Aku insaf memandangi diriku sendiri. Usai mendengarkan cerita dari Sura, aku pun memegang kedua tangannya. Dia sepertinya menatapku, menunggu hal apa yang ingin kulakukan. Aku pun kemudian meraba tangannya kemudian lanjut berusaha untuk mencari wajahnya. Saat aku menemukan kedua pipi Sura, aku juga ikut mengatupkan kedua pipinya dengan tanganku.
"Kau pria hebat. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini," ujarku dengan tulus padanya. Dia kemudian memegang salah satu tanganku yang berada di sisi pipinya kemudian menggenggamnya dengan erat. Sementara satu tangannya yang lain menarik tangan kananku dan mencium punggung tanganku.
"Hanna, maukah kau menikah denganku?" Dia tiba-tiba berkata seperti itu. Aku kaget bukan main saat mendengarkan permintaannya. Benarkah dia memintaku untuk menikah dengannya? Apakah dia tak salah bicara? Apakah aku tak salah dengar?
"Kau bicara apa, oppa?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku padanya. Memastikan bahwa ucapannya sama sekali tak mengada-ada.
"Maukah kau menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku. Menjadi istri dari pria sepertiku dan menjadi ibu dari anak-anak kita nantinya? Aku tahu, tak seharusnya aku melamarmu di sini. Sebenarnya aku sudah menyiapkan waktu dan tempat yang lebih tepat. Tapi aku takut, jika aku menundanya lagi. Aku takkan pernah bisa mengungkapkannya padamu." Dia kemudian menghembuskan nafas lega. Seolah lega karena sudah berhasil mengungkapkan semua isi hatinya.
"Oppa, kau tak ingin meralat ucapanmu kembali?" ujarku penasaran.
"Kenapa aku harus meralat ucapanku lagi?"
"Karena... Karena aku takut yang kau katakan hanyalah suatu kebohongan. Aku takut kau mengatakan itu karena kasihan padaku." Aku akhirnya mengungkapkan kegelisahan hatiku. Sura tampak menarik nafas dengan dalam kemudian menghembuskannya dengan berat.
"Aku tahu, semua ini terlalu mendadak untukmu. Tapi aku sudah menyimpan perasaan ini selama bertahun-tahun untukmu."
Bertahun-tahun? Aku sedikit bingung. Apa dia sudah menyukaiku semenjak awal kita bertemu? Tapi kenapa ucapannya malah terkesan seperti, bahwa kami sudah saling kenal jauh lebih lama dari yang seharusnya.
"Bertahun-tahun, oppa?"
"Ia, bertahun-tahun. Mungkin kau nggak ingat. Tapi kita pernah bertemu dulu sekali. Jauh sebelum pertemuan kita di stasiun KBC kemaren. Aku sudah mengenalmu terlebih dahulu, dulu sekali."
"Benarkah? Dimana? Kapan kita pernah bertemu? Apa aku melupakanmu?" Aku benar-benar penasaran kapan aku bertemu dengannya. Apa aku melupakan sesuatu?
"Hmm. Mungkin iya mungkin tidak. Atau lebih tepatnya kau tak menyadari keberadaanku makanya kau tak tahu." Aku semakin penasaran saat mendengar ucapannya.
"Oppa, kau tak lagi mengerjaiku kan?"
"Tentu saja tidak sayang. Aku akan menceritakannya nanti setelah kau sembuh. Aku juga tak akan menagih jawabanmu sekarang. Sejujurnya aku ingin melamarmu melalui cara yang lebih romantis. Bukan seperti ini. Tapi ya sudahlah." Dia terus mengomel dihadapanku. Aku sedikit menyunggingkan senyum saat mendengarnya. Jika dia mulai mengomel lagi, berarti dia baik-baik saja.
"Nah, makanannya sudah mulai dingin. Ayo makan dulu. Aku akan tinggalkan kamu sebentar untuk menyiapkan makanan di atas meja. Kau jangan kemana-mana dan jangan berbuat sesuatu yang aneh." Dia mewanti-wantiku. Aku hanya mengangguk.
Entah mengapa hatiku jauh lebih baik rasanya setelah mengungkapkan semua keluh kesahku padanya. Aku juga merasa lebih kuat saat mendengar ceritanya. Satu hal yang kurasakan, jika boleh, sekarang aku sangat senang usai mendengar lamarannya. Terlebih dia melamarku untuk menikah dengannya bukan untuk menjadi pacarnya.
Dia memang selalu tak pernah main-main dengan ucapannya. Dia juga tak ingin membuang-buang waktu. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah pintu. Telingaku memang lebih waspada semenjak aku tak menggunakan indera penglihatanku. Terdengar grasak grusuk kemudian suara pintu tersingkap.
"Hanna-si. Kau sudah merasa lebih baik?" Aku mendengar suara Jun menyapa. Suaranya terdengar biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa di antara kami tadi siang.
"Jun oppa, kau dimana?" Aku mengedarkan pandangan mencoba mencari asal suaranya.
"Aku dihadapanmu," ujarnya tiba-tiba. Aku kaget saat mendengar suaranya tepat berada dihadapanku.
"Kau mengagetkanku saja," omelku.
"Haha. Maaf, habisnya kau kesusahan seperti itu untuk mencariku. Kau belum makan ya? Aku membawakan sesuatu untukmu."
"Aku mau makan, itu Sura oppa lagi menyiapkan makan malam untukku di atas meja."
"Mana? Aku tak melihat Sura," ujarnya dengan penuh tanya.
"Ada oppa, barusan dia bilang mau menyiapkan makanan dulu di atas meja,"ujarku.
"Tak ada Hanna. Memang ada makanan di atas meja. Tapi tak ada orang lain di sini selain kita."
Aku mulai panik saat mendengar ucapan Jun. Apa itu hanya ilusiku semata? Kondisiku yang labil membuatku kesulitan untuk membedakan dunia nyata dan ilusiku. Apa sekarang aku tengah mengalaminya? Aku kebingungan sendiri.
"Haha. Iya, iya, nggak usah panik seperti itu. Itu Sura habis dari kamar mandi," ujar Jun.
Aku mendesah lega saat mendengarnya. Kapan Sura masuk kamar mandi? Kenapa aku tak mendengar dia membuka pintu ataupun bunyi suara air?
"Loh, hyung. Udah selesai pertemuannya?"
"Sudah, kita akan mulai syuting besok. Tadi aku dan manager sudah menyampaikan permintaan maaf karena kau belum bisa datang untuk membahas konsep. Aku akan menyerahkan materinya padamu nanti. Kau bisa baca-baca sambil menunggui Hanna."
"Oke hyung. Terimakasih. Mana manager?"
"Manager masih mengurus hal-hal terkait pemotretan besok."
"Lalu kau ke sini dengan siapa, oppa?" ujarku penasaran.
"Aku tadi ke sini pakai taxi. Lagi pula aku ke hotel dulu untuk memasak. Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu. Tapi sepertinya Sura juga sudah membeli makan malam."
"Nggak apa-apa. Aku bisa memakan semuanya," ujarku menenangkannya. Aku sendiri ragu apakah benar bisa menghabiskan semua makanan itu.
"Bagaimana kalau kita makan bersama. Oppa dan Sura oppa juga belum makan malam pastinya kan?"
"Iya, aku belum makan. Baiklah kita bisa makan bersama."
"Oiya oppa kalau manager di sini. Anggota yang lain pulang dengan siapa?"
"Mereka pulang dengan staf lain. Nanti jadwal mereka di sana akan di-handle oleh asisten manager. Kau tenang saja. Jangan berfikiran yang macam-macam. Aku heran, otak kecilmu itu selalu saja memikirkan banyak hal. Apa kau tidak lelah?" Aku tersentak kaget saat mendengar dia bertanya apakah aku tidak lelah. Aku teringat alasanku melakukan tindakan konyol tadi sore adalah karena aku lelah.
"Kenapa kau diam saja?" ujar Jun.
"Dia sangat lelah sampai mencoba bertindak konyol tadi," ujar Sura akhirnya. Aku hanya menundukkan pandangan.
"Apa maksudmu? Apa yang dilakukan Hanna?"
"Dia mencoba bunuh diri dengan melompat dari jendela kamar saat aku meninggalkannya untuk membeli makan malam."
"Mwo?" Jun berteriak kaget sampai kupingku terasa sakit karena dia duduk dihadapanku. Padahal pendengaranku menjadi lebih sensitif semenjak mataku terluka.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melakukan tindakan bodoh itu?" Aku hanya memilin-milin selimut yang tengah kugunakan. Aku tak tahu harus menjawab apa pada Jun.
"Apa kau memikirkan kejadian tadi siang?" Suaranya sedikit melunak. Aku hanya mengangguk. Jun menghembuskan nafas dengan kasar.
"Aku tahu, hal yang menimpamu tadi siang sangat disayangkan sekali terjadi. Tapi kau tak boleh menyalahkan diri seperti itu. Aku tahu persis, apa yang kau ucapkan saat marah pada kami tadi bukan karena kau ingin kami pergi dari hidupmu. Kau tak menyalahkan kami atas semua kejadian buruk yang menimpamu selama ini. Tapi kau dengan sifatmu itu pasti menyalahkan diri sendiri. Kau merasa bersalah karena disebabkan olehmu karir kami nyaris terganggu. Begitukan yang kau pikirkan?" Aku hanya mengangguk. Jun kembali menghembuskan nafas berat.
"Hanna-si. Kau tahu apa yang diucapkan anak-anak tadi saat kami pulang ke hotel?" tanya Jun padaku. Aku hanya menggeleng. Jun menerawang dan mulai menceritakan pembicaraan anggotanya saat pulang ke hotel tadi.
"Apakah hati nuuna sakit sekali sampai dia berkata seperti itu? Aku merasa ucapannya sepenuhnya bohong. Aku tahu dia tak benar-benar menginginkan kita pergi. Dia sepertinya terluka sekali dan mulai menyalahkan dirinya lagi."
"Dia tak benar-benar bermaksud menyalahkan kita. Dia hanya sedang berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia tak ingin berpisah dengan kita," ujar Rein.
"Aku merasa sedih saat melihat Hanna-si tadi. Dia pasti sangat kesakitan. Aku merasa bersalah padanya. Harusnya kita tadi lebih peka lagi saat melihat pecahan kaca di lantai. Aku sama sekali tak menduga dia menginjaknya. Dia pandai sekali menyembunyikan rasa sakitnya. Apalagi matanya harus terluka juga karena ulah penggemar fanatik kita. Semenjak kita selalu mendesak dia masuk ke dalam kehidupan kita, hidupnya tak pernah tenang. Orang-orang selalu mengganggu dan mencelakainya," sahut Vlo.
"Aku kesal sekali, karena tadi tak bisa melindungi Hanna saat orang itu melemparinya dengan Telur. Harusnya aku langsung melindunginya tadi."
"Harusnya aku yang bilang seperti itu, hyung. Padahal nuuna berdiri didekatku tadi. Tapi aku malah terbengong saat melihat orang itu menyerangnya. Kalau aku cepat tanggap pasti nuuna tak perlu kesakitan seperti itu."
"Sudah, jangan saling menyalahkan diri sendiri. Aku yakin Hanna nggak akan senang mendengar kalian menyalahkan diri sendiri seperti itu," ujar manager menengahi.
"Benar. Hanna itu terlalu baik. Dia tak akan bisa menunjukkan keegoisannya. Hatinya terlalu lembut untuk dunia yang keras ini. Dia pasti sekarang terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri. Aku ingin tinggal lebih lama untuk menenangkannya. Tapi sayang jadwal kita nggak bisa ditunda," sambung Jacop.
"Dia wanita kuat. Tenang saja, dia sekarang bersama Sura hyung. Dia pasti akan bisa melewati semua ini." Rein memutus perdebatan diantara mereka.
***
Aku memandang Jun dengan ekspresi tidak percaya. Anggap saja dia tahu bahwa aku tak percaya. Benarkah mereka semua bilang begitu? Lantas kalau begitu, berarti dari tadi aku hanya berprasangka buruk pada mereka. Hanya karena mereka diam saja saat melihatku berjalan tersandung-sandung dengan kaki penuh pecahan kaca.
"Oppa, apa kalian tak marah padaku?" ujarku akhirnya.
"Kenapa kami harus marah padamu?"
"Aku, aku sudah berkata kasar dan mengatakan sesuatu yang menyakitkan pada kalian." Aku semakin menundukkan pandangan dan meremas selimut dengan lebih kasar. Tiba-tiba aku merasa Sura mendekat dan duduk di sebelahku. Dia kemudian meraih tanganku dan mengusap pucuk kepalaku yang ditutupi oleh topi bannie.
"Tak ada yang menyalahkanmu Hanna. Percayalah padaku. Kami semua mengenalmu bukan dua atau tiga bulan. Kita sudah mengenalmu lumayan lama. Semua orang juga tahu bagaimana sifatmu. Benarkan, hyung?" Sura berusaha meyakinkanku.
"Benar, semua yang dikatakan oleh Sura adalah benar. Tak ada yang menyalahkanmu. Mereka tahu saat kau berbohong dan saat kau berkata jujur. Anggota tubuhmu tak pernah berbohong saat kau mengucapkan suatu kebohongan.
Kami tahu, kau mengucapkan hal tadi hanya karena berharap supaya kami membencimu lantas kemudian pergi meninggalkanmu. Tenang saja, kami tak akan melakukan itu. Bagiku dan anak-anak. Kau itu sudah seperti saudara perempuan kami. Kau adalah orang yang harus kami lindungi. Kami tak akan membiarkanmu terluka dan disakiti oleh siapapun. Jadi buang semua pikiran-pikiran burukmu itu ya." Aku akhirnya mengangguk kemudian berhenti meremas selimut yang sedari tadi kulakukan akibat rasa cemas yang menghampiriku.
"Good girl. Kalau begitu ayo kita makan. Aku sudah lapar sekali." Jun mengakhiri pembicaraan panjang di antara kami.
***