Kencan Pertama

1565 Kata
Keduanya berjalan memasuki sebuah pusat gedung perbelanjaan, Adrian menggenggam tangan Seira dengan erat, seolah tak mau melepasnya. Seira merasa tak nyaman dan malu. Ia hanya menundukkan wajah saat mereka menjadi pusat perhatian. Adrian berjalan cuek tak peduli dengan pandangan sekitar, masa bodoh, yang terpenting ia bersama Seira, wanita yang baru saja mau membuka hatinya untuk seorang Adrian. Seira mencoba melonggarkan telapak tangannya, perlakuan Adrian membuat banyak pasang mata sangat iri melihatnya. Namun Adrian tak membiarkan Seira melepas genggamannya, bahkan ia malah semakin mengeratkannya. “Kamu malu?” tanya Adrian sembari membuka kaca mata hitamnya. Seira hanya tersenyum meringis, lelaki ini terlihat sangat protektive memperlakukannya, seolah tak ada yang berhak mengganggu dan mengambil Seira dari sisinya. “Aku hanya nggak enak dilihat yang lain.” “Kenapa? Takut?” Adrian berhenti, melihat Seira yang masih saja menundukkan wajahnya. “Bukan, aku hanya tidak enak melihat pandangan mereka.” Seira mencoba memberi pengertian agar Adrian tidak tersinggung. Sejak perdebatan di mobil tadi, Adrian terlihat lebih sensitif. Melihat ekspresi Seira yang seperti itu membuat Adrian perlahan melepas genggamannya. Ia paham Seira belum terbiasa pergi bersamanya, karena posisinya yang masih menjadi kekasih Aldo. Wanita seperti Seira terlalu takut mengambil sebuah resiko. Ia mencoba memahaminya dan memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. “Oke, aku jalan duluan, kutunggu di sana.” Adrian menunjuk sebuah butik yang terletak sekitar 50 meter dari tempat mereka berdiri. “Kamu marah?” Seira menarik tangan Adrian yang hendak melangkah. Ia takut jika Adrian marah kepadanya. Lelaki itu akan terlihat sangat menyeramkan saat marah. Adrian menoleh dan tersenyum.”Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk terbiasa dengan keadaan ini.” Mengacak pelan rambut Seira dan melepas tangannya. Punggung tegapnya perlahan mulai menjauh, lelaki berbadan tegap itu berjalan santai meninggalkan Seira sendiri. Seira berjalan pasrah jika Adrian marah atau kesal padanya. Keadaan ini benar-benar membuatnya bingung, ia takut jika ada teman atau keluarga Aldo yang melihatnya berdua dengan Adrian. Hal itu akan membuatnya semakin mempersulit hubungan mereka. Adrian berdiri di depan pintu sebuah butik dengan muka yang masam, melipat tangannya, memakai kaca mata hitamnya berlagak cuek dengan kedatangan Seira. Warna gelap kacamatanya membuat Seira sulit menebak ke mana arah pandangannya. “Lama amat jalannya.” Adrian masih melipat kedua tangannya, melepas kacamatanya dan menyelipkannya ke dalam saku kemeja. “Maaf ... .” Seira tertunduk lesu. Adrian menggaet tangan Seira dan mengajaknya masuk ke dalam. Seira hanya menuruti langkah Bos barunya. Seorang karyawan butik menghampiri mereka, wanita cantik berkulit putih menyambut kedatangan Adrian dengan senyum yang mempesona. Seira hanya melongo melihat sikap Adrian yang begitu ramah kepada pegawai butik, tutur katanya sopan dan senyumnya selalu mengembang, berbeda dengan sikapnya terhadap Seira yang cenderung cuek dan arogant. Hal itu membuat Seira agak jengkel melihatnya. Bagaimana mungkin ia bisa berperilaku begitu manis kepada yang lain. Sedangkan bersama Seira ia terlihat lebih tempramen dan tidak sabar. “Mbak, minta tolong pilihkan beberapa dress yang cocok untuk istri saya.” Adrian merangkul Seira, memperkenalkannya sebagai istri. Seira hanya diam dan menurut, meski dalam hati semestinya ingin menolak dan protes. Ia selalu berbuat manis kepadanya jika menginginkan sesuatu. Seperti yang dilakukan Adrian sekarang ini, Ia memperkenalkan Seira sebagai istrinya. “Baik, Tuan.” Pegawai butik meninggalkan mereka berdua mengambil beberapa potong baju yang diminta Adrian. Adrian mengajak Seira duduk di depan ruang ganti, tangannya masih menggenggam telapak tangan Seira. Ia tak mau melepasnya, meskipun beberapa pegawai butik mengamati mereka. Adrian masih saja cuek. Tak peduli jika Seira merasa tak nyaman karena perlakuannya. “Tumben nggak protes,” ujar Adrian sembari mempermainkan ujung jari jemari Seira. Ia sengaja mempertontonkan kemesraannya bersama Seira di hadapan para pegawai butik. Seira hanya diam menghalau rasa malunya, ingin tersenyum tetapi menahannya. Ia tidak mau membuat lelaki di sampinya menjadi besar kepala karena ucapannya. Belum sempat menjawab, pegawai butik menghampiri mereka dan menyodorkan beberapa potong baju yang dirasa cocok untuk Seira. Adrian mengambil dan memilihnya untuk Seira. “Kamu coba pakai yang ini, yang ini dan yang ini.” Memberi tiga potong dress bermotif dan polos berwarna merah dan pastel. Selebihnya ia kembalikan kepada pegawai butik. “Ini?” Seira melihat bentuk dress yang tidak biasa, bentuk dress yang membentuk lekuk badannya akan terlihat jelas, membuat Seira tak akan nyaman memakainya. Dress semacam ini hanya Seira lihat di majalah fashion yang sering ia baca di kantor lamanya. “Iya, nanti malam kita makan malam bersama Mama dan Aurel.” Seira membulatkan mulutnya, nanti malam ia harus bertemu dengan Mama Adrian serta putri kecilnya meggunakan Dress super ketat dengan belahan pada bagian paha yang lumayan tinggi. “Aku tidak terbiasa.” Seira kembali menyodorkan dress berwarna merah tersebut. Warna yang sangat mencolok bagi Seira, ia lebih suka memakai warna gelap ketimbang warna yang menarik perhatian. “Khusus malam ini saja, selebihnya aku tak akan memaksa.” Adrian memohon, berharap Seira memenuhi permintaannya. Raut muka Adrian terlihat memelas, menangkupkan kedua tangannya, berusaha membujuk Seira agar menuruti keinginannya. “Baiklah.” Jawaban Seira membuat Adrian tersenyum menang. Seira mengambil Dress dari tangan Adrian, masuk ke dalam ruang ganti dengan perasaan yang tak menentu. Membuka dress di tangannya, membuat Seira tak bisa membayangkannya. Tak terbiasa memakai baju terbuka dengan belahan di kaki yang lumayan tinggi. Baju seperti ini biasanya dipakai model kelas atas yang sering berlenggak-lenggok di atas catwalk. Dengan kaki jenjang, senyum yang merekah disertai bentuk badan yang sempurna. Seira perlahan membuka baju dan mengenakan dress merah pilihan Adrian, tubuh sintalnya terlihat ramping mengenakannya, lekuk tubuhnya terlihat sangat sempurna, kaki jenjangnya terlihat putih mulus tampak pada belahannya. Membuat Seira semakin tidak percaya diri menunjukkannya pada Adrian. Berulang kali Seira memperhatikan penampilannya yang jauh berbeda dengan kesehariannya, wajahnya yang terbilang innocent menurut Adrian terlihat berbeda dari sebelumnya. Memutar tubuhnya berulang kali, memastikan ini benar-benar dirinya. “Seira.” Suara Adrian terdengar memanggil dari luar. Bergegas, Seira membalikkan badan dan membuka pintu ruang ganti, berdiri di depan Adrian dengan wajah yang tertunduk. Malu rasanya berpakaian seperti itu di depan Bos baru sekaligus kekasih gelapnya. Adrian menarik dagu Seira dan tersenyum melihatnya, mata lelaki di depannya seolah berbinar dan terkesima melihat penampilan Seira. Wajahnya terlihat begitu memuja dan mengagumi, senyumnya mengembang, memutari tubuh Seira. Membuat gadis di depannya semakin malu, kembali menundukkan wajahya. “Hei, kenapa harus malu?” Adrian menyibakkan rambut yang terurai ke depan. Mengusap pipi tirus milik Seira menggunakan ujung jempolnya. “Kamu terlihat sempurna.” Seira semakin tak bisa menahan degupan jantungnya, perlakuan Adrian benar-benar membuatnya malu. Aldo saja tak pernah memperlakukannya seperti ini. Lelaki itu hanya menyetujui apa yang menjadi pilihan Seira tanpa melontarkan pujian atau sejenisnya. “Aku, tidak terbiasa. Bisakah memakai yang lain?” Seira mencoba menawar. “Seira, kamu cantik, kenapa harus malu? Lihat penampilanmu sekarang.” Adrian membalikkan tubuh Seira menghadap cermin di depannya. Tubuh sintalnya memang terlhat sempurna, Adrian melingkarkan tangannya membuat mereka terlihat begitu dekat. “Cantik bukan?” “Bisa mundur sedikit, aku tidak nyaman, pegawai butik itu terus saja melihat kita.” Adrian terkekeh, bukannya melepaskan tautan tangannya, lelaki tersebut malah menempelkan dagunya pada bahu Seira, menatap wajah malu Seira dari depan cermin. “Masa bodoh, siapa dia?” Adrian malah menggoda Seira. “Ini tempat umum.” Seira merasa tidak enak dengan sikap Adrian. “Kamu takut?” Adrian melepas tangannya, memberi jarak agar Seira merasa nyaman. “Aku hanya tidak nyaman, dengan tatapannya.” Seira melirik pegawai butik yang masih memandanginya dari kejauhan. “Apa kita perlu ruang khusus untuk berdua?” Adrian menggoda Seira. “Ish, dasar genit!” Seira mendorong tubuh Adrian dan kembali masuk ruang ganti. Perkataan Adrian sukses membuatnya malu, lelaki yang selalu mempunyai sejuta cara untuk membuat hatinya was-was dan melambung ke langit. Seira kembali mengganti bajunya, merapikan kembali kemejanya dan menata ulang degupan jantung yang masih saja belum teratur. Melihat wajahnya di depan cermin yang mengulas sedikit senyum. Adrian begitu istimewa memperlakukannya, perlakuan yang santai membuat Seira semakin tak bisa melupakannya. “Yang lain nggak dicoba?” tanya Adrian saat mendapati Seira keluar ruang ganti. Seira hanya menggeleng, menyodorkan baju yang baru saja ia pakai. Ia sudah tidak tahan dengan pandangan pegawai butik yang mengawasinya. Ia terlihat seperti buronan yang diikuti tiap gerakan tubuhnya. “Okey, kita bayar sekarang.” Adrian melangkah ke tempat pembayaran. Seorang pegawai menyambut kedatangannya dengan ramah, seolah Adrian adalah menjadi pelanggan terbaik mereka. Menunjukkan bahwa Adrian memang telah terbiasa datang ke butik tersebut. “Wah, Nyonya Nikita cantik sekali memakai gaun ini. Beruntungnya tuan Adrian mempunyai istri secantik dia.” Pegawai butik melipat dress merah dan memasukkannya ke dalam paper bag. Adrian hanya tersenyum simpul tak menanggapinya, menyodorkan debit card miliknya untuk pembayaran. Seira masih memikirkan perkataan yang baru saja ia dengar, nama yang tidak asing baginya. Pegawai butik menggesek kartu milik Adrian dan memintanya untuk memasukkan pasword pada mesin EDC. Dengan sigap pegawai tersebut menyelesaikan transaksi dan mengambil struk yang keluar. “Terima kasih telah berbelanja di butik kami, Tuan.” Tersenyum, pegawai butik menyodorkan paper bag dan debit card milik Adrian. Tanpa basa-basi Adrian langsung menarik Seira keluar butik dengan langkah yang cepat. Rahangnya terlihat mengeras, raut mukanya berubah datar, ada hal yang telah membuat suasana hatinya menjadi muram. Seira merasa tidak enak dengan sikap Adrian. Ia tersenyum dan mengangguk kepada para pegawai butik. Adrian masih saja menariknya berjalan menjauhi butik. “Pelan-pelan.” Seira merasa kesusahan melangkah. Adrian masih diam tak bersuara. Adrian berhenti, menoleh ke arah Seira yang terlihat kelelahan. Wanita itu hanya heran melihat perubahan sikap Adrian. Beberapa menit yang lalu lelaki di depannya terlihat sangat manis dan perhatian, tetapi selang sebentar sikapnya berubah. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Benar-benar lelaki yang aneh dan arogan. “Capek?” tanya Adrian, yang melihat Seira kepayahan. “Iya," jawab Seira dengan napas yang tersengal. Adrian tersenyum, ia tidak tega melihat Seira yang terkena imbas amarahnya. Mendengar nama Nikita disebut membuat Adrian marah mendengarnya. Ia telah berjanji untuk meghapus nama itu selamanya dari dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN