Pesan Dari Masalalu

1531 Kata
Qiana menendang-nendang bebatuan kecil yang ada di hadapannya. Ia terduduk di rumput yang menghiasi tepian danau. Kaki jenjangnya diselonjorkan ke depan. Gadis itu menghela napas kasar. Siapa juga yang caper? ujarnya dalam hati. Hal yang paling tak Qiana sukai adalah diejek. Ya, sekalipun ia memang pantas mendapatkan hal itu, tapi tentu saja ia tak mau. Memangnya ada orang yang mau diejek? Apalagi dipermalukan di depan banyak orang. Namun jaman sekarang, senior banyak yang seperti itu. Sok berkuasa dan menindas sesukanya. Mencari-cari kesalahan adik kelas agar ia dapat memberikan hukuman. Drrrttt....  Benda persegi panjang di saku celana Qiana bergetar. Ia mengambilnya dan membuka satu pesan email. Sinyal yang lumayan buruk membuat Qiana harus menunggu lama agar pesan dapat terbuka. Gadis itu tergugu melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan. Mulutnya bergetar ketika membaca satu per satu kata dari kalimat yang tersusun. Dear Qia, Hai Qia, duh, kok kayak canggung banget gini, ya. Hmm ... Mungkin hal yang udah gue lakuin di masa lalu yang bikin hubungan kita jadi renggang seperti ini. Salah gue juga sih, bisa-bisanya tergoda dengan sesuatu yang terlihat lebih indah. Akhirnya, gue malah kehilangan orang yang benar-benar paling terbaik. Lo tau? Gue merasa jadi orang yang paling b**o, Qia. Oke gue gak mau bertele-tele karena lo gak suka itu. Tujuan gue ngirim pesan ini adalah untuk minta maaf. Gue harap, masih tersisa pintu maaf buat gue di hati lo. Mulai sekarang, gue akan kembali ke dekat lo. Gue akan tempatin posisi gue yang dulu. Yaitu, jadi orang spesial di hati lo. Gue akan memantaskan diri lagi buat lo. Qia, I miss you.  Tertanda, Rangganya Qia, bukan Cinta. Qiana refleks meremas ponselnya seolah itu adalah benda lunak yang mudah hancur. Bisa-bisanya orang itu menghubunginya kembali. Seolah tak sadar hal apa yang telah membuat mereka jadi seperti ini. Meminta maaf dan dengan mudahnya mengatakan rindu? Gadis itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu berdiri dan menatap hamparan air danau yang tenang. Kembalinya sebuah pesan dari masa lalu, membuatnya kembali mengingat kejadian-kejadian yang tanpa sadar telah ia lewati. Sebuah pengalaman buruk. Paling buruk yang pernah terjadi dalam di hidupnya. Titik terendah dari kekuatan yang ia miliki.  Ia berbalik hendak kembali ke perkemahan karena hari mulai senja. Langkahnya terhenti ketika melihat dua orang yang tak asing baginya sedang tertawa-tawa sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Jordan dan Kiran. Entah apa yang membuat Qiana ingin terus di sana dan mendengarkan percakapan yang sebenarnya sangat tidak penting untuk didengarkan. Cewek itu bersembunyi di balik pohon. Terus memerhatikan dua orang yang sedang mengobrol seru. “Dan, sebenarnya, perasaan lo ke gue itu gimana, sih?” tanya Kiran lalu menunduk dengan pipi merona. Seharusnya ia tak perlu segugup itu karena pertanyaan ini telah ia siapkan dari kemarin. Cewek itu melirik Jordan yang terdiam. Jantung Kiran berdetak lebih cepat karena takut jawaban Jordan tak sesuai dengan harapannya. Melihat Jordan yang tak kunjung menjawab, Kiran melemparkan ucapan lagi. “Perhatian-perhatian lo selama ini, kebaikan lo ke gue, apa itu karena ... lo suka sama gue? Atau cuma gue aja yang kege’eran?” “Gue suka kok sama lo. Bahkan dari kita masih kelas sebelas. Alasan gue ikut menyalonkan diri jadi Ketua OSIS pun, untuk bisa dekat sama lo,” jawab Jordan. Kiran menganga. Tak percaya dengan satu fakta itu. Seketika pipinya terasa panas. Ia mengulum senyum. Qiana yang mendengar ucapan itu merasa mual. Ternyata Ketua OSIS gila itu juga bisa berkata-kata manis di depan wanita? Gadis itu masih setia berdiri sambil menguping. Ia merapatkan badannya ke pohon agar tak terlihat oleh Jordan dan Kiran. “Lo serius, Dan?” tanya Kiran. Pipinya semakin memerah dan hatinya meletup-letup oleh rasa bahagia. Ia sudah berangan-angan jika hari ini akan menjadi sesuatu yang paling berharga.  “Serius, Ran. Ternyata kalau lo lagi malu, lucu juga ya, pipi lo kayak tomat mateng,” goda Jordan sambil tertawa. Kiran memukul bahu Jordan pelan lalu bertanya, “jadi?” “Jadi apa, Ran? Jadi apa prok prok prok!” Jordan tertawa.  Kiran memukul bahu cowok itu lebih keras karena kesal. Jordan tidak peka atau memang sedang mempermainkannya, sih? Qiana menghela napas kasar. Ternyata percakapan itu semakin membosankan dan menyebalkan. Cewek itu memilih segera pergi. Namun naas, bruuukkk! Ia terjerembap ke tanah karena tak melihat akar pohon yang menghalangi jalan. Qiana menggerutu kesal. Ia menatap telapak tangannya yang berdarah karena lecet terkena batu-batu kecil. Jordan dan Kiran yang mendengar suara sesuatu jatuh, langsung menghampiri sumbernya. Mereka berdua terbelalak melihat Qiana yang tersungkur di atas tanah. “Yaampun, Dek, kamu gak apa-apa, kan? Kok bisa jatuh, sih?” Kiran segera membantu Qiana berdiri.  Gadis itu meringis pelan kemudian berdiri tegak. Ia beradu tatap dengan Jordan. Saling melempar tatapan datar dan penuh ketidak sukaan. Sepertinya bendera permusuhan sudah terkibar di antara mereka sejak pertemuan pertama.  “Makanya, jangan suka ngintipin orang! Kena batunya, kan?” sindir Jordan.  Qiana terbelalak. Pipinya terasa panas. Jadi, Jordan tahu? Aduh! Itu sangat memalukan Qiana! “Yuk ke tenda, tangannya biar diobatin,” ujar Kiran lalu tersenyum ramah. Qiana mengangguk dan bersyukur karena ada Kiran. Jika cewek itu tak ada, entah bagaimana nasibnya di tangan Jordan. Apakah ia akan dihukum mengambil air dari sungai hingga ke perkemahan karena ketahuan menguping? Oh tidak, itu bukan hal yang menyenangkan. Kiran segera membawa Qiana ke tenda. Jordan mendengkus kesal. Itulah kenapa ia tak langsung nembak Kiran tadi. Ia merasa ada yang mengintipnya. Dan ternyata benar, kan? Ternyata si cewek datar itu yang menguping. Sebenarnya alasan lain yang membuat Jordan tak langsung mengajak Kiran pacaran adalah, ia ingin mencari tahu lebih jauh tentang perasaannya pada Kiran. Beneran cinta atau hanya kekaguman sesaat. *** “Qi, lo habis darimana? Tadi Kak Gilang nyariin lo,” ujar Tara saat Qiana memasuki tenda bulat mereka yang telah berdiri sempurna. Gadis itu mengerutkan dahinya lalu duduk di sebelah Nessa. “Mau apa?” “Gak tau deh. Tapi dia kayak khawatir gitu lho.” Tara nyengir. Sengaja menggoda Qiana. Tapi gadis itu hanya mengangkat bahu tak peduli. Jika yang mencarinya Jordan, mungkin Qiana bisa menebak hal apa yang akan terjadi. “Tangan lo kenapa, Qi?” Nessa bertanya ketika melihat sebuah plester coklat di telapak tangan Qiana.  Cewek itu terdiam. Refleks mengingat kejadian memalukan di dekat danau. Duh, kenapa pula ia harus sekepo itu tadi? Tangannya terkepal karena gemas. Mau ditaruh di mana wajahnya ketika bertemu Jordan? Pasti cowok itu akan memarahinya. Atau bertingkah semakin menyebalkan dan seenaknya. “Qi? Kok ngelamun, sih? Hati-hati lho, ini di hutan. Nanti, kalau lo kerasukan gimana?” Tara menoyor Nessa yang asal bicara. “Lo percaya hantu, Nes? Hari gini ya, yang paling serem itu bukan ketemu hantu di tengah hutan. Tapi dapet pesan dari mantan pas kita udah susah payah buat lupain dia!” seru Tara dramatis. “Yee, kok lo ngegas, sih! Bawa-bawa mantan pula. Lo lagi ngerasain ya, Tar?” sungut Nessa.  Qiana kembali diam. Ucapan Tara begitu pas dengan posisinya kini. Tadi sore, ia baru saja dapat pesan kangen dari mantan pacarnya. Duh, serem, kan? Lebih horor daripada ketemu setan yang pipinya robek sampai ke telinga. Mantan itu... kadang ngeselin. Dia kembali dan menyapa seolah memberi harapan baru. Tanpa tahu atau berpikir jika kita telah bersusah payah untuk melupakan. Waktu panjang yang telah dilalui, seolah sia-sia cuma karena satu kata.  “Lo kenapa cuek banget kayak gitu sih, Qi? Oh, atau cuma ke orang baru aja?” Nessa bertanya hati-hati. Dia tersenyum ramah. “Gak apa-apa,” jawab Qiana. “Apa lo gak biasa sama orang baru?” Nessa bertanya lagi.  Qiana tersenyum kecut. Entahlah, mungkin iya. Dia terlalu hati-hati untuk memilih teman lagi. “Mungkin dia butuh adaptasi yang lama, Nes.” Tara tersenyum. “Kita mau kok jadi teman lo, Qi. Pokoknya kalo lo gabung sama kita, lo gak akan bisa berhenti ketawa!” seru Tara ceria.  Qiana hanya tersenyum kecil. Jujur saja, dia nyaman berada di antara Tara dan Nessa. Mungkin ini saatnya dia melupakan kenangan masa lalunya. Tapi tentu saja menghapus itu semua tak akan mudah. Sekalipun kita sudah dapat penggantinya. Jika hati kita masih tersangkut di sana, bagaimana bisa lupa? “Oh iya, malam ini kita mencari jejak, lho!” seru Nessa dengan mata berbinar. Baginya hal itu sangat seru. Meski pun sedikit menakutkan, tapi ini akan menyenangkan. “Mencari jejak?” Qiana bertanya antusias. Dia suka hal yang seperti ini. “Iya, Qi. Katanya entar di perjalanan bakalan ada petunjuk buat nemuin kakak-kakak OSIS. Terus kita disuruh minta tanda tangan mereka. Waaahhh! Gue pengin dapetin tanda tangannya Kak Riski!” Tara menjelaskan dengan semangat. Qiana mengangguk mengerti. Sepertinya akan seru. “Lo suka ya, sama Kak Riski? Gak boleh, Tar! Dia punya gue!” sergah Nessa. Tara menggeleng tegas. “Enggak! Dia punya gue. Titik!”  “Ih, lo mau jadi tukang tikung?!” “Lo yang nikung gue, Nes!” tukas Tara sebal. Perdebatan tanpa ujung itu terus berlanjut. Qiana yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tingkah Tara dan Nessa, tepat seperti teman-temannya dulu. Sering bertengkar, rebutan gebetan, beradu mulut setiap hari, tapi itulah persahabatan yang sesungguhnya.  Seorang teman akan memuji dirimu cantik. Tapi tidak dengan sahabat. Dia akan berseru sambil merendahkan, “muka lo kayak p****t panci!” Namun, yang jujur tetap lebih baik meskipun menyakitkan. Daripada kebohongan yang menyelamatkan sesaat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN