Ikatan

1898 Kata
Suasana kota yang mulai gelap tak membuat Seira ingin segera pulang. Momen seperti ini membuatnya mengenang masa-masa saat pertama berkencan bersama Aldo. Masih teringat jelas saat mereka pertama berkencan di sebuah mall. Hari di mana sang kekasih meminta Seira untuk menjadi wanita pilihannya dan memutuskan untuk mengenal lebih dekat satu sama lain. Saat itu Aldo mengenakan sendal jepit dan kemeja sederhana yang dipadu celana berbahan kain. Jenis pakaian yang selalu aldo kenakan setiap harinya. Sementara Seira mengenakan dress berwarna pink yang membalut tubuhnya terlihat cantik dan elegan. Seira membiarkan rambut hitamnya tergerai, memakai heels dengan ukuran yang lumayan tinggi. Semua mata tertuju pada mereka, penampilan yang sangat kontras membuat orang-orang berbisik dan mencibir. Awalnya Seira mengira Aldo akan mengajaknya ke sebuah resto atau tempat romantis lainnya, ternyata salah. Aldo malah mengajaknya ke sebuah mall dan makan di restoran cepat saji yang bericon badut sebagai maskotnya. Awalnya Seira sangat malu karena menjadi pusat perhatian, tetapi Aldo terus menggenggam tangannya berusaha cuek. “Seira, kamu cantik sekali pakai dress warna pink itu.” Aldo memandangi Seira yang masih menghabiskan makanannya. Netranya tak membiarkan wanita cantik di depannya lepas dari pandangan. Mendengar pujian Aldo membuat Seira tersedak, diambilnya minuman bersoda miliknya. Mengusap bibirnya yang basah menggunakan tisu. Baru kali ini ada seorang lelaki memuji kecantikannya. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersedak.” Aldo merasa tidak enak. “Nggak apa-apa, aku hanya tidak biasa saja.” Seira tersenyum simpul. “Boleh aku memanggilmu dengan sebutan, Dek?” Pertanyaan Aldo sukses membuat Seira salah tingkah, baru beberapa kali bertemu, tetapi Seira merasa hatinya kacau. Ini pertama kalinya seorang Seira dekat dengan seorang lelaki yang mengajaknya keluar. Selama ini Seira lebih menutup diri dengan lelaki manapun. Ia lebih nyaman dengan status single. Tak ada yang mengajaknya berkencan atau sekedar mengucap kata sayang. Itu hal yang biasa baginya. Bagi seorang Seira, lelaki hanya memandang wanita dari fisik dan apa yang mereka punya. Itulah hal yang membuat Seira malas untuk berpacaran. Menurutnya seorang lelaki akan menuntut lebih saat mereka telah memberikan cinta.Namun tidak untuk Aldo. Menurut Seira lelaki itu sangat unik. Dia terlihat baik dan begitu perhatian. “Bo—leh, tapi apa nggak ada yang keberatan kalau kamu memanggilku 'Dek'?” “Siapa?” “Pacarmu mungkin.” “Kalau aku punya pacar, tidak mungkin aku pergi denganmu.” Pipi Seira bersemu merah, bak tomat yang siap dipanen. Hatinya begitu lega mendengar jawaban Aldo. Entah ini yang dinamakan jatuh cinta atau bagaimana, yang pasti Seira sangat nyaman bila bersama Aldo. “Emmm apa boleh aku berkunjung ke tempatmu?” “Maksudnya?” Seira bertanya. “Aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu.” Seira terkejut, apa maksud Aldo ingin berjumpa dengan orang tuanya. Lelaki itu sepertinya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Seira. Ia bingung harus menjawab apa. Rasanya semua terasa singkat, tetapi Seira juga ingi mengenal Aldo lebih jauh lagi. “Tapi—“ “Kenapa? Apa kamu nggak berkenan? Maafkan aku bila membuatmu tidak nyaman dengan permintaanku.” Mimik wajah Aldo berubah, harapannya untuk menjalin hubungan dengan wanita di depannya sepertinya mustahil. “Mas, bukannya aku tak mau, kedua orang tuaku itu di kampung, aku di sini tinggal di kost-an, bagaimana bisa kamu bertemu mereka?” Seira tersenyum, ini pertama kalinya ia memanggil Aldo dengan sebutan’Mas’. Seperti mendapat angin segar, Aldo kembali bersemangat, sepertinya sinyal-sinyal keberuntungan muncul. “Baiklah, mungkin saat liburan semester kita ke sana, boleh, ‘kan?” Seira menunduk malu, meskipun senang, Seira masih malu-malu menunjukkan rasa bahagianya. Merasakan debaran yang menurutnya tidak wajar. Ia tidak ingin membuat lelaki di depannya merasa besar kepala karena ekspresi bahagianya. “Seira.” Wajah Aldo kini berubah serius, tangannya meraih tangan Seira yang terasa dingin. “i—ya.” “Boleh aku bertanya sesuatu?” “Apa?” “Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat?” “Aku—aku, Tidak mempunya hal istimewa, Mas. Aku hanya gadis desa yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Apa kamu masih mau mengenal gadis sepertiku?” Seira berkata apa adanya, ia tidak ingin Aldo menyesal telah dekat dengannya kelak. Di kantor, Seira terkenal sebagai gadis pendiam. Jarang bersosialisasi dengan yang lain. Tak ada yang berani mendekatinya, meskipun wajahnya terbilang cantik. Ia terlalu menutup diri dengan yang lain, hanya Aldo, lelaki pertama yang berani mendekati Seira dan mengajaknya pergi. Selebihnya mereka jarang terlibat komunikasi, kecuali dengan bos Beni. “Dek, dari awal melihatmu, aku sudah tertarik, meskipun banyak yang bilang kamu itu gadis yang tak bersahabat dan angkuh dengan siapa pun. Aku tetap ingin mengenalmu lebih dekat.” Aldo berusaha meyakinkan Seira. “Mas—“ “Dek, ijinkan aku mengenalmu lebih dekat.” Terlihat keseriusan pada raut muka Aldo. Mencoba meyakinkan Seira agar mau menerimanya. Seira masih terdiam, di sisi lain ia sangat bahagia karena Aldo mempunyai rasa yang lebih kepadanya, tetapi di sisi lain, ia takut bila Aldo menyesal mengenal wanita sepertinya. Ia bukanlah tipikal wanita romantis atau yang selalu perhatian pada pasangan. Seira hanyalah gadis manja yang tak punya harta atau kelebihan lainnya. “Dek?” “iya, Mas.” “Kamu menerimaku?” Aldo terlihat begitu girang, Seira malah bingung melihatnya. Padahal Seira hanya menjawab panggilan Aldo. Lelaki itu benar-benar membuat Seira tersenyum.”Aku belum menjawabnya, Mas.” Ucapan Seira membuat Aldo berhenti dari euforianya. Wajah yang tadinya bahagia berubah tegang. “kamu menolakku?” Aldo masih tak percaya. “Siapa yang bilang?” Seira menyilangkan kedua tangannya. “Kamu ... tadi bilang.” “Mas, aku kan belum bilang iya atau tidak.” Seira tersenyum. Ingin rasanya membuat lelaki di depannya kebingungan. “Iya atau tidak?” Aldo tak sabar mendengar jawaban Seira. Seira hanya tersenyum tak mengeluarkan suara. Ekspresinya membuat Aldo semakin gelisah. “Dek, apa kamu mematahkan hatiku?” Aldo gelisah.”Dek ini yang terakhir, bolehkah aku mengenalku lebih dekat? Menjalin hubungan lebih dari sekadar teman.” Aldo kembali menggenggam tangan Seira. Kini manik matanya meminta jawaban. Tak menjawab, Seira hanya mengangguk. “Kamu menerimaku?” Aldo begitu girang. “Apa aku perlu mengangguk ratusan kali untuk meyakinkanmu?” “Dek, terima kasih.” Saking senangnya membuat Aldo mencium berkali-kali punggung tangan Seira. Ia meluapkan segala rasa bahagia karena Seira mau menerimanya. Wanita yang membuatnya jatuh cinta pada padangan pertama akhirnya mau menerimanya sebagai kekasih. Cintanya bersambut, Aldo begitu bahagia menndengar jawaban Seira. *** Motor butut Aldo berhenti tepat di depan kost-an Seira. Lelaki itu mengantar calon istrinya sampai ke depan pintu. Bergandengan erat seolah tak mau lepas. Seakan tak rela jika harus berpisah sekarang. Menghabiskan waktu bersama yang lumayan lama tak membuat Seira puas. Kenangan lama yang sempat terlintas membuat Seira mengingat kembali masa saat hatinya berbunga. Ia mencoba menghadirkan kembali rasa yang mulai hilang. Wanita itu berusaha mengingat momen bahagia saat bersama. Ia masih bersikap manja kepada Aldo. Lelaki itu masih memakai baju dinas sekolah. Aldo rela melakukan apa saja untuk membuat Seira bahagia. “Kamu istirahat ya, Dek. Besok Mas jemput.” Aldo mengacak rambut Seira, mengisyaratkan rasa sayangnya yang begitu besar. Senyumnya masih mengembang melihat sang sang kekasih. “Iya, kamu juga istirahat, maaf sudah membuatmu lelah karena menuruti keinginannku. Kamu sampai tidak sempat pulang ke rumah setelah ngajar.” Seira merasa bersalah. Ia masih menggamit manja lengan Aldo. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan semenjak kehadiran Adrian dalam hidupnya. “Buat kamu, Mas akan lakukan apa saja.” Ucapan Aldo benar-benar membuat Seira tersanjung. Merasa menjadi wanita yang paling istimewa. “Udah sana pulang.” Seira mendorong Aldo agar cepat pulang. Aldo malah semakin menggoda kekasihnya, bukannya berjalan ia malah tetap di tempat. Wajahnya yang teduh seolah tak mau lepas memandangi wajah ayu di depannya. “Kalau nggak mau pulang, aku panggilin ibu kost, nih,” ujar Seira sembari tersenyum usil. “Panggilin aja, paling juga kita disuruh nikah.” “Ih... Mas, Nanti ibu khawatir lho, anak lelakinya belum pulang dari sekolah sejak tadi.” “Tinggal bilang aja, sih, kalau mengantar sang putri jalan-jalan.” “Udah lah, aku mau masuk, Mas masih di sini juga silahkan, biar ketangkap hansip yang patroli.” Seira mulai kesal melihat Aldo yang masih saja menggodanya. “Dek, mau ke mana?” Aldo menarik tangan Seira hingga membuat wanitanya mendekat. Mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Seira masih saja tampak tersipu malu, sedangkan Aldo semakin dalam menatap manik mata yang tak berani memandangnya. “Kamu istirahat, mimpiin aku.” Seperti biasa, aldo mencium kening Seira sebagai tanda perpisahan. Ritual yang beberapa hari ini tak pernah mereka lakukan. Ia merasa bahagia hubungannya dengan sang kekasih kembali membaik. Kecupan Aldo seakan membuat Seira terpaku dan kembali membuat hatinya bertalu tak karuan, ketukan itu kembali muncul dan menghiasi hatinya yang tengah berbunga. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja merasakan cinta. “Kamu hati-hati di jalan.” Seira melepas kepergian Aldo. Calon suaminya itu berjalan meninggalkannya dan menaiki motor bututnya. Senyumannya masih menyapa saat motornya beranjak dari pelataran kost. Seira membuka pintu kamarnya, ingin segera memejamkan mata dan bermimpi indah. Mimpi bersama lelaki yang seharusnya ia impikan, lelaki yang seharusnya mengisi hari-harinya. Seira berusaha membangun rasa sayangnya agar tidak pupus begitu saja. Kehadiran Adrian benar-benar sempat membuat hati Seira kacau, dan hari ini, Seira ingin memulai semuanya dari awal. Adrian hanyalah atasannya, ia hanya membutuhkan Seira untuk Aurel, tidak lebih. Tidak sepantasnya Seira berharap atau menyimpan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Ia telah mempunyai Aldo, sudah seharusnya ia menjaga hubungan mereka yang tinggal selangkah lagi menuju tahap pernikahan. “Seira!” Baru saja Seira membuka pintu, terdengar suara lelaki memanggilnya. “Mas Aldo, kan, aku sidah bilang ...” Baru saja membalikkan badan, Seira dikagetkan dengan kehadiran Adrian di depannya. Lelaki itu tampak lesu dan tak bersemangat, penampilannya yang berantakan menggambarkan bahwa atasannya itu sedang mempunyai masalah. Seira khawatir sekaligus takut dengan kehadiran Adrian di malam hari. Tak biasanya bosnya itu mengunjungi di waktu yang mulai gelap. “Tuan Muda?” “Seira, boleh aku duduk?” tanya Adrian mendekati Seira yang terpaku melihatnya. Seira hanya mengangguk, lelaki yang harusnya ia hindari malah berdiri di depannya. Perasaan yang susah payah ia bangun malah mendapat serangan keras, hingga membuat benteng yang ia bangun hampir roboh. Ia tidak ingin Adrian kembali masuk ke dalam hidupnya. Cukup untuk beberapa hari yang lalu. Seira berharap itu hanya sebuah kenangan yang harus ia lupakan. “Tuan, kenapa? Apa ada yang bisa kubantu?” Seira duduk bersebelahan. “Kamu habis berkencan dengan kekasihmu?” bukannya menjawab, Adrian malah membalas Seira dengan pertanyaan. “Tuan, ini sudah malam, sebaiknya pulang. Tidak enak dengan yang lain.” “Kamu mengusirku?” Adrian menatap tajam Seira. “Bukan, tetapi aku enggak enak aja dilihat yang lain. Seorang lelaki dan wanita berduaan tanpa ikatan apa pun.” “Kalau nggak enak, mending aku masuk aja biar tidak dilihat.” Tanpa ijin Adrian malah masuk ke dalam kamar Seira. Membuat pemilik kamar semakin bingung dengan sikap Adrian. Lelaki itu tampak aneh malam ini. Takut ada yang melihat, Seira segera menyusul Adrian masuk dan menutup pintu kamarnya. Jika Ibu kost mengetahuinya akan membuat Seira diusir dari tempat kost-nya. Ia tidak mau itu terjadi, tempat kost yang ia tinggali sekarang adalah tempat kost dengan harga termurah dan terjangkau dari tempatnya yang lama. “Tuan Muda, sebaiknya segera pergi dari sini.” Seira gelisah pada keadaan yang tengah menjepitnya. “Kenapa buru-buru, aku masih membutuhkanmu.” Seira semakin takut mendengar ucapan Adrian, lelaki tersebut malah tersenyum miring melihatnya. “Maksudnya?” Seira was-was, lelaki di depannya semakin mendekat. Seringai wajahnya membuat Seira berpikiran yang tidak-tidak, jika bisa memilih Seira ingin ini semua hanya mimpi belaka. “Apa aku harus memperjelas semuanya?” Adrian masih berdiri. Netranya tak membiarkan Seira lepas. “Maaf ini sudah malam, sebaiknya Tuan lekas pergi.” Seira hendak beranjak, tetapi langkahnya justru terhenti oleh Adrian. “Beri aku kesempatan, aku akan membuatmu bahagia. Aku akan memberikan apa yang kamu mau. Uang? Cinta? Sayang? Aku punya semuanya!” Adrian semakin meracau tidak jelas, membuat Seira ketakutan dan mundur beberapa langkah. “Tuan ... .” Seira mendorong tubuh Adrian, tetapi ia tak mempunyai tenaga yag cukup besar. “Aku hanya ingin mengunjungi karyawan baruku, memastikan jika dia tengah bahagia.” “Anda mabuk, sebaiknya anda pergi.” Kembali Seira mendorong tubuh Adrian. “Seira ... .”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN