Memori

1808 Kata
Sepanjang perjalanan Seira hanya diam saja, masih memikirkan apa yang baru saja ia lihat. Perawakan lelaki itu sangat ia kenal. Motor butut itu yang selalu menemani hari-harinya. Motor produk Jepang keluaran tahun 90an masih menjadi kendaraan favorit Aldo. Ia sangat menyukai benda kuno dan antik ketimbang motor keluaran terbaru yang menurutnya terlalu besar bentuknya dan mengeluarkan ongkos yang banyak untuk perawatannya. Seira akan sangat bahagia bila Aldo menjemputnya saat jam kerja Seira telah usai. Pria itu akan memanjakan Seira dengan mengajaknya keliling kota saat malam hari. Menikmati kuliner malam yang telah tersaji di sepanjang jalanan kota cakung, Jakarta Timur. Senyum di bibirnya akan terus terurai saat mereka bersama. Seira merasa hidupnya sempurna mendapatkan kekasih seperti Aldo yang selalu memanjakannya. Sampai suatu saat Aldo mulai disibukkan dengan kegiatan les privat anak didiknya. Kebersamaan mereka mulai berkurang. Setelah menjemput Seira, Aldo akan bergegas pulang untuk persiapan jadwal les privatnya. Bayangan Aldo yang bersama wanita lain saat di jalan membuatnya kembali teringat dengan cerita Aldo Satu bulan yang lalu. Kekasihnya itu sempat bercerita pada Seira bahwa ada guru baru yang selalu mendekatinya, namanya Anita, tetapi Aldo mengaku tak punya perasaan apa pun karena telah memiliki Seira dan akan segera menikah. Seira meragukan kembali apa yang yang telah Aldo ucapkan. Semua terasa palsu saat Seira mendapatinya siang tadi. 'Kamu bohong, Mas.' Seira bergumam dalam hati. Bayangan Aldo dengan wanita lain masih berputar dalam pikirannya. Rasanya hatinya masih tak rela jika melihat Aldo bersama wanita lain. Gadis berkulit putih itu berpikir secepat itukah Aldo berpaling darinya? Apa karena masalah tadi pagi membuat Aldo langsung mendekati wanita lain. Seira masih saja bertanya-tanya dalam pikirannya. Apakah pertemuannya dengan Adrian yang menjemout Seira membuat sang kekasih marah dan melampiskan semuanya kepada wanita lain? Hati Seira terasa teriris. Keberadaan Adrian di sampingnya pun tak mampu mengobati rasa sakit hatinya sekarang ini. Ia merasa menjadi wanita paling jahat karena mengabaikan Aldo. Harusnya ia tidak berpaling dan mengabaikan Aldo. Lelaki itu terlalu baik untuknya, terlalu jahat bila Seira harus menghianatinya. "Seira, kamu baik-baik saja?" Panggilan Adrian membuyarkan lamunan Seira. Lelaki itu tampak khawatir melihat keadaan Seira yang kacau. Pipinya mulai terurai dengan air mata. Berulangkali ia berusaha mengusapnya, tetap saja tetesan air mata mengalir deras. Wanita itu sama sekali tidak sadar bahwa ia masih bersama Adrian. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, mengusap pelupuk mata yang masih basah. "Kamu nangis?" Adrian mengamati wajah wanita di sampingnya. Mobilnya yang berhenti di basement kantor miliknya masih terkunci rapat dari dalam. Lapisan kaca berwarna gelap membuat keberadaan mereka tidak terlihat dari luar. Adrian mencoba memperhatikan apa yang sedang terjadi pada karyawan barunya. Ia terlihat sangat kacau dengan pipi yang basah karena air mata. "Ti--ti—dak. Aku tidak menangis." Seira mengelak, ia tidak ingin Adrian mengetahui apa yang tengah ia pikirkan. Lelaki itu pasti akan mengejeknya jika mengetahui yang sebenarnya. Apalagi jika Adrian tahu kalau Seira cemburu. Bos barunya itu akan menjadikan Seira bulan-bulanan. "Kalau memang sedang tidak enak badan, sebaiknya aku antar pulang, toh pekerjaanmu sudah selesai." Mendengar ucapan Adrian membuat Seira masih belum percaya dengan semuanya, pekerjaannya begitu mudah dan Adrian menggajinya hanya untuk mengantar dan menjemput Aurel 'putrinya' sekolah. Selebihnya Seira hanya menunggu perintah dari Bos barunya itu. Begitu mudahnya posisi Seira saat ini. "Udah enggak usah banyak mikir, gajimu tidak akan kupotong meskipun kamu pulang duluan." "Ish, bukan masalah gaji, Pak." "Jangan panggil, Pak." Adrian protes mendengar panggilan Seira yang memanggilnya dengan sebutan Pak. Baginya itu terdengar sangat tua dan tidak pantas untuknya yang masih terlihat tampan dan berwibawa meskipun telah mempunyai anak. "Iya, Tuan Muda." "Aku antar kamu pulang, aku tidak mau bersama orang yang tengah memikirkan kekasihnya saat bersamaku, berasa seperti pebinor." Adrian kembali memasang sabuk pengamannya dan menghidupkan mesin mobilnya kembali. Sementaran Seira terkejut mendengar ucapan Adrian. Lelaki itu memang sangat sulit ditebak, ia mulai memasukkan gigi mobil dan menginjak pedal gas perlahan. Mobil sedan milik bosnya itu perlahan keluar dari area basement perkantoran. Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat. Rautnya kembali terlihat dingin tak bersuara. Suara yang terbiasa menggoda Seira tak terdengar sedikit pun. Duda beranak satu itu terlalu fokus pada keadaan di depannya. Melihat itu, Seira hanya diam tak bersuara. Ia tidak ingin menganggu atau membuat semuanya semakin bermasalah. Yang ia butuhkan sekarang adalah istirahat dan penjelasan dari Aldo. Ia butuh penjelasan sedetail mungkin tentang hubungan Aldo dengan wanita yang dibonceng. Bukannya lupa, Seira malah kembali mengingat tentang Aldo. Ia berpikir apa yang akan Aldo katakan tentang kedekatannya dengan guru baru tersebut, Seira masih saja terus memikirkannya. Seira mencoba membuka kembali ponselnya, tetapi tak ada satu pun chat dari Aldo, meskipun beberapa waktu yang lalu Seira berusaha menghubunginya hingga puluhan kali. Lelaki itu sama sekali tak mengangkatnya. 'Mas, apa kamu marah padaku?' batin Seira sembari menggenggam ponselnya. Ada rasa kecewa dan sakit yang Seira rasakan. Beberapa hari memang ia terkesan menghindar dari Aldo. Semua itu ia lakukan karena tidak ingin semakin merasa bersalah setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Seira merasa dirinya terlalu kotor akibat kejadian yang tidak sengaja saat malam itu. Butuh waktu bagi Seira untuk menstabilkan semuanya, ditambah dengan sikap Aldo yang membuat Seira merasa jenuh dan merasa hambar dengan hubungan mereka. Di saat itu pula Adrian datang di antara mereka dan menyeret Seira dalam lingkaran hidupnya. Hingga Seira harus terjerat dengan kehidupan Adrian yang baru saja ia kenal. **** Seira berjalan memasuki kamarnya lemas, sementara Adrian mengikutinya dari belakang. Mengamati Seira yang sedang bersedih, Adrian lebih memilih diam, tak mau semakin menambah runyam permasalahan Seira. Sang tuan muda hanya memandangi wajah lesu Seira kasihan. Andai bisa memeluk, pasti Adrian akan merengkuh tubuh ramping Seira dan menenangkan wanita tersebut. Ia paling tidak tega melihat wanita menangis. Bahkan melihat Seira sedih membuatnya teringat sosok Nikita yang telah pergi meninggalkannya "Seira, kamu baik-baik saja, 'kan?" Adrian menegurnya saat membuka pintu kamar. Ia memastikan semua baik-baik saja. "Aku baik-baik saja, Tuan muda tak perlu khawatir." Seira membalikkan badannya berusaha tersenyum. Setidaknya ia meninggalkan kesan yang baik pada Bos barunya. "Kalau enggak mau senyum, enggak usah dipaksa." Adrian mendekati Seira. Adrian malah memperhatikan wajah Seira yang sudah tidak karuan. Ada perasaan bersalah dan menyesal karena perkataannya pagi tadi saat bertemu Aldo. Mata yang telihat memerah hingga ujung hidungnya yang terlihat bengkak. Lelaki tampan itu sangat paham bagaimana rasanya sakit hati saat ditinggal seseorang yang sangat disayangi. Bahkan butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan rasa sakit hati sebelum menemukan seseorang yang mampu membuatnya bersemangat kembali. "Tu--an Muda kenapa melihatku seperti itu?" Seira merasa kikuk dipandangi Bos barunya. Jarak mereka begitu dekat. Seira takut jika Adrian hilang kendali dan malah berbuat sesuatu yang tidak diinginkan. Adrian malah tersenyum, lelaki itu malah mengacak rambut Seira dan berbalik meninggalkannya tanpa sepatah kata apapun. Cukup melihat Seira tenang akan membuatnya lebih bahagia dari pada harus melihatnya menangis dan bersedih. Tubuh tegap itu perlahan menghilang dari pandangan Seira, lelaki yang aneh dan mampu membuat hati Seira menjadi kacau saat di dekatnya. Bibirnya tersenyum mengingat perlakuan Adrian barusan, perasaan kecewa yang baru ia rasakan serasa menghilang jauh. Adrian selalu mempunyai cara khusus untuk memerlakukan Seira dengan lembut. Seira mencoba memastikan, perasaan apa yang sedang ia rasakan sekarang, apakah hanya pelarian atau hanya penghibur hatinya saat sepi. Rasa aneh yang mulai menjalar ke dalam hatinya. "Orang aneh." Seira tersenyum saat melihat Adrian yang tak lagi terlihat. Kembali memutar kunci kamar, Seira memegang handle membuka pintu. Baru saja ingin melangkah masuk ke dalam kamar, ponselnya berbunyi. Nada khusus yang ia pasang untuk sang kekasih menjadi pertanda bahwa Aldo menelponya. Buru-buru Seira membuka tasnya dan mengambil ponsel miliknya. Gambar lelaki yang sedang membuatnya galau terpampang memenuhi ponselnya. Ragu, Seira bimbang saat menggeser ikon hijau ke atas. Tak memedulikan dering ponselnya yang semakin terdengar nyaring. Panggilan kedua kembali terdengar, lama, Seira membiarkannya berdering, memasukkannya ke dalam tas. Masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Melihat foto Aldo yang terpajang di dinding kamar, membuatnya teringat kenangan saat pertama mereka bertemu. Kenangan yang sampai saat ini masih bertengger rapi di dalam hatinya. Seringkali lelaki itu datang ke tempatnya bekerja hanya untuk sekadar men-design ataupun hanya membuat banner untuk kepentingan sekolahnya. Lelaki itu seringkali mengulum senyum saat bersitatap dengan Seira. Mereka terlihat malu-malu saat bertemu, Seira yang pendiam membuat Aldo tak berani mengajaknya berbicara terlebih dahulu. Hingga suatu saat Aldo mendapat kesempatan saat bertemu dengan Seira secara langsung. "Boleh kenalan?" tanya Aldo saat membayar tagihannya. Ia mencoba memberanikan diri bertanya pada wanita yang menarik perhatiannya. Kecantikan Seira mampu membuat Aldo kagum dan tak bosan memandangi wajah cantik tersebut. Ia sama sekali tak peduli banyak karyawan yang bersorak melihatnya mendekati Seira. "Boleh, tapi maaf, di belakang masih banyak antrian." Seira menjawab malu-malu. Aldo menoleh belakang, benar saja, antrian dibelakangnya memanjang. Sehingga mau tidak mau ia harus bergegas dan kehilangan kesempatan untuk mengobrol dengan Seira lebih banyak. "Baiklah, sampai ketemu nanti." Aldo beranjak dan meninggalkan senyumanya. Seira hanya mengangguk dan balas tersenyum. Baru kali ini ada lelaki yang berani mengajaknya berkenalan. Sikap Seira yang terlalu serius membuat rekan kerjanya tidak berani mendekatinya, meskipun Seira mempunyai wajah yang terbilang cantik. Wanita itu memang sengaja membatasi kedekatannya dengan lawan jenis. Karena Seira ingin fokus dengan karirnya tanpa harus memikirkan sola asmara. Pukul 16.00 waktunya Seira pulang, merapikan meja kerja dan memberi laporan kepada bosnya untuk pemasukan hari ini. Keluar kantor Seira disambut senyuman seseorang yang tengah menunggunya. Memakai kemeja kotak-kotak dengan bawahan celana berbahan kain membuatnya terlihat rapi dan lebih dewasa. Lelaki itu menghampiri Seira yang masih terkejut dengan kehadirannya. "Dijemput siapa?" "Sendirian." Seira mencoba menghilangkan kegugupannya. "Boleh aku antar?" Aldo memberanikan diri mengajak Seira pulang bersama. Bermodalkan motor butut tidak membuatnya gentar untuk mendekati gadis cantik yang mampu mengalihkan hatinya. "Gimana ya--" Seira bingung, sebenarnya ia sungkan karena baru mengenal Aldo, meskipun mereka seringkali bertemu saat di kantor. Ia belum mengenal Aldo sepenuhnya. Apakah lelaki itu telah beristri atau telah mempunyai pacar. Dan Ini adalah pertama kalinya mereka terlibat obrolan santai selain urusan pekerjaan. "Eggak usah takut, aku bukan penjahat wanita, aku hanya ingin mengenalmu." Ucapan Aldo sukses membuat Seira tersenyum malu. Lelaki itu tahu apa yang tengah ia pikirkan. "Aku Aldo, siapa namamu?" "Seira." Mereka terlihat canggung satu sama lain, apalagi Seira tidak terbiasa dekat dengan lelaki. "Kalau kamu nggak mau kuantar, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar di sana?" Aldo menunjuk coffe shop yang terletak di depan kantor Seira. Seira bimbang menerima tawaran Aldo."Emm ... baiklah." Akhirnya Seira setuju. Mereka berjalan berdampingan menyebrang jalan menuju coffe shop untuk sekadar ngobrol dan mengenal satu sama lain lebih dekat. Aldo memilih tempat di luar ruangan agar terasa lebih santai, ia ingin membuat Seira merasa nyaman saat bersamanya. "Silahkan duduk." Aldo menarik kursi dan mempersilahkan Seira duduk. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya tak berani melihat Aldo yang selalu tersenyum kepadanya. Rasa gugup yang mulai terasa membuat darah Seira menjadi berdesir. Lelaki bertubuh tinggi itu langsung memesan dua buah minuman dan snack pada waitress.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN