Kau adalah Calon Istriku

1709 Kata
Hana terbangun keesokan harinya karena dibangunkan oleh Sura. Bukannya karena ia belum bangun sama sekali. Ia berkali-kali terbangun kemudian tertidur lagi. Tapi karena matanya diperban dan ditutup. Hanna tak mengetahui perpindahan waktu sama sekali. Jadi ia tidak tahu apakah itu sudah siang ataukah masih malam. "Sayang, kamu perlu sarapan dulu. Ayo bangun dulu sebentar. Nanti kalau mau tidur bisa dilanjut lagi." Sura menepuk-nepuk sedikit pipi Hanna. Gadis itu tampak menggeliat dan segera bangun. Ia mencoba duduk dengan dibantu oleh Sura. "Jam berapa ini oppa?" tanyanya dengan suara yang masih serak karena tenggorokannya terasa kering. Sura segera membantunya untuk minum. "Ini baru jam setengah tujuh. Tapi kita bebersih dulu ya. Setelah itu baru sarapan dan minum obat. Habis itu kamu bebas deh mau ngapain." "Benarkah aku bebas mau ngapain setelah ini? "Ia. Nggak bakalan ada yang melarang. Meski kamu lebih baik berbaring saja dulu di tempat tidur." "Hmm. Jadi kau mengizinkanku kemana-mana atau tidak ini oppa? Mengapa terdengar labil sekali." Hanna bersungut-sungut pada Sura. Sura yang gemas melihat kelakuan Hanna langsung saja mengacak-acak rambut Hanna yang tak ditutup apapun. Ia sangat menyukai rambut Hanna. Jujur saja dia suka saat gadis itu selalu menyembunyikan rambutnya. Sehingga tak ada seorangpun yang akan melihatnya. Artinya Sura memiliki akses lebih untuk bisa melihatnya. Ia suka berlama-lama mengelus rambut Hanna. Rambut bergelombang yang sedikit bewarna coklat alami itu. "Ya oppa. Rambutku." Gadis itu berteriak histeris berusaha untuk merapikan rambutnya. "Hihi, maafkan aku. Sini aku bantu rapikan." Sura segera merapikan rambut Hanna dan kemudian memasangkan bannie-nya yang entah sejak kapan sudah berada di atas meja. "Nah ayok bebersih." Sura segera menggendong Hanna ala bridal style menuju kamar mandi. Gadis itu sedikit terpekik mendapati perlakuan tiba-tiba dari Sura. "Oppa, tak bisakah kau biarkan aku berjalan kaki saja?" Ia bertanya dengan muka yang sudah memerah karena malu. Sura merasa gemas melihat wajah Hanna. Gadis itu tampak malu-malu dan terlihat lucu sekali. Ia berusaha untuk menahan diri agar tak mengecup pipinya Hanna. Ia tak mau gadis itu menjadi takut padanya. Lantas kemudian kabur dan menjauhinya. Ia perlu belajar untuk menahan diri supaya tidak lepas kontrol. "No, no. Pasien dilarang protes. Diam dan ikuti saja aku, oke?" Akhirnya Hanna hanya bisa mengangguk pasrah. Berdebat seperti apapun tak akan ada gunanya jika itu ia lakukan dengan Sura. Beberapa saat kemudian mereka sampai di kamar mandi. Sura menurunkan Hanna di atas sebuah kursi yang entah sejak kapan sudah ada di sana. Ia dengan telaten membantu Hanna untuk sikat gigi kemudian mencuci muka serta mengeringkannya dengan handuk. "Nah, tuan putri sudah cantik dong. Ayo segera kembali. Oiya, apa kau butuh ke kamar kecil?" Ia bertanya dengan hati-hati pada Hanna. Takut gadis itu merasa risih atau bagaimana. "Tidak oppa." Hanna menolaknya karena dia benar-benar tak merasa butuh untuk ke kamar mandi. Lagi pula dia bisa melakukannya sendiri nanti ketika Sura pergi syuting. "Oke, mari kita kembali." Sura pun kembali menggendong Hanna. Sementara gadis itu malah menyandarkan kepalanya di d**a Sura. Ia merasa nyaman sekali dalam gendongan Sura. Ingin sekali rasanya dia berlama-lama tapi itu tidak mungkin. Sura pun menurunkannya dengan hati-hati di atas ranjang. Hanna kini tengah berbaring sembari bersender di kepala ranjang. "Waktunya makan." Sura segera mengambil sarapan rumah sakit yang sudah diantarkan perawat pada saat Hanna masih tidur tadi. Perawat juga datang mengganti perbannya dan memeriksa tekanan darahnya. Gadis itu sama sekali tak sadar saat perawat memeriksa dan menggantikan perbannya. Ia kemudian menyendokkan sesuap bubur dan menyuapi Hanna. Gadis itu hanya menerima. Ia makan dalam diam. Tak ada satu orangpun diantara mereka yang memulai percakapan. Hanna ingin sekali menanyakan persoalan tadi malam. Apakah ia bermimpi atau mereka benar-benar berpacaran sekarang? Tapi ia malu. Padahal Sura awalnya melamarnya untuk dinikahi bukan untuk mengajaknya pacaran. Eh dia malah mengungkapkan perasaannya pada Sura saat laki-laki itu mengatakan bahwa ia mencintai Hanna. Jadi ia sedikit bingung dengan status mereka sekarang. Apakah berpacaran atau bagaimana? "Kenapa melamun sayang?" Sura. memutus lamunan Hanna. Ia melihat gadis itu sedari tadi hanya berdiam diri saja. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya lagi? pikir Sura. "Oppa, aku mau bertanya padamu." Akhirnya ia memberanikan diri untuk mencari tahu kebenaran hubungan mereka sekarang. Ia bukanlah orang yang bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Rasa penasarannya terlalu tinggi. "Kamu mau bertanya apa sayang?" Sura mengusap pipi Hanna dengan lembut. Ia baru saja selesai membantu Hanna untuk meminum obatnya. Perlakuannya membuat pipi Hanna kembali menyemburatkan warna merah jambu. Gadis itu mudah sekali merasa malu. Sura senang sekali melihatnya. "Jadi... jadi apa hubungan kita sekarang?" Ia tampak kikuk saat menanyakannya pada Sura. Baginya ini lebih sulit dibanding bertanya pada lawan di medan perang ataupun di meja diplomasi. Laki-laki itu terdiam sejenak. Ia juga bingung apa hubungan mereka sekarang. Dibilang pacaran, kemaren kan dia melamar Hanna untuk dinikahi bukan untuk dipacari. Dibilang tunangan. Ia sama sekali tak memberikan Hanna cincin pertunangan. Jadi apa status mereka sekarang? "Kau bukan pacarku karena aku melamarmu untuk dinikahi bukan untuk dijadikan pacar. Tapi kau juga bukan tunanganku karena aku belum menyiapkan cincin untuk mengikatmu. Tapi kau adalah calon istriku. Jadi kalau ada yang bertanya kau bisa menjawabnya bahwa kau adalah calon istriku. Aku ingin mengadakan pertunangan kita secepat mungkin sebelum aku berangkat wajib militer." "Aku nggak mau menyebutkan bahwa aku calon istrimu. Nanti aku dikira menghalu lalu kemudian dihujat." Hanna berpura-pura cemberut. Sura mengacak sedikit pucuk kepala Hanna. "Haha. Katakan balik pada mereka bahwa Sura mengklaim Hanna sebagai calon istrinya seorang. Jadi tak ada yang boleh meragukannya ataupun mengganggunya." "Nggak mau. Aku mau hubungan kita tetap disembunyikan dari publik." "Haruskah seperti itu?" Padahal Sura ingin sekali mengumumkan pada dunia bahwa Hanna sekarang adalah miliknya. Tak ada satu orangpun yang berhak untuk merebut apa yang menjadi miliknya ataupun mengganggunya. "Harus oppa. Kita harus merahasiakannya sampai waktu yang tepat untuk memberitahukan penggemarmu." "Kapankah waktu yang tepat itu?" Ia memandang Hanna dengan serius. "Hmm. Aku juga tidak tahu." Hanna cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Dasar. Katanya menunggu waktu yang tepat. Tapi kau sendiri tidak tahu. Baiklah kalau itu maumu. Kita bisa mencari waktu yang tepat untuk mengumumkannya. Mungkin setelah aku kembali dari wajib militer supaya kamu tak diganggu oleh orang lain. Aku takut, jika aku pergi wajib militer nanti. Kau tak ada yang melindungi." "Jangan kawatir oppa, aku bisa melindungi diriku sendiri." "Benarkah itu?" Ia bertanya dengan wajah serius. "Kau lupa kalau aku jago berkelahi?" "Astaga. Gadis ini. Kau nggak boleh berkelahi ataupun menantang orang sembarangan. Kalau ada yang berusaha menyakitimu. Kau harus lari dan meminta bantuan orang lain. Oke?" "Baiklah kalau itu maumu." "Good girl. Aku tak mau, jika kau melawan mereka sendiri kau akan kenapa-kenapa." "Tenang saja oppa. Aku akan baik-baik saja. Kau lupa kalau aku jago beladiri?" "Aku tahu kau akan baik-baik saja. Aku juga tahu kau jago beladiri. Tapi tetap saja aku cemas dan tak mau sesuatu yang buruk menimpamu. Aku pasti akan sangat merindukan sekaligus mengkhawatirkanmu nanti saat wajib militer." "Makanya oppa. Selama kau wajib militer. Izinkan aku untuk pergi ke Switzerland. Aku ingin melanjutkan pengobatan di sana." Hanna berusaha kembali mengungkit permintaannya kemaren. "Apa kau benar-benar ingin tinggal di sana?" Sura memandang Hanna dengan serius. Sementara gadis itu ia entah menghadap kemana. Karena matanya masih diperban. Mungkin dia mengira Sura ada di sisi tempat dia melihat sekarang. Sura pun membantu gadis itu untuk menghadap padanya. Kini ia dan Hanna dalam posisi saling bertatapan. "Aku ingin sekali. Aku sangat menyukai suasana di sana." "Baiklah. Akan aku pertimbangkan." Akhirnya Sura memilih untuk mengalah. "Benarkah? Terimakasih oppa." Tanpa sadar Hanna memeluk Sura. Laki-laki itu sedikit kaget mendapati perlakuan Hanna. Tapi ia sama sekali tak bisa menyembunyikan senyumannya. Ia bahagia sekali karena gadisnya berinisiatif untuk memeluknya terlebih dahulu. "Oppa, bukannya kau harus pergi pemotretan?" ujar Hanna setelah melepaskan pelukannya dari Sura. "Ia, tapi aku berangkat nanti setelah Hyung datang. Mereka akan menjemputku di sini. Jadi kita tunggu saja." "Oh iya oppa. Memangnya jam berapa pemotretannya?" "Jam sembilan nanti." "Lumayan lama." "Ia, masih ada waktu. Kamu harus ingat ya. Selama aku pergi, jangan sampai kamu berbuat sesuatu ataupun memikirkan yang tidak-tidak. Aku tak akan pernah memaafkanmu jika itu sampai terjadi. Kalau bisa kamu di kamar saja. Mungkin mendengarkan musik. Aku akan meninggalkan beberapa lagu yang bisa kamu dengar selama aku pergi pemotretan." "Siap pak boss." Hanna mengangkat tangan hormat ala militer. "Good girl." Sura mengelus-elus kepala Hanna. Tiba-tiba pintu terdengar di buka. Sura langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. "Selamat pagi Hanna-si. Bagaimana kabarmu hari ini?" ujar Jun. Tangannya tampak memegang rantang sementara manager mengikutinya dari belakang. "Aku baik-baik saja." "Syukurlah. Aku membawakanmu bento." "Terimakasih oppa. Aku akan memakannya nanti setelah kalian pergi." "Kenapa tidak sekarang?" "Kalau aku makan sekarang kalian tidak akan jadi pergi. Lagipula perutku tak kuat untuk menampung makanan lagi." Hanna terkekeh sembari mengelus perutnya. "Jadi kau sudah sarapan?" "Sudah, baru saja selesai." "Good. Ya sudah, kalau begitu buat dimakan nanti saja." "Siap oppa. Kau bisa menyimpannya di atas meja sebelah ranjangku. Nanti aku akan memakannya." "Kau bisa melakukannya sendiri?" "Akan kucoba." "Baiklah tuan putri." "Ayok kita berangkat sekarang, sebelum terlambat," ujar manager memutus pembicaraan mereka. "Ayok," jawab Sura dan Jun kompak. "Hanna, kami pergi dulu ya. Kau beneran nggak apa-apa ditinggal sendiri?" ujar manager. "Tentu saja tidak apa-apa manager. Kan ada banyak perawat dan dokter di sini. Jadi aku akan aman. "Baiklah. Ponselmu taroh saja didekatmu. Kalau ada apa-apa kau bisa telepon aku. Kau juga bisa meraba posisi alarm dokter kan?" "Bisa manager. Kalian tidak usah mengkhawatirkan aku. Sekarang fokus saja untuk pemotretan. Hati-hati dijalan ya. Semoga pemotretannya berjalan lancar." "Siap tuan putri," ujar Jun. Ia dan manager pun terlebih dahulu meninggalkan ruangan tempat Hanna dirawat. Sementara Sura mendekati Hanna. Ia pun mengelus pucuk kepala Hanna. "Aku pergi bekerja dulu ya. Kamu beneran tidak apa-apa sendiri?" Ia kembali bertanya pada Hanna. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang janggal dalam hatinya. Ia tak ingin meninggalkan Hanna sendiri. "Nggak apa-apa oppa. Gih berangkat kerja. Nanti malah terlambat." "Baiklah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." "Arasso, arasso. Sana berangkat oppa." "Baiklah." Sura pun mencium pucuk kepala Hanna secara sekilas kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Semoga ia akan baik-baik saja. Semoga ini hanya kegelisahan dari dirinya saja. Ia berharap tak ada sesuatu yang terjadi saat dia meninggalkan Hanna. Ia menatap gadis itu sekali lagi sebelum menutup pintu kamarnya. Gadis itu tampak memainkan ujung selimut. Entah apa yang ia pikirkan. Sura menghela nafas berat kemudian berlalu setelah menutup pintu. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN