Api Cemburu

542 Kata
Siang hari itu tepat sebelum mereka kembali ke Jakarta, ponsel Sara berdering ketika Sara sedang mengambil makan siang. Renas sudah menunggu di lounge, sangat tampan dengan sweater hitam dan celana jeans biru tua nya, memandangi ponsel Sara yang berdering. Renas meraih iPhone 5s Sara untuk melihat siapa yang berani-berani nya menghubungi istrinya saat itu juga, saat sedang berlibur. Terpampang nama seorang laki-laki dengan foto laki-laki tersebut sedang merangkul Sara di hari kelulusan saat di Sekolah Menengah dulu. Tidak lama berselang, Sara bergabung dengan Renas. “Who’s Richard?” Renas masih menggenggam ponsel Sara, bertanya dengan nada serius dan mencurigai. “Oh, did he just call?” Sara memandangi suami nya yang sedang menggenggam ponsel miliknya, menyadari bahwa Richard pasti menghubungi Sara untuk makan siang. Renas tidak bergeming, masih dengan ekspresi cemburu nya. “Richard, Richard, my friend back in middle school…” Sara masih berdiri tepat diujung meja, sangat dekat dengan Renas, mengerti benar seberapa cemburu suaminya. “The one we met at Hacienda.” Sara mengingatkan. “Ah, that one.” Renas kembali teringat. Masih dengan tatapan penuh kecemburuannya. “Dia di Jakarta selama beberapa waktu sebelum pindah ke Kalimantan, mengajak kita makan siang bertiga.” Sara berbohong, bukan bertiga, hanya berdua. Sara berbohong siang itu, entah untuk apa. Hanya terlalu takut merusak suasana hati dan merusak apa yang telah kembali dibangun. Tetap, Sara berbohong. “Then tell him we’re going this Saturday.” Masih dengan tatapan setengah tidak suka namun Renas tidak memalsukan senyuman, apa adanya. Sara mengerti benar suaminya mencemburui Richard yang baru saja menghubungi Sara. “Very well.” Sara tersenyum, menarik kursi tepat di sebelah Renas. “Sit right in front of me,” Renas meminta. Masih tanpa senyuman. Renas selalu selangkah di depan Sara. Siang hari itu dibawah terik matahari, Renas menginginkan Sara duduk di depan nya untuk dapat menatap mata istrinya, melihat apakah dia berbohong. Sara mengikuti perintah suaminya. Sejenak, mereka menyantap makan siang. “Will you tell me every time you go out with your friends?” Renas menyela, tidak menatap istrinya, masih mengiris beef di atas piring nya. “Of course.” Sara tersenyum, menyentuh tangan kiri suaminya, menatap nya dalam-dalam. “Say, if i didn’t know Richard called this afternoon, would you still tell me? Or will you…” Renas mengambil jeda, “have lunch with him, just the two of you?” Renas menatap Sara balik. “I would still tell you.” Sara dengan sabar menjawab setiap pertanyaan Renas, tidak marah sedikitpun, Sara justru menyukai kecemburuan Renas. Sangat menyukainya. “In the right moment. Besides, I love spending time with you the most, only with you.” Sara meyakinkan. Untuk beberapa detik Renas hanya memandangi Sara dengan tatapan masih api cemburu yang masih membara. “Don’t hang out with any of your male friends without me… promise?” Renas menuntut. “I promise.” Sara sangat bersungguh-sungguh. Rela tidak berkawan hanya untuk menjaga perasaan suaminya yang sangat dia cinta itu. Rela berkorban apa saja untuk Renas. Apa saja. “You can trust me.” Sara tersenyum, menghangatkan, meredam nyala api. Senyuman itu…. Renas teringat. Senyuman yang memutar kembali waktu tepat pada November 2013. Ya Tuhan….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN