Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan bagi Qiana Carabella. Hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sangat menjengkelkan. Sudah berpakaian seperti orang gila, ia telat datang pula. Salahkan saja penyakit susah tidurnya itu hingga dia terlelap pukul dua malam.
Gadis bermata cokelat terang itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah saat sudah berada di dalam lingkungan itu. Setelah menyogok satpam dengan beberapa lembar uang seratus ribu, Qiana dipersilahkan masuk.
“Bagus sekali, hebat! Hari pertama sudah telat. Menurut lo, ini sekolahan Nenek Moyang lo apa, sampai lo datang seenaknya? Anak baru pula.”
Qiana tersentak kaget mendengar perkataan sinis dari laki-laki berjas alamamater berwarna merah marun itu. Ia menatap cowok itu datar, yang pasti ia ketahui orang di depannya adalah OSIS. Manusia yang paling tak ia sukai karena menurutnya, OSIS itu sok berkuasa dan selalu merasa dirinya paling penting dari yang lain.
“Jam di rumah lo rusak, ya? Sampai lo gak tau ini jam berapa? Jam sembilan! Kalau gak niat datang mendingan gak usah!” Cowok itu berucap penuh penekanan. Qiana melirik sekilas name tag yang terletak di jas orang itu. Jordan Hamizan. Nama itu sekarang masuk ke dalam daftar nama orang yang ia benci karena berkata-k********r padanya dan sok paling benar!
Cewek itu hanya menatap tanpa minat senior yang menurutnya sok galak ini. Rasanya ia ingin sekali mencakar muka sok kecakepannya. Benar, kan, yang ia pikirkan? OSIS, apalagi senior, selalu merasa dirinya benar dan junior selalu salah. Bahkan jika junior benar, ia harus tetap salah. Memuakkan!
Qiana menatap dua orang laki-laki berjas sama dengan Jordan yang menghampirinya dengan tatapan bingung.
“Lo peserta MOS?” tanya salah satu dari cowok itu pada Qiana. Namanya Gilang. Cowok itu berperawakan atletis, kulit berwarna kuning langsat, dan tingginya sama seperti Jordan. Sekitar 170 cm. Qiana hanya diam. Sama sekali tak berminat untuk merespon ucapan senior itu. Untuk apa pula cowok itu bertanya jika sudah tahu jawabannya?
“Mau diapain, Dan?” Cowok bertubuh kurus dengan kumis tipis bertanya pada Jordan. Namanya Riski.
“Ya, dihukum lah! Apalagi? Murid gak disiplin kayak gitu harus dihukum, biar kapok.” Jordan menatap Qiana sinis.
Cewek itu hanya berekspresi datar sedari tadi. Belum ada satu kata pun yang dikeluarkannya. Bukannya ia takut, ia hanya merasa tak ada pentingnya banyak bicara pada tiga orang di depannya ini. Ia tak mau membuang-buang tenaga. Cewek itu hanya menghela napas kasar. Sampai kapan ia harus berdiri di pinggir lapangan dengan tiga senior menyebalkan di sampingnya? Kira-kira hukuman apa yang akan ia terima? Membersihkan WC?
“Lari di lapangan ini, dua puluh putaran!” seru Jordan tegas. Gilang dan Riski membelalakan matanya. Sementara Qiana tetap terlihat tenang. Jika saja ia bisa menghilang, mungkin hal itu sudah ia lakukan sedari tadi. Ada di dekat tiga OSIS menyebalkan hanya membuatnya mengantuk. Hanya dua puluh putaran? Cewek itu mengangkat bahu. Seolah hal seperti itu adalah hal yang biasa baginya.
“Lo gila, Dan! Dia cewek, Bro. Lima aja cukup, kan? Lagipula ini hari pertama.” Gilang menggeleng tak setuju.
“Terus kalau cewek kenapa?” Jordan bertanya kesal. Keputusannya sudah bulat. Dan tak akan ada yang berani menentang keputusan Ketua OSIS itu. Jordan beralih menatap Qiana yang tak bersuara sejak tadi.
“Lo bisu ya, dari tadi kagak ngomong? Atau tuli?” Jordan bertanya ketus. Qiana hanya memutar bola matanya malas.
“Cuma lari?” Cewek itu akhirnya berbicara, tetap dengan tatapan dinginnya.
“Oke, ternyata gak bisu. Setelah lari dua puluh putaran tanpa istirahat dulu. Lo bersihin lapangan ini pakai sikat gigi sampai bersih!”
Kali ini Qiana melebarkan mata dan mulutnya menganga. Hukuman macam apa itu? Gilang dan Riski ikut menatap Jordan tak percaya.
“Gak apa-apa, biar dia gak main-main sama sekolah ini. Lo berdua awasin dia. Jangan sampai kabur!” seru Jordan. Gilang dan Riski mengangguk. Jordan berlalu pergi ke ruangan-ruangan yang telah diisi peserta MOS. Ia akan memberitahukan jika lima menit lagi jam istirahat pertama tiba.
Tanpa aba-aba dari siapa pun, Qiana langsung berlari mengelilingi lapangan utama yang biasa dipakai upacara itu dengan semangat. Ia selalu senang saat berlari. Karena dengan berlari, ia bisa meluapkan kekesalannya. Dan sekarang, ia sangat kesal pada Jordan! Ingin sekali rasanya melempar cowok itu ke Samudera Hindia. Namun, semangatnya sedikit memudar ketika menyadari betapa luasnya lapangan ini.
Gilang dan Riski yang menonton di pinggir lapangan hanya berjaga-jaga takut Qiana pingsan. Meskipun baru pukul sembilan, namun matahari cukup terik dan membakar kulit tanpa ampun.
Qiana merutuki tas karung goni yang ia pakai. Tas itu membuatnya ribet sekali. Apalagi kuncir dua menggunakan sedotan di rambutnya, membuat gatal dan ia ingin mencabut sedotan itu. Tapi itu tak mungkin ia lakukan jika ia masih ingin menikmati hidup dengan lebih baik.
Cewek itu sudah lari delapan putaran. Keringat bercucuran deras di dahi dan peilipisnya. Wajahnya memerah karena kepanasan. Namun, ia belum lelah. Qiana tak akan menyerah begitu saja. Apalagi di hadapan Jordan. Kata menyerah hanya untuk orang-orang lemah!
Para murid baru peserta MOS mulai berhamburan keluar kelas karena waktunya istirahat. Seketika Qiana menjadi pusat perhatian. Cewek itu hanya mendengkus. Gilang dan Riski menatap Qiana takjub. Ternyata perempuan hemat bicara itu bukan gadis manja. Justru Qiana adalah perempuan kuat dan kebal dengan cibiran. Terbukti saat Qiana mengabaikan beberapa senior perempuan yang berbisik-bisik membicarakannya.
Keringat sudah mengalir begitu banyak di wajah cantik cewek itu. Meskipun kakinya sudah terasa pegal, ia sangat ingin menyelesaikan hukuman s****n itu segera. Untungnya, Qiana sering olahraga. Jadi, hal ini tak berefek banyak pada tubuhnya.
Dia tak habis pikir, kenapa laki-laki gila bernama Jordan itu menjadi OSIS? Ia lebih tepat jadi preman sekolah yang suka mem-bully. Masa Ketua OSIS tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Tegas boleh, tapi ini keterlaluan.
Qiana menghentikan larinya saat sudah dua puluh putaran. Napasnya memburu namun wajahnya masih tetap terlihat tenang meskipun agak sedikit memerah akibat terpanggang sinar matahari. Ia mengeluarkan tisu dari tas karungnya lalu mengelap keringat yang menetes di dahi dan pipi. Kemudian menatap Gilang dan Riski datar.
“Lo berdua punya sikat gigi?” Qiana bertanya pada Gilang dan Riski. Dua cowok itu saling tatap.
“Nggak ada.” Gilang menggeleng.
“Lo punya, Ki?” tanya Gilang pada Riski.
“Gak punya gue, masa sekolah bawa sikat gigi? Coba lo tanya Jordan. Dia, kan, yang ngasih hukuman,” jawab Riski.
“Nah, tuh orangnya!” Riski berseru saat Jordan datang.
“Nih, buruan bersihin!” seru Jordan ketus sambil menyodorkan sikat gigi yang sepertinya masih baru dengan warna merah yang ia pegang pada Qiana. Cewek itu menerimanya. Ia menatap Jordan penuh rasa dongkol lalu berjalan ke ujung lapangan. Ia akan mulai menyikat lapangan dari sana.
“Lo bener-bener gila, Dan! Itu hukuman teraneh yang pernah gue lihat. Lo gak kasihan apa? Dia baru aja selesai lari.” Riski memprotes. Jordan mengangkat bahu tak acuh.
“Lo berdua tau kan, gue gak suka sama orang yang gak disiplin,” ujar Jordan sambil memerhatikan Qiana yang sedang menyikat lapangan pakai sikat gigi seperti orang t***l.
“Lagi pula dia beda banget lho, Dan. Gue baru lihat ada cewek yang hemat banget ngomong. Padahal ngomong itu gak bayar,” ucap Gilang yang juga sedang memerhatikan Qiana.
“Terus?” Jordan mengerutkan dahinya. Bukankah semua wanita sama saja? Manja, lebay, alay, ribet, cengeng, merepotkan. Ya, menurutnya, cewek itu lemah.
“Baru kali ini gue lihat cewek yang gak tertarik sama lo. Malah sebaliknya, dia kayak benci banget sama lo. Ekspresinya waktu ngelihat lo itu, dia kayak pengin banget lempar lo ke laut. Ya, siapa juga yang gak akan kesel sih, dikasih hukuman aneh semacam itu.” Gilang tertawa pelan. Begitu pun Riski.
“Ya, gue tau itu. Tapi masa bodolah. Peduli amat dia mau suka sama gue atau nggak. Lagipula itu sama sekali gak penting. Kita ini sekarang senior, Lang, Ki. Kelas dua belas. Udah waktunya kita nikmatin masa-masa terakhir di sekolah dengan balas dendam sama junior kita ini. Dulu kita pas MOS juga gitu, kan? Gue juga pernah kena hukuman jalan dari ujung lapangan sana ke sini sambil jongkok.” Jordan menjelaskan. Betapa kesalnya ia saat mengingat masa paling memalukan dulu.
Semua orang yang ada di koridor memerhatikan Qiana. Terkadang mereka tertawa melihat apa yang dilakukan cewek itu. Lucu sekali, bukan? Membersihkan lapangan pakai sikat gigi. Seperti orang yang tak memiliki otak. Sampai Kakek-Kakek PMS pun, gak bakal bersih kinclong tuh lapangan.
“Diam!” Jordan membentak para peserta MOS yang tertawa mengejek. Mereka langsung bungkam seketika. Beberapa memilih segera pergi karena takut kena makan oleh Jordan yang sepertinya sedang lapar dan butuh asupan gizi yang cukup.
“Kalian semua mau kayak dia?! Kalau mau, gampang! Kalian harus datang telat besok!” Jordan berteriak. Para peserta langsung menggeleng cepat.
“Masuk ke ruangan masing-masing! Jam istirahat selesai!” Jordan berteriak lagi. Semua peserta langsung masuk tanpa disuruh dua kali. Bunuh diri jika masih ada yang berani berdiri di luar ruangan.
Qiana hanya menatap tak peduli sambil terus menyelesaikan hukumannya. Sambil menggerutu kesal dalam hati. Sebetulnya ia pun sangat merasa seperti orang bodoh kini. Tapi mau bagaimana lagi?
Qiana melempar asal tasnya ke sofa ruang tamu rumahnya. Ia langsung berbaring tak berdaya di sofa panjang. Pakaiannya kusut, begitu pula wajahnya. Ia lelah. MOS pertamanya yang begitu menyebalkan. Baru saja masuk ia sudah membuat ulah. Jika saja ia tak takut jika papanya akan marah, cewek itu memilih untuk pura-pura sakit saja agar tidak perlu datang. Ia tersenyum miring ketika memikirkan kejadian menyebalkan tadi.
Setelah menyelesaikan hukumannya Qiana langsung bergegas menuju kantin. Tenggorokkannya kering. Wajahnya pucat.
“Nih, buat lo.” Gilang mencegah langkah Qiana lalu menyodorkan sebotol air mineral pada gadis itu. Qiana langsung merampasnya dan meneguknya hingga habis. Dia haus sekali. Seperti belum minum seminggu.
“Wajah lo pucat,” kata Gilang. Qiana tak menjawab. Siapa pula yang tak akan pucat setelah lari dua puluh keliling dan membersihkan lapangan pakai sikat gigi seperti orang sinting?
“Makasih,” ujar Qiana lalu ia masuk ke dalam ruangannya. Tak jadi ke kantin karena malas. Lagipula ia sudah minum. Semua peserta dan OSIS di ruangan itu menatap Qiana yang berdiri di ambang pintu.
“Siapa yang suruh lo masuk?!” Jordan yang kebetulan ada di ruangan itu menggeretak. Ia menyorot Qiana tajam. Sedangkan Qiana hanya mendengkus kesal. Tetap mencoba sabar.
“Udahlah Dan, mau dihukum lagi? Lo kagak puas apa? Dia udah pucet, tuh!” sahut Riski.
“Gue masih gak ngerti yah kenapa orang gila kayak lo bisa jadi Ketua OSIS!” cetus Qiana. Ia menatap Jordan penuh rasa marah. Tahu akan begini, ia lebih baik membolos saja.
Para peserta MOS menatap Qiana ngeri. Berani sekali dia? Jordan tampak menggeram kesal. Tatapannya semakin menajam. Setajam silet.
“Lo berani ngelawan senior? Inget-inget ya, ‘Senior selalu benar. Jika senior salah, balik lagi pernyataan satu’. Sekarang juga, lo lari lagi dua puluh putaran!” Jordan berteriak. Semua orang tercengang. Bukankah baru saja Qiana habis lari dan membersihkan lapangan?
Peserta MOS yang tadinya mengejek Qiana berubah jadi menatapnya iba.
Cewek itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya memerah menahan amarah. Lalu ia berjalan mendekati Jordan dengan tatapan menusuk. “Dengan senang hati! Gue lebih baik lari dari pada ikutan MOS gak jelas yang dipimpin sama senior gila kayak lo!” pekik Qiana penuh penekanan tepat di depan wajah Jordan.
Qiana melengang pergi menuju lapangan lagi. Ia menatap tajam semua senior dan peserta yang ada di ruangan itu. Mereka semua membuat Qiana marah dan kesal. Dan sialnya ia hanya bisa memendam kekesalan itu sendiri. Mungkin dengan berlari lagi, kekesalannya bisa menguap bersamaan dengan teriknya matahari.
“Gue temenin lo lari,” ujar Gilang lalu menyusul Qiana yang sudah berada di luar ruangan.
“Gak perlu,” tolak Qiana datar lalu mulai berlari mengelilingi lapangan utama sekolah. Sebenarnya, lebih kelihatan seperti jalan biasa, sih. Dia sudah mulai lelah.
Gilang tetap mengikuti Qiana. Dan gadis itu tetap berlari tak perduli. Sejujurnya ia lelah sekali, kepalanya juga sedikit pusing. Tapi ia menahan itu semua. Qiana tak mau dianggap lemah sebab menyerah hanya karena sebuah hukuman.
Qiana menghela napas panjang. Ia menatap kakinya iba. Pegal sekali rasanya. Cewek itu menggerung marah, “Ketua OSIS gilaaaa!”