Hari semakin larut. Para peserta mulai berdatangan kembali ke tenda perkemahan. Ada yang berwajah ceria karena berhasil mengumpulkan semua tanda tangan OSIS. Ada juga yang berwajah kusut akibat capek atau mengantuk. Dan yang lebih parah lagi, Tara dan Nessa datang dengan napas menderu kencang. Kaki mereka bergetar. Keringat dingin mengucur di pelipis mereka.
“Kak! Qiana hilang!” Nessa berteriak begitu sampai di perkemahan. Dia kalut. Dia dan Tara tak menemukan Qiana. Gadis itu tak kembali-kembali sejak mengambil kayu bakar saat itu. Dicari ke tempat tadi mereka mengambil ranting pun, Qiana tidak ada. Semua orang menoleh pada Nessa dan Tara yang sedang cemas.
Bahkan Nessa hampir menangis. Dia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Qiana sendirian.
“Gimana bisa sampai hilang?” Gilang menghampiri mereka lalu bertanya. Ekspresi wajahnya kini sangat sulit terbaca.
“Gak tau Kak, setelah nyari kayu bakar dia gak balik lagi. Apa dia kesasar yah, Kak?” sahut Tara yang sekarang lebih tenang. Dia mengusap peluh yang mengalir di dahinya.
“Ada apa?” tanya Jordan yang baru saja datang. Dia menatap sekelilingnya yang riuh oleh sahutan panik para peserta. Terlebih lagi para perempuan yang mengira Qiana diculik hantu.
“Qiana hilang, Dan!” Gilang berseru. Ia mengusap wajah frustasi. Sepertinya hal ini akan rumit.
Mata Jordan melebar. Bagaimana pun juga, meski dia amat membenci gadis itu, tapi dialah yang paling bertanggung jawab di sini. Jika Qiana sampai kenapa-kenapa, dia yang menanggung semuanya.
“Cari dia sekarang! Lang, suruh para OSIS berpencar. Dan peserta, suruh mereka ke tenda masing-masing. Jangan ada yang keluar!” seru Jordan. Gilang mengangguk lalu segera menjalankan perintah Jordan.
“Kita mau ikut nyari, Kak,” pinta Tara dan Nessa berbarengan.
“Yaudah, entar kalian nyari bareng Kiran, yah,” simpul Jordan. Dia mengeluarkan senter lalu segera berlari menuju hutan. Sendirian. Ia sudah hapal sekali seluk beluk hutan ini. Karena ia sering camping di sini bersama teman-temannya jika merayakan tahun baru.
***
“Qiana! Lo di mana?!” Jordan berteriak kencang. Tatapan tajamnya menyapu setiap celah yang ia lewati kini.
“Lo tuh nyusahin banget jadi orang!” Jordan bersungut-sungut. Ia memancarkan senternya ke sana kemari. Bahkan ke atas pohon. Mungkin saja ia menemukan Qiana sedang menangis di pojokan pohon, kan? Seperti di sinetron-sinetron, perempuan akan menangis di dekat pohon jika dia tersesat di hutan. Tapi ayolah, ini sama sekali bukan sinetron.
Jordan melangkah cepat. Ia ingin segera menemukan gadis itu lalu tidur di tendanya dengan nyaman dan tenang. Cowok itu lelah sekali sepanjang hari ini. Tapi justru Qiana membuat ulah. Seharian ini gadis datar itu sangat menyebalkan. Tadi sore, Qiana menguping pembicarannya dengan Kiran. Dan sekarang malah tambah menyusahkan.
“QIANA!!!” Jordan berteriak lagi.
“Muka datar! Lo di mana, sih?!” Jordan beteriak frustasi. Habislah dia jika Qiana sampai tidak ditemukan. Ia akan dapat ceramahan panjang lebar dari para guru. Mungkin juga jabatannya sebagai Ketua OSIS akan diturunkan.
***
“Qiana!!!”
“Qiana lo di mana?!”
“Qiana?!”
“Qiana!!!”
“Qiana? Nyahut kek!”
Semua OSIS sahut-menyahut meneriakan nama Qiana. Mereka telah berpencar ke seluruh penjuru hutan yang tak terlalu luas itu. Wajah-wajah cemas dan frustasi menempel di wajah mereka. Terkecuali Clara dan kawan-kawannya yang malah terlihat kesal. Tapi ada seringaian kecil tercipta di bibir Clara.
“Tuh orang nyusahin banget sih hidupnya!” Clara bersungut-sungut lalu berkacak pinggang.
“Kenapa juga kita harus peduli sama dia?” lanjut Clara seraya mendengkus.
“Heh, gimana pun juga OSIS itu punya tanggung jawab yang besar! Coba lo pikirin, gimana khawatirnya jadi orang tua kalau anak lo hilang di hutan. Dan coba lo pikir, kalau lo yang hilang di hutan gimana?”
Clara terdiam mendengar ucapan Gilang yang begitu menohoknya. Gilang memang selalu terlihat tenang dan kalem, tapi dia akan telak sekali jika menyindir orang. Clara mengerucutkan bibir. Kenapa Gilang tak pernah bersikap manis padanya?
***
Jordan semakin terlihat putus asa. Sudah hampir tengah malam dan dia belum juga menemukan seseorang yang dicarinya. Rambutnya berantakan dan celananya kotor. Keringat lelah menetes di dahi dan pelipisnya.
“Qiana?!” Dia telah berteriak untuk yang ke sekian kali. Tapi tak pernah ada sahutan sedikit pun. Ia sempat berpikir, apa Qiana b***k? Atau Qiana pingsan entah di mana? Bagaimana jika gadis itu dimakan hewan buas? Akan repot sekali jika memang iya.
Hey, Jordan tampak tenang sekali memikirkan hal itu. Apa dia tak sadar? Jika yang dia pikirkan itu amat berbahaya.
“Arrgghhhh!!!” Jordan mengerang frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya. Tapi sedetik kemudian, tanpa sengaja ia menangkap sesuatu di depan sana. Di atas tanah itu. Ada sebuah senter yang menyala tanpa ada pemiliknya. Secercah harapan muncul di hati Jordan. Ia mendekati senter itu pelan-pelan. Takut jika senter itu milik makhluk halus.
“Jordan?” Cowok itu terkesiap saat mendapati Odi yang muncul dari balik semak-semak. Odi memungut senter yang ada di tanah tadi.
“Itu punya lo?” tanya Jordan. Ia menghela napas berat. Kecewa karena ternyata senter itu milik Odi.
“Iya.” Odi cengengesan.
“Abis ngapain lo di sana?” Mata Jordan memicing. Dia menatap Odi curiga. Sedangkan Odi hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Salah tingkah.
“Gue habis buang air.” Odi menunduk malu. Semburat merah muncul di pipi tirusnya. Jordan refleks menutup hidungnya seolah mencium bau yang tak enak. Saat itu juga, Odi semakin malu.
“Lo kagak cebok yah?!” seru Jordan.
“Dilap doang.” Odi nyengir lebar.
“Pake apaan? Tisu?”
“Daun.”
“What? Gila kali ya!” Tawa Jordan meledak.
Odi hanya bisa cengengesan. Habisnya, dia sangat tidak tahan. Akhirnya nekat buang air di balik semak-semak. Untung saja tak ada Mbak Kunti yang menggodanya.
“Udah gak usah ketawain gue, cepat sana cari lagi si Qiana.” Odi mengalihkan pembicaraan. Cowok berkacamata itu segera pergi dari sana.
Jordan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada-ada saja tingkah Odi. Saat semua orang panik dia justru buang air. Eh salah, buang daun. Kan, pake daun?
Cowok berjaket biru itu melanjutkan langkahnya yang makin terasa berat. Pandangan dan pendengarannya ditajamkan lagi. Lalu ia terpaku sejenak. Jordan mendengar suara ringisan yang sangat lemah sekali. Cowok itu mendekati suara yang kini semakin jelas terdengar. Kali ini ia hanya berharap, jika yang didengarnya kali ini bukan suara dedemit atau sejenisnya.
“Arrrgghh ... tolong ...!”
Suara itu semakin jelas. Dan Jordan yakin, kali ini dia benar. Itu Qiana. Qiana Carabella! Junior paling songong yang pernah ia temui.
“QIANA?!” Jordan berteriak lagi. Kali ini ia mengeluarkan seluruh suara yang dia punya.
“Tolong ... di bawah!”
Jordan refleks melihat ke bawah. Tidak, tepat ke lubang besar sedalam 3 meter di sampingnya. Cowok itu menyorot seseorang yang sedang terbaring lemah di sana, di antara semak belukar dan dedaunan kering.
Akhirnya! Ya, itu Qiana. Jordan menatap gadis itu lamat-lamat. Kondisinya sangat payah. Ia melihat ada sebuah bercak darah di pelipis cewek itu. Wajah dan pakaiannya juga teramat kotor.
“Lo Qiana, kan?” Jordan berteriak parau untuk memastikan. Ia menyorot seseorang di bawah sana dengan senter yang ia pegang.
“Jordan! Tolong!” Qiana berteriak dengan sisa suara dan tenaganya. Rasa pusing di kepala membuat matanya ingin menutup.
Jordan dengan cepat turun sehati-hati mungkin ke lubang itu. Tangannya berpegangan pada akar pohon. Dengan sisa kekuatan yang dia punya, Jordan menggendong Qiana yang sudah pingsan dengan gaya bridal style. Membawanya ke perkemahan.
Sesampainya di sana setelah berjalan tertatih menggunakan sisa-sisa tenaga yang Jordan punya.
“QIANA!!!”
Tara dan Nessa berteriak dramatis. Bukan karena kali ini gadis itu tengah digendong oleh Jordan. Tapi karena mereka melihat darah berceceran di kaki cewek itu. Juga di dahi dan pelipisnya. Baju yang dikenakan Qiana juga kotor.
Tara, Nessa dan para OSIS lainnya memang telah kembali beberapa menit lalu setelah menyerah. Tapi mereka lega saat Jordan berhasil menemukan Qiana meski dengan keadaan pingsan.
“Qiana!” Gilang berseru khawatir. Dia mengahampiri Jordan yang juga acak-acakan. Di baju lelaki itu menempel darah dari dahi Qiana. Semua orang terlihat panik. Bahkan Nessa dan Tara sudah menangis karena tak tega melihat teman mereka seperti itu. Mereka takut hal buruk akan menimpa Qiana.
“Panggil ambulan, bodoh!” Jordan berteriak marah pada anak OSIS yang malah menonton.
***
Lorong rumah sakit yang tadinya lengang itu kini terdengar bising karena sekarang, seorang guru laki-laki berkacamata bulat sedang mengeluarkan kemarahan pada cowok di depannya.
“Kamu itu bagaimana, sih? Para guru tidak ikut karena kami percaya sama kamu! Tapi kamu malah lalai. Lihat, sekarang apa yang terjadi sama Qiana. Dan kamu tahu, orang tuanya marah sekali saat saya menelepon memberitahu dia. Dan yang pasti, kamu akan tahu dia siapa sebenarnya.” Pak Rudi, Guru BK di sekolah sedari tadi terus menyeramahi Jordan yang sedang duduk dengan wajah kusut di depan ruang rawat Qiana. Omelan dari Pak Rudi susah payah ia telan bulat-bulat.
Gadis itu dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian yang menimpanya. Gilang yang menelepon ambulan. Dan sekarang, Jordan hanya pasrah menerima kemarahan Pak Rudi.
“Pak, udah dong. Jordan gak salah. Justru dia yang nemuin Qiana,” tutur Gilang. Berusaha menghentikan Pak Rudi yang terus mengoceh dan melontarkan pertanyaan menjebak. Dijawab salah, tidak dijawab makin salah. Karena guru selalu benar.
“Qiana? Di mana dia?” Seorang pria paruh baya bertanya panik pada tiga orang yang ada di depan ruang rawat Qiana.
Jordan dan Gilang mematung menatap laki-laki itu. Mereka saling tatap. Ini sungguhan?
Sudah bisa ditebak oleh Jordan, jika laki-laki itu adalah Papanya Qiana. Dan yang paling mengejutkan lagi, Papanya adalah pemilik Yayasan Citra Jaya. Siapa yang tak mengenal Irwan di kota ini? Pengusaha sukses yang memiliki banyak hotel, yayasan pendidikan dan apartemen.
“Tidak ada luka serius, Pak. Qiana hanya pingsan. Dan dahinya sedikit dijahit karena robek.” Pak Rudi menjelaskan dengan hati-hati.
Irwan terlihat menghela napas panjang. Sedikit lega tapi juga marah. Dia tak ingin Qiana tergores sedikit pun. SEDIKITPUN!
Dan ia marah pada dirinya sendiri karena lagi-lagi, ia lalai dalam menjaga putrinya. Pria itu bergumam dalam hati. Mengucapkan beribu maaf pada mendiang istrinya.