HAMIL?

1542 Kata
“Ayah sudah menduganya kalau kamu akan mengatakan itu. Dan atas tindakanmu hari ini, Ayah mau menghadiahimu sesuatu,” ujar Pak Danaswara. Bibir Ratu sedari tadi terus cemberut. Tatapannya begitu tajam, mengintimadasi. Dia tidak suka ini. Dia sama sekali tak menyangka kalau kehidupannya yang sedari tenang harus berubah, semenjak datangnya si cowok tidak tahu diri di sampingnya kini. Bahkan jika saja tadi dia telat sedikit, kamar kesayangannya akan berubah menjadi kamar neraka. Ratu tak menjawab. Meski dia penasaran atas hadiah apa yang akan ayahnya berikan, tapi perasaannya mengatakan kalau itu bukan sesuatu yang baik. Maka dari itu, sedari tadi, dia sama sekali tak beranjak dari ambang pintu. Dia terus menghalangi para pembantu dan kurir untuk memindahkan barang yang baru saja dibeli orang tuanya ke dalam kamarnya. “Ayah memutuskan untuk mewariskan seluruh harta ayah padamu ….” Sedikit senyum pun muncul di wajah Ratu. Akhirnya apa yang ditunggunya selama ini terwujud juga. Dengan harta ayahnya, dia bisa membuka cabang usahanya di berbagai tempat dan bisa menjadikannya jauh lebih kaya. “Terima kasih, Yah,” decak Ratu. “Eit, belum selesai. Semua ini akan jadi milikmu dengan syarat Sagara harus tidur di kamarmu selama satu tahun dan kamu hamil anaknya dia!” cetus sang ayah. “What! That’s imposible!” raung Ratu. Dia lalu memandang jijik pria di sampingnya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah bersentuhan dengan pria selain ayahnya. Lalu bagaimana mungkin dia bisa berhubungan dengan Sagara. Setiap melihat wajahnya saja, Ratu ingin sekali menendangnya. “Yah … kalau nggak mau, hartanya aku wariskan ke menantuku saja!” desak Pak Danaswara. Ratu pun kian dongkol. Tanpa seucap kata pun, dia lalu masuk kamar dan membanting pintunya. Melihat kelakuan putri semata wayangnya seperti itu, Pak Danaswara hanya bisa menghela napas. Dia kira cara ini setidaknya akan berhasil. Namun apa yang didapatnya justru sebaliknya. Pak Danaswara benar-benar bingung menghadapi putrinya yang benar-benar mirip dengan dirinya sendiri. Pak Danaswara seakan-akan menghadapi dirinya sendiri namun dalam bentuk wanita. “Maafkan, Ayah, ya, Gar!” Sagara tersenyum. “Ayah kan ndak melakukan kesalahan apa pun. Justru Ratu sekarang tanggung jawab saya.” Pak Danaswara pun menepuk pundak Sagara. “Aku memang tak pilih calon mantu.” Sagara tertawa. “Jangan menilai terlalu cepat, sebelum Ayah cicipi masakan menantumu ini.” Kini giliran Pak Danaswara yang tertawa. “Kamu bisa masak?” tanyanya meragukan omongan Sagara. “Ayah tinggal duduk manis bersama ibu dan tunggu masakan selesai!” Sagara pun mendorong mertuanya itu ke sebuah tempat. Tak lupa Pak Danaswara memerintahkan semua orang untuk keluar saja. Dia hapal benar perangai anaknya. Jika sudah mengambek seperti tadi, bisa seharian dia di kamar, mengunci diri. Jadi percuma saja kalau menunggunya. Di rumah ini juga banyak pembantu, jadi nanti jika Ratu sudah mengizinkan, maka tinggal menyuruh para pembantu untuk memasukkan barang-barang yang sudah dibeli ke kamar Ratu. Sementara itu, Ratu mengambil bantal dan dia lemparkan ke atas. Sebelum bantal itu jatuh ke lantai, sebuah tendangan khas taekwondo menghujamnya terlebih dahulu. Berulang kali Ratu melakukan itu sampai dia jatuh ke kasur karena kelelahan. Perlahan, Ratu mulai menenangkan dirinya. Ratu tahu ayahnya tak pernah mengingkari perkataanya sendiri. Dia selalu menepati apa yang dia katakan dan selalu menyiapkan apa yang diperlukan. Maka jika seperti ini, pasti Pak Danaswara telah menyiapkan surat ahli waris dengan persyaratan apa yang sudah dia katakan tadi. Ratu pun bangkit. Dia melihat dirinya sendiri di cermin. “Ok, Ratu. You can hold this! Apa pun bisa kamu lakukan untuk membuat semuanya sesuai apa yang kamu mau. Hanya satu tahun. Pasti sangat singkat! Dan setelah satu tahun dan harta ayahmu sudah di tanganmu, kamu bisa menendang si pria narsis itu!” katanya pada dirinya sendiri. Setelah menata make upnya kembali dan membuat mimik wajah sedemikian rupa, Ratu pun keluar dari kamarnya. Dia menyapu pandang, mencari keberadaan ayah dan orang yang paling dia benci di rumah ini. Namun tak satu pun orang yang terlihat. Bahkan barang-barang pembelian ayahnya pun masih tercecer di ruang tamu. Seperti dugaan Ratu sendiri kalau ayahnya sama sekali tak menyerah agar Sagara bisa tidur dengan Ratu. Ratu pun beranjak dari ambang pintu kamarnya. Dia mulai mencari keberadaan ayahnya. Awalnya Ratu mengira ayahnya berada di balkon sedang membaca koran, tapi ternyata tidak. Di kamar pun tidak ada. Sampai akhirnya hidungnya mencium sesuatu yang lezat dan berasal dari halaman belakang. Tanpa pikir panjang, Ratu pun menuju ke sana. Rasa marah dan jengkel, membuat perutnya amat keroncongan. Sesampainya di halaman belakang, ia melihat ayah dan ibunya tengah berbincang hangat. Di depan mereka sudah tersaji pasta dengan sambal yang amat menggoda. Ratu belum pernah melihat pasta semenggiurkan itu sebelumnya. “Ayah kok ndak ngajak-ngajak kalau makan!” protes Ratu. “Lah kamunya sendiri tadi marah-marah. Biasanya kalau marah-marah kan langsung tidur, ya, Bu?” tanggap Danaswara sembari memakan pastanya. “Iya bener, tuh. Dulu kalau kamu marah, pasti ditawari makan ndak pernah mau,” jawab Bu Danaswara sembari terus memakan pastanya. “Marah ndak bisa bikin Ratu kenyang. Dah lah, Ratu mau makan, mana nih bagian Ratu? Ini ya?” cerocos Ratu. Tanpa menunggu jawaban dari ayah dan ibunya, dia langsung mengambil satu piring yang masih tersisa. Piring itu berada di depan kursi kosong, namun Ratu tak ambil pusing. Dia sedang lapar, dan pasta adalah salah satu makanan favoritnya. Pak Danaswara dan istrinya pun saling tatap. Sejenak mereka bengong melihat kelakuan ajaib putri semata wayangnya. “Gimana, enak?” tanya Ira, ibu Ratu. Ratu makan dengan lahapnya. Lantas setelah menelan, dia pun mengangguk-ngangguk. “Enak. Saosnya apalagi. Ayah sama Ibu beli di mana? Besok kalau beli lagi, beli yang banyak sekalian,” jawab Ratu. Dia pun lanjut makan lagi. “Kami ndak beli, kok,” sahut Bu Ira. “Hah? Ibu buat? Masa, sih?” Pak Danaswara tiba-tiba saja tertawa. “Benera enak, kan?” ulangnya. Ratu mengerutkan dahi. “Iya. Ini enak banget. Makanya aku tanya beli di mana. Mana pernah pembantu kita bisa masak pasta seenak ini. Apalagi Ibu.” Bu Ira pun tertawa mengikuti suaminya. Dia bahkan sampai tersedak dan Pak Danaswara segera mengambilkan air putih. “Ayah sama Ibu kenapa, sih?” Ratu mulai menangkap ada yang tidak beres. “Nggak-nggak. Cepetan habisin, gih! Kalau dingin kan ndak enak,” sahut Bu Ira. Ratu pun tak mau ambil pusing. Perutnya masih keroncongan. Dia pun lanjut memakan pastanya sampai tuntas, bahkan dia sampai tersedak dan segera minum. “Enak, kan?” tanya Pak Danaswara sekali lagi. Ratu mengangguk-angguk. Tangannya masih memegangi segelas air putih. “Masih mau tahu siapa yang buat pastanya?” “Iya, lah. Besok-besok kalau malas makan, aku kan mau makan pasta kayak gini lagi,” ujar Ratu. Pak Danaswara pun menatap istrinya. Mereka sama-sama tersenyum sembari menaik turunkan alisnya. “Yang buat pasta itu suamimu, Rat.” Mendengar itu, Ratu pun hanya bisa diam. Sebenarnya dia ingin agar dia juga memuntahkan pasta yang sudah dalam perutnya. Sayangnya lidah tidak bisa bohong. Rasa pasta ini benar-benar sempurna. Dan dia bukan ular yang bisa seenaknya sendiri, memuntahkan apa yang telah dia makan. “Dan sebenarnya suamimu itu buat hanya tiga posri karena pastanya kebetulan habis dan apa yang kamu makan itu jatahnya Sagara,” lanjut Pak Danaswara sembari tertawa kecil. “Sagara juga tadi sudah makan sedikit, ya, Pak. Jadi Ratu secara tidak langsung makan dari sendoknya Sagara dong,” tambah Bu Ira. Ratu hanya bisa melongo mendengarnya. Dia merasa benar-benar malu kali ini sekaligus kesal. Di saat pasta di piringnya sudah ia sikat habis, ayah dna ibunya baru mengungkapkan fakta itu. Apalagi sekarang Sagara yang tiba-tiba saja datang sembari membawakan tiga jus sirsak di atas nampan. Ditambah dia tersenyum, terlihat bangga karena masakannya berhasil memenangkan lidah istrinya. “Syukurlah kalau kamu suka masakanku,” tutur Sagara sembari meletakkan tiga jus sirsak di meja. Ratu membuang muka. “Nggak usah bohong kalau jadi orang!” sergahnya. Sagara tak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil. Baru setelah beberapa saat, dia pun membuka mulut, “Sebentar aku ambilkan pencuci mulutnya dulu.” Ratu kian gondok mendengar itu. Dia akui dirinya tidak bisa masak. Jangankan masak, menginjakkan kakinya di dapur saja tidak pernah. Paling kalau ke dapur, dia hanya mengambil air atau buah. Itu saja. Tak pernah sekali pun tangan halusnya memegang wajan atau alat apa pun di sana. Meski Ratu memandang judes Sagara, tangannya perlahan mendekat ke jus sirsak yang Sagara letakkan di samping Ratu. Pak Danaswara pun sampai gemas sendiri melihatnya. Dia lantas mengambil gelas milik Ratu, sedetik sebelum tangan Ratu meraih gelas itu. “Nggak usah jaim sama keluarga sendiri!” tukas Pak Danaswara. Ratu pun mengembuskan napas sebal. Dia lantas mengambil gelas dari tangan ayahnya. “Siapa juga yang jaim. Aku bahkan ke sini untuk bilang pada ayah kalau aku setuju tidur dengan Sagara!” sergah Ratu. Dia lalu meminum jus sirsak yang benar-benar terlihat menggoda. “Ya Tuhan terima kasih!” ucap Pak Danaswara sembari menangkupkan tangan dan memandang langit. “Tapi jangan paksa aku untuk hamil. Kan kalau hamil karunia Tuhan,” sela Ratu. Padahal dalam hatinya sendiri, dia punya rencana sendiri kepada Sagara nanti malam. “Alah, itu ndak jadi masalah. Kalau sudah berdua kan nanti juga bisa. Yang penting hanya berdua di kamar dan lampu dimatikan.” Ratu hanya mengangguk-angguk. Biarkan saja orang tuanya bahagia kali ini. Yang jelas, Ratu tak akan pernah sudi disentuh oleh lelaki lain termasuk suaminya sekarang, Sagara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN