Adrian menghimpit tubuh Seira yang mulai terlihat ketakutan. Wajahnya mulai berkeringat dingin, sorot mata Adrian menampakkan sebuah keberingasan. Seira takut bila Adrian berbuat yang tidak sepantasnya. Cukup malam itu mereka berciuman saat pertama bertemu. Seira pun tidak tahu kenapa saat itu tidak bisa mengontrolnya. Jika mengingat itu ingin rasanya Seira mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin untuk menyadarkannya dari kesalahan yang telah ia perbuat.
Tidak hanya sekali, mereka berciuman untuk yang kedua kalinya saat Adrian membawa Seira masuk ke dalam mobil miliknya. Seira pun lagi-lagi tak menolaknnya. Ia sama sekali tak bisa berbuat apa pun. Ia hanya mengikuti permainan Adrian dan Seira masuk di dalamnya.
Adrian seakan mempunyai hipnotis untuk membawanya larut dalam suasana saat itu. Lelaki itu hadir tak diduga dan membuatnya tak bisa melupakannya. Lelaki itu terus saja membayanginya. Dan sekarang ia datang dengan kondisi mabuk yang membuat Seira ketakutan.
Seira mencoba lepas, tetapi cengkraman Adrian terlalu erat hingga membuatnya tak bisa menghindar. Tubuhnya terkunci, ia tak bisa menghindar lagi. Lelaki itu masih saja menatap Seira tajam. Matanya yang memerah karena pengaruh alkohol, membuat Seira berusaha menjauhkan wajahnya dari Adrian.
“Seira, tidak ingatkah kamu malam itu? Saat di mobil waktu itu? Kamu menikmatinya, aku bisa rasakan itu.” Adrian membelai pipi mulus wanita di depanya. Sentuhannya membuat Seira semakin ketakutan.
Matanya tak berani menatap netra yang terlihat membiuskan. Bibir itu menampakkan seringainya, seolah mempunyai maksud tertentu untuk kedatangannya malam ini.
“Aku mohon, pergi dari sini.” Seira memohon, bibirnya bergetar. Waktu seakan menghimpitnya seolah tak bisa bergerak sama sekali.“Aku—aku mohon biarkan aku—“ Seira putus asa dengan keadaan yang seperti ini. Ia tak bisa berpikir jernih bagiamana bisa melarikan diri dari cengkaraman Adrian.
Lelaki di depannya masih bergeming menghiraukan permohonan Seira. Ia mengunci pergerakan Seira menggunakan tangan kanannya dan tangan kiri membelai rambut, pipi dan bibir mungil Seira yang terlihat bergetar.
Jarinya mulai menyapu bibir Seira yang mungil, dengan lembut ia mengusapnya perlahan. Seira hanya diam tak berkutik. Mencoba mencari jeda agar bisa terlepas dari Adrian. Ia tidak mau harus melakukan kesalahan untuk yang kesekian kali. Apalagi kondisi Adran tengah mabuk sekarang. Ia tidak ingin hal buruk menimpanya.
Hari ini ia telah mencoba membangun kembali rasanya yang mati kepada Aldo, tetapi malam ini Adrian malah mendatanginya. Lelaki itu selalu saja hadir di saat Seira ingin kembali memantapkan perasaannya. Ia selalu muncul kapan saja dan mengacaukan hati Seira.
“Bibir ini, ya, bibir ini yang telah membuatku tak bisa melupakanmu.” Adrian mulai mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya beberapa detik.
Seira bergeming, wanita di depannya sama sekali tak membalas atau membuka bibirnya. Ia tak sanggup bila harus menghianati calon suaminya, b******u kesekian kali dengan lelaki lain. Membuatnya terlihat seperti wanitaa murahaan yang mampu berpindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya.
“Seira, aku cemburu, aku tak rela melihatmu bersamanya,” bisik adrian. Membuat Seira semakin ketakutan. Suaranya terdengar parau dan marah.
Lelaki itu menyatakan rasa tidak sukanya dengan Aldo, semakin membuat Seira begidik ngeri.
“Mabuk kamu!” Seira berusaha lepas, bau alkohol sangat kental terasa saat Adrian mendekatkan bibirnya. Napasnya mulai memburu, netranya tajam seolah siap menerkam mangasanya.
“Aku memang mabuk, tapi aku masih waras, sayang.” Adrian mulai terhuyung. Ini saatnya kesempatan Seira untuk melepaskan diri.
Ia mendorong Adrian kerasa hingga membuat Bos barunya terjatuh. Tak mau terkunci lagi, Seira segera berlari mengambil sapu untuk melindungi dirinya, melihat Adrian yang terkapar membuat Seira melakukan ancang-ancang jika lelaki tersebut bangkit dan mulai mendekatinya lagi.
“Seira! Aku membutuhkanmu!” Adrian meracau.
Perlahan Seira mendekat, melihat kondisi Adrian yang masih terkapar, kondisinya sepertinya mulai melemah. Suaranya perlahan mulai hilang, hingga membuatnya terkulai lemas.
“Huft ... aman.” Seira tampak lega.
Mengecek kembali keadaan Adrian, memastikan apa bosnya itu benar-benar tertidur atau tidak. Menjongkokkan badan, tubuh Seira mulai mendekatinya, meletakkan sapu yang ia bawa untuk perlindungan.
Seira mengamati wajah tampan di depannya.”Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kamu terlihat seperti ini? Apakah semua yang kamu katakan itu benar?” Seira berbicara ssendiri.”Apa kamu hanya membutuhkanku sebagai duplikat mantan istrimu agar Aurel bahagia? Jika iya, aku akan kecewa jika kenyataannya seperti itu.” Seira masih berbicara pada dirinya sendiri.
Tubuhnya masih terasa lemas mengingat kejadian beberapa menit lalu. Seira duduk menyenderkan punggunggnya pada dinding kamar. Melepaskan rasa takut yang sempat menggelayutinya. Pertanyaan yang semakin berjubel membuatnya heran dengan Adrian.
Lelaki itu tiba-tiba menghampirinya dan mengatakan bahwa ia cemburu, ia mengatakan seolah dirinya tak rela membiarkan Seira bersama kekasihnya, sedangkan jelas-jelas Adrian mengatakan wajah Seira hampir mirip dengan mantan istrinya ‘Nikita’.
Bagi Seira sepertinya Adrian hanya melampiaskan rasa rindunya kepadanya, tak mungkin seorang Seira mampu membuat Adrian jatuh hati kepada gadis biasa sepertinya.
Asistennya saja melihat Seira dengan pandangan mencemooh. Seolah kehadiran Seira tidak pantas di samping sang Tuan muda.
Sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya. Seira tak tahu apa yang akan terjadi bila ia tak bisa lepas dari Adrian malam ini. Mungkin saja kehormatannya akan hilang oleh seorang lelaki yang beberapa hari lalu baru ia kenal.
*****
Seira tengah bersiap-siap, pukul 05.00 pagi ia langsung membersihkan badan. Karena kejadian semalam Seira tak sempat membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket karena berkeringat semalam.
Setelah mandi, ia memasak dua buah mie goreng instan, sarapan paginya sebelum berangkat kerja untuk menghemat pengeluaran di akhir bulan. Menata mie instan berwarna pekat tersebut dan membubuhkan satu buah telur mata sapi yang selalu menjadi menu wajib.
Melihat Adrian yang masih pulas membuat Seira ragu membangunkannya. Sebelum Aldo datang menjemputnya, Adrian sudah harus pergi dari tempatnya. Ia tak mau Aldo salah paham dan membuat hubungan mereka kembali merenggang.
Mendekati Bosnya, Seira menggoyangkan telapak kakinya, berharap lelaki itu bangun dan segera pergi. Tak ada pergerakan sama sekali, Seira khawatir jika terjadi sesuatu. Ia mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan pada ujung jarinya. Menempelkannya pada ujung hidung Adrian, berharap lelaki di hadapannya segera bangun. Tubuh itu mulai menggeliat, merasakan aroma kayu putih yang menyengat. Perlahan membuka mata dan melihat keadaan sekitar.
Betapa terkejutnya ia berada di tempat yang sangat asing baginya, beranjak dari posisinya, Adrian duduk dengan kepala yang masih terasa pening. Terlihat dari tangan yang memegang pelipisnya.
“Kenapa aku bisa di sini?” tanya Adrian. Melihat Seira semakin membuatnya bingung.
“Tanya pada dirimu sendiri.” Ketus Seira, ia tidak ingin menjelaskan panjang kali lebar soal kejadian semalam.
Seira beranjak dari tempatnya, Seira mengambil sepiring mie dan menyodorkannya pada Adrian.
“Nih, sarapan. Setelah ini kamu bisa pulang, Aku tak mau Mas Aldo melihatmu di sini.”
Adrian masih melihat sepiring mie yang Seira pegang. Makanan instan itu tampak asing baginya. Ingin menolak, tapi takut Seira tersinggung.
“Enggak suka? Ini makanan ternikmat saat akhir bulan. Aku bukan orang kaya yang menyediakan buah dan s**u segar setiap paginya.” Seira masih mengomel, megingat kejadia semalam masih membuatnya kesal pada Adrian.
“Setiap pagi kamu memakan makanan tak sehat ini?” Adrian mengambil piring yang Seira sodorkan. Melihat mie yang berwarna pekat tersebut dengan aneh. Perutnya mulai terasa mual sekaligus lapar.
“Harusnya aku mengusirmu semalam, tidak menghargai sama sekali.” Tampak wajah Seira kesal.
Melihat Seira yang kesal, Adrian mencoba memakan mie miliknya perlahan. Demi Seira ia rela memakan makanan tak sehat seperti mie instan. Menguyahnya perlahan, meskipun sebenarnya ia ingin memuntahkan mie yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
“Enak, ‘kan?” Seira tersenyum melihat Adrian yang mulai memakan mie-nya.
Adrian hanya mengangguk tak bersuara, berusaha menelan dan tidak membuat Seira kecewa karena penolakannya. Ini pertama kalinya ia memakan makanan instan yang amat dihindarinya. Semua ia lakukan demi Seira.
“Setelah ini sebaiknya kamu pulang, aku tidak ingin membuat Mas Aldo kecewa.” Seira meletakkan piringnya, mencoba memberi pengertian kepada Adrian agar tidak tersinggung.
Adrian menghentikan aktifitasnya, merasa terganggu dengan nama yang Seira sebut. Ia baru teringat saat melihat Seira dan Aldo bermesraan. Membuat dirinya cemburu dan melampiaskannya pergi ke club tempat favoritnya. Ia tak rela jika Aldo dan Seira bersama, baginya kebahagiaan Aurel nomor satu.
Tidak bisa menahan perasaannya, Adrian menyambangi tempat Seira sepulang dari club, ia semakin panas saat melihat Seira dan Aldo semakin mesra. Seperginya Aldo, Adrian menghampiri Seira dengan keadaan yang kacau hingga ia menghimpit tubuh Seira dan sempat mencium bibir mungilnya dengan paksa.
Setelah itu, ia tidak mengingat kejadian apa pun. Ia bangun sudah berada pada kamar Seira dan wanita itu masih mau memberinya makanan, setelah apa yang telah ia perbuat semalam. Adrian merasa perbuatannya sangat bodoh semalam. Ia terlalu cemburu dan possesive dengan wanita yang belum sepenuhnya memberikan hatinya untuknya. Dalam pikirannya hanya ada kebahagiaan Aurel putrinya. Ia tidak ingin Seira menjadi milik yang lain.
“Kenapa kamu masih baik padaku?” tanya Adrian sembari menatap Seira.
“Karena kamu bosku,” jawab Seira singkat.
“Cuma itu?”
“Lantas apa?” Seira semakin tidak mengerti maksud pertanyaan Adrian. Ia sukses membuatnya salah tingkah. Seira berusaha mencoba menghindar dari tatapan Adrian, tetapi lelaki malah semakin mengejar menangkap ekor matanya.
“Aku pikir kamu menganggapku selayaknya suami untuk putri kita, Aurel.” Adrian tersenyum. Ia masih berusaha agar Seira mau membuka celah hatinya.
Mengingat Aurel membuat hati Seira tak tega melihat gadis kecil itu. Ia sangat paham bagaimana rasanya merindukan kasih sayang seorang ibu. Seira yang sudah dewasa saja seringkali rindu kepada orang tuanya yang masih lengkap. Apalagi gadis sekecil Aurel, yang sejak kecil telah ditinggal pergi sosok ibunya, ia hanya bisa melihatnya dari sebuah foto.
“Itu bagian pekerjaanku bukan? Aku sudah tahu porsinya.” Seira menjawabnya ketus. Ia tidak ingin berharap lebih dari semua kebohongan ini. Adrian hanya menganggapnya ibu pengganti bagi Aurel putrinya, tidak lebih.
Adrian tersenyum kecut mendengarnya, berharap wanita di depannya memberikan celah kepadanya, tetapi semuanya hanya dianggap biasa saja. Setelah apa yang ia perbuat semalam tak membuat Seira sadar jika lelaki di depannya tengah cemburu. Cemburu bila Seira bersama dengan kekasihnya sekalipun.
“Baiklah, aku akan pergi sekarang, kita bertemu di kantor, pagi ini Aurel tidak usah pergi ke sekolah, daripada aku harus melihatnya bersedih.” Adrian merapikan kemejanya dan bangkit.
“Hei, kenapa malah seperti itu.” Seira menahan Adrian.
“Bukankah kamu lebih memilih kekasihmu? Aku pikir Aurel harus bisa menerima bahwa mamanya memang telah melupakannya.”
Seira terdiam, bingung mana yang harus dipilih. Hubungannya bersama Aldo atau Aurel anak dari Bos barunya yang mencuri perhatiannya.
Senyuman gadis kecil tersebut telah menyita hati Seira, terlepas dari Adrian sebagai Ayahnya. Ini benar-benar murni perasaan seorang wanita yang iba melihat seorang anak kecil yang begitu merindukan kasih sayang seorang Ibu. Seira bingung apa yang harus ia lakukan. Ia juga tidak ingin hubungannya dengan sang kekasih kembali kacau setelah semalam mereka berbaikan.
“Kamu tak perlu menghawatirkannya, aku bisa mengatasi Aurel, aku ayahnya.” Adrian menepis tangan Seira.
Tak mau terlalu berharap lebih pada Seira agar mau memenuhi keinginannya. Meskipun dalam hatinya Adrian berharap jika Seira akan menyetujui permintaannya.
“Aku ikut.” Ucapan Seira membuat Adrian terhenti, senyum tipis mengulas bibirnya. Akhirnya ia berhasil membuat Seira menuruti keinginannya.
“Bagaimana dengan kekasihmu itu? Aku tidak mau dia mengganggu.”
“Aku akan mengirim pesan padanya.”
Adrian tersenyum menang, membuat Seira mau menuruti permintaannya. Tak ada hal yang membuatnya senang saat melihat putri kesayangannya dapat tersenyum lebar. Adrian akan melakukan apa pun untuk memenuhi permintaan putrinya. Meskipun ia harus bertarung di medan perang sekaligus.
Seira telah dalam genggaman. Aurel merupakan senjata yang ampuh untuk membuat Seira mau bersamanya. Adrian yakin jika perlahan Ia akan membuat seira takluk kepadanya.