengan malas, membaca kata demi kata yang menceritakan karakter yang mirip-mirip dengan naskah lain yang ada di mejaku saat ini.
Well, hello again, CEO kaya raya, tampan, berbadan tegap berotot, dan terlihat dingin di luar lembut di dalam. Mari kita lembur hari ini.
x-x-x