Akibat Pesan Itu

1268 Kata
Tepat pukul delapan malam, para OSIS berpencar di hutan. Kecuali Gilang dan Jordan yang masih diam di perkemahan untuk menjelaskan detail acara malam ini. Langit yang gelap pekat menyelimuti bumi perkemahan. Suara derik jangkrik menjadi nyanyian malam yang lumayan membuat mengantuk. Tapi tentu saja ini belum waktunya untuk tidur. “Kepada para peserta MOS, semuanya kumpul!” Gilang berteriak menyuruh semua peserta MOS keluar dari tenda untuk melakukan acara yang pertama, mencari jejak. Tak lama setelah teriakan Gilang tadi, semua peserta berhamburan keluar dari tendanya dan segera berbaris rapi di petak lapangan kecil yang dikelilingi oleh tenda-tenda. Tak ada guru yang ikut. Mereka memercayai semuanya pada para senior. Ada dua puluh  OSIS yang ikut. Cowok 10, cewek 10. Dan  tersisa di sini  2 orang karena yang lainnya telah menyebar di hutan. Dan yang sekarang sedang berdiri gagah di depan peserta MOS adalah Jordan. Dia senior yang paling ditakuti oleh peserta. Mengingat bagaimana sadisnya dia saat menghukum Qiana gara-gara terlambat di hari pertama. “Selamat malam semua!” Jordan menyapa dengan suara beratnya. Cowok itu terlihat semakin tampan dengan jaket biru tua yang ia pakai. “Malam, Kak!” Peserta menjawab serentak. “Jadwal kita kali ini adalah mencari jejak. Sudah ada beberapa petunjuk di jalanan hutan yang akan menuntun kalian ke pos-pos yang dijaga para OSIS. Tugas kalian adalah meminta tanda tangan dari OSIS yang menjaga pos tersebut. Kelompok yang mengumpulkan tanda tangan paling lengkap, yaitu 15 tanda tangan OSIS dianggap menang.” Jordan menjelaskan dengan jelas dan tegas. Tak ada yang berani menyela perkataannya. Qiana? Mungkin ia berani. Hanya saja ia tak berminat mencari ribut mengingat kejadian memalukan tadi sore. “Semua mengerti?!” Jordan berseru semangat. “Mengerti!” Seluruh peserta balas teriak. “Kurang semangat! Kalian Mengerti?!” Jordan teriak lagi. “Mengerti!!!” Peserta berteriak lebih kencang dan semangat. Udara malam yang dingin malah membuat para peserta berkeringat karena takut melintasi hutan. Apalagi ketika terdengar suara hewan-hewan liar. Seakan-akan itu adalah backsound yang siap mengiringi petualangan mereka. “Bagus! Ayo semuanya silahkan mulai perjalanan kalian,” ujar Jordan. Para peserta segera memasuki hutan dengan penerangan dari senter yang mereka bawa. “Gue takut nih, Qi.” Tara berbisik pada Qiana yang berdiri di antaranya dan Nessa. Gadis itu memegang sebuah senter. “Gak perlu takut,” ujar Qiana pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar hutan mencari-cari petunjuk. “Eh, itu panahnya tuh!” Nessa berseru antusias, seraya menunjuk pohon di depan sebelah kiri. Mata Qiana dan Tara berbinar seketika. Mereka bertiga pun mengikuti petunjuk arah itu. Melintasi jalanan hutan yang lengang dan gelap. Hingga tak lama kemudian mereka mendapati tiga orang OSIS dengan penyinaran lilin-lilin di sekitarnya. Di sana ada Odi, Marun dan Viona. “Permisi Kak, boleh minta tanda tangannya?” Nessa bertanya dengan sopan seraya tersenyum. “Buat apa? Tanda tangan Kakak mahal lho, Dek. Kakak kan, Jefri Nichol kw,” kata Odi bercanda. Tara dan Nessa menggaruk tengkuk mereka, nyengir malu-malu. Qiana diam. Dia tak suka dengan situasi yang seperti ini. Terlalu bertele-tele. Bukannya para OSIS yang menyuruh minta tanda tangan? Kenapa pula masih bertanya? “Oke, kalian bertiga nyanyi lagu potong bebek angsa pakai huruf U,” cetus Viona. Qiana, Tara dan Nessa pun mulai menyanyi. Qiana berekspresi masam. Ia tak suka menyanyi, eh, tak bisa mungkin lebih tepatnya. “Oke, sini bukunya,” ujar Marun. Qiana, Tara dan Nessa menyerahkan buku mereka. “Makasih, Kak,” balas Tara. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanan. Tara semakin merapatkan badannya. Dia takut. Tak seperti Qiana dan Nessa yang tenang-tenang saja. “Ke mana lagi, nih?” tanya Tara lesu. Dia menyeka keringat dingin di dahinya. Jika di rumah, biasanya jam segini dia sedang asyik bermimpi kencan dengan Justin Bieber. “Aaaaaa!!!” Tara refleks berteriak saat melihat sebuah kain putih tergantung di sebuah pohon. Kesiur angin membuat kain itu bergerak-gerak. Sangat terlihat menyeramkan di mata Tara. “Yaelah cuma kain doang, Ra! Palingan itu kerjaan OSIS.” Nessa mendengkus kemudian berseru, “dasar penakut!” Nessa tertawa. Tara menatap Nessa tajam. Napasnya menderu kencang. Dia betul-betul takut dengan hal yang mengagetkan semacam itu. Jika bagi orang lain hal ini lucu, maka tidak bagi Tara. “Nah, itu dia petunjuknya!” Qiana berseru lalu berjalan cepat diikuti Tara dan Nessa. Tara masih mengatur napasnya dan sesekali memeluk Nessa ketika mendengar suara jangkrik berderik. Mereka bertiga menatap ketiga OSIS perempuan itu. Tara dan Nessa menunduk takut. Siapa yang tak kenal Clara dan dua dayangnya? Resty dan Santi. Mereka sangat s***s sekali jika mem-bully. Lebih s***s dari Jordan. Ketika hari pertama, ada peserta yang dimarahi oleh Clara sampai menangis hanya karena dia lupa membawa tas karung goni. Qiana tetap berekspresi datar. Dia tak takut pada siapa pun! Bahkan pada kuntilanak berwujud OSIS di depannya ini. “Gue minta tanda tangan,” ucap Qiana lalu menyodorkan buku yang dia pegang. Sepertinya cewek itu lupa bagaimana cara menghormati senior. Sebenarnya bisa saja, cuma, beda dengan yang satu ini. Dia selalu saja mencari masalah padanya. “Hah? Apa lo bilang?” Clara tertawa mengejek. “Gue minta tanda tangan. Lo b***k?” Qiana mendengkus. Clara dan dua temannya menggeram kesal. Berani sekali dia pada mereka. Tara dan Nessa tetap menunduk. Berjaga-jaga dengan situasi. Jika Qiana tiba-tiba diterkam ‘kan, bahaya! “Cari ranting pohon! Masing-masing 20 ranting!” Santi memerintah dengan ketus. Dia menatap Qiana tak suka. Baginya, Qiana adalah tukang caper! “Bilang dong dari tadi!” Qiana balas berucap ketus. Dia menarik tangan Tara dan Nessa yang sejak tadi diam untuk mencari ranting pohon yang disuruh Clara dan para temannya. “Ih sumpah ya, kalo gak karena disuruh, gue ogah banget minta tanda tangan tuh Nenek Lampir! Lebih baik gue minta tanda tangannya Lucinta Luna.” Tara menggerutu lalu mulai memunguti ranting yang ada di sekitarnya. Dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Pipinya menggelembung. “Lo tadi diam aja. Sekarang baru ngegerutu gak jelas!” sungut Nessa. Dia pun sedang memunguti ranting. Qiana sedari tadi hanya diam sambil memunguti ranting pohon. Ia justru selalu terbayang oleh pesan tadi sore. Pesan dari seseorang di masa lalunya. Orang yang tak ia inginkan untuk kembali mengusik hidupnya. Ayolah, Qiana sudah mulai lupa tapi dia seenaknya datang lagi. “Lo gak apa-apa, kan, Qi? Lo dari tadi diam aja.” Tara bertanya. “Gak apa-apa,” jawab Qiana pendek. “Yaelah Ra, lo kayak baru tau aja. Qiana, kan, emang suka diem.” Nessa nyengir. “Eh, lo udah dapet dua puluh belum, Nes?” tanya Tara. “Udah nih.” Nessa menunjukkan ranting-ranting kayunya. “Lo udah, Qi?” Nessa melirik Qiana yang sedang melamun. Nessa menepuk bahu Qiana hingga gadis itu terperanjat. “Lo ngagetin gue aja!” Qiana berseru. Tara dan Nessa terbahak. “Lagian ini di tengah hutan. Jangan ngelamun, Qi. Entar lo kerasukan dedemit baru tau rasa.” Tara tertawa lagi. “Lo udah dapet, Qi?” Nessa mengulang pertanyaanya. “Belum. Kalian duluan aja ke si Claranya,” ujar Qiana sambil terus memunguti ranting pohon. Ia terlalu banyak memikirkan orang itu sehingga tidak berkonsentrasi. “Gak apa-apa, nih? Atau mau kita bantu? Lo kayaknya gak enak badan, ya?” tanya Tara. Memastikan. “Enggak, gak apa-apa gak usah dan gue gak sakit,” jawab Qiana. Tara dan Nessa mengangguk mengerti. “Yaudah, entar kita nunggu lo di tempat si Clara, yah,” ujar Tara lalu melangkahkan kakinya menuju Pos dua. Tempat Clara dan kawan-kawannya berada. Nessa mengikuti. Qiana masih terus diam. Sepertinya dia benar-benar melamun. Hingga akhirnya sebuah tangan mendorong punggungnya dengan kencang. Aaaaa ...! Gadis itu berteriak. Tubuhnya menggelinding tak terkendali ke tanah yang berlubang cukup dalam di sampingnya. “Rasain lo!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN