Seira merasa kikuk saat beradu pandang dengan Adrian di depan cermin. Kejadian beberapa waktu lalu di dalam kamar mandi membuat Seira malu menampakkan wajahnya. Menyisir rambutnya yang basah dan mengeringkannya menggunakan pengering rambut membuatnya mampu mengalihkan rasa kikuknya.
Adrian masih saja memandangi Seira dari cermin, bibirnya mengulas senyum, melipat kedua tangannya bersandar almari yang tepat berada di belakang Seira. Lelaki tampan itu seolah tak mau melepas pandangannya sedetik saja. Bahkan setelah apa yang terjadi di antara mereka malah membuatnya semakin menggoda Seira.
Berjalan mendekati Seira, Adrian mengambil alih pengering rambut dan membantu Seira mengeringkan rambutnya. Tangannya terlihat luwes memainkan salah satu alat yang biasa dipakai para wanita. Tatapannya masih saja mengejar manik mata yang berusaha menghindarinya.
“Kamu cantik.” Puji Adrian, menaruh pengering rambut pada meja dan menangkup pipi Seira dari belakang.
Seira hanya tersenyum simpul, lelaki itu benar-benar membuat hati Seira tidak karuan semenjak tadi malam. Ia terlihat begitu protective terhadapnya. Seira tak bisa menolak atau menghindari keberadaannya. Bahkan ia tidak punya pilihan untuk menolak keputusan Adrian.
Hati yang awalnya menolak untuk kembali mengingatnya akhirnya luluh dan menerima Adrian kembali dalam memorinya. Seira tak punya pilihan, hatinya mengatakan masih ingin bersama dengan lelaki yang tengah bersamanya saat ini.
Bunyi alarm yang Seira pasang menunjukkan pegingat bahwa ia harus segera berangkat ke kantor. Dering pengingatnya membuat Adrian kaget dan melepas tangannya. Suara itu semakin lama terdengar semakin keras. Nada dering yang Seira pasang terdengar aneh, suara orang marah-marah menjadi pilihannya sebagai pengingat alarm.
Seira tersenyum usil melihatnya, ekspresi lelaki di belakangnya terlihat sangat lucu. Wajah yang terlihat tegas berubah menjadi wajah yang panik dan gugup. Ia tergelak tak kuasa menahan tawa.
“Berani ngerjain aku, ya?” Adrian mencubit kedua pipi Seira dari belakang.
Mata yang berbinar sangat terlihat jelas di cermin. Mereka hampir lupa harus mengantar Aurel ke sekolah. Keduanya malah terhanyut ke dalam suasana yang mengikat mereka. Keduanya tak mau melepas pandangan satu sama lain. Momen indah terbentuk kembali saat mereka kembali beradu pandang. Seira masih tak menyangka jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
“Udah, ah, bisa telat kita.” Seira beranjak dari tempat duduknya, merapikan rambutnya yang telah kering dan membiarkannya tergerai.
Tubuh rampingnya yang sintal membuat penampilannya sangat cantik hari ini. Memakai kemeja putih dipadu blazer berwarna abu, dengan tas punggung berwarna cokelat menjadi peralatan wajib yang harus ia bawa saat berangkat ke kantor.
“Mau ke mana?” Adrian menarik tangan Seira hingga membuat tubuhnya terhuyung dan malah jatuh ke dalam pelukan Adrian.
“Kita sudah terlambat. Kasihan Aurel menunggu.” Pipi Seira memerah, Adrian masih saja memandanginya, membuat Seira semakin kikuk.
“Hari ini hanya kita berdua, tidak ada Aurel atau siapa pun.” Adrian malah semakin mendekatkan tubuh Seira. Lelaki itu masih saja mengeratkan tangannya tak membiarkan Seira beranjak darinya.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Aku bosnya, Aku yang menentukan kapan kamu bekerja dan kapan kamu harus menurut kepadaku.” Bibirnya mengulum senyum. Membuat Seira menundukkan wajahnya. Lagi-lagi lelaki di depannya tak memberinya pilihan. Seira tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menuruti keinginan bosnya itu.
“Seira, Terima kasih telah memberiku kesempatan.” Adrian menempelkan keningnya, membuat hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung milik Seira.
Seira menarik wajahnya, takut mengulangi kejadian beberapa menit yang lalu. Takut terbuai dengan keadaan hingga membuatnya lupa akan batas keduanya. Lelaki itu seperti mempunyai bius yang mampu membuat Seira rindu, yang membuat dirinya tak bisa menolak perlakuannya. Dan bibirnya selalu membuat Seira tak bisa berkutik bila di depannya.
“Kenapa?” Adrian masih menarik pinggang Seira dan membuat gadis di depannya tak bisa menjauh darinya.
“Bisakah kita pergi sekarang?”
“Takut?” Adrian menebak apa yang ada di dalam pikiran Seira.
“Adrian, aku tak mau kita melewati batas.” Ini pertama kalinya Seira memanggil nama bosnya.
“Baiklah, kita pergi sekarang.” Adrian melepas pinggang Seira, membiarkan wanita di depannya berjalan keluar kamar terlebih dahulu, ia tidak ingin membuat Seira merasa tidak nyaman bersamanya. Ia hanya tersenyum melihat Seira yang terlihat lega setelah ia melepaskannya.
Lelaki tampan itu merasa beruntung bisa memiliki hati wanita seorang Seira. Meskipun mereka hanya menjalani hubungan yang tidak jelas. Adrian akan berusaha untuk memenangkan hati seira dan membuatnya memilih Adrian untuk menjadi pasangan hidupnya.
Seira membuka pintu, melihat keadaan sekeliling, takut bila ada yang memergokinya berdua dengan lelaki di dalam kamar. Kamar kos yang terpisah dengan bangunan lain membuat tempat Seira tidak begitu mejadi pusat perhatian. Tempatnya yang berada di ujung membuatnya lebih aman saat keluar.
Seira merasa lega, ia keluar dan memberi kode pada Adrian agar segera keluar. Ia mengunci pintu dan meninggalkan kost-an bersama Adrian.
****
Adrian mengemudi mobilnya dengan wajah yang berbinar, kebahagiaan seolah memenuhi rongga dadanya. Pertemuan singkatnya dengan Seira mampu membuatnya tersenyum saat mengingatnya. Sebuah pertemuan yang tidak sengaja dan berlanjut pertemuan berikutnya. Dan sampai sekarang ia selalu berusaha mencari alasan untuk bisa dekat dengan Seira.
Saat melihat Seira diganggu di tempat yang sepi, Adrian baru saja pulang dari meeting, mendengar suara teriakan wanita yang berteriak minta tolong. Adrian bergegas menolong Seira yang terlihat ketakutan.
Berkelahi dengan beberapa preman hingga membuat mereka lari ketakutan. Melihat Seira, Adrian menghampirinya. Betapa terkejutnya ia melihat wajah yang begitu mirip dengan Nikita. Suasana malam yang sepi membuat Adrian merasakan rindu yang begitu hebat dengan Nikita.
Wanita yang sangat ia cintai, dan ia rindukan pergi meninggalkannya. Tak sadar Adrian menarik tubuh Seira dan menciumnya, Waktu yang terhenti seolah membiarkannya mengurai rasa rindu yang terbatas malam itu. Otaknya seperti tak bekerja karena diperbudak oleh rasa rindu yang menggebu kepada sang mantan istri.
“Kita mau ke mana?” tanya Seira memecahkan lamunan Adrian.
“Temani aku hari ini,” jawab Adrian singkat. Bibirnya hanya tersenyum kembali mengingat pertemuan pertama mereka. Ia tidak ingin sampai Seira tahu jika ia tengah memikirkan kejadia saat mereka pertama bertemu.
Seira hanya mendekikkan bahunya, melihat sikap Adrian yang terlihat aneh. Saat melihat pemandangan sekitar, ponsel Seira berbunyi, sebuah pesan masuk dari Aldo kekasihnya.
Seira tertegun merasa berdosa telah berhianat, ia telah membohongi dan menduakan Aldo dengan Adrian yang kini bersamanya.Perasaan yang membuatnya bersalah, tetapi ia tak bisa menjauh dari Adrian. Sungguh keadaan yang menjepit Seira.
[Dek, udah sampai kantor?]
Seira bimbang, hari ini ia pergi bersama Adrian. Entah kemana Bos barunya akan membawanya pergi. Ia bingung harus membalas apa. Haruskah ia berbohong untuk kesekian kalinya?
“Dari siapa, Ra?” tanya Adrian yang sekilas melihat Seira bingung.
“Mas Aldo.” Seira menundukkan wajahnya, raut mukanya menunjukkan rasa bersalah.
“Balas saja, kenapa bingung? Bilang saja kalau kamu sedang bersamaku.” Adrian tersenyum usil. Meskipun dalam hati merasa tak rela. Ia tidak mau Seira kembali mengingat kekasihnya itu.
“Ish.” Seira mencebik kesal. Jari jemarinya mulai mengetik pada layar ponselnya. Membalas pesan Aldo dengan perasaan yang was-was.
“Mukanya kenapa datar amat. Kayak patung selamat datang.”
“Adrian ... !!!” Seira nampak geram, dalam situasi seperti ini bisa-bisanya Adrian malah bercanda.
Nada pesan masuk terdengar, Seira segera membuka pesannya, membaca pesan yang masuk.
[Dek, nanti pulang kerja, Mas nggak bisa jemput. Barusan dapat tugas dari Kep Sek untuk mendampingi beliau tugas ke semarang.]
Seira segera membalas pesan Aldo.[Iya, Mas. Hati-hati di jalan.] Seira tersenyum.
Membuat Adrian sedikit cemburu melihatnya.”Ngapain, sih? Pake senyum-senyum segala.”
“Ish, mau tahu aja.”
[Nanti kalau sudah di Semarang, Mas mau mampir ke tempat Ibu, Kamu mau dibawain oleh-oleh apa?]
[Wah, aku jadi kangen kampung, Mas. Salam buat Ibu, ya.]
Pesan Seira langsung dibalas, terlihat Aldo sedang mengetik. Adrian merasa kesal meliriknya, menambah kecepatan mobil saat memasuki fly over. Hatinya terasa panas saat melirik Seira yang tersenyum berbalas pesan dengan kekasihnya. Ia cemburu, bahkan Adrian merasa berhak cemburu karena Seira juga kekasihnya.
[Nanti aku sampaikan sama ibumu, doain tugas Mas cepat selesai, ya? Biar Mas bisa langsung pulang.]
Seira tak peduli dengan sikap Adrian yang berubah, ia masih saja asik membalas pesan dari Aldo. Ia hanya tidak ingin membuat Aldo curiga.
[iya, Mas. Aku tunggu.]
Pesan Seira terbaca, dan Aldo langsung terlihat offline. Seira menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku blazer.
“Kamu kenapa, sih?” heran Seira yang melihat Adrian muram, wajahnya yang semula hangat berubah dingin.
“Apa perlu aku jelaskan!” jawab Adrian ketus.
“Cemburu? Kamu tahu, kan mas Aldo adalah ... .”
“Nggak penting!” Adrian memotong perkataan Seira sebelum mendengar nama Aldo disebut. Ia tak peduli dan kembali fokus mengemudi mobilnya.
Ia tahu posisinya hadir di saat Seira telah mempunyai pasangan, tetapi tak menampik kemungkinan bahwa Adrian merasakan cemburu yang hebat saat melihat Seira bersama Aldo kekasihnya. Ia lelaki normal yang tidak ingin melihat wanita yang ia sayang bersama lelaki lain atau membalas pesan lelaki lain. Emosinya seketika meningkat saat melihat Seira tersenyum saat berbalas pesan dengan Adrian. Senyum yang hanya ia inginkan untuk dirinya seorang karena Seira adalah miliknya.
“Harusnya kamu bisa memahamiku. Ini adalah keadaan yang sangat sulit.” Seira berujar lirih. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Adrian terlihat sangat menakutkan baginya sekarang. Seira ketakutan, ini kedua kalinya ia melihat Adrian dengan ekspresi yang tidak menyenangkan.
Adrian menepikan mobilnya saat keluar dari fly over, mendengar ucapan Seira membuatnya merasa bersalah. Ia membuang napas kasar dan melirik Seira yang masih terlihat ketakutan.
“Ra, maafkan aku telah membuatmu tidak nyaman.” Adrian meraih tangan Seira dan menciumnya. Memandang wajah Seira yang terlihat bimbang. Ia benar-benar menyesal telah membuat seira ketakutan karena sikapnya.
“Aku butuh waktu, aku tahu kamu membutuhkanku hanya untuk Aurel, mungkin kamu terobsesi padaku hanya karena wajahku yang mirip dengan Nikita, istrimu.”
Adrian menarik tubuh Seira hingga mereka berhadapan. Wajah yang semula berbinar terlihat sendu, Adrian semakin merasa bersalah karena ucapannya yang menyinggung ujung hati Seira.
“Tak ada Nikita atau Aurel, kamu adalah Seira, tidak ada yang mengikatku denganmu karena siapa pun.” Adrian berusaha meyakinkan wanita di depannya. Apa yang dirasakannya murni karena rasanya yang tak bisa lepas dari Seira sejak pertama bertemu.
Seira hanya diam, sadar bahwa hidupnya akan lebih rumit dengan dihadapkan dua orang yang bersamanya. Apalagi sikap Adrian yang terlihat begitu possesif kepadanya. Namun seira juga merasa tidak bisa jauh dari lelaki yang baru saja mengikat hatinya.
“Hei, kenapa malah cemberut? Senyum, my Seira.” Adrian menjapit hidung Seira yang terlihat kembang-kempis.
“Ish, sakit. Kamu curang.” Seira malah membalas mencubit pinggang Adrian hingga membuat si empunya menggeliat.
Adrian berhasil mencekal pergelangan Seira yang sedang tergelak tertawa hingga membuat Adrian menggeliat karena geli.
“Sekali lagi, maafkan aku.” Netranya berharap Seira benar-benar memaafkannya.
“Iya, aku maafkan Tuan Muda.” Senyum Seira membuat Adrian lega.
Waktu yang mereka lalui seolah berharga setiap detiknya, Adrian tidak mau sampai membuat Seira sakit hati ataupun membuatnya kesal. Senyumnya seolah berharga, tak ingin membuatnya pergi beranjak dari sisinya. Semua hal tentang Seira akan ia tanam dalam hati dan tak akan menggantikannya. Rasa cintanya begitu besar, rasa cinta yang begitu singkat, tetapi mengikatnya kuat hingga tidak mau melepasnya. Sosok Seira yang sederhana yang membuatnya ingin memiliki wanita cantik itu.
Perlahan Adrian mulai melajukan kembali mobilnya, menuju tempat yang membuat kebersamaannya bersama Seira tak akan berakhir. Ia tahu telah menempatkan rasa yang salah, tetapi setidaknya ia masih punya kesempatan sebelum janur kuning melengkung di depan rumah Seira.
Adrian akan berusaha memanfaatkan waktu untuk membuat Seira pada akhirnya akan memilih dirinya dan hidup bersamanya kelak. Pejalanannya baru saja dimulai, dan Adrian akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.