Ikuti Kata Hatimu

1528 Kata
"Entahlah, aku masih belum mau memikirkan urusan rumah tangga," jawab Hanna. Sura langsung berfikir keras mengenai perkataan Hanna. 'Apa gadis itu akan menolak lamarannya nantinya? Apakah dia tak ingin menjalani komitmen? Ataukah dia ingin menikah dengan orang biasa?' Berbagai macam pikiran melintas dalam benak Sura. "Kau ini selalu saja bisa membuat orang patah hati," komentar Jun pada Hana seraya melirik Sura. "Loh, mengapa seperti itu oppa?" "Kau lihat saja itu, Sura sampai sibuk berasumsi sendiri dengan pikirannya gara-gara ucapanmu."Jun mengisyaratkan supaya Hanna melihat kepada Sura yang sibuk melamun. Kadang dia menjerngit sendiri. Kadang dia tampak berfikir. Kadang dia tampak muram. Ia sepertinya lupa jika Hanna tak bisa melihat. Jadi tak mungkin ia bisa melihat ekspresi Sura. "Aku tak bermaksud membuatnya begitu." "Ya aku tahu. Tapi aku yakin ucapanmu pasti membuatnya kepikiran. Aku yakin sesuatu sudah terjadi di antara kalian. Kalau tidak dia tak mungkin seperti itu. Apa dia sudah melamarmu? Atau dia sudah mengajakmu berkencan? Atau kah dia menyatakan cinta padamu?" Hanna langsung tersedak kembali saat mendengar ucapan Jun. "Darimana oppa tahu?" Hanna menatap Jun penasaran. Sementara Sura tampak masih sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga ia tampak tak mendengar apa yang mereka bicarakan. "Haha. Kalian itu pasangan unik yang mudah ditebak." "Ya, kami belum resmi menjadi pasangan," teriak Hanna. "Hohoho, apa itu artinya kau berniat untuk menjadi pasangannya? Wah, sepertinya Sura akan menerima kabar baik ini." Hanna diam tak menjawab candaan Jun. Ia tampak berfikir beberapa saat. "Entahlah Oppa. Aku ragu dengan perasaanku sendiri." Akhirnya ia mengeluarkan unek-uneknya juga. "Memangnya apa yang kau rasakan? Bagaimana perasaanmu pada Sura?" "Aku... aku nyaman saat bersama dengannya. Aku juga merasa lebih terbuka saat berada disisinya. Aku merasa bahwa aku punya pelindung saat dia bersamaku. Aku selalu merasa membutuhkan dia. Aku akan melupakan semua rasa sakit saat dekat-dekat dengannya. Bahkan mencium aromanya saja sudah terasa menenangkan untukku. Tapi aku ragu, apakah itu perasaan cinta ataukah sekedar rasa nyaman saja? Karena saat dekat dengan kalian aku juga merasa nyaman. Merasa terlindungi." Hanna menatap Jun dengan serius. "Apakah kau merasa jantungmu berdebar saat dekat dengannya? Apakah kau merasa bahwa kau tak akan sanggup jika berjauhan dengannya? Apakah kau merasa bahwa kau akan bisa menerima semua kekurangannya dan tak mempermasalahkan sifatnya sedikitpun? Entah itu kekonyolannya, bahkan hal memalukan tentangnya?" "Tidak. Aku sama sekali tak mempermasalahkan itu. Aku... aku juga merasa berdebar-debar saat berada didekatnya. Aku juga merasa takkan sanggup bila harus berjauhan dengannya. Bahkan saat kita sampai jarang berkomunikasi karena sama-sama sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing kemaren. Jujur saja aku merasa rindu padanya." Seketika wajah Hanna merah padam usai mengatakan itu pada Jun. Sementara Jun langsung tersenyum sumringah mendengar jawaban Hanna. Sedangkan Sura? Jangan tanyakan dia. Laki-laki itu masih sibuk dengan dunianya sendiri. Jadi ia sama sekali tak mendengar apa yang diungkapkan oleh Hanna. Kalau dia mendengarnya, bisa dipastikan Sura akan langsung memeluk Hanna karena terlalu bahagia. Laki-laki itu akan merasa seperti di atas awan. "Kalau kau merasa seperti itu. Artinya kau mencintainya Hanna. Kau merasa tak sanggup untuk hidup terpisah dengannya. Kau juga merasa dia seperti obat untuk dirimu sendiri." "Mungkin oppa. Aku bukannya tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi baru kali ini aku merasa seperti ABG jatuh cinta. Hatiku seperti sebuah taman bunga tapi aku takut untuk menunjukkannya." Jun tersenyum saat mendengar penuturan Hanna. "Apakah kau masih takut untuk jatuh cinta?" "Aku, aku tidak takut untuk jatuh cinta. Tapi jujur saja aku masih takut untuk berkomitmen oppa. Rasanya seperti aku belum sanggup untuk menerima kemungkinan terburuk apa yang akan kuhadapi nanti jika aku menerimanya." "Percayalah Hanna. Percayalah pada dirimu sendiri. Ikuti kata hatimu. Ikuti apa yang dibisikkan oleh dia. Jangan ikuti logikamu. Karena kalau untuk urusan cinta, logika kita kebanyakan selalu menentang hati. Jadi ikuti kata hatimu. Jika kamu menyukainya, kau bisa mulai untuk membuka diri. Kau harus belajar untuk menerima kehadirannya. Bukannya kau ingin sembuh dari masa lalumu? Maka kurasa ini adalah saat yang tepat untuk menyembuhkan itu. Kau tak perlu memaksakan diri. Biarkan waktu yang menjawab semua. Kau hanya perlu mengikuti alur yang sudah ada." Jun memandang Hanna dengan penuh pengertian. "Kau tahu, aku sudah mengenal Sura hampir 8 tahun. Bisa dikatakan aku melihat dia tumbuh. Bagaimana proses hidupnya. Bagaimana gigihnya dia dalam mencapai posisinya sekarang. Bagaimana baiknya dia. Perhatiannya di balik wajah dinginnya itu. Aku belum pernah sedikitpun melihat dia jatuh cinta. Selama ini dia tak pernah menunjukkan ketertarikannya pada wanita. Dia selalu sibuk berkarir. Membuktikan diri pada orang lain. Tapi semenjak bertemu denganmu. Dia mulai berubah. Dia mulai terlihat lebih santai. Dia mulai pandai berekspresi. Menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Menunjukkan kasih sayangnya. Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Dia mencintaimu Hanna. Aku yakin seratus persen. Sebagai seorang laki-laki. Dia mencintaimu. Dia rela mengorbankan apapun untukmu. Asalkan kamu bahagia." Hanna tercenung mendengar perkataan Jun. Benarkah demikian? "Itulah cinta Hanna. Laki-laki, jika mereka sudah menemukan cintanya. Mereka akan rela melakukan apa saja untuk perempuan yang disayanginya entah jika itu harus sampai menyakiti perasaannya sendiri. Asalkan perempuan yang dia sayang bahagia. Dia akan rela melakukan semua. Termasuk merelakan perempuan itu menjadi milik orang lain. Jika memang itu yang menjadi sumber kebahagiaan untuk gadisnya itu." Jun memandang Hanna. Gadis itu tampak menerawang, memikirkan apa yang baru saja diucapkan olehnya. Sementara Sura masih tampak sibuk berfikir dengan dunianya sendiri. Percakapan mereka terhenti karena kedatangan dokter dan perawat. "Wah, sepertinya nona Hanna sudah makan malam duluan nih." Dokter menyapa dengan ramah. Semua orang yang tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing kaget mendengar ucapan dokter. "Oh eh dokter." Hanna langsung tergagap. "Hehe. Anda tengah memikirkan apa? Kenapa gugup seperti itu? Anda tidak sedang memikirkan saya kan?" ujar Dokter sedikit bercanda pada Hanna. "Hehe. Nggak dok," ujar Hanna langsung tanpa pikir panjang. "Wah, saya patah hati mendengarnya." Dokter tersenyum hangat pada Hanna. "Baiklah kita periksa dulu nona Hanna ya." Semua orang mengangguk. Dokter mulai memeriksa keadaan Hanna. Gadis itu menurut saja. "Keadaannya mulai baik. Tekanan darah dan lainnya normal. Saya akan mengecek bekas jahit di matanya dulu ya." Dokter segera membuka perban Hanna. "Jahitannya mulai kering. Saya rasa nona Hanna sudah bisa membuka jahitannya dalam dua atau tiga hari. Jadi perbannya nanti bisa dilepaskan dalam kurun waktu tersebut. Kalau tidak terasa sakit nona Hanna juga bisa belajar untuk membuka mata dan melihat lagi karena lebamnya juga mulai berkurang. Nanti tinggal dikompres aja sesekali." "Baik dok," ujar Sura dan Jun kompak. "Untuk luka di kakinya kita cek besok saja ya karena baru tadi lukanya. Hari ini perawat akan mengganti perbannya lagi saja. Supaya tidak infeksi." "Baik dok. Apa itu berarti Hanna bisa pulang dalam waktu tiga hari kedepan?" "Harusnya seperti itu. Jika kondisi Nona Hanna stabil. Dia sudah bisa pulang dua sampai tiga hari ke depan. Jaga saja supaya dia tidak banyak pikiran agar cepat sembuh." "Baik dok. Terimakasih." "Baiklah kalau begitu saya permisi." Dokter pun meninggalkan ruangan tepat setelah perawat selesai mengganti perban Hanna. "Berarti Hanna sudah bisa pulang dua sampai tiga hari kedepan. Asyik. Hanna bisa pulang bareng oppa," ujar Jun. "Ish. Memangnya aku bilang kalau aku mau balik ke Korea?" "Jadi kau tidak mau kembali ke Korea?" Sura balik bertanya pada Hanna dengan nada datar. "Becanda oppa. Becanda. Nggak usah sewot begitu. Sensitif amat jadi orang." Jun terkekeh mendengar ucapan Hanna. Sementara Sura hanya mengusap-usap pucuk kepala Hanna. "Hanna-si. Kamu baik-baik saja?" Tiba-tiba manager datang mengagetkan mereka yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing. "Astaga hyung. Kau seperti hantu saja," protes Jun. "Jahat sekali, aku sampai dibilang hantu seperti itu." "Urusanmu sudah selesai hyung?" ujar Jun mengalihkan pembicaraan. "Sudah. Aku kesini untuk menjenguk Hanna dan menjemputmu. Sebelum kau berebut tempat tidur dengan Sura di sini." Ia tertawa jahil sembari mengerling pada Sura yang masih sibuk dengan dunianya sendiri. "Dia kenapa?" tanyanya pada Jun. "Nggak tahu tuh. Dari tadi sudah seperti itu." "Seperti apa?" Hanna bertanya pada Jun. "Itu Sura, dia bengong terus dari tadi. Entah apa yang dia pikirin." "Oppa, kau baik-baik saja? Apa yang kau pikirkan?" Hanna bertanya pada Sura. Mencoba menebak di arah mana dia duduk. "Kau cantik sekali," komentar Sura. "Eh?" Hanna berteriak kebingungan. Tawa Jun dan manager langsung meledak saat mendengar perkataan Sura. 'Astaga, dia mikirin apa sih dari tadi,' pikir Jun. Sementara wajah Hanna sudah semerah Tomat mendengar ucapan absurd dari Sura. Jangan tanyakan lagi kondisi jantungnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa malu dan juga bahagia disaat bersamaan. Ia penasaran bagaimana ekspresi Sura saat mengucapkan itu. Apakah masih datar seperti biasa ataukah penuh cinta? Hanna memikirkan ucapan Jun tadi. Ia menegaskan dalam hati. 'Baiklah, aku akan mengikuti kata hatiku.' "Kau menggelikan sekali. Aku tak bisa berhenti tertawa karenamu," ujar manager. Sura hanya diam berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Meskipun dia sendiri juga malu karena sudah keceplosan seperti itu. Ia melirik Hanna, senyumnya langsung mengambang saat melihat wajah gadis itu memerah karena malu. "Ayok hyung. Kita pergi saja. Sepertinya kita hanya menjadi obat nyamuk kalau di sini lebih lama lagi," ujar Jun disela tawanya. Ia benar-benar puas bisa melihat Sura seperti itu. "Ayok," ujar manager. "Hanna, kami pulang dulu ya. Besok aku ke sini lagi," pamit Jun. "Iya oppa. Hati-hati dijalan. Jangan ngebut manager." Hanna berusaha untuk berbicara setenang mungkin. "Siap. Cepat istirahat supaya lekas sembuh," ujar manager. Mereka pun meninggalkan ruangan tempat Hanna dirawat. Menyisakan dua orang yang kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang berani untuk memulai percakapan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN