Rahasiakan

1021 Kata
“Kamu gak apa-apa, kan, Sayang? Atau kita harus lakuin pengobatan ke Singapura? Bilang sama Papa.”  Qiana yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit menghela napas jengah mendengar penuturan Irwan. Papanya terlalu berlebihan. Dia menggeleng pelan.  “Qia gak apa-apa, Pa. Gak usah berlebihan gitu deh.” Qiana mengerucutkan bibirnya. “Lho, Papa ‘kan, khawatir sama anak Papa.” Irwan mencolek dagu Qiana. Berniat menggoda putrinya. “Papa gak suka lihat kamu luka.” “Papa ...!” Qiana merengek kesal. Bukan apa-apa, masalahnya, Papanya itu menggodanya di depan Jordan dan Gilang. Memalukan sekali, dia jadi seperti bayi. Irwan hanya tertawa lalu mengusap puncak kepala putrinya itu dengan sayang. “Oh iya, Papa beli makanan dulu. Kamu pasti lapar, kan? Bye, Sayang.” Irwan keluar dari ruangan rawat itu. Dengan langkah pelan, Jordan mengikuti Irwan keluar dari ruangan. “Permisi, Pak Irwan,” cetus Jordan ketika Irwan sudah cukup jauh meninggalkan ruang rawat Qiana. Lelaki itu menoleh. Menatap Jordan dengan kening berkerut saat ia berbalik. “Iya?” Jordan menetralkan detak jantungnya. Bagaimanapun juga, ia tetap harus meminta maaf. Cowok tinggi itu menghela napas sejenak.  “Sa--saya mau minta maaf,” ungkap Jordan. Cowok itu berdeham, “karena kelalaian saya, Qiana jadi celaka.” Irwan tersenyum kecil. Menatap cowok di depannya itu dengan penuh penghargaan. “Gak perlu menyalahkan diri kamu. Toh saya sebagai Papanya juga merasa bersalah. Karena memang sudah kodratnya, jika cowok itu selalu salah. Ini murni kecelakaan, gak usah menyalahkan siapa pun,” jelas Irwan.  Jordan mengembuskan napas lega. Ia pikir, Irwan akan memukulnya, atau berceramah panjang lebar seperti Pak Rudi. “Siapa nama kamu?” tanya Irwan. Jordan tersenyum sopan kemudian menjawab, “Jordan, Pak.” Ia sedikit kecewa karena tak dikenal pemilik sekolah padahal dia adalah Ketua OSIS.  “Oke, saya berterima kasih sekali, Jordan. Karena kamu telah membantu membawa putri saya ke rumah sakit. Kamu laki-laki yang baik.” Sesuatu di dalam diri Jordan serasa bangga karena dipuji seperti itu oleh orang kaya di depannya ini. Ia tersenyum lebar. “Terima kasih kembali.” Irwan menepuk bahu Jordan pelan kemudian melanjutkan langkahnya. “Saya keluar dulu, ya, Qiana galak kalau lagi lapar.”  Jordan terkekeh lalu mengangguk. Cowok itu lega selega-leganya. Ia berbalik dan kembali masuk ke ruang rawat Qiana. Hening beberapa menit.  Baik Qiana, Jordan atau pun Gilang tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka bertiga sibuk dengan pemikiran masing-masing. Gilang dan Jordan merasa canggung lebih tepatnya. Karena cewek datar di depan mereka ternyata anak pemilik yayasan sekolah. Sungguh fakta yang tak disangka-sangka. “Gue mau minta tolong.” Qiana memecah keheningan dengan suaranya yang dingin. “Apa?” tanya Gilang dengan lembut. “Kenapa minta tolong? Udah gak ada di lubanh lagi, kan?” sahut Jordan dengan suara menyebalkan.  Qiana menatap Jordan tajam. Laki-laki itu selalu saja membuatnya kesal. Dia berucap datar, “Tolong jangan bilang sama siapa pun kalau gue anaknya Papa Irwan.” “Tapi kenapa?” Gilang bertanya, alis tebalnya terangkat. Bukannya lebih bagus jika semua orang tahu? Tak akan ada yang berani macam-macam padanya. Begitu pikir Gilang.  “Gak apa-apa.” Qiana menggeleng. “Gak mau orang tahu aja.” “Oke, gue gak akan bilang,” ujar Jordan. Gilang ikut mengangguk. *** Suara bising di dalam kelas tak melunturkan semangat Tara dan Nessa untuk mengintrogasi Qiana yang baru saja datang.  “Apa?! Jadi yang dorong lo ... Clara?” Tara memelankan suaranya di akhir kata setelah mendengar penjelasan singkat Qiana.  “Tapi kenapa dia lakuin itu sama lo?” Nessa bertanya dengan dahi mengerut.  Qiana menghela napas. Baru saja dia sekolah hari ini dan dua teman barunya sudah memaksanya untuk bercerita. MOS sudah selesai dua hari lalu. Dan Qiana telah menempati kelas barunya. Kelas X IPS 3. Kenapa dia tak masuk IPA? Karena ia benci pelajaran Fisika. Dia lebih baik menghapal daripada menghitung. “Mungkin dia gak suka sama gue, kalian tahu sendiri Clara sinis terus,” sahut Qiana datar. “Lo gak mau lapor ke guru gitu?” Tara kesal bukan main saat tahu Clara lah yang membuat Qiana jatuh ke jurang. Walaupun Qiana masih terbilang teman barunya, tapi dia peduli padaQiana. Dan perbuatan Clara sudah melewati batas seorang senior. Cewek itu bisa mati jika saja Jordan tak segera datang. “Buat apa gue laporin dia?” tanya Qiana. Cewek itu mengangkat bahu. Ia tak terlalu peduli dengan kejadian beberapa hari lalu. Dan hey, mengadu bukanlah sikapnya meskipun dia punya segalanya.  Satu fakta yang harus kalian tahu kenapa Qiana tak ingin orang lain tahu lebih jauh tentangnya. Ia tak ingin punya teman yang hanya memandangnya dari statusnya sebagai anak pemilik sekolah. Dia ingin berteman dengan orang yang benar-benar tulus. Jaman sekarang, menjalin pertemanan dengan orang yang tulus itu lebih sulit daripada mengerjakan lima puluh soal matematika. “Dia, kan, udah celakain lo. Lo hampir mati tau gak,” ujar Nessa. Menurutnya, Qiana hanya menganggap kejadian kemarin sebuah kecelakaan biasa. Padahal itu adalah kesalahan fatal. “Eh, tunggu, Kak Jordan nemuin lo di lubang deket pos dua?” Tara bertanya saat menemukan keanehan.  Qiana mengangguk dua kali. Dia memang terjerembab ke dalam sana saat didorong Clara. Sepersekian detik sebelum jatuh, Qiana sempat melihat sekilas wajah orang yang ada di tempat itu.  “Kita ‘kan, juga balik lagi ke situ pas sekitar sepuluh menit lo gak datang. Tapi, kita gak nyadar lo ada di sana. Dipanggil juga gak nyaut.” Tara melanjutkan ucapannya.  “Kayaknya setelah jatuh gue langsung gak sadar. Makanya gak denger. Pas gue bangun, badan kayak remuk. Sakit kena semak dan kepala gue pusing.” Qiana menjawab.  “Ah, gak bisa bayangin gue. Pasti ngeri banget.” Nessa meringis.  “Udahlah gak usah dibahas lagi,” sahut Qiana datar. Obrolan mereka terhenti saat seorang guru berkaca mata minus dengan tubuh gempal masuk ke dalam kelas. Kelas itu langsung hening seketika. Meskipun mereka semua masih baru di sini, dari desas-desus yang terdengar, Pak Bima adalah guru sejarah paling killer di sini. “Kamu, ayo masuk!” seru Pak Bima pada seseorang di luar kelas.  Seruan dan teriakan tertahan anak cewek menggema di ruangan itu ketika seorang laki-laki berpakaian rapi dengan tubuh tegap memasuki kelas mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN