Meet Him In Rooftop

1601 Kata
Cewek itu melangkah malas memasuki pekarangan sekolah. Lucu memang, kemarin dia datang pukul sembilan pagi. Tapi pagi ini dia datang pukul enam. Sekolah masih sepi. Hanya ada satu-dua murid yang baru datang.  Dalam hati, Qiana membanggakan dirinya sendiri karena hari ini mendadak jadi murid rajin. Biasanya, dulu waktu masih SMP, Qiana selalu datang siang. Meskipun ia bangun pagi, cewek itu sengaja melambat-lambat waktu agar tak perlu lama menunggu bel masuk di sekolah. Ia selalu datang bertepatan dengan bel yang berbunyi nyaring. Jangan kalian pikir jika Qiana kapok dan takut dihukum lagi makanya dia datang pagi hari ini, itu salah. Ia hanya tak ingin banyak berurusan dengan orang tidak penting seperti Jordan.  Cewek itu ingin hidup tenang dan damai. Berurusan dengan orang menyebalkan seperti Jordan hanya akan membuang-buang tenaga. Kenapa? Karena Qiana dan Jordan sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Qiana memilih pergi ke atap sekolah. Masih sepagi ini ia malas untuk masuk ke kelas. Karena akan banyak orang-orang yang belum ia kenali. Dan dia malas untuk berkenalan. Sombong? Entahlah, yang jelas, cewek itu memang susah untuk berbaur dengan orang baru. Sampai di ujung tangga terakhir menuju rooftop, Qiana berseru takjub. Indah sekali tempat ini. Ia segera bergerak ke tengah atap sekolah yang lumayan luas. Merentangkan tangannya dan menghirup udara segar sebanyak mungkin. Ini hal yang dia sukai. Keheningan dan ketenangan. Qiana berjalan ke ujung rooftop, lalu ia duduk di sana dengan menjuntaikan kakinya tanpa takut terjatuh. Dari atas sini, dia seperti bisa melihat seluruh kota. Terlihat banyak gedung-gedung tinggi dan kemacetan di jalan raya. Sekolahnya terdiri dari tiga lantai, ada empat gedung sekolah dari berbagai sisi dan sebuah lapangan utama di tengah-tengah. Ia berada di puncak teratas gedung ini. Rasanya menyenangkan. Cewek itu memejamkan matanya. Berusaha rileks dan tak memikirkan banyak hal yang akan membuatnya pusing. Qiana menatap para murid yang berlalu lalang memasuki gerbang sekolah. Datang bergerombol sambil tertawa-tawa. Bahkan ada yang saling dorong karena bercanda. Lalu saling rangkul dan masuk ke kelas masing-masing. Atau ada yang memilih ke kantin untuk mengisi perut dengan makanan enak, yang tentunya dijual cukup murah untuk ukuran anak sekolah. Gadis itu tersenyum miris. Melirik sekelilingnya. Kosong. Ia hanya sendiri di sini. Tak ada teman tertawa, tak ada orang yang bisa diajak dorong-dorongan, tak ada yang mengajaknya ke kantin. Kesepian? Tentu. Tapi, ia sendiri yang memilih untuk menjauh dari orang-orang. Mengasingkan diri seasing-asingnya di hadapan masyarakat. Menjauh pergi sejauh yang ia bisa. Itu semua ia lakukan karena menurutnya, tak akan pernah ada orang yang benar-benar ingin menetap di sisinya. Semua orang sama saja baginya. Datang untuk pergi, mencintai untuk menyakiti, dipercaya untuk berkhianat, memeluk untuk menusuk. Memang ada benarnya, bukan? Ketika kita dipeluk terlalu erat oleh seseorang, maka ia sebenarnya ingin menancapkan pisaunya lebih dalam.  Menghampiri ketika ia membutuhkan, lalu pergi ketika ia sudah bahagia lagi. Melupakan seluruh kebaikan orang yang pernah membantunya berdiri ketika ia terjatuh. Qiana sangat membenci hal itu. Tak aneh memang, gadis itu memang selalu membenci apa pun yang menurutnya menyebalkan.  Kesiur angin menerpa wajah dingin Qiana. Membuat gadis itu terpejam untuk menikmati kenyamanan belaian dari semesta. Kadang ia ingin menjadi angin, selalu dirasakan kehadirannya oleh setiap orang meskipun ia tak terlihat. Dan ia ingin menjadi langit. Langit yang selalu ditatap dan tak bisa lepas dari orang-orang meskipun ia berkali-kali menumpahkan tangisan berupa air hujan dan kemarahan berupa terik matahari. Sayangnya, ia tak bisa seperti itu. Ia hanya bisa menjadi sebuah kepompong yang selalu menutup diri. Yang terlalu takut untuk mengepakkan sayap indahnya kemudian terbang tinggi. Sepertinya, hanya dia kepompong yang tak akan pernah berubah menjadi kupu-kupu. Namun, ternyata ketenangan Qiana menikmati udara pagi tak bisa bertahan lama ketika ia mendengar sebuah pertanyaan menjengkelkan. “Lo mau bunuh diri?” Cewek itu terperanjat. Jadi, ia tak sendiri di sini? Qiana cepat-cepat menoleh. Lalu mata cokelatnya bertabrakan dengan bola mata hitam legam milik cowok yang paling menyebalkan segalaksi Bima Sakti. Siapa lagi kalau bukan Jordan Hamizan? Ketua OSIS gila itu. Tunggu, kenapa cowok itu bisa ada di sini? Kenapa dia selalu ditakdirkan membuat Qiana kesal dan marah? “Gue saranin ya, seberapa beratnya pun hidup lo, beban yang lo tanggung sekarang, semuanya gak akan selesai dengan cara lo bunuh diri. Itu cuma buat orang-orang yang punya pikiran pendek. Dan, mungkin lo salah satunya,” ucap Jordan santai. Ia tersenyum miring. Sebetulnya, ia tak menyangka akan bertemu dengan cewek pelit bicara itu di sini. Darimana Qiana tahu jika di sekolah ini ada tempat indah bernama rooftop? Qiana mengangkat satu alisnya. “Gue masih cukup waras untuk gak melakukan hal bodoh semacam itu,” sahutnya datar. Ia berdiri dan mendelik sinis kepada cowok di hadapannya. “Karena gue gak gila seperti lo! Mungkin, yang bakalan bunuh diri itu bukan orang yang berpikiran pendek. Tapi orang gak waras alias gila. Dan orang itu elo.” Rahang Jordan mengeras. Baru kali ini ada cewek yang berani mengatainya gila. Karena biasanya, cewek-cewek selalu memujinya. Menyebut dia tampan dan berkarisma. “Lo pikir lo sempurna? Lo pikir ekspresi datar lo itu menarik? Ngaca dong jadi orang! Perlu gue beliin kaca? Nanti gue beliin yang segede papan tulis!” serunya sambil memelototkan mata. “Ngaku aja kali. Lo datang pagi hari ini karena kapok, kan? Lo takut, kan, sama gue? Ya, ternyata semua cewek memang sama. Penakut dan cengeng. Lo kemarin cuma sok kuat aja, kan? Pas sampai di rumah lo pasti nangis-nangis sambil ngadu ke Mama lo. Terus bilang, ‘Ma, di sekolah aku di-bully sama Kakak kelas, aku juga disebut gagu karena jarang ngomong’.” Jordan tersenyum sinis melihat wajah Qiana memerah karena marah. Cewek itu mendekati Jordan lalu menatap bola mata cowok itu tajam. Dadanya naik turun karena marah. Emosinya sudah meletup-letup. Sebetulnya, di balik sikap tenangnya, ia memang gampang marah. Apalagi jika ada orang yang terang-terangan mengejeknya. Dia tak bisa tinggal diam karena menurutnya, ia akan semakin ditindas. “Duh, biasa aja kali ngelihatinnya. Nanti lo suka sama gue.” Qiana melongo. Apa katanya? Suka? Sampai semut bisa terbang pun, cewek itu yakin tak akan pernah menyukai cowok songong di depannya itu. Bahkan jika di dunia ini cowok yang tersisa hanya Jordan. “Gue diam bukan berarti gue takut. Lo harus tau satu hal wahai Ketua OSIS, ada saatnya kita diam, ada saatnya kita bicara. Dan orang-orang yang memilih diam itu, dia cuma gak pengen orang lain tersakiti karena ucapannya. Lebih baik diam kan, dari pada menusuk hati orang lain dengan lidah? Contohnya ucapan lo yang tadi. Lo pasti gak pernah mikirin, kan, apa ucapan lo itu membekas di hati orang atau enggak.” Alih-alih terdiam dan merenung atas ucapan Qiana, Jordan justru bertepuk tangan. “Hebat banget lo, Dek. Udah bisa ngomong panjang ya, sekarang. Kalau gak salah hitung sih, lo udah ngomong tujuh puluh kata. Itu rekor dan sepertinya perlu diabadikan. Bisa ngulang kata-katanya? Mau gue catet buat dokumentasi.” Jordan berkata dengan santainya. Qiana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Orang di depannya ini, sepertinya memang sangat membutuhkan rumah sakit jiwa.  “Kenapa? Mau marah? Mau ngaduin gue ke Nyokap sama Bokap lo? Silakan, Dek. Kakak gak takut.” Jordan tersenyum miring. Plak! Qiana menampar pipi kanan Jordan dengan keras. Menurutnya, ucapan cowok itu sudah keterlaluan. Apalagi ketika mulai menyinggung keluarganya. Ia tidak suka itu. “Lo boleh pandang rendah semua cewek. Mikir kalau mereka itu cengeng, tukang ngadu, manja. Tapi lo harus singkirin kosa kata itu ketika lo lihat gue!” Qiana mendengkus lalu pergi dari sana.  Tadinya ia ingin sekali menghabiskan banyak waktu di tempat itu. Namun niatnya harus pupus ketika cowok menyebalkan itu datang dan berhasil membuatnya marah sampai harus mengeluarkan banyak kosa kata pagi ini. Jika tak ingin membuat masalah, ia sudah dari tadi melayangkan tinjunya ke wajah sok ganteng Jordan. Tamparan saja tak akan cukup untuk menyadarkan cowok dengan kepala batu seperti itu. Jordan menatap kesal Qiana yang menghilang di ujung tangga. Cowok itu mengusap pipinya yang terkena tamparan dari Qiana. Apa ia benar-benar membuat cewek itu sakit hati dengan kata-katanya? Jordan memilih mendudukan dirinya di tempat bekas Qiana tadi. Cowok itu tak menyangka jika akan bertemu si cewek muka datar itu di sini. Dan lebih parahnya, ia malah merenungi ucapan penuh penekanan dari Qiana tadi. Lidah lebih tajam daripada pisau. Apa itu memang benar? Bukannya jaman sekarang itu jempol yang lebih tajam daripada pisau? Cowok dengan dasi rapi itu memutar musik di ponselnya. Lalu ia memasangkan headset di kedua telinganya. Lagu She Looks So Perfect dari 5 SOS menjadi pilihannya pagi ini. Sepertinya lagu itu bisa membuat mood-nya membaik. Rutinitasnya tiap pagi adalah mendengarkan musik di atap sekolah. Ia juga butuh ketenangan setelah pusing berkutat dengan urusan OSIS. Ternyata menjadi Ketua OSIS tak semenyenangkan seperti yang ia pikirkan dulu. Jika akan serepot ini, dulu ia tak akan pernah mau mencalonkan diri menjadi Ketua OSIS. Ya, alasan utamanya untuk ikut hanya satu. Ia ingin lebih dekat dengan cewek yang dia suka. Dan berhasil, sekarang cewek itu menjadi wakilnya. Tapi lama kelamaan bosan juga menjadi orang yang sok berkuasa memimpin adik kelas untuk diospek. Ia harus bertingkah sok galak dan seperti paling disiplin. Sebagai orang terpenting di organisasi itu, tentunya Jordan dituntut untuk selalu berpakaian rapi, menghargai waktu dan hal baik lainnya agar ia bisa jadi panutan. Dan menurutnya, hal semacam itu sangat membosankan. Hal menariknya hanya satu. Ia bisa membalas menghukum s***s para juniornya seperti yang dia alami dulu. Sayang sekali jika hal seperti ini dilewatkan. Jordan menatap murid yang berlalu-lalang di lapangan sekolah. Berbondong-bondong masuk ke dalam kelas ketika bel berbunyi. Ia mencari-cari seorang cewek berwajah ... s**l, kenapa dia mencari Qiana? Apa pentingnya dengan gadis itu?  Ah ya, ia baru saja ditampar oleh adik kelasnya. Sepertinya, membuat cewek itu dihukum lagi, akan seru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN