"Kamu mau makan apa?" Sura bertanya pada Hanna. Ia menggendong Hanna dan menempatkan gadis itu di atas sofa tempat tamu bisa duduk di ruang perawatan Hanna.
"Ada apa saja?" Hanna mengedarkan pandangan dengan penasaran. Meskipun ia tak bisa melihat, ia bisa mencium bau mengiurkan dari makanan yang dihidangkan. Mendadak perutnya terasa sangat lapar. Ia menelan ludahnya dengan rakus.
"Ada nasi goreng, bubur, ada masakan kesukaanmu juga yang dibawakan hyung beserta lauk pauknya."
"Aku mau mencoba semuanya."
"Kalau kau mencoba semuanya, aku makan apa?" ujar Jun bercanda.
"Ih, oppa pelit. Katanya tadi masakin buat aku," omel Hanna tak terima.
"Haha. Arasso, arasso. Aku hanya bercanda. Kau bisa makan semuanya. Lagi pula kata dokter nggak ada pantangan soal makanan kan, Sura?"
"Nggak ada. Sini, biar aku suapi," ujar Sura seraya menyendokkan satu sendok nasi goreng kemudian menyuapi Hanna. Gadis itu membuka mulutnya. Dengan hati-hati Sura menyuapinya. Kemudian mengambil lauk yang dibuatkan Jun dan menyuapkannya lagi. Hanna tampak senang sekali saat makan makannya. Sura kemudian ikut makan. Sementara Jun sudah terlebih dahulu makan. Sembari sesekali ikut menaruhkan lauk ke piring Hanna.
"Oiya, tadi apa kata dokter soal kaki Hanna?" Jun bertanya pada Sura.
"Lumayan parah karena banyak pecahan kecil yang masuk tapi semua sudah dibersihkan oleh dokter. Mereka berusaha membersihkannya secepat mungkin agar tak terjadi infeksi. Terlebih Hanna sepertinya mengalami gangguan, dia sama sekali tak tertidur saat dibius. Jadi dokter terpaksa melakukannya saat dia masih sadar. Tadi saat matanya dijahit juga seperti itu."
"Kenapa bisa seperti itu?" ujar Jun cemas.
"Kata dokter sepertinya karena efek psikologis. Tubuhnya menolak anesti yang diberikan padanya."
"Kamu nggak merasakan apa-apa saat dokter mencabut semua pecahan kaca atau pun menjahit pelipismu itu? tanya Jun pada Hanna.
"Tidak, memang saat menjahit pelipisku, lumayan sakit rasanya. Tapi nggak sesakit itu."
"Astagah. Lalu kamu bisa merasakan sakit nggak sebelum dibius?"
"Bisa, aku bisa merasakan sakitnya."
"Hanna-si. Itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau ke depan kau malah tak bisa menerima efek bius sama sekali? Pokoknya kau harus rutin menjalani pengobatan agar bisa sembuh. Menurut saja apa yang dikatakan oleh dokter dan jangan jadi anak bandel."
"Kau mulai seperti Sura oppa saja," Hanna bersungut-sungut pada Jun yang mulai mengomel.
"Hehe bukan begitu. Menurutku kalau kau ingin terlepas dari semua beban yang kau rasakan selama ini. Kau harus mau berobat dan harus mau menjalani terapi. Kau tahu kan, kalau menjalani terapi psikologis itu juga baik supaya kau bisa hidup lebih bahagia? Kau jangan mengira dengan berkonsultasi pada psikiater artinya kau itu gila. Tidak, terkadang kita membutuhkan orang lain untuk mendengarkan cerita kita. Terkadang juga, kita butuh saran dari orang lain untuk melanjutkan langkah kita. Kamu paham kan?"
"Paham oppa. Aku juga tahu, keadaanku sekarang sangat mengkhawatirkan. Aku harus berkonsultasi dengan psikiater. Tapi sepertinya aku ingin mencari tempat yang tenang untuk penyembuhanku."
"Benarkah? Kau berencana untuk berobat dimana?"
"Switzerland. Dari dulu aku ingin sekali tinggal di desa sana. Melihat pemandangannya yang hijau. Bangun di pagi hari dengan melihat lautan rumput. Melakukan piknik ataupun tiduran di atas rumput sembari memandang gunung ataupun danau. Rasanya menyenangkan sekali dengan penduduknya yang juga ramah dan tempatnya yang tidak terlalu ramai. Sepertinya memelihara Sapi dan menaikinya juga enak."
Hanna tersenyum sendiri memikirkan rencana yang sudah dia susun dari dulu. Dulu ia berencana melakukan itu jika sudah pensiun di PBB. Sekarang sepertinya dia akan mempercepat rencananya itu.
"Kau mau menunggangi Sapi? Bisa-bisa nanti dituntut oleh asosiasi pecinta hewan," canda Jun pada Hanna.
"Aish. Kau ini mematah-matahkan impianku saja, Oppa."
"Haha. Habisnya kau itu. Masak mau menaiki Sapi."
"Habisnya di desaku dulu biasanya anak gembala suka menaiki punggung Kerbau."
"Itu Kerbau Hanna. Bukan Sapi."
"Iye, iye. Tau. Nggak usah diulang-ulang," sungutnya kesal.
"Hahaha. Bagaimana kalau Kuda saja?"
"Memangnya kau mau membelikanku Kuda? Harganya semahal itu." Aku memajukan bibirku karena kesal kepada Jun.
"Tentu saja. Nanti aku belikan Kuda. Kau mau warna putih atau hitam? Atau kau mau warna lain? Tapi bagusnya putih saja. Biar mirip dengan Sura," kekehnya. Sura memandangi Jun dengan kesal. Apa maksudnya aku terlihat seperti Kuda? pikirnya.
"Kau serius?" Hanna tampak antusias.
"Tentu saja. Aku tak pernah bercanda."
"Kalau begitu aku mau yang putih. Yang putih, oppa. Tentu saja bukan karena mirip dengan Sura oppa." Aku mulai merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen oleh orang tuanya. Sementara Sura memandangi Hanna dengan tidak percaya. Apa Hanna juga ikut menganggapku mirip kuda?
"Arasso, arasso. Aku akan belikan Kuda putih." Jun tertawa terbahak-bahak.
"Sarangheo oppa." Aku memasang tanda cinta padanya.
"Dasar. Sura bisa patah hati mendengarmu."
"Nggak akan. Ia kan, oppa?"
"Jadi kau ingin berobat di sana?" Sura memandang Hanna dengan penasaran. Ia tak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia lebih tertarik dengan fakta bahwa gadis itu ingin tinggal di Switzerland. Apa maksudnya dia tak mau tinggal bersama denganku?
"Iya oppa, aku ingin tinggal dan berobat di sana. Aku punya mimpi dulu untuk membangun rumah di sana. Jauh dari kebisingan. Jauh dari obrolan tetangga. Jauh dari pembicaraan orang-orang. Sangat menyenangkan dan sangat cocok untuk menikmati pensiunan."
"Lalu apakah kau akan meninggalkanku?" Sura bertanya dengan nada lirih seolah ia berbicara dengan dirinya sendiri.
"Bukannya oppa harus menjalani wajib militer untuk satu tahun ke depan?"
"Ya, kami akan berangkat dua bulan lagi," ujar Jun.
"Ya, kalau begitu tak ada yang salah kan. Oppa pergi menjalani wajib militer. Aku pergi ke Switzerland untuk menjalani penyembuhan."
"Bukannya tadi kau bilang ingin menjalani pensiunan di sana? Artinya kau tidak akan kembali. Tidak kah kau ingin menjengukku selama aku wajib militer?"
"Oppa, aku itu belum mau pensiun dan juga oppa menjalani wajib militer itu cuma satu tahun. Bukan lima tahun. Kita hanya tidak akan bertemu selama satu tahun. Kenapa kau bersikap seolah kita tidak akan bertemu selamanya? Bukannya dulu kita juga sering tidak bertemu selama berbulan-bulan."
"Aku paham. Tapi kan tetap saja beda." Jun tertawa melihat Sura. Dia benar-benar tak ingin pergi wajib militer atau pun membiarkan Hanna pergi jauh dari sisinya.
"Oppa. Aku di Korea pun sama saja. Aku di sana juga sendiri. Aku juga nggak akan ketemu sama kamu. Lalu apa salahnya aku berada di Switzerland?"
"Kamu kan bisa melakukan pengobatan di Korea."
"Memang bisa. Tapi aku tidak suka karena di sana aku sudah terlanjur dikenali oleh orang-orang. Aku nggak bisa bebas kemana-mana. Lagi pula aku nggak mau tinggal di Seoul. Aku ingin mencari ketenangan. Aku sebenarnya ingin pulang ke Indonesia. Banyak tempat di Indonesia yang bisa dijadikan sebagai tempat beristirahat. Tapi aku bukan tipikal orang yang mau terus-menerus beramah tamah dengan tetangga. Jadi pulang ke Indonesia bukanlah solusi."
"Jadi kau tetap akan bersikeras pergi ke Switzerland?"
"Oppa. Please, untuk kali ini saja tolong mengerti aku. Aku juga butuh bernafas. Aku nggak bisa hidup di sekeliling kalian terus. Sesak rasanya karena aku ikut menjadi sorotan."
"Kurasa apa yang dikatakan Hanna benar Sura. Hanna butuh ketenangan untuk menyembuhkan dirinya. Hal yang paling penting sekarang agar Hanna bisa cepat sembuh adalah kita harus mendukung keputusannya. Kita harus mendukung setiap keinginannya selama itu bisa membuat dia bahagia dan tidak membahayakannya."
Sura hanya diam tak menanggapi. Dia tampak tengah menimbang sesuatu. Hidangan dihadapannya tampak tak menarik lagi. Sementara dia terus menyuapi Hanna. Gadis itu tampak tak merasa terganggu sama sekali.
"Kita bicarakan lagi ini nanti. Yang jelas sekarang kau harus fokus untuk kesembuhanmu yang sekarang. Dan ingat, jangan pernah berfikiran yang macam-macam lagi."
"Arasso. Kau bawel sekali oppa."
"Kau tak akan mendengarkanku jika tidak kubaweli."
"Sebahagiamu deh." Hanna bersungut-sungut semantara Jun tertawa gemas melihat interaksi mereka berdua.
"Aku jadi kangen melihat kalian waktu pertama bertemu dulu. Bagaimana Sura selalu menyempatkan diri untuk menarikmu ke dorm, entah untuk memasak, untuk mendengar lagunya, menyuruhmu bernyanyi. Pokoknya dia selalu punya alasan agar kau bisa datang."
"Iya, dan oleh karena Sura oppa. Kerjaanku makin menumpuk dan waktu istirahatku juga berkurang."
"Bukannya kau juga nggak istirahat kalau tak kusuruh ke dorm? Bukannya kalau kau ke dorm malah sering ketiduran bahkan suka mengambil alih wilayah?"
"Hehe, benar juga sih." Hanna menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ia ingat sekali, jika dia sudah ketiduran di dorm mereka. Maka salah satu harus mengalah karena Hanna suka berjalan sendiri ke kamar tidur. Terkadang ia pergi ke kamar Vlo dan Jeimin. Terkadang ke kamar Jun dan Rein. Kadang ke kamar Jacop dan Sura. Lebih sering lagi ke kamar Jeno. Jika sudah begitu tak ada satu pun yang bisa memprotesnya. Mereka hanya akan mengalah, mengungsi ke kamar lain.
Hanna dengan kebiasaan anehnya itu sudah sangat terkenal di dorm mereka. Makanya untuk berjaga-jaga mereka suka mengunci pintu jika tak ingin Hanna masuk kamar saat mereka tidur. Bisa berabe jika tiba-tiba Hanna masuk saat mereka tidur atau saat mereka tengah mengganti baju. Jeno lah yang selalu menjadi pengawasnya jika Hanna sudah tertidur saat gadis itu di dorm mereka.
"Ah, aku jadi kangen mendengarmu bernyanyi," ujar Jun.
"Nanti aku akan bernyanyi untuk kalian sebagai bentuk perpisahan saat oppa semua berangkat wajib militer."
"Astaga, lama sekali itu."
"Biarin. Yang penting aku mau berbaik hati bernyanyi untuk kalian."
"Baiklah, terserah tuan putri. Yang penting tuan putri bahagia. Ngomong-ngomong ya, Hanna setelah keluar dari rumah sakit ikut kami kembali ke Korea kan?" ujar Jun.
"Tentu saja. Dia akan ikut kita ke Korea." Sura langsung menjawab tak membiarkan Hanna untuk berubah pikiran ataupun memikirkan gagasan yang aneh-aneh. Ia tak akan membiarkan gadis itu menjauh darinya.
Kalau saja dia tak perlu berangkat wajib militer tahun ini. Mungkin dia sudah menikahi gadis itu. Tapi kalau dia menikahi Hanna sekarang. Kasihan juga kalau harus meninggalkan Hanna sendiri nanti sementara dia di basecamp. Apalagi kalau Hanna sampai hamil dan melahirkan. Dia tak bisa membayangkan untuk meninggalkan Hanna sendiri mengurus anak mereka.
'Astaga, apa sih yang aku pikirkan. Aku sampai memikirkan kita menikah dan mempunyai anak. Hanna saja belum menerima lamaranku. Bagaimana kalau dia menolak lamaranku?' Sura tersenyum kemudian menjerngit sendiri. Dia sibuk dengan pikirannya.
Sementara Jun memandangnya dengan aneh. 'Sepertinya aku tahu apa yang dipikirkan oleh Sura.' Jun tersenyum jahil.
"Hanna, kalau kamu berangkat ke Switzerland dan menetap di sana. Artinya kamu mau mencari suami di sana?" tanya Jun. Hanna yang tengah mengunyah nasinya langsung tersedak. Sementara Sura yang tengah minum nyaris saja menyemburkan minum ke wajah Jun. Untung saja dia bisa mengendalikan diri. Dia mendelik Jun dengan kesal sementara yang dilirik hanya pura-pura tidak tahu.
"Oppa, kamu ngomong apa sih.?"
"Iya, aku bertanya padamu. Bukannya tadi kau bilang kalau kau ingin tinggal di Switzerland. Kau ingin membuat rumah di sana dan kau ingin menetap di sana. Artinya kau berencana untuk menikah dengan orang sana donk. Sepertinya nggak mungkin jika kau menikah dengan Sura dan menariknya ke sana," ujar Jun sedikit bercanda.
"Hmm, kenapa oppa berasumsi bahwa aku akan menikah hanya karena aku ingin membuat rumah di sana?"
"Jadi kau malah tak berniat untuk menjalin rumah tangga?" ujarnya heran.
"Hmm, entahlah. Aku masih belum siap untuk itu."
"Kenapa? Apa kau masih belum bisa membuka hati?" Akhirnya Sura ikut angkat suara karena dia juga penasaran.
"Aku sama sekali tak memikirkan persoalan berumah tangga saat membuat rencana itu dulu. Jadi aku juga tidak tahu jawabannya. Mungkin aku akan memikirkannya nanti."
***