Make Over

1525 Kata
Adrian menggandeng pelan Seira, menaiki eskalator menuju tempat favoritnya untuk makan siang. Seira masih terdiam melihat perubahan sikap Adrian, lelaki itu tak berkata banyak. Tangannya masih erat menggandeng Seira, meski tak seulas senyuman yang terbit di bibirnya. Kali ini ia berjalan lebih santai. Mereka tiba di sebuah restoran oriental yang menjadi pilihan Adrian, mengajak Seira masuk dan memilih tempat duduk di pojok ruangan. Adrian tahu Seira masih tidak nyaman dengan hubungan mereka. Ia hanya ingin membuat Seira senyaman mungkin saat bersamanya. Dekorasi lampion berwarna merah begitu kental, banyak ornamen khas china yang tertempel di tembok. Seorang pelayan berwajah oriental menghampiri mereka. Adrian meraih buku menu dan memilih makanan yang cocok untuk mereka. “Seperti biasa, ya, Mbak.” Adrian kembali menyodorkan buku menu, sang pelayan hanya mengangguk dan undur diri. “Kenapa? Aneh?” tanya Adrian yang mendapati Seira menatapnya heran. “Memangnya dia tahu apa makanan yang kamu pesan?” Seira masih heran, tanpa menyebutkannya sang pelayan hanya mengangguk. “Hahahha, ya tahulah.” Adrian terkekeh, menyenderkan punggungnya, mengetuk jarinya pada meja berulang kali. Ia masih menatap seira yang tengah heran. Banyak hal yang membuatnya bingung hari ini. Mulai dari kedatangan mereka di butik hingga saat mereka di restoran pilihan Adrian. “Emangnya dia peramal.” Seira mencebik. “Buat Tuan muda sepertiku, siapa , sih, yang nggak kenal?” Adrian terkekeh. Ia mulai tertarik untuk membuat Seira kesal. “Ish, dasar.” Seira mengalihkan pandangan, ada beberapa pasangan yang tengah makan siang bersama. Mereka terlihat sangat romantis, sang lelaki menyuapi sang wanita yang terlihat malu-malu. Seira hanya tersenyum melihatnya, sekilas membayangkan jika lelaki di depannya memperlakukannya dengan romantis. Baginya Adrian mulai tampak mengesalkan saat mereka tengah jalan berdua. Seira saja tidak menyangka akan berhadapan dengan lelaki arogan semacam Adrian dalam hidupnya. “Kalau iri bilang, nggak usah dipendam.” Adrian mendekatkan tubuhnya, membuat Seira terkejut. “Ish, kamu mengagetkanku. Aku bukannya iri, tetapi kagum dengan lelaki yang sangat perhatian seperti dia.” “Kagum? Kenapa harus dia? Ada aku di depanmu, masa iya kamu mengagumi lelaki lain?” Seira tersenyum, menutup bibirnya, baru kali ini ia melihat Adrian terang-terangan terlihat cemburu. Saat berbicara tentang Aldo, biasanya Adrian hanya diam tak berekspresi, tetapi kali ini ia terlihat protes dan tak terima. “Apa kita tidak ke kantor? Lantas Aurel bagaimana?” Seira mengalihkan pembicaraan. “Seira, aku sudah bilang, hari ini adalah waktu untuk kita berdua, tak ada pengganggu atau lainnya, urusan Aurel, dia sudah mengerti kalau mama-papanya sedang berkencan.” Adrian tersenyum genit. Lelaki di depan Seira bisa menampakkan ekspresi konyolnya. Wajah yang tadinya terlihat datar mulai tersenyum. Rahang yang tadinya mengeras perlahan mulai mengendur dan terlihat lebih santai. Kedatangan pelayan membuat gurauannya terhenti sesaat, wanita bermata sipit itu dengan cekatan menaruh makanan dan minuman di atas meja. Dua mangkuk dimsum kuah, fu yung hai, serta jus plum telah tersaji di meja. Seira merasa aneh dengan makanan di depannya, ia lebih terbiasa dengan masakan jawa ketimbang masakan oriental. Lidahnya tetap saja cinta dengan masakan kampung, meskipun sudah beberapa tahun tinggal di kota. Masakan Ibunya di kampung tetap menjadi yang masakan yang paling enak menurutnya. “Kenapa? Tidak suka?” tanya Adrian. Seira hanya meringis menggaruk kepalanya, merasa tidak enak jika terlalu banyak bicara. Setidaknya ia harus menghargai pilihan Adrian. “Apa mau aku suapi?”Adrian menggoda Seira. “Ish, nggak perlu.” Adrian tertawa mendengar penolakan Seira, wanita di depannya tampak malu dan enggan. “Kalau tidak mau ya sudah, aku akan memakannya sendiri.” Adrian segera melahap makanan yang di depannya. Ia tampak menikmati makanan khas Cina tersebut, bibirnya terlihat belepotan. Seira hanya memandanginya tersenyum dengan sesekali menyedot jus plum di depannya. Ia lebih memilih Dimsum kuah, menikmati sajian makan siangnya hingga tuntas. Tidak membutuhkan waktu lama, Adrian dan Seira menyelesaikan makan siangnya. Setelah cukup, mereka keluar dari resto dan kembali berjalan menuju sebuah tempat yang sangat asing bagi Seira. Flower Blow, Salon bridal dan Spa begitulah nama yang terpampang pada pintu masuk. Seira ragu-ragu masuk ke dalam. Apa yang akan dilakukan Adrian hingga membawanya kemari. Adrian menarik tangan Seira, langkahnya terasa berat, ragu untuk mengikuti Adrian masuk ke dalam salon yang terlihat sangat mewah. Ia tak terbiasa masuk ke dalam tempat yang menurutnya sangat ekslusif itu. “Mau apa kita ke sini?” “Biar terlihat cantik.” Seorang pegawai menghampiri mereka, cantik, tinggi dan berpenampilan elegan, senyumnya sangat ramah menyambut Adrian, seperti sudah biasa datang ke salon. “Mbak, seperti biasa, buat dia secantik mungkin.” Adrian menarik Seira. “Baik, Tuan Muda.” Pegawai salon mempersilahkan Seira duduk di tempat yang telah disediakan. Sementara Adrian lebih memilih melakukan terapi refleksi agar urat-urat di kakinya sedikit mengendur. Seira hanya menurut, Pegawai salon mulai melakukan perawatan, mulai dari meng-creambath, manicure, padicure, dan body Spa. Adrian masih menunggu Seira dengan mata yang lelah karena begitu lama. Beberapa kali ia menguap sembari membaca majalah yang tersedia. Pijatan refleksi yang ia rasakan tak mampu mengusir rasa jenuhnya menunggu Seira yang belum selesai sejak tiga jam yang lalu. Setelah semua perawatan Seira selesai, pegawai salon mulai merias wajah Seira dengan make up yang sederhana dan terlihat natural. Tak ketinggalan sang hair stylish mencatok rambut Seira yang terlihat hitam legam dan lurus. Tampilannya benar-benar berubah 180 derajad kali ini. Mengenakan baju pilihan Adrian, Seira tampak sangat mempesona. Kulit putihnya terlihat bersinar. Tubuh rampingnya terlihat proposional dengan tinggi badannya. Warna lipstick yang lumayan mencolok membuat tampilan Seira agak terlihat tak biasa. Warna merah menyala melekat pada bibir mungilnya dan membuat kesan tegas pada wajahnya. Gadis berwajah kalem itu bermetamorfosis bak model yang siap melangkah di atas catwalk. Adrian takjub melihat wanita di depannya. Matanya tak berhenti berkedip dengan tampilan Seira yang lengkap dengan riasan wajah yang memukau. Ia sama sekali tidak mengira jika kecantikan Seira melebihi kecantikan Nikita sang mantan istri jika keduanya disandingkan. Bedanya, Nikita terbiasa dengan penampilan glamour, sedangkan Seira terbiasa dengan penampilan sederhana. Seira terlihat anggun, tetapi tetap berkarakter. Pria di depannya tak henti memuji kecantikan Seira hingga membuat wanita di depannya merasa malu karena menjadi pusat perhatian seisi salon. Adrian berjalan memutari Seira. Ia merasa ada yang kurang dengan penampilan Seira kali ini. Ia terlihat cantik, tetapi ada hal yang membuat Adrian tak henti melepas pandangannya. “Apa ada yang aneh?” tanya Seira. “Ada yang kurang.” Adrian tampak berpikir. Apa yang salah dengan penampilan Seira. Pegawai salon hanya tersenyum melihat mereka.”Tuan Muda, Sepertinya anda harus membelikan sepatu baru untuk Nyonya Nikita.” Perkataan pegawai sontak membuat Seira terkejut, menyebutnya dengan panggilan yang sama saat di butik. Adrian langsung terlihat gusar, wajahnya memerah dan memalingkan muka. Nama Nikita seolah membuat Seira semakin yakin jika hari ini semua orang menganggapnya adalah Nikita. Semirip itukah dirinya dengan mantan istri Adrian. “Sebaiknya kita pergi, Mama sudah menunggu.” Tanpa basa-basi Adrian menggandeng Seira keluar salon. Wanita itu mulai terbiasa dengan perlakuan Adrian yang selalu menariknya tiba-tiba dan melangkah seenaknya. Hari yang hampir gelap membuat susasana luar gedung pusat perbelanjaan semakin ramai, warna langit perlahan memudar. Lampu jalan mulai kerlap-kerlip menerangi gelapnya jalan. Adrian membuka pintu mobil dan membiarkan Seira masuk tanpa penjelasan. Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran mall dan mengambil arah tol dalam kota untuk pulang ke rumahnya. Adrian mengemudi mobilnya tanpa satu patah kata apa pun. Seira hanya bisa diam tak menuntut pertanyaan. Semuanya terasa misteri dan membingungkan. Dalam hati ia tahu siapa Nikita yang mereka maksud, tetapi Seira tidak berani untuk menanyakan lebih jelasnya pada Adrian. Lelaki itu terlihat sangat sensitif jika bersinggungan dengan nama Nikita. “Kamu tak perlu khawatir, Nikita bukanlah siapa-siapa.” Adrian masih fokus menyetir, ucapannya kembali datar, tidak seperti saat mereka makan bersama di resto. Ia yakin jika Seira bertanya-tanya dengan sikapnya kali ini. “Emm, apa ada yang salah?” Ragu Seira mulai bertanya. Ia hanya ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi. “Bersikaplah normal saat bertemu Mama atau Aurel, jangan pernah memperlihatkan rasa ketidaknyamananmu.” Ucapan Adrian terdengar sangat datar. Seira semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Bahkan sehari ini ia melihat Adrian dengan berbagai reaksinya yang berubah-ubah. Mulai dari sosok yang romantis, dingin, konyol, dan yang terakhir Adrian terlihat sangat sengit dan menyeramkan baginya. “Aku ... aku ... “ “Sekali ini jangan membantah, aku tidak akan menyulitkanmu.” Tak mau lebih banyak ikut campur, Seira hanya diam. Tak ada urusannya dirinya dengan Nikita, siapa dia, bukanlah hal penting, yang terpenting adalah sekarang ini ia bersama Adrian, meskipun di jauh sana ada seseorang yang tengah memikirkannya karena seharian tak memberi kabar. “Untuk kali ini aku minta maaf jika membuatmu bertanya, tetapi suatu saat kamu pasti akan tahu yang sebenarnya. Aku hanya butuh waktu untuk semuanya.” Adrian berkata sembari fokus menatap jalanan di depannya. “Baiklah, aku paham.” Seira tak banyak bertanya. Ia yakin situasi tidak memungkinkan untuk meminta penjelasan lebih. “Terima kasih, aku harap kamu bisa mengerti.” Adrian tersenyum dan mulai menambah kecepatan mobilnya. Adrian menghidupkan pemutar audo di dalam mobil. Sebuah lagu lawas milik mariah carey mengalun merdu. Satu lagu yang selalu menjadi teman Adrian saat merasa sendiri. Saat ia merasakan sakit ditinggal pergi Nikita. Ada luka yang begitu terasa dari raut wajahnya saat mendengar lagu tersebut. Seira lebih memilih menyimpan semua pertanyaannya dan menunggu Adrian akan menjelaskannya. Ia tidak ingin membuat Adrian lebih marah dan kesal karena membahas soal mantan istrinya. Seira mulai paham apa yang dirasakan Adrian. Dan hal itulah yang tengah ia lakukan pada sang kekasih sekarang. Menghianati kepercayaannya dan berpaling pada orang lain di saat mereka mulai memutuskan untuk menikah di tahun depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN