Fire Play

1806 Kata
Baru saja Seira mengambil ponsel, pintu kamarnya terdengar diketuk. Ia panik mendengarnya, takut bila ketahuan berdua dengan Adrian di kamar Kost-nya. Ibu kost mempunyai peraturan yang sangat ketat, dilarang membawa masuk lawan jenis ke dalam kamar. Bahkan Aldo sang kekasih pun tak pernah masuk ke dalam kamarnya. “Kamu sembunyi di dalam kamar mandi!” Seira panik, mendorong Adrian ke arah kamar mandi. Bukannya bergerak, Adrian malah berhenti, sengaja membuat Seira semakin panik. Lelaki itu dengan santainya diam tak bergerak. “Ngapain harus sembunyi, sih?” protes Adrian. “Udah nurut aja atau aku nggak mau ikut kamu jemput Aurel?” ancam Seira. Ia tidak ingin keberadaan Adrian di dalam kamarnya membuatnya terusir tidak hormat. Tak tega melihat raut muka Seira yang semakin panik, akhirnya Adrian menuruti permintaan Seira untuk bersembunyi di dalam kamar mandi. Seira mencoba menetralkan hatinya yang gugup, berjalan membuka pintu kamarnya. “Pagi ... .” Senyum Aldo menyapa seira di pagi hari. Ia sudah terlihat rapi dan segar dengan mengenakan seragam batik sekolahnya. Seira bingung apa yang harus ia lakukan, kehadiran Aldo yang tidak terduga membuatnya gugup. Harusnya lelaki di depannya datang menjemput satu jam lagi. Baru saja ingin mengirim pesan, tetapi Aldo malah berada di hadapannya. Senyumannya yang tulus membuat Seira merasa menjadi wanita pendosa yang selalu berbohong dengan berbagai alasan. Ingin rasanya Seira segera mengakhiri semua permainan Adrian yang telah menjeratnya. Namun Lelaki itu seperti tak membiarkannya hidup tenang. “Seira, kamu kenapa?” Aldo merasa aneh dengan sambutan Seira. Tak biasanya wajahnya begitu tegang saat menyambut kedatangannya. “Nggak, aku Cuma kaget, Mas kok udah jemput?” Seira berlagak manja, membuat suasana semanis mungkin. Ia tidak ingin Aldo curiga. “Kebetulan, Mas bawa ini, Ibu memintaku untuk membawakan masakannya untukmu.” Aldo membawa sebuah rantang makanan bersusun tiga. “Wah ini Ibu yang masak?” Seira menggandeng Aldo duduk ke teras. Mencoba mengalihkannya agar tidak curiga. Seira takut jika Aldo melihat Adrian di dalam. “Kamu sudah sarapan?” tanya Aldo yang melihat noda minyak pada bibir kekasihnya. “Eh, aku—aku—“ Seira bungung. Aldo mengusap ujung bibir Seira menggunakan ujung jempolnya, mengulas senyum dan membersihkan bekas minyak yang menempel. “Ini belepotan, sayang.” Seira tersenyum malu, kekasihnya begitu perhatian dan sayang kepadanya. Betapa beruntungnya mempunyai calon suami sepertinya. “Mas, Nanti aku berangkat sendiri aja, ya? Kantor yang baru letaknya lumayan jauh. Aku takut kamu kena tegur kalau terlambat.” Seira mulai mencoba beralasan. Aldo tampak berpikir, keningnya terlihat berkerut. Tak mengurangi keteduhan wajahnya. “Tak apalah, Dek. Buat kamu, aku tak peduli sejauh apa pun tempatmu bekerja, yang penting bisa mengantarmu dengan selamat.” Seira begitu tersanjung, mempunyai lelaki yang begitu istimewa dan perhatian. Sepertinya ia akan begitu sulit untuk mencari alasan sekarang, sedangkan Adrian masih berada di dalam kamar mandi. Mungkin tubuhnya sudah kedinginan di dalam sana. “Mas ... .“ Seira merengek manja, mencoba bernego agar Aldo mau menuruti permintaannya. Selang sebentar ponsel Aldo berbunyi, ia langsung mengangkatnya. Wajahnya terlihat serius mendengar suara dari seberang. Seira hanya bisa berharap telepon itu mampu menyelamatkannya kali ini. Menutup telepon, raut muka Aldo berubah. Seira tak tahu apa yang terjadi, kenapa wajah kekasihnya itu berubah murung. “Kenapa, Mas?” tanya Seira lembut. “Maaf, Dek. Mas nggak bisa antar, barusan kepala sekolah telepon. Aku harus menggantikan guru piket yang ijin hari ini.” Seira terlihat lega mendengarnya, keberuntungan masih berpihak kepadanya.”Nggak apa-apa, Mas. Kamu nggak usah merasa bersalah, sudah kewajibanku untuk mengerti pekerjaanmu.” Seira mencoba menghibur kekasihnya. “Aku nggak tenang melepasmu pergi sendiri.” Aldo terlihat muram. Perasaan yang dalam terlihat dari wajahnya. “Mas, aku sudah besar, bisa berangkat kerja sendiri, kamu nggak perlu khawatir.” Seira mencoba menghibur Aldo. “Aku khawatir, entah kenapa aku hanya takut jika ada yang tiba-tiba mengambilmu dariku, kamu itu sangat istimewa buatku.” Seira tertegun dengan perkataan Aldo, lelaki itu seperti mempunyai firasat tentang Seira. “Mas nggak usah mikir macam-macam. Nggak bakalan ada yang berani menggodaku.” Seira meyakinkan. Senyum semanis mungkin agar lelaki di sampingnya tidak khawatir lagi. Aldo sedikit tersenyum, tetapi tak merubah mimik wajahnya yang muram. Berpamitan pada calon istrinya dengan perasaan yang tak rela. “Hati-hati di jalan, Mas.” Seira melambaikan tangannya tersenyum. Aldo segera beranjak meninggalkan pelataran kost dengan motor bututnya, asapnya yang mengepul meninggalkan jejak yang lumayan pekat. Seira bisa bernapas lega, akhirnya Aldo pergi, sekarang saatnya menyuruh Adrian untuk segera keluar. “Tuan Muda.” Seira memanggil bosnya. Adrian sama sekali tak menampakkan wajahnya, hening tak ada sahutan. Padahal ukuran kamar Seira terbilang kecil dengan fasilitas kamar mandi di dalamnya. “Ke mana dia?” Seira berjalan pelan menuju kamar mandi, mengecek apakah Adrian masih di sana atau tidak. “Tuan Muda.” Seira mengetuk pintu kamar mandi, tetapi masih saja tak ada sahutan. Seira membuka handle pintu kamar mandi, celingukan mencari keberadaan Adrian di sana, tak ada siapapun. Pelan, Seira masuk ke dalam kamar mandi, lantai yang basah membuatnya harus berhati-hati. Ada bekas sabun yang berceceran, handuknya pun basah. Terdengar suara pintu tertutup membuat Seira terkejut, Adrian berdiri di belakangnya Bertelanjang d**a dengan rambut yang masih basah. Tubuh kekarnya terlihat atletis membuat Seira setengah takut dan gemetaran melihat pemandangan yang tak biasa baginya. Berulang kali Seira menelan salivanya kuat-kuat, detak jantungnya berlarian tak beraturan. Baru pertama kali Seira melihat lelaki bertelanjang d**a dengan jelas di depannya. Selama bersama Aldo tak pernah ia melihatnya, mereka saling menjaga satu sama lain. Sekarang, ia harus terjebak dalam keadaan yang membuatnya tak bisa maju atau mundur. Lelaki itu malah berjalan mendekatinya. “Kamu mau apa?” tanya Seira takut. Adrian hanya tersenyum, ia malah menyisir rambut basahnya menggunakan jari. Membuat Seira harus benar-benar menahan napas melihat tingkah lelaki di depannya. Ia berusaha memejamkan matanya agar tak melihat tubuh kekar lelaki di depannya. Seira benar-benar tak bisa melihatnya. “Hei, santai saja. Aku hanya selesai mandi.” Seira masih tak mampu berkata, Adrian semakin mendekatinya. Aroma sabun lavender begitu menyengat. Entah berapa banyak sabun cair yang ia pakai untuk mandi. Wanginya benar-benar sangat terasa. Membuat Seira kembali membuka matanya. Tubuh kekarnya terlihat sangat dekat, lengannya yang berotot membuat pikiran Seira tak mampu berpikir sehat. Satu tanda Tatoo tampak pada bagian d**a, ada satu inisial huruf yang sangat familiar bagi Seira. Lambang huruf ‘N’ dan ‘A’ yang bersandingan. Terdapat bentuk ukiran manis menghiasi kedua huruf tersebut. Seira tahu inisial siapa itu, Nikita, pasti Nikita. “Ada yang salah?” “Ti—tidak.” Seira masih gugup. “Lantas kenapa wajahmu begitu ketakutan.” Adrian tersenyum. Bibirnya tertarik ke atas memperlihatkan giginya yang putih. “Aku ma—u ke—lu—ar.” Seira kesulitan menghindari Adrian, kamar mandi yang berukuran sempit membuatnya kesulitan menghindar dari bosnya. “Bisa minta tolong?” tanya Adrian seolah tak merasa bersalah membuat Seira ketakutan. “A—pa?” “Bisakah kamu menghapus inisial ini di sini.” Adrian menarik tangan Seira dan menempelkannya pada d**a sebelah kanan. Menutupi inisial namanya dan Nikita mantan istrinya. Tatapannya seolah memohon, Suasana kamar mandi yang setengah basah membuat Seira semakin gugup. Bukannya tubuh yang terasa dingin, tetapi hatinya yang membeku karena sentuhan tangan Adrian yang begitu dingin. “Ma—af, aku harus keluar.” Seira mengalihkan pandangannya. Berusaha menghindar dari keadaan yang menjepitnya. “Seira, beri aku waktu, sebentar saja.” Adrian terlihat memelas. Seira terdiam, bayangan malam itu kembali menelusup hatinya, pergulatan yang besar terjadi di dalamnya. Aldo yang begitu menyayanginya dan Adrian yang baru saja ia kenal dan membuat hidupnya kacau. “Semua akan baik-baik saja, aku hanya butuh dirimu untuk tetap di sampingku. Aurel akan bahagia melihatnya.” Adrian mendekatkan tubuhnya, membelai lembut pipi Seira yang terasa dingin. Mendorong tubuh rampingnya hingga terhimpit pada dinding kamar mandi. Wanita itu terpaku dan diam, tubuhnya seolah kaku tak bisa digerakkan. Ingin menolak, tetapi saraf tubuhnya merespon setiap sentuhan yang Adrian berikan. Ada sekuntum bunga yang mekar di hatinya, menjadi seorang wanita istimewa yang mempunyai tempat khusus di hati seorang Tuan Muda. Ia tak mengira hatinya akan luluh begitu saja. Senyuman dan ucapan manis Adrian membuatnya terlarut begitu saja. Kedua manik mata yang beradu membuat suasana yang dingin menjadi hangat, ada sekumpulan medan magnet yang menarik keduanya untuk saling bersentuhan. Seira memejamkan matanya, akal sehatnya seolah menghilang dan lenyap. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi. Nama Aldo seolah telah menghilang dalam pikiran dan hatinya. Bibir Adrian perlahan mulai mengecup keningnya pelahan, turun mencium hidung mancungnya, hingga bibir Seira yang membuatnya menjadi candu. Seira masih merasakan degupan jantungnya tak karuan, lelaki itu memperlakukannya dengan lembut. Belaian tangannya membuat Seira terpaku dan hanya diam menuruti pergerakan lelaki di depannya. Adrian melepas tautan bibirnya, melihat Seira yang masih memejamkan matanya. Ia tersenyum melihat seorang wanita sederhana yang sangat mirip dengan wanita yang pernah menghianatinya, seorang wanita yang menjadi cinta pertama sekaligus ibu dari Aurel putrinya. Wanita yang telah memberi luka pada Adrian, hingga dirinya seolah tak mempunyai semangat hidup lagi. Ia terjatuh dan harus bangkit menata hidupnya bersama putri semata wayangnya. Kini, wanita di depannya seolah memberi harapan pada kehidupannya bersama sang putri, berusaha untuk meraih hatinya meskipun ia harus bertarung dengan hati lain yang telah memilikinya. Keinginannya terlampau besar untuk memiliki seorag Seira. Tak ada yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan Seira. Seira membuka kedua matanya, melihat Adrian yang masih memandanginya dengan keanehan. Lelaki itu hanya tersenyum hingga membuat Seira merasa kikuk dibuatnya. “Apa aku terlalu agresif?” Seira menundukkan wajahnya. Ia merasa malu dengan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua. Adrian malah terkekeh mendengar ucapan seira. Ini terdengar sangat konyol baginya. Banyak wanita yang ia kenal malah begitu liar dan agresif saat berhadapan dengannya.”Kamu sungguh manis.” Adrian kembali mengecup bibir mungil di depannya. “Berhenti menggodaku, atau aku teriak.” Seira menahan tubuh Adrian agar tidak mengecup bibirnya berulang kali. Seira terlampau malu dengan perlakuan adrian yang tidak biasa baginya. “Teriak saja, teriakanmu akan membuatku semakin tergoda untuk memanjakanmu.” Adrian mengerling nakal dan menghimpit tubuh Seira. “Kamu ...?” “Aku serius dengan ucapanku. Aku serius dengan hubungan kita. Kamu dan aku. Kita dan Aurel.” Adrian kembali membelai pipi mulus Seira. Ia tidak ingin lebih lama menahan perasaannya yang membuatnya gila bila mengingatnya. “Tapi ... aku ... .” Seira tak bisa menjawab. Hubungan percintaannya begitu rumit, tetapi ia tidak bisa menyangkal jika kehadiran Adrian mampu membuat harinya terasa berwarna. “Aku tak peduli meskipun aku harus jadi yang kedua, ketiga, bahkan menjadi yang terakhir untukmu.” Seira menarik napas kasar. Pilihan yang terlalu sulit dan menjepitnya. Ia melihat tatapan hangat yang membuatnya tak tega untuk berkata tidak.”Ini tidak semudah yang kamu pikirkan.” “Apanya yang tidak mudah? Hanya kamu dan aku, cukup mudah, kan?” “Dia ... .” Tak membiarkan Seira menyebut nama sang kekasih, Adrian meluncurkan ciuman kecil dan menutup bibirnya hingga tak bersuara. Ia hanya menginginkan Seira bersamanya bukan dengan yang lain. Ia hanya ingin Seira menyebut namanya saat bersamanya bukan nama yang lain ataupun kekasihnya. “Sebut namaku, jangan menyebut lainnya. Aku tidak suka.” Adrian menatap Seira hangat setelah melepas bibirnya. Ia mengusap bibir mungil di depannya dengan lembut. Sementara Seira terdiam kaku setelah ciuman kesekian kalinya dari lelaki di depannya. Hatinya semakin kacau tak terkendali. Tubuhnya menghangat saat bersentuhan dengan lelaki di depannya. Seluruh sarafnya seolah menerima setiap sentuhan yang ia terima. Sampai kapan semua ini berakhir hingga keduanya merasa kedinginan karena tak sengaja Seira terpeleset dan membuatnya tubuhnya jatuh dan basah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN