Melebur Jiwa

552 Kata
“Do you wanna go to bed now?” Sara menghampiri Renas yang berbaring di lazy bag menghadap laut di ruang utama berkumpul di Pulau Macan malam itu. Renas menatap istrinya yang berdiri tepat di sisi kiri nya, 2 buah gelas di tangan kanan dan botol anggur merah di tangan kiri nya. “Lay down with me.” Renas menggenggam tangan kanan Sara, mengambil kedua gelas dari tangannya dan meletakkannya bersama dengan botol Ferrari Brut di meja. “It’s almost eleven, aren’t you tired yet?” Sara meneguk sekali saja, meletakkan gelas berisi anggur merah 12,5% itu kembali ke meja dibelakang. “Let’s just stay here for two more hours.” Renas tersenyum, kembali berbaring, meletakkan lengan kiri nya tepat dibawah leher istrinya, membiarkannya beristirahat di d**a. “Are you happy?” Renas bertanya, tiba-tiba saja, mengejutkan Sara. Masih menatap langit yang gelap tidak ada bintang malam itu. Laut yang tenang, tidak ada orang lain selain mereka; semua staff sudah kembali ke pondok mereka masing-masing. “I am.” Sara menjawab halus, nada berbicaranya penuh dengan pertanyaan, menatap suaminya. “Why are you asking me this?” Sara melanjutkan. “Do I make you happy?” Renas kembali bertanya dengan nada serius, kini menatap istrinya balik, masih berbaring dan memeluknya. “Hey, ada apa?” Sara melepaskan pelukan Renas, menyangga tubuhnya dengan siku kanan nya, menatap suaminya tajam. Renas tidak seharusnya bertanya, dia mengerti benar seberapa besar dia membuat Sara bahagia, malam itu. “Answer me.” Renas melemparkan senyuman kepada istrinya, “please”. “You do.” Sara menegaskan. “More than you imagine,” lanjutnya. Renas masih berbaring, hanya saja kilau di mata nya hilang, berduka. “Maafkan aku. Saat kamu kehilangan janin kita di usia sangat dini. Aku mengerti betapa terpukul nya kamu, aku pun sama. Tidak ada untuk kamu saat itu, aku menjauh, menarik diri, mempertanyakan apa lagi arti pernikahan ini. Cinta ku belum cukup saat itu. Aku pikir dengan kehadiran seorang anak bisa membuatku lebih mencintaimu, sehingga saat kita kehilangan, aku terpuruk, karena harapanku hilang bersamanya. Aku salah besar. Kamu lebih dari segalanya, lebih dari seorang anak yang sangat aku harapkan. Kita akan terus mencoba, tapi apapun hasilnya, tolong mengerti bahwa kamu selalu punya aku, begitu pun sebaliknya. Kamu jauh lebih penting. Aku tidak tahu harus apa tanpa kamu”. Renas menyangga tubuhnya dengan siku kiri nya, menatap istrinya dalam-dalam, bersungguh-sungguh. “Lupakan keluargaku, hanya Helen yang bisa kita percaya, lupakan yang lainnya. Aku tidak akan pernah menyerah, begitu pun kamu aku percaya. ‘til death do us apart, you hear me?” Air mata tidak kuasa terbendung, Sara meledak. Menangis tepat didepan laki-laki yang sangat dia cintai. “What a night…” Sara menangis. Renas menyentuh wajah cantik istrinya dan mengistirahatkannya tepat di d**a, memeluknya, menenangkan nya. Malam ini berbeda Penuh ketulusan Saat dia di dalamku, tidak ada lagi nafsu membara, hanya cinta dan waktu yang berhenti Maafkan setiap malam kelam Malam ini semua lebih indah Saat aku di dalam mu Detik berhenti, waktu membeku Sungguh aku mencintaimu “I love you.” Renas berbisik, menyatukan jari-jari nya dengan jari-jari Sara, masih berdansa dengan tubuh istrinya, malam itu, di Pulau itu. “I love you”. Sara menyelaraskan nafas, menghembuskan nafas panjang. Malam itu terpenuhi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN