Seira mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan handuk. Kepala yang tadinya terasa pusing, perlahan mulai membaik. Ia teringat satu persatu kenangan bersama Aldo sang kekasih saat pertama bertemu.
Binar kebahagiaan itu rasanya baru saja ia rasakan, tetapi semuanya hilang saat ia mengingat Aldo bersama wanita lain di jalan.
Apa ini yang dinamakan egois? Ketika Seira dijemput Adrian tadi pagi, ia sama sekali tidak peduli. Akan tetapi ketika Seira melihat Aldo berboncengan dengan wanita lain hatinya terasa marah dan tidak rela.
Dering lagu Adelle berjudul someone like you kembali menggema, muncul nama Aldo tertera pada layar ponselnya. Malas sebenarnya, tetapi Seira berusaha untuk biasa-biasa saja. Ia mencoba menata emosi dan hatinya agar tidak terlalu mendramatisir rasa cemburunya.
“Iya, Mas.” Seira menjawab malas-malasan. Suaranya terdengar sangat ketus,
“Dik, kamu tadi telepon?” Suara Aldo terdengar khawatir. Takut jika Seira akan marah kepadanya.
“Kamu pikir apa?” Seira masih kesal. Lelaki itu seakan tidak peka dengan apa yang Seira rasakan.
“Dik, Mas tadi ada urusan. Kamu di mana? Ini Mas sudah di depan pintu lho.”
Mendengar perkataan Aldo membuat Seira bergegas membuka pintu kamarnya. Benar saja, Aldo berdiri di depan pintu sambil memegang ponselnya. Wajahnya tampak lelah dan masih mengenakan tas kerja dan pakaian dinasnya. Jaketnya pun masih sama dengan yang Seira lihat saat di jalan tadi.
Perasaan marah yang tadinya membuncah mendadak merasa iba karena melihat raut wajah Aldo. Sesosok itu hanya berdiri dan tersenyum melihat Seira.
“Kamu tumben sudah di rumah? Enggak kerja?” Aldo menurunkan ponselnya dan berusaha melunak menghadapi Seira. Ia berharap hati kekasihnya melunak.
Seira memanyunkan bibirnya, masih kesal. Ia melenggang melewati Aldo dan duduk di kursi teras. Wanita cantik itu membiarkan Aldo berdiri di depan pintu.
Hari yang mulai sore membuat suasana di sekitar kost-an terlihat ramai. Beberapa anak terlihat berkejar-kejaran satu sama lain. Tawa mereka terdengar pecah saat salah satu dari mereka tertangkap. Ada pula yang menangis karena terjatuh. Akan tetapi tak membuat mereka berhenti melakukan permainan bentengan tersebut.
Mengerti Seira sedang merajuk, Aldo duduk mendekati Seira. Kekasihnya itu akan sangat susah dirayu saat mulai merengek manja. Ia paham betul dengan karakter Seira saat pertama kali memutuskan menjalin hubungan dengannya. Pernah waktu itu Aldo datang terlambat menjemput Seira saat hendak berkencan. Seira menunjukkan ekspresi marahnya dan berakhir mendiamkan Aldo seharian. Akhirnya kencan mereka terasa hambar karena Seira tak mau berbicara sedikit pun.
Aldo masih saja memandangi raut wajah Seira yang cemberut, wanitanya terlihat sangat lucu dan membuatnya gemas, hingga mencubit hidungnya. Aldo berusaha mencairkan suasana, ia tidak ingin hubungannya dengan Seira semakin buruk.
“Sakit, Mas.” Seira mengerang kesakitan. Hidung mancungnya terlihat memerah karena bekas cubitan Aldo.
“Dik, Mas kangen dengan suasana seperti ini.” Tiba-tiba saja Aldo berujar lembut.
Tangannya merapikan anak rambut Seira yang jatuh terurai, perlakuan Aldo begitu lembut. Membuat wanita di sampingnya tampak bersemu merah. Ia masih saja menundukkan wajahnya. Setelah apa yang terjadi pagi tadi membuat Seira merasa bersalah. Bahkan akhir-akhir ini ia merasa bersalah telah menghindar dan menjauhi Aldo kekasihnya.
Duduk berdekatan membuat Seira gugup, persis seperti saat pertama kali mereka bertemu, ada perasaan tak rela jika Aldo pergi darinya. Ia adalah lelaki baik dan sangat perhatian, hanya saja Seira memang dalam keadaan bimbang. Ya, terasa egois memang, tetapi Seira tidak peduli.
“Dik, kenapa tadi telepon?” Aldo meraih tangan Seira dan menggenggamnya erat. Telapak tangannya terasa menghangat saat bersentuhan dengan telapak tangan kekasihnya.
Seira menyandarkan kepalanya dan memainkan jari Aldo, menghitung satu persatu dan menangkupkannya kembali. Ia terlalu lelah memikirkan semua yang telah terjadi. Pertemuannya dengan Adrian, perasaannya yang mulai kacau, bahkan saat melihat Aldo bersama wanita lain. Semua itu bercampur jadi satu di dalam isi kepalanya.
“Aku hanya ingin menjelaskan soal tadi pagi.” Seira ragu berucap. Takut jika Aldo malah marah kepadanya karena kedatangan Adrian pagi tadi.
“O ... itu, aku sudah tahu semuanya, dia bosmu yang baru, ‘kan? Tadi pas aku ke kantor, kata Mas Beni kamu dipindahkan ke kantor pusat untuk jadi asisten pribadinya. Jadi, Mas pikir buat apa aku cemburu pada atasanmu.”
Seira terkejut mendengar jawaban Aldo, lelaki tersebut sama sekali tidak marah saat melihat dirinya pergi dengan lelaki lain di depan mata kepalanya sendiri. Apa ini sebuah pertanda jika Aldo memang sudah tidak menyayanginya. Atau bahkan memang Aldo tidak peduli jika ada lelaki lain yang mendekatinya?
“Kamu enggak cemburu?” Seira mengangkat kepalanya dan melihat wajah Aldo yang tenang. Ia mencoba mencari kebenaran dari raut wajah yang sama sekali tidak terlihat marah atau cemburu.
“Buat apa aku cemburu, toh kita akan menikah, aku yakin kamu sangat menyayangiku, sama seperti rasa sayangku padamu.” Jawaban Aldo seolah menghantam Seira seketika.
Senyuman Aldo benar-benar membuat Seira semakin merasa bersalah, wajah itu sama sekali tidak menunjukkan amarah atau kekesalan. Apa yang ada di dalam pikirannya. Entah harus merasa kesal atau bersalah dengan sikap Aldo. Yang pasti saat ini Seira ingin menanyakan kejelasan hubungan Aldo dengan wanita yang ia temui siang tadi.
“Mas, siapa wanita yang kamu bonceng tadi?” Seira membenarkan posisi duduknya dan menatap lelaki di sampingnya dengan penuh pertanyaan.
“Wanita siapa?” Aldo tak mengerti yang dimaksud Seira. Manik matanya terlihat teduh membalas pandangan Seira yang menyelidik.
“Itu tadi di jalan aku lihat, Mas, boncengan sama wanita, dia Anita guru baru itu, ‘kan?” Suara Seira terdengar manja, tetapi langsung tepat pada sasaran. Ia tidak ingin terlalu berbasa-basi. Ia butuh jawaban yang sebenarnya dari calon suaminya itu.
Aldo malah tersenyum mendengar rengekan Seira.”Kamu cemburu?” Aldo mengangkat kedua alisnya. Kedua alis tebalnya tersebut terlihat bertautan. Sementara Seira malah mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Aldo. Ia memang penasaran apa yang terjadi antara Aldo dan Anita, tetapi Aldo justru menggodanya hingga membuat Seira kesal.
“Aku serius, Mas.” Seira kembali menatap tajam manik yang masih saja terlihat teduh.
“Seira, sayang. Anita itu tadi hanya numpang saat aku pegi ke bank.” Aldo menangkup kedua pipi Seira, ekspresi kesal Seira membuatnya gemas.
“Kok bisa bareng, emang nggak ada yang lain apa? Kenapa harus kamu?” Seira masih tak mau terima alasan Aldo. Hingga mencecarnya dengan pertanyaan.
“Dibilangin bandel, ya, apa aku harus telepon Anita biar kamu percaya?” Aldo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan membuka kontak teleponnya. Nama Anita mulai terpampang pada layar ponselnya. Membuat Seira buru-buru menahan tangan sang kekasih agar tidak menghubungi wanita tersebut.
“Ish, enggak usah, enggak usah, aku enggak mau dia menganggu kebersamaan kita.”
Seira merasa kesal jika harus mendengar suara wanita genit itu, bisa-bisa rusak moodnya jika harus medengar suranya yang manja kepada Aldo. Tidak dipungkiri Seira begitu cemburu saat melihat Aldo dengan wanita lain. Teman baru Aldo itu seperti terdengar mencari alasan saja. Apalagi jika menurut penuturan Aldo terdahulu, guru baru itu begitu gencar mendekati Aldo saat di sekolah.
Sadar dengan perubahan sikap Seira, Aldo kembali berinisiatif untuk membangun suasana agar Seira kembali merasa nyaman dengannya. Ia tidak ingin Seira kembali kesal dan malah marah kepadanya. Senyum wanita itu sangat berharga baginya.
“Kamu sudah makan?”
Seira menggelengkan kepala, berharap Aldo akan mengajaknya makan bersama dan melepas rindu yang baru ia rasakan. Penuh perjuangan bagi Seira untuk mempertahankan perasaannya kepada Aldo. Ia membutuhkan waktu bersama dengan Aldo lebih banyak agar hubungan mereka semakin erat. Ia ingin berusaha menepis semua perasaannya kepada Adrian dan kembali merajut rasa cintanya yang mulai pupus. Rasanya semua ini terlalu berat dan tidak mudah.
“Kita makan di warteg depan sana, ya? Sudah lama kita enggak makan bareng.”
“Huum, aku ganti baju dulu.”Seira beranjak, tetapi Aldo malah menahannya.
“Udah, enggak usah, kayak gini udah cantik, kok.”
“Kelihatan bohongnya, pakai daster kumel gini dibilang cantik, enggak ah. Aku mau ganti baju .”
Aldo hanya tersenyum, hatinya senang melihat Seira kembali seperti semula. Senyumnya yang selalu merekah dan perkataannya yang selalu manja saat mereka bersama.
Hal itu membuat Aldo semakin tak mau kehilangan wanita yang disayangi. Apa pun akan dilakukannya untuk memertahankan hubungannya bersama Seira.
Tiga tahun menjalin hubungan bersama cukup memantapkan hatinya untuk melabuhkan hatinya pada Seira. Wanita yang mau menerima pekerjaannya sebagai guru honorer dengan gaji yang pas-pasan.
Parasnya yang ayu diimbangi dengan perilaku dan tutur katanya yang lembut. Meskipun terkadang Seira selalu manja dan mau menang sendiri.
Hal itu tidak membuat Aldo mengurangi kadar rasa sayangnya kepada calon istrinya. Kedua orang tuanya sudah setuju dan mantap dengan pilihannya. Mereka dekat satu sama lain. Seringkali Seira menghabiskan waktu bersama di akhir pekan, terutama dengan Ibu Aldo. Mereka terkadang memasak bersama atau melakukan yoga bersama.
Aldo bahagia melihat kebersamaan mereka, ia tidak salah memilih calon istri yang bisa menerima keadaan dirinya dan keluarganya.
“Aku sudah siap, nih.” Seira berdiri di hadapan Aldo. Memakai jaket yang senada dengan Aldo membuat mereka terlihat seperti couple idaman.
“Kamu pakai itu?” Aldo teringat jaket pemberiannya, hadiah saat anniversary ke dua mereka.
“Iya dong, ‘kan kita pasangan.” Seira memegang tali tasnya. Senyumnya yang merekah membuat Aldo beranjak dari tempatnya dan menggandeng kekasihnya.
Rasa-rasanya Seira tidak ingin waktu kali ini cepat berlalu, sepertinya rindunya kepada Aldo membuncah hingga membuatnya tak ingin jauh.
“Kita jalan?” Seira menghentikan langkahnya saat berjalan beberapa langkah.
“Iya, ‘kan Cuma di depan,” ujar Aldo dengan lembut.
“Enggak mau, aku maunya dibonceng pake itu.” Seira menunjuk motor butut milik Aldo dengan manja. Persis sekali seperti anak kecil yang tengah merajuk.
Aldo hanya menggelengkan kepala melihat perubahan sikap Seira yang drastis. Masih teringat jelas saat Seira menolak ajakannya makan bersama serta sikapnya yang dingin beberapa hari yang lalu. Sempat membuat Aldo berpikiran buruk tentang Seira, tetapi melihat sikap Seira saat ini, membuat Aldo semakin yakin bahwa perasaan Seira kepadanya tak berkurang sedikit pun. Apalagi saat melihat Adrian menjemputnya tadi pagi, sontak membuat pikirannya tidak tenang. Ia mencoba berpikir jernih. Aldo berusaha mencari fakta dengan menanyakan kepindahan Seira kepada kantor lama. Kebetulan ia sangat mengenal Beni. Tak sulit baginya untuk sekadar mencari informasi tentang Seira.
Dalam hati Aldo merasa ragu dengan sikap Adrian tadi pagi. Sorot lelaki itu seolah menggambarkan jelas bahwa Seira akan menjadi miliknya.Aldo merasa bimbang, tetapi di sisi lain ia berusaha berpikir positif agar Seira tidak menganggapnya terlalu posessif. Selalu mencoba berdamai dengan pikiran buruknya dan berharap semua akan baik-baik saja.
“Kok, diam? Kalau enggak jadi mending aku masak mie instan.” Seira kembali memanyunkan bibirnya.
“Nah, ‘kan kok cemberut lagi. Mas minta maaf, ya?” Aldo merasa tidak enak karena terlalu berpikiran jauh tentang Seira.
Seira malah menggigit bibir bawahnya, merasa tak enak karena membuat Aldo malah merasa bersalah karena candaannya. Padahal sebenarnya dialah yang menjadi peran utama yang telah membuat hubungan mereka berdua menjadi renggang.
“Iya, aku cuma bercanda, kok, tapi boncengin, ya, udah kangen sama dia.” Seira tersipu malu. Ia kembali bersikap manja. Rasanya hatinya mulai terbakar dengan suasana yang sangat ia rindukan.
Rindu dengan suasana saat berboncengan, dan menikmati indahnya pemandangan saat pulang bersama. Ya, kegiatan itu rasanya sudah tak pernah mereka lakukan. Kesibukan Aldo membuatnya jarang menghabiskan waktu bersama. Bahkan Seira tidak pernah malu jika harus membonceng motor butut milik Aldo. Toh, motor butut bukan jaminan tak membuatnya bahagia. Yang terpenting mereka menikmati setiap detik kebersamaan.
Setelah kepergian Seira dan Aldo, seorang lelaki muncul dari balik pohon. Hari yang mulai gelap membuat keberadaannya tidak nampak. Sepertinya sudah sedari tadi lelaki itu mengawasi kebersamaan mereka. Ada rasa sesak yang terasa. Melihat kemesraan Seira dengan Aldo membuat hatinya tercabik.
‘Sepertinya aku muncul di waktu yang tidak tepat Seira, maafkan Aku.’ Lelaki itu meremas kedua tangannya.’Apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan kamu untuk Aurel.'