Gadis kecil bergaun putih berlari menghampiri Seira yang baru saja memasuki rumah. Aurel terlihat begitu bahagia. Melihat Seira dan Adrian bersama membuatnya merasa lengkap memiliki Mama dan Papa. Seira tersenyum dan menggandeng Aurel yang datang menghampirinya sedangkan Adrian merasa bahagia bisa melihat putrinya tersenyum.
Semenjak kepergian Nikita, Aurel adalah gadis kecil yang selalu merindukan kasih sayang seorang Ibu sejak kecil. Ia terlihat lebih banyak sendiri saat di sekolah dan tampak murung. Ia hidup bertiga bersama Adrian dan sang Nenek. Kehidupannya yang berkecukupan tak membuatnya lantas lupa dengan sosok seorang Ibu. Aurel selalu merindukan kehadirannya. Kesibukan sang Papa membuat Aurel seringkali menghabiskan waktu bersama pengasuhnya dan sang Nenek.
Ada rasa iri tatkala melihat teman teman seusianya pergi sekolah bersama ibunya. Aurel terkadang merasa sedih. Ia menyembunyikan rasa sedihnya dari sang Papa. Meskipun demikian Adrian sangat paham apa yang dirasakan putrinya. Namun ia tidak bisa berbuat banyak, karena Nikita lebih memilih untuk mengejar karirnya daripada harus tinggal bersama suami dan putri tunggalnya. Bahkan ia sama sekali tak pernah menanyakan kabar Aurel semenjak kepergiannya hingga sekarang. Adrian yakin jika Nikita memang tidak pernah pantas untuk menjadi sosok yang selalu dirindukan putrinya. Ia sengaja tak pernah menceritakan hal apapun tentang Nikita. Karena ia tidak ingin putrinya mengetahui kenyataan yang menyakitkan.
Bertemu dengan Seira membuatnya menemukan jalan untuk membuat Aurel putrinya tersenyum kembali. Dan membuat hati yang terluka perlahan dapat menemukan obatnya. Ia yakin Seira adalah wanita yang tepat untuk menggantikan posisi Nikita. Apa pun akan ia lakukan untk menadapatkan Seira dan membuat Aurel tetap merasakan bahawa Seira adalah mamanya bukan Nikita.
“Mama ...”
Seira menjongkokkan tubuhnya. Mencium pipi gadis kecil di hadapannya secara bergantian. Senyumnya yang cantik membuat Adrian merasa beruntung memilikinya. Meskipun hubungan yang mereka jalani adalah hubungan yang salah. Komitmen yang baru saja mereka buat tadi pagi membuat Adrian merasa mempunyai kesempatan untuk memenangkan hati Seira.
Adrian sangat sadar jika akan kesulitan menjalani hubungan mereka. Akan tetapi cinta tetaplah cinta. Baru beberapa kali bertemu tak lantas membuat Adrian terlalu lama mengambil keputusan. Ia yakin perasaannya pada Seira tak salah. Wanita itu benar-benar tak bisa membuatnya sejenak melupakannya. Senyum dan parasanya membuat Adrian tak rela jika harus berbagi dengan yang lain.
“Mama Cantik banget.” Aurel memuji kecantikan Seira. Gadis itu terlihat sangat senang dengan kehadiran seira.
“Iya dong, papanya aja ganteng.” Adrian menarik tangan Seira. Menggenggam tangan wanita cantik itu. Seolah menunujukkan dia adalah miliknya seutuhnya.
Seira agak canggung, mencoba melepas tangannya, tetapi tak dibiarkan oleh Adrian. Ia malah semakin mengeratkannya. Perlakuannya kini sangat berbeda saat perjalan pulang dari mall. Adrian terlihat sangat pandai merubah raut wajahnya dan membuatnya terlihat biasa saja.
“Ingat perkataanku. Malam ini saja, aku tak meminta lainnya.” Adrian berbisik, mengingatkan Seira untuk bersikap biasa.
Seira hanya tersenyum menanggapinya. Tak ingin membuat Aurel atau lainnya curiga. Adrian menggandeng seira untuk bertemu dengan mamanya. Wanita paruh baya itu masih terlihat cantik. Ia menyambut Seira dengan senyum yang lebar. Ia bahagia melihat putra semata wayangnya kembali menemukan kebahagiaan setelah kepergian Nikita istrinya.
“Inikah calon menantu Mama?” Yurike menyambut Seira penuh kehangatan.
Gadis berambut panjang itu merasa kikuk. Ini kedua kalinya mereka bertemu. Dan wanita paruh baya itu menganggapnya sebagai calon menantu. Semua ini terasa begitu rumit bagi Seira. Tiba-tiba saja mempunyai calon mertua. Dan posisinya menjadi calo istri sekaligus Mama dari putri semata wayang Adrian.
"Cantik sekali, tidak salah putraku menjatuhkan pilihannya padamu."
Adrian memberi kode pada baby sitter agar membawa Aurel menjauh. Mengajaknya langsung ke ruang makan. Agar gadis kecil tersebut tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
Sementara itu lelaki posesif itu mengeratkan tangannya pada pinggang Seira. Ia berusaha menenangkan Seira jika semua akan baik-baik saja. Ia tidak ingin Seira takut karena ucapan mamanya yang membuat Seira semakin bingung.
“Sudahlah, Ma. Aku sudah lapar. Jangan terlalu banyak tanya, nanti Seira ngambek sama aku karena takut sama Mama.” Adrian tersenyum, sengaja menggoda wanita di sampingnya.
Bukannya mendapat senyuman, Adrian malah mendapat cubitan dari Seira. Wanita itu merasa kesal karena Adrian masih saja menggodanya.
“Tuh, kan Ma. Dia sudah tidak sabar ingin berdua denganku.”
Yurike tersenyum melihat tingkah putranya yang selalu menggoda Seira.”Sudah jangan kamu goda menantuku, ayo kita makan malam. Semua sudah siap.” Yurike beranjak meninggalkan mereka berdua. Membiarkan pasangan kekasih itu tertinggal di belakang. Ia memberi ruang agar Seira merasa lebih nyaman.
“Silahkan Nyonya muda.”
“Tuan ... .” Seira merengek. Ia sudah tidak tahan dengan Adrian yang selalu menggodanya. Apalagi memanggilnya dengan sebutan Nyonya muda.
“Sststst ... .” Adrian menarik tangan Seira, mengecup punggung tangannya. Menatap netra yang tampak gugup karena perlakuannya.”Jangan panggil aku Tuan Muda. Panggil Adrian, calon istriku.” Menurunkan tangan Seira dan masih menatapnya lekat.
Seira gugup tak mampu berbicara apa-apa. Lelaki di depannya sungguh memperlakukannya dengan lembut. Bahkan Seira tak mengingat sama sekali keberadaan Aldo dalam hatinya. Kepergian Aldo seolah membuatnya sama sekali tak menghawatirkannya. Bahkan semenjak terakhir mereka berbicara di telepon. Seira tidak meneleponnya lagi.
Kebersamaannya bersama Adrian membuatnya melupakan segalanya. Perlakuannya, candanya, tutur katanya yang manis. Membuat Seira semakin terbuai dengan Adrian. Lelaki yang harusnya ia hindari. Akan tetapi ia malah semakin dekat.
Hatinya selalu membuatnya nyaman. Meskipun terkadang Adrian sangat menyebalkan bagi Seira.
****.
Makan malam semalam membuat Seira benar-benar tidak bisa lupa dengan Adrian. Sikap lelaki itu benar-benar membuat Seira tersanjung. Beribu kata manis selalu ia luncurkan. Apalagi sambutan keluarganya begitu hangat bagi seseorang seperti Seira. Yurike dengan hangat menyambut kedatangan Seira dan menerimanya dengan baik. Wanita itu berulang kali memuji kecantikan Seira yang membuatnya malu mendengarnya. Seira merasa tidak pantas mendapat sanjungan yang menurutnya berlebihan.
Masih teringat jelas saat Adrian mengantar Seira pulang semalam. Lelaki itu lagi-lagi membuat Seira tak mampu berkutik. Ia selalu saja memanfaatkan momen kebersamaan mereka yang sebentar dengan perlakuan lembutnya.
Beruntungnya panggilan dari ponsel Adrian membuat Seira merasa lega. Wanita itu mempunyai alasan untuk menghindar dari Adrian. Ia merasa gugup jika terlalu lama berdekatan dengan Adrian. Lelaki itu bisa saja membuatnya terhanyut dalam nuansa keheningan yang mereka ciptakan.
Seira masih merapikan rambutnya yang berantakan. Potongan rambutnya yang baru membuat tampilan wajahnya menjadi semakin cantik.
Wanita itu tersenyum membayangkan wajahnya di depan cermin. Teringat kembali tentang Adrian yang membantunya mengeringkan rambutnya kemarin. Berulang kali ia mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
“Ish, kenapa aku malah teringat dia?” Seira kembali tersadar dari lamunanya. Mengikat rambutnya ke belakang dan merapikan pakaiannya.
Ia bersiap menunggu jemputan Adrian yang kurang lebih sepuluh menit akan datang.
Sembari menunggu Seira membuka ponselnya yang dari semalam ia biarkan. Ratusan chat masuk dari aplikasi berlogo hijau tersebut. Ada nama Aldo salah satunya.
“Mas Aldo. Ya ampun aku lupa.”
Seira segera membalas pesan Aldo yang dikirim terakhir semalam pukul 11 malam. Karena saking terlena dengan Adrian membuat Seira lupa dengan calon suami yang sebenarnya. Ia takut Aldo akan berpikiran macam-macam.
“Mas, maaf baru balas. Aku baik-baik saja di sini. Kamu enggak usah khawatir.” Pesan dari Seira terkirim. Wanita itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
Mendengar pintu diketuk. Seira bergegas membuka pintu. Berharap Adrian yang datang menjemputnya.
Seira cukup terkejut melihat siapa yang datang. Lelaki berperut gendut dan berkumis tebal berdiri di depan pintu kamarnya. Ia agak risih dengan kedatangan suami pemilik kost yang ia tempati. Lelaki di depannya terkenal genit dan sering menggoda para gadis.
Tak satu kali dua kali Seira mendapatinya b******u dengan wanita lain saat di luar rumah. Bahkan ia pernah masuk ke dalam kamar salah satu anak kost. Gosip itu santer terdengar saat Seira tengah membersihkan halaman depan kamarnya. Penghuni kamar sebelah tengah berbincang dan suaranya terdengar hingga ke tempat Seira.
“Bapak ada perlu apa?” tanya Seira gugup. Lelaki itu memilin kumis tebalnya. Matanya mengerling nakal. Membuat Seira merinding ketakutan.
“Kenapa harus takut cantik?” Bayu mengerlingkan matanya, sembari menoel dagu Seira. Reflek Seira menghindar karena merasa risih dengan perlakuan pria genit tersebut.
Seira mencium gelagat tidak beres dari pria di hadapannya. Menunggu kedatangan Adrian dengan harap-harap cemas. Berharap ia segera datang menjemputnya.
“Seira sudah sarapan? Temani Bapak sarapan, ya?” Lelaki itu mengelus perutnya yang agak buncit.
“Maaf, Pak. Seira harus segera berangkat ke kantor sekarang.” Seira mulai tak nyaman. Lelaki itu terus saja menelisik tubuh Seira hingga membuatnya tidak nyaman.
“Jangan sok jual mahal. Bapak tahu siapa kamu? Ayolah, atau kamu hanya malu-malu. Saya siap memberi apa pun yang kamu mau.” Bayu menutup jalan Seira. Lelaki itu menyeringai.
Seira semakin takut. Lelaki berumur itu mempunyai niat tak baik kepadanya.”Apa maksud Bapak? Jangan kurang ajar sama saya!”
Bukannya mundur Bayu malah melangkah maju. Membuat Seira mundur dan masuk ke dalam kamar. Lelaki itu berhasil masuk ke dalam kamar Seira. Membuat Seira ketakutan.
“Bapak keluar atau saya akan teriak!” Seira mundur berusaha menghindar.
Bukannya takut. Bayu malah menutup pintu kamar Seira. Berjalan mendekati Seira dengan seringainya yang tajam. Seira terpojok pada sudut kamar. Ia tak bisa lagi menghindar. Ia takut, bahkan lebih takut saat mengahadapi Adrian kemarin.
“Ayolah sayang, bukankah kamu suka permainan. Aku tahu perilakumu di belakang. Memasukkan pria malam-malam ke dalam kamar, heuh?” Bayu masih memandang Seira dengan tatapan nafsu. Lelaki itu nampak bergaiirah melihat Seira yang ketakutan.
Seira sangat panik. Ia takut jika Bayu berhasil mengambil kegadisannya. Lelaki itu terlihat lebih brutal dari Adrian.
“Bapak keluar atau saya teriak biar Ibu kost dengar!” ancam Seira.
Bukannya mundur atau takut. Bayu justru malah tertawa lebar. Seolah kemenangan menghampirinya. Ia berjalan semakin mendekat. Jarak antara Seira dengannya begitu dekat
Wanita itu tak bisa berkutik. Bayu menopang tangannya pada dinding. Tak membiarkan Seira lepas begitu saja. Tatapan Bayu semakin membuat Seira semakin risih melihatnya.
“Tak akan ada yang mendengar teriakanmu! Jarak kamar kost mu terlalu jauh. Cukup nyaman untuk kita bersenang-senang.”
“Jangan harap!”
“Wow, aku suka caramu.” Bayu membelai pipi Seira, berbalas sebuah umpatan dan Seira meludahi pria di depannya. Membuat Bayu naik darah dan malah menampar Seira.
Wanita itu tampak kehilangan keseimbangan. Karena tubuhnya melemah belum terisi apa pun dalam perutnya. Seira terhuyung dan jatuh. Bayu berjongkok membelai paha Seira yang terlihat. Memakai rok pendek membuatnya tak bisa menutup pahanya saat terjatuh.
“Putih, mulus, rasanya aku sudah tidak sabar.”