Ketahuan

1565 Kata
Seira masih berdiri di depan meja kerja Adrian, menunggu perintah dari Bos barunya tersebut. Hampir satu jam Seira menunggu perintah dari Adrian, tetapi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari lelaki yang menjadi Bos-nya sekarang. Seira hanya bingung apa yang harus ia kerjakan, semua pekerjaan Adrian telah diatasi dengan baik oleh asisten dan sekretarisnya. Kehadirannya di ruangan Adrian lebih mirip seperti patung, yang hanya diam tak melakukan apa pun. Adrian tampak serius menandatangani beberapa berkas yang menumpuk. Semenjak kejadian beberapa jam lalu di tangga darurat. Adrian masih diam tak berbicara padanya. Lucas, asisten Adrian yang tengah melewati tangga memergoki Adrian saat berusaha menggoda Seira. Saat mendengar suara Lucas, ia langsung menarik badannya dan seolah tidak terjadi apa-apa. “Lucas? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Adrian ketus. Sementara Seira hanya menundukkan wajahnya. Ia tampak begitu malu karena ada orang lain yang melihat perilaku Adrian terhadapnya. “Saya hanya lewat saja, Tuan muda. Siapa dia? Sepertinya aku baru melihatnya, mainan baru Tuan?” Lucas beralih menatap Seira. Ia melihatnya dari atas sampai bawah. Menelisik penampilan Seira dari atas hingga bawah yang terlihat biasa. Setahu Lucas. Setiap wanita yang bersama Adrian memiliki selera fashion yang berkelas. Hampir mirip dengan Nikita sang mantan istri. Namun kali ini seorang wanita sederhana berada di samping bosnya. “Tutup Muluttmu, jangan kamu ganggu dia. Dia milikku. Kehadiranmu hanya menggangguku!” Ujar Adrian ketus. “Tenang Tuan, aku akan segera pergi.” “Tidak perlu! Kamu sudah merusak moodku. Jangan temui aku hari ini sampaj aku menelponnmu!” Ucapan Adrian terdengar ketus. Ia menggandeng Seira beranjak, meninggalkan Lucas yang masih berdiri di deretan tangga. Sang Asisten masih terdiam di tempatnya. Sepertinya kemunculannya datang di waktu yang tidak tepat. Sira sekilas menoleh dan menundukkan kepalanya pada Lucas. Ia merasa tidak enak dengan sikap Adrian yang terlalu arogan. Ia hanya takut jika Lucas menganggapnya wanitaa murahann. "Mau sampai kapan kamu akan berdiri di situ?" Adrian menghentikan aktifitasnya dan beralih menatap Seira yang masih kebingungan. "Aku menunggu perintahmu, apa yang harus aku lakukan? Semua pekerjaan telah diatasi sekretaris dan asistenmu, lantas apa pekerjaanku?" Seira tersadar dari lamunannya san berusaha beralasan. Agar Adrian tak curiga padanya. Bukannya menjawab, Adrian malah tersenyum melihat kegalauan Seira. Menaruh pulpennya, Adrian berjalan memutar dan mendekati Seira yang berdiri di depan mejanya. "Kamu tak perlu melakukan apa pun, kamu hanya perlu duduk saja agar lebih santai." Adrian menatap Seira dengan senyumnya. Ia kembali mencoba menggoda pegawai barunya tersebut. Wanita di depannya merasa tak nyaman dengan tatapan Adrian, ia mengalihkan pandangannya dan duduk di sofa. Menghindari tatapan Adrian yang hanya membuatnya salah tingkah. "Pak, aku hanya merasa tidak enak, kamu mempekerjakanku, tetapi aku malah berdiam diri nggak jelas seperti ini." Adrian mendekatinya, duduk di samping Seira. Lagi-lagi ia harus menahan kegugupannya karena kehadiran Adrian di sampingnya. Lelaki ini seperti mempunyai penabuh yang membuat hatinya bertalu dan tidak karuan. "Pekerjaanmu sangat mudah Seira, kamu tak perlu memikirkan hal sulit," ujar Adrian santai. "Maksudnya, Pak. Aku saja belum melakukan apa pun." Seira masih saja tak mengerti. "Pekerjaanmu hanya mengantar dan menjemput Aurel sekolah, selebihnya kamu hanya menemaniku di ruangan ini, gampang 'kan?" "Apa? Aku bukan baby sitter! Aku juga bukan wanitaa murahann yang kamu gunakan untuk menemanimu setiap saat!" protes Seira, telinganya terasa panas mendengarnya. "Siapa bilang kamu baby sitter?" Adrian terkekeh, melihat Seira kesal membuatnya senang. "Itu kamu yang bilang, pekerjaanku hanya menjemput dan mengantar Aurel sekolah. Apa namanya kalau bukan baby sitter! Ditambah lagi aku hanya menemanimu di sini. Kamu pikir aku wanitaa panggilann." Seira mencebik kesal. "Seira ... Seira ... Kamu memang bukan baby sitter, atau wanitaa panggilann. Tugasmu cukup membuat Aurel dan aku tersenyum, tidak lebih." Adrian mendekatkan tubuhnya, melihat Seira yang semakin gugup membuatnya senang. "Pak ... " Seira lagi-lagi harus gugup menghadapi Adrian. Lelaki itu kembali berusaha menggodanya "Ststststts... jangan panggil aku, Pak. Cukup panggil aku Tuan Muda saat kita di kantor, selebihnya kamu bisa memanggil namaku." Adrian masih menjelajahi manik mata yang tak berkedip. Ia menyudutkan Seira pada ujung sofa. Hingga membuat pegawai barunya tidak bisa kemana-mana. Ekspresi Seira yang terlihat ketakutan membuat Adrian semakin senang untuk selalu menggoda pegawai barunya itu. "Tu--tu--an, bisa mundur sedikit." Seira membenarkan posisi duduknya. Ia tidak ingin ada yang memergoki mereka berdua lagi. Apa tanggapan orang kantor jika melihatnya selalu berdua dengan kantor. Mereka akan beranggapan jika Seira memang wanitaa panggilann yang dibayar untuk menemani sang Tuan muda. “Kenapa? Takut? Atau kamu ingjn melanjutkan yang ditangga tadi?” Adrian malah semakin menggodanya. “Tuan... aku sesak napas. Kamu selalu membuatku jantungan!” Seira kesal. Adrian tertawa mendengar Seira."Oh.. oke .." Adrian menarik tubuhnya menjauh. Kali ini ia tidak seagresif saat di tangga. Seira merasa tak nyaman bila posisi mereka begitu dekat. Adrian terlihat begitu memburunya, sedangkan Seira berusaha menghindarinya. Atmosfir ruangan yang tadinya terasa dingin berubah menjadi gerah. Seira tak mau melakukan kesalahan lagi hingga membuat posisinya semakin sulit di depan Aldo. "Kamu teringat calon suamimu?" tanya Adrian tiba-tiba, mengerti apa yang dipikirkan Seira. "Bukan urusanmu!" ketus Seira. "Hemmm kamu ini memang gadis aneh, sebentar baik, sebentar galak. Sudahlah, ikut aku! Waktunya menjemput Aurel. Jangan pasang wajah cemberut! Kita ini suami istri." Adrian berdiri dan menarik tangan Seira hingga membuatnya berdiri sejajar dengan Adrian. Bukannya beranjak, keduanya malah saling berpandangan, tak berkedip sedetik pun. Adrian mengulas senyum melihat keteduhan wajah Seira yang tampak layu. Jari-jarinya mengusap lembut pipi Seira yang yang terlihat tirus. Wanita di depannya hanya memejamkan mata merasakan sentuhannya. Hatinya mulai bergetar, ada sedikit perasaan aneh yang mulai ia rasakan. Bahkan perasaan yang tidak pernah ia rasakan akhir-akhir ini saat bersama Aldo kekasihnya. "Seira, aku tak meminta apa pun darimu, cukup buat Aurel bahagia sudah lebih dari cukup." Nada bicara Adrian terdengar sangat lembut. Membuat Seira membuka mata dan membalas tatapan Adrian. "Seira, maafkan aku bila telah menyeretmu dalam kondisi yang sulit, tetapi ini tidak lama sampai Aurel benar-benar bisa mengerti." Hanya mengangguk, Seira tak bisa menjawab semua perkataan Bos barunya. Kali ini lelaki tersebut terdengar sangat bijak. Bayangan Aurel membuat hatinya luluh. Gadis kecil itu mempunyai tempat tersendiri di hatinya, meskipun baru beberapa kali bertemu. *** Setelah menjemput Aurel sekolah, Adrian mengajak Seira kembali ke kantor. Melihat gadis kecil itu tersenyum membuat hati Seira tersentuh. Gadis sekecil itu harus hidup tanpa seorang ibu, meskipun hidupnya sangat berkecukupan. Aurel sempat bermanja-manja pada Seira sebelum kembali ke kantor. Gadis kecil itu bercerita banyak hal saat di sekolah. Ia bercerita pada guru dan temannya jika Aurel telah memiliki seorang Mama. Adrian tersenyum mendengar ocehan putri tunggalnya. Sementara Seira hanya tersenyum tipis mendengarnya. Gadis kecil itu benar-benar merasakan kebahagiaan karena kehadirannya. “Mama janji enggak boleh pergi lagi.” Ucapan Aurel sebelum Seira pergi bersama Adrian membuat wanita itu semakin merasa bersalah. Berbohong pada Aurel serta Aldo kekasihnya. Gadis kecil itu menyimpan sebuah pengharapan besar kepadanya. Seira hanya takut jika suatu saat akan kecewa kepadanya. Suasana mobil hening tak ada percakapan apa pun antara Seira dan Adrian. Keduanya fokus pada pikiran masing-masing. Seira mengambil ponsel di dalam tas, mengecek pesan satu persatu yang masuk. Tak satu pun pesan dari Aldo yang Seira temukan. Padahal ia sangat berharap tunangannya itu mengirim pesan dan menanyakan semua perihal yang telah terjadi pagi tadi. Berulang kali Seira membuka seluruh aplikasi chat miliknya, tetapi sama saja tak ada pesan dari Aldo. Terbesit untuk menghubunginya, tetapi jarinya berhenti mengetik. "Kalau mau telepon, telepon saja." "Eh.. aku hanya mengecek pesan masuk saja." Seira beralasan. "Udah nggak usah bohong, selesaikan masalahmu. Aku akan lebih tenang jika bersamamu." Kali ini perkataan Adrian terdengar menohok."Kenapa diam? Kagum?" Adrian menoleh sekilas dan menggoda wanita di sampingnya. Tak menanggapi, Seira mencoba menekan nomor telepon milik Aldo, berharap calon suaminya tersebut mau mengangkat teleponnya setelah kejadian tadi pagi. Hati Seira mulai resah, Aldo tak mengangkat teleponnya. Sepuluh kali Seira menghubunginya, tetapi tak ada balasan apa pun. Putus asa, Seira menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Harusnya Aldo mempunyai waktu untuk menjawab telepon darinya. Wanita itu tahu betul di jam sekarang ini Aldo mempunyai waktu yang senggang setelah jam pulang sekolah. "Nggak diangkat?" tanya Adrian. Seira hanya menggelengkan kepala tak bersuara. Merasa diabaikan membuatnya kecewa. Padahal apa yang dirasakan Aldo pasti jauh lebih sakit dari yang Seira rasakan. "Sepertinya dia masih sibuk," jawab Seira singkat. "Aku akan bantu jelaskan padanya agar tidak salah paham." "Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri." Seira menolak. Ia tidak mau Adrian terlalu dalam ikut campur urusan asmaranya dengan Aldo, Seira yakin bisa mengatasinya sendiri. "Baiklah, aku sudah menawarkan, jika terjadi apa-apa kamu bisa datang padaku." Seira hanya diam tak menjawab. Adrian masih melajukan mobilnya, hingga berhenti saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Menghilangkan jenuh, Seira mengamati kendaraan sekitarnya yang ikut berhenti. Puluhan motor berhenti di samping mobilnya, hingga mendapati sosok yang ia pikirkan. Seira sangat mengenal motor dan jaket yang dikenakan, jaket jeans pemberian Seira saat kekasihnya berulang tahun. Serta motor butut yang sudah menjadi ciri khas Aldo. Bukannya senang, tetapi wajah Seira bertambah muram melihat pemandangan di sampingnya, tangannya mengepal menahan amarah. Lampu menunjukkan warna hijau, Adrian kembali melajukan mobilnya, sedangkan Seira masih menahan kekesalannya. Seperti mendapat tamparan, ia tidak mengira Aldo telah menduakannya. Padahal selama ini lelakinya itu sangat menyayanginya, bahkan ia seringkali mengalah saat Seira mulai merajuk dan bosan. Apakah Aldo merasa jenuh dengan sikap Seira selama ini. 'Pantas saja kamu tidak mengangkat telponku, ternyata kamu berdua dengan guru baru itu,' gumam Seira kesal. Adrian hanya merasa aneh dengan apa yang terjadi pada Seira, tak mau ambil pusing. Ia lebih memilih diam dan tetap melajukan mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN