Love You

1511 Kata
"Kau cantik sekali," ucapan Sura masih terngiang-ngiang dalam benak Hanna. Sekarang Hanna tinggal berdua dengan Sura. Sedangkan Jun dan manager sudah kembali ke hotel karena sudah pukul 21.00 karena Hanna harus beristirahat. Tiba-tiba suasana di ruang perawatan Hanna terasa sunyi. Rasanya canggung sekali. Sura tak berbicara apapun dari tadi. Hanna penasaran dimana dia sekarang. Dia sama sekali tak bergerak sehingga Hanna tak bisa menebak posisinya. Apa jangan-jangan dia sudah tidak ada di kamar ini? "Oppa, kau dimana?" Akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka mulut. Kalau terus seperti ini, bisa-bisa sampai besok mereka akan terus berdiam-diam diri. "Aku ada di sini. Kenapa memang sayang?" Suara Sura terdengar jelas sekali dari tempat Hanna berbaring. Ia menebak Sura masih duduk di kursi sebelah pasien. "Kau dari tadi di sana?" Ia berusaha untuk menggapai Sura. Laki-laki itu langsung menyambut tangan Hanna. Ia membawa tangan Hanna dalam genggamannya. Hanna merasa nyaman sekali dengan kehangatan yang dibagikan oleh Sura. "Ia, aku dari tadi di sini," ujarnya sembari membawa tangan Hanna ke pipinya. "Ayo tidur oppa. Bukannya kau ada pemotretan besok pagi?" "Ayok. Kau tidur duluan setelah itu aku menyusul." "Aku tak bisa tidur jika kau terus memandangiku seperti itu." "Aku akan memandangimu terus sampai kau tidur. Setelah itu baru aku akan tidur sendiri." "Astaga, alasan seperti apa itu. Baiklah, bagaimana kalau kita sama-sama tidur. Kau kembali ke sofa lalu tidur dan aku juga akan tidur di sini." "Aku tidak mau. Aku harus memastikan dulu kalau kau benar-benar tidur. Bagaimana aku bisa memastikan bahwa kau benar-benar tidur dari jarak pandang jauh seperti itu. Apalagi matamu sekarang ditutupi oleh perban." "Kau negatif thinking terus padaku," ujar Hanna sembari merengut. "Aku harus memikirkan segala kemungkinan terburuk yang akan kau lakukan yang bisa menghalangi kesembuhanmu itu," ujar Sura tak mau kalah. "Oppa, percaya deh. Aku juga ingin sembuh." "Ya, aku tahu. Tapi kadang kau keras kepala sekali. Jadi aku harus memastikan kalau kau benar-benar menurutiku." "Arasso arasso. Terserahmu deh oppa." "Ya sudah. Sana tidur. Aku akan menungguimu sampai kau tidur." "Tapi aku belum mengantuk." "Lalu kau ingin melakukan apa?" "Hmm, mungkin kau harus bercerita padaku." "Aku tak punya sesuatu yang bisa kuceritakan padamu." "Ah, kau sama sekali tak asik." Hanna semakin memanyunkan bibirnya. Sura semakin gemas melihatnya. "Bagaimana kalau aku tanyakan jawabanmu saja?" ujar Sura akhirnya. Dia berusaha menahan diri sedari tadi. Tapi rasa penasaran membuatnya gelisah. Ia tak bisa menunggu lebih lama. Ia ingin segera mengetahui jawaban gadis itu. "Hmm. Apa kita akan membahas ini sekarang?" "Kalau kau tak keberatan?" "Baiklah." Aku bersiap untuk memberitahukan jawabanku padanya. Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi. "Oppa, tolong ambilkan ponselku dong." Sura pun menyerahkan pada Hanna. Keningnya berkerut saat melihat siapa yang menelepon. Sugyun? Kenapa laki-laki itu bisa memiliki nomor Hanna? Lebih parah lagi , untuk apa dia menghubungi Hanna? "Dari siapa oppa?" "Sugyun." Sura hanya menjawab satu kata sembari menyerahkan ponsel pada tangan Hanna. Gadis itu segera mengangkat teleponnya. "Hallo oppa? Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi sedikitpun. "Wah, kau to do point sekali," sahut suara di seberang. "He, maaf. Kebiasaanku. Ada apa oppa menelepon?" "Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Kudengar kau mengalami kecelakaan di sana? Apa kau baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja kok. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku." "Tidak masalah. Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Kapan kau berencana untuk kembali ke Korea?" "Aku belum tahu oppa, mungkin dua sampai tiga hari lagi. Oiya, pembukaan caffe-mu besok ya? Aku minta maaf sekali karena tidak bisa untuk datang," ujarku penuh sesal. "Tidak masalah. Kau tak perlu memikirkan hal itu. Kau fokus saja untuk kesembuhanmu. Nanti kalau kau sudah sembuh dan sudah kembali ke Korea. Kabari aku ya, aku akan menjemputmu. Kau harus datang ke caffeku. Aku akan memasakkan makanan spesial untukmu." "Tentu, terimakasih oppa. Tapi kau tak perlu menjemputku. Bisa gawat kalau orang-orang sampai tahu. Aku tak mau dimakan oleh penggemarmu." "Hahaha. Arasso. Ya sudah, sepertinya di sana sudah mulai larut malam. Kau harus beristirahat supaya lekas sembuh." "Kau juga harus beristirahat oppa." "Baiklah, aku matikan ya. Selamat tidur Hanna. Mimpi indah." "Terimakasih." Sambungan teleponpun dimatikan oleh Sugyun. Hanna langsung meletakkan ponsel secara sembarangan. Sementara Sura? Dia hanya diam tak bereaksi. Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Sejak kapan Hanna dekat dengan Kim Sugyun. Mereka tampak akrab sekali. Apa Hanna menyukai laki-laki itu? Sura yakin sekali kalau laki-laki itu menyukai Hanna. Mendadak dia langsung patah hati. Bagaimana kalau Hanna membalas perasaan laki-laki itu. Pikiran-pikiran negatif terus bergelayut dalam benak Sura. Ia sampai tidak sadar kalau Hanna sudah memanggilnya sedari tadi. "Oppa, oppa. Apa kau masih di sini?" Hanna berusaha menggapai-gapai ke arah tempat yang mungkin di duduki oleh Sura. Dia masih belum terbiasa dengan kegelapan ini. Sehingga dia tidak tahu dimana laki-laki itu duduk. "Oppa?" Mendadak rasa panik menyerangnya. Kemana Sura? Apakah dia pergi? Tapi dia tidak mendengarnya sama sekali. Hanna berusaha bangun dan mencari Sura. Baru saja dia menginjakkan kaki ke lantai. Rasa ngilu langsung menyerang. Ia langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh. Sikunya membentur sisi meja. Rasa ngilu seperti tersengat listrik langsung menjalar keseluruh tubuhnya. Sura yang mendengar keributan langsung menoleh. Ia kaget saat melihat Hanna sudah terduduk di lantai. Ia langsung bergegas menghampiri Hanna dengan panik. "Sayang kamu tidak apa-apa?" Suaranya sangat panik sekali. Ia mencoba memastikan keadaan Hanna. Gadis itu hanya diam seperti berusaha menahan tangis. "Mana yang sakit? Kenapa kau bisa di sini?" tanyanya lagi. Tangis Hanna langsung pecah. "Kenapa oppa diam saja saat aku memanggil? Aku kira oppa pergi," ujarnya disela-sela tangis. Sura insaf akan kesalahannya karena tak mendengarkan panggilan Hanna sama sekali karena dia terlalu asyik melamun. Ia langsung memandang Hanna dengan perasaan bersalah. Ia segera meraih tangan Hanna dengan lembut. Sikutnya memerah karena terbentur. Ia meniup-niup bagian memerah itu untuk mengurangi rasa sakit. Setelah merasa gadis itu lumayan tenang. Ia langsung menggendongnya dan membantunya berbaring di tempat tidur. "Maafkan aku, sayang. Tadi aku sedikit melamun. Aku tak mendengar kau memanggil. Apakah ini masih sakit?" Dia mengusap siku Hanna yang memerah. Gadis itu hanya mengangguk. "Aku ambil kompres dulu ya?" Sura berencana untuk bangkit tapi Hanna langsung menahannya. "Oppa di sini saja. Jangan kemana-mana." Gadis itu masih menangis. Tak tega melihatnya, Sura pun menurut. Ia menghapus air mata Hanna kemudian meniup sikunya yang kemerahan. "Sudah, jangan menangis lagi ya. Oppa minta maaf." Hanna mengangguk. Ia menangis bukan karena kesakitan tapi karena rasa panik yang tiba-tiba menyerang. Ia takut karena Sura tak menjawab panggilannya. Ia takut laki-laki itu pergi meninggalkannya. Ia sendiri tak mengerti dengan dirinya. Belakangan ia mudah sensitif dan selalu panik jika sesuatu berjalan tak sesuai dengan harapan. Sepertinya gejala penyakitnya bertambah parah. Sura memandang Hanna dengan sayang. Gadis ini, kenapa selalu bisa membuat hatinya kacau balau. Bagaimana dia bisa tahan untuk berjauh-jauhan dengannya kalau yang ada dibenaknya hanya Hanna. Ia tak bisa menahan diri jika Hanna memang mencintai orang lain. Tanpa sadar dia bergumam sendiri. "I love you." "Love you too." Hanna yang bisa mendengar perkataan Sura langsung menjawab. Mungkin ini lah saat yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia tak akan lari lagi. Ia akan mencoba untuk berdamai. Sura yang mendengar perkataan Hanna langsung kaget. "Kau bilang apa tadi?" Dia berusaha memastikan kembali apa yang dia dengar tidaklah salah. Apa dia berimajinasi tadi saat mendengarnya. Tapi tidak mungkin. Ia mendengar dengan jelas perkataan Hanna. "Apa perlu aku ulang?" tanya gadis itu. "Tentu saja. Kau harus mengulang perkataanmu," tuntut Sura. Ia ingin memastikan bahwa apa yang dia dengar adalah benar adanya. "Love you too." Muka Hanna langsung memerah usai mengucapkannya. Sementara Sura, Jantungnya langsung berdebar kencang. Ia sama sekali tak menyangka jika gadis itu akan membalas perasaannya. Langsung saja dia bangkit dan duduk di ranjang Hanna. Kemudian membungkuk untuk memeluk gadis itu. "Terimakasih sayang. Terimakasih sudah membalas perasaanku." Sura sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia ingin sekali mencium Hanna tapi sadar jika gadis itu pantang untuk disentuh secara berlebihan. Ia pun menahan diri. Aku akan menahannya sampai aku menikahinya nanti. Sementara Hanna, ia sama sekali tak menyangka jika membalas perasaan seseorang akan terasa sangat menyenangkan seperti ini. Ia bahagia sekali. Wajahnya memerah dan rasanya malu sekali. Ia ingin melihat secara langsung ekspresi Sura. Tapi ia tak bisa melihat. Meski demikian ia bisa merasakan ketulusan Sura. Rasanya nyaman dan lega setelah dia mengungkapkan isi hatinya. Sementara Sura terus memeluknya, tanpa sadar ia tertidur dalam pelukan Sura. Sura bangun dan memandangi Hanna. Gadis itu tampak diam saja. Apa dia tidur? Dengan lembut dia memanggil Hanna. "Sayang, apa kamu tidur?" Ia sedikit menepuk pipi Hanna. Tak mendapati jawaban ia langsung tersenyum karena bisa dipastikan bahwa gadis itu memang tidur. "Dasar. Setelah membalas perasaanku, kau malah meninggalkanku untuk tidur." Sura tersenyum kemudian membenarkan selimut Hanna. "Tidur yang nyenyak ya. Cepat sembuh sayang." Ia pun sedikit mencuri cium di pucuk kepala Hanna. Kemudian meninggalkan tempat tidur gadis itu menuju sofa dan ikut berbaring. Perasaannya yang tengah berbunga-bunga membuat dia tak bisa tidur. Ia terus-menerus membolak-balik badan di atas sofa sembari sesekali memerhatikan Hanna. Tak lama kemudian ia ikut menyusul Hanna menuju alam mimpi. Dia yakin malam ini mimpi indah akan datang. Mimpi indah yang sudah dia tunggu-tunggu selama ini. Ia sama sekali tak menyangka jika penantiannya selama ini akan berbuah manis. Gadis impiannya sudah menjadi miliknya, meskipun belum menjadi miliknya seutuhnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN