Kamu Jangan Bersedih

1759 Kata
Dokter bergegas mengobati lukaku. Darah berceceran di lantai sementara aku dipindahkan menuju kamar lain. Dokter masih mencabut satu persatu pecahan kaca yang manusuk kakiku. Aku masih sadarkan diri. Karena entah mengapa bius yang diberikan tak mempan sama sekali padaku. Kalau diingat-ingat tadi saat pelipisku dijahit juga begitu. Biusnya tak mampu membuatku tertidur. Meski demikian aku tak merasakan sama sekali rasa sakit. "Sus segera jahit luka dari di bagian tumit kirinya," ujar dokter. Perawat pun segera menjahit tumit di bagian telapak kaki kiriku yang lukanya lebih ringan dibandingkan yang lain. Sementara itu dokter masih setia mencabut sisa kaca di telapak kakiku. Dia memindai satu persatu untuk memastikan tak ada lagi kaca yang tertinggal. Setelahnya dia kembali menjahit beberapa luka yang memang perlu untuk dijahit. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka pun pergi meninggalkanku sendiri. Saat mereka pergi meninggalkan ruanganku. Aku menerawang menatap ke arah keluar jendela. Kamarku kali ini menghadap taman belakang rumah sakit. Setidaknya itulah yang aku dengar dari perawat tadi. Ia menjelaskannya karena iba melihatku tampak melamun saja. Aku juga tak tahu apakah sisi yang kuhadap benar-benar jendela. Jadi meskipun aku tak bisa melihat aku masih tetap bisa tahu posisiku. Semoga saja tebakanku benar. Aku kembali melamun dan tiba-tiba langsung merasa sedih kembali saat mengingat apa yang sudah terjadi. Entahlah, aku sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya tengah kurasakan. Mengapa perasaanku jadi seperti ini? Terlalu sensitif tak jelas akhir-akhir ini. Seringkali tiba-tiba air mataku keluar begitu saja. Apakah karena jiwaku tak sehat lagi? Aku sampai menangis tersedu-sedu. Aku bingung sebenarnya apa yang tengah kutangiskan? Apakah sebenarnya hatiku sakit sekali? Apa gangguan psikologisku sudah terlalu parah? sampai aku menangis tak jelas hanya karena sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu kenapa. Tiba-tiba seseorang meraih tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku kaget tapi tak ingin menoleh untuk memastikan. Percuma juga jika aku melakukannya karena aku tak bisa melihat. Aku tahu jika orang itu adalah Sura. Aku mengetahuinya dari aroma parfumnya. Aku lupa jika dialah yang membawaku ke sini tadi. Aku lupa jika aku tak sendirian di dalam ruangan itu. "Kamu kenapa? Kenapa menangis? Apakah sakit sekali? Aku minta maaf ya. Aku minta maaf karena membiarkanmu terluka begitu saja. Aku minta maaf karena meladeni kemarahanmu dan tak mengacuhkanmu. Aku minta maaf karena tak menghentikanmu sama sekali saat kau berjalan menginjak semua kaca itu. Aku sama sekali tak menyadari jika kau sampai menginjaknya. Aku minta maaf karena segitu tidak pengertiannya terhadap dirimu." Dia semakin mengeratkan pelukannya terhadapku. Aku memejamkan mata yang memang sudah terpejam juga untuk meresapi setiap hangat pelukannya. Aku ingin sekali menumpahkan segala keluh kesahku padanya, tapi aku takut dia akan mengiraku gila. Karena bagaimanapun kondisiku sekarang sangat jauh berbeda dari kondisiku biasanya. Aku tengah berada dalam kondisi tidak baik-baik saja. Aku diambang jurang antara dunia nyata dan ilusi. "Kau tenang saja. Aku tahu semua mengenai kondisimu. Baik tentang kondisi psikologismu ataupun mengenai semua yang kau pikirkan. Aku tak akan memandangmu aneh. Aku dan juga anak-anak masih sama seperti dulu. Tak akan berubah sama sekali kepadamu. Kami masih menyayangimu sama seperti rasa sayang yang dulu. Anak-anak tak memasukkan ke dalam hati semua ucapanmu tadi. Mereka paham sekali dengan apa yang tengah kamu rasakan. Jadi kamu tak usah berpikiran macam-macam dan fokus saja untuk sembuh," ucap Sura seolah paham dengan apa yang kukhawatirkan. Aku sama sekali tak menjawab satupun perkataan Sura. Aku membiarkan wangi parfumnya mengambil alih pikiranku. Aku ingin mengingat terus wangi ini. Aku ingin memilikinya. Itulah isi pikiranku yang sebenarnya. "Kamu tidur?" Dia sepertinya tengah memandangku. Aku pun menggelengkan kepalaku. "Apakah mau aku bacakan cerita?" Dia bertanya dengan penasaran. Aku sendiripun penasaran dan tergiur dengan tawarannya tapi kemudian aku ingat. Bukankah harusnya sekarang kita kembali ke Korea? "Oppa, bukannya malam ini jadwal kita untuk kembali ke Korea?" "Memang, tapi aku menundanya supaya kau bisa memulihkan diri dahulu." Aku memandang sembarangan dengan wajah yang sama sekali tak senang dengan gagasan itu. Bukan itu yang aku mau. Aku tak ingin lagi menjadi salah satu penyebab terhambatnya karir mereka. Sura sepertinya tahu apa yang kupikirkan. Dia langsung menyambung ucapannya. "Tenang saja. Sebenarnya aku mendapat tawaran untuk jadi model sebuah produk di sini. Tapi kemaren itu masih dipertimbangkan jadwal yang pas, mengingat ada jadwal lain yang sudah terlebih dahulu harus dilakukan di Korea. Tapi kemudian untuk jadwal yang di Korea tiba-tiba harus ditunda karena suatu alasan. Jadinya aku memiliki waktu kosong selalu empat hari. Sebagai gantinya manager mengambil pekerjaan di sini. Untung saja pihak sini mau mempercepatnya. Jadi kamu jangan mengkhawatirkan ke tidak pulanganku." "Apakah oppa tak membohongiku?" "Tentu saja tidak, sayang " Dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke kedua belah pipiku. Tangannya terasa hangat sekali. Aku menyukai sentuhannya. Aku ingin sekali untuk terus berada di sisinya seperti ini. Dia seperti candu untukku yang sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Ake mengarahkan pandangan ke arah datang tangannya. "Lalu bagaimana dengan anggota lain?" Mereka tetap akan pulang malam ini kecuali Jun hyung. Jun hyung akan di sini juga ikut pemotretan denganku." "Lalu bagaimana dengan syuting kalian tadi? Pasti semuanya kacau gara-gara aku?" "Tenang saja sayang. Syutingnya sudah selesai kok. Kau tak perlu mencemaskan apapun. Sekarang fokus saja pada kesembuhanmu." "Oppa kenapa selalu memanggil aku sayang seperti itu sih?" "Karena memang aku menyayangimu. Apakah kau keberatan kalau aku panggil seperti itu?" Aku pun menggelengkan kepala secepat kilat. Aku sama sekali tak menyadari jika tanggapanku membuat Sura tersenyum senang. "Na, sebenarnya aku ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi nunggu nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit. Sekarang kamu fokus dulu untuk memulihkan diri." Aku penasaran dengan hal apa yang ingin ia sampaikan. Aku pun mengangguk. "Apa kamu mau makan sekarang?" "Jam berapa memangnya sekarang, oppa?" "Jam 6 malam." Aku pun mengangguk. Tak ada salahnya. Oke, aku akan beli makanan dulu ya. Aku hanya mengangguk. Dia pun beranjak pergi meninggalkan kamarku. Aku kembali menerawang. Rasanya semua bercampur aduk. Aku merasa senang dan gelisah disaat bersamaan. Tiba-tiba pikiran buruk kembali merasukiku. Apa gejalaku semakin hari semakin parah makanya perasaanku tak bisa dikontrol seperti ini? Aku tiba-tiba langsung sensitif. Langsung takut orang memandangku seperti apa. Aku juga takut kalau orang-orang di sekitarku tersakiti karenaku. Aku takut mereka menjadi korban. Tiba-tiba aku langsung berdiri. Pikiranku langsung terasa kosong. Aku kemudian berjalan ke arah yang kuyakini itu adalah jendela. Aku pun terus berjalan tanpa memedulikan apa yang kutabrak. Saat tubuhku sudah mentok berada di pinggir jendela, aku meraba semua bingkainya. Memastikan bahwa aku benar-benar berada di pinggir jendela. Tiba-tiba saja sebuah pikiran untuk mengakhiri hidup langsung terlintas dalam benakku. Aku merasa sudah capek. Aku ingin mengakhiri semua beban yang terasa berat dipundakku. Aku meraba kedua sisi pintu jendela. kemudian mencoba untuk memanjatnya. Pikiranku benar-benar kosong. Aku ingin pergi. Sebelah kakiku sudah kuangkat ke atas bingkai jendela. Aku menaikkan sebelah lagi, berniat untuk melompat dan mengakiri semua. Aku tahu bagaimana bodohnya tindakanku ini. Ini bukan solusi yang benar dan sama sekali tak mendidik. Tapi pikiranku mengambil alih tubuhku. Aku membiarkannya mengontrol diriku sepenuhnya tanpa berusaha melawan. Saat aku bersiap akan melompat. Sura yang baru datang langsung berteriak dan berlari kearahku. "Hanna apa yang kau lakukan." Dengan secepat kilat dia langsung menyambarku. Mengangkat tubuhku ke udara dan membawaku dalam pelukannya. Nafasnya tersengal-sengal karena berlari untuk menghentikanku. "Apa yang sedang kau coba untuk lakukan?" Suaranya bergetar. Entah karena amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun atau karena dia ketakutan sekali. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku capek sekali, oppa. Aku capek hidup," ujarku akhirnya. Aku mencoba mengeluarkan semua unek-unekku. Dia mendekapku dengan erat sembari mengelus punggungku. Aku bisa mendengar suara jantungnya yang berdetak keras. Aku kembali menghirup dalam-dalam aromanya. Rasanya menenangkan sekali. Pikiranku mendadak terasa ringan kembali. "Ceritakan padaku. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau takutkan? Apa yang kau pikirkan? Ceritakan semuanya. Aku akan mendengarkan semuanya. Aku akan melakukan apapun untukmu. Asal kau jangan bertindak bodoh seperti itu." Aku merasa ada air yang jatuh menimpa pipiku. Apakah Sura menangis? "Sekarang ceritakan padaku sayang! Apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan dengan otak kecilmu itu. Berapa banyak yang kau pikirkan?" Dia memang suka mengatakan "otak kecil" padaku. Bukan untuk menghinaku. Tapi karena badanku yang kecil begitu juga dengan kepalaku sehingga dia berasumsi otakku juga ukurannya kecil mengingat fisikku kecil seperti itu. "Aku lelah, oppa. Semua pikiran-pikiran buruk terus menghantuiku. Rasa bersalah, sedih, kecewa. Semuanya mendadak mengaburkan pikiranku. Terlebih dengan semua yang terjadi. Aku takut sekali. Aku takut akan menyakiti orang lain. Aku takut orang lain akan tersakiti karenaku. Terlebih orang-orang di sekitarku. Aku takut mengecewakan mereka," ujarku akhirnya. "Aku merasa semua beban yang tiba-tiba ditaruh di pundakku itu sangat berat. Aku tak kuat untuk memikulnya. Aku ragu bisa bertahan. Aku sendiri di dunia ini. Aku tak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi. Aku ingin pergi. Tapi Tuhan tak mengizinkanku pergi kemaren itu. Tuhan masih menginginkanku untuk berada di dunia. Sedangkan aku sudah tak kuat lagi. Mentalku sakit oppa, meskipun fisikku baik-baik saja." Sura menarik nafas kasar. Dia pun membawa Hanna ke tempat tidurnya. Dia duduk di atas kursi yang terletak di sebelah ranjang. Kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di kanan kiri pipi Hanna. "Aku punya sebuah cerita untukmu." "Cerita apa, oppa?" "Dulu ada seorang remaja tamat SMA yang ingin sekali menjadi seorang rapper. Dia pun nekat pergi ke Seoul seorang diri. Di sana dia menaruhkan semua harapan pada sebuah perusahaan kecil agar bisa menjadi penyanyi. Namun jalannya tak semudah itu. Keluarganya menentang keinginannya. Ia hidup dengan kesulitan materi, sampai-sampai harus kerja sambilan untuk membiayai hidupnya di Seoul. Perjuangannya untuk menjadi penyanyi juga tak mudah. Orang-orang memandang sebelah mata karena dia berasal dari agensi kecil. Berbagai macam hinaan dia terima. Terlebih keluarga yang tak mendukung cita-citanya, membuat dia juga terpuruk. Mereka pernah tampil tanpa penonton. Mereka pernah dilupakan saat akan tampil disebuah acara. Mereka juga diremehkan di acara televisi." Sura menghela nafas kemudian melanjutkan ceritanya. "Dia ingin menyerah. Dia benci pada semua orang. Dia benci pada kenyataan. Sampai-sampai dia juga mengalami gangguan kecemasan dan akhirnya berkonsultasi dengan psikiater. Namun setelah itu, dia bisa menguatkan dirinya. Dia meyakini mimpinya takkan pernah tercapai kalau dia terus terpuruk akibat memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Akhirnya dia memilih untuk bangkit dan membuktikan pada dunia bahwa sekarang dia bisa. Dia merajai dunia dengan musiknya. Dia membuktikan pada dunia bahwa dia mampu bangkit dari kecemasan masa lalunya. Dan orang itu adalah orang yang sama dengan pria yang sekarang berdiri dihadapanmu." Aku memandangi Sura dengan takjub. Benarkah dia mengalami semua itu? Aku memang dekat dengan mereka, tapi aku tak terlalu mengetahui tentang latar belakang mereka. Jadi aku tidak tahu sejauh mana perjuangan mereka untuk melangkah sampai berada ditempat ini. Aku pun menatapnya sembari tersenyum. Entah mengapa aku merasa bangga padanya. Aku merasa bersyukur dia bisa berada di sini sekarang. Aku bersyukur dia bisa bertahan sehingga bisa mencapai posisinya ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN