Aku terus menerus menghembuskan nafas berat. Rasanya gelap sekali karena aku tak bisa melihat apapun. Mataku diperban sepenuhnya. Kata Dokter supaya lukanya lebih cepat sembuh. Aku meraba-raba ke sekeliling tapi tak menemukan ponselku. Aku penasaran sekarang jam berapa. Sementara Honey harus pergi dulu untuk menjemput anaknya. Tak ada seorangpun di kamar tempatku dirawat. Sepertinya sekarang sudah sore. Padahal nanti malam aku harus pulang dengan anggota Star One. Kalau seperti ini bagaimana caranya untuk pulang.
Aku menggeram kesal karena tak menemukan ponselku. Aku terus menerus menggerakkan tangan mencoba meraba-raba. Tanganku tak sengaja menyenggol gelas hingga pecah. Aku kaget saat mendengar bunyi gelas yang pecah saat menyentuh lantai. Rasanya frustasi sekali. Padahal aku baru dalam kondisi seperti ini selama beberapa jam. Tapi aku tak sabar sama sekali. Rasa panik mulai menyerangku. Terlebih jika mengingat kemungkinan aku akan buta membuatku semakin kesal.
Aku nyaris saja memukulkan tanganku ke meja. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menangkap tanganku. Genggamannya erat sekali. Siapa ini? Kenapa aku tidak tau. Siapa yang memegangku. Orang itu tiba-tiba saja memelukku. Aku kaget sekali dan nyaris memberontak. Namun aroma tubuhnya berhasil menghentikanku. Sura. Aku yakin sekali kalau itu adalah dia.
"Kamu jangan menyakiti diri sendiri." Dia mengusap-usap pucuk kepalaku.
"Maafkan aku. Aku baru selesai syuting dan baru dapat kabar mengenai kejadian yang menimpamu. Aku minta maaf karena tak ada di sana saat itu terjadi. Jeimin dan Jeno panik sekali saat mencari keberadaanku dan Jun." Dia terus menepuk punggung Hanna. Lantas kemudian melepaskan pelukannya dan berjongkok di hadapan Hanna. Telapak tangannya memegang kedua pipi Hanna. Gadis itu bisa merasakan kehangatan dari kedua telapak tangannya.
"Apakah sakit sekali?" Suaranya masih terdengar panik.
"Lumayan oppa."
"Apakah kau perlu dirawat lebih lama? Aku akan mengajukan cuti pada perusahaan." Aku mengehela nafas berat.
"Aku baik-baik saja oppa. Berhenti melakukan sesuatu yang bisa merusak karirmu hanya karena aku." Aku sedikit menaikkan nada suaraku. Entah mengapa aku merasa emosiku tidak bisa dikontrol. Aku merasa semua yang terjadi selama ini adalah hal yang seharusnya tak terjadi. Semua yang menimpaku tak akan pernah terjadi jika aku tak berurusan dengan Star One.
Aku sama sekali tak menyalahkan keadaanku kepada mereka. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan diriku yang tak sadar diri dengan posisiku. Aku orang biasa dengan begitu lancang masuk ke kehidupan mereka yang mustahil ada dalam dunia nyata. Aku seperti tokoh utama dalam dongeng yang bermimpi menikahi pangeran. Bermimpi mempunyai kehidupan yang sepatutnya dibiarkan saja mengendap dalam angan. Apa ini saatnya aku pergi?
Aku tak mau jika aku egois dan memaksakan diri. Mereka bisa terluka. Mereka yang akan celaka. Cukup aku saja yang mengalami semua kejadian naas ini. Jangan sampai gara-garaku karir mereka juga ikut hancur. Apalagi sampai membahayakan keselamatan mereka. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika sudah demikian.
"Hanna, kamu kenapa?" Sura mengusap lembut pipiku.
"Aku baik-baik saja," jawabku ketus. Aku tak ingin bersikap lemah lembut lagi padanya. Aku tak ingin goyah lagi. Aku tak ingin membiarkan egoku merusak logikaku. Aku sama sekali tak pantas untuknya. Aku harus pergi dari kehidupannya.
"Apa kau merasa lelah? Atau kau merasa lapar? Mau aku ambilkan makanan?"
"Sudah kubilang bahwa aku baik-baik saja," teriakku. "Oppa bisa berhenti mengurusi urusanku tidak? Aku capek. Aku capek harus terlibat terus denganmu. Aku capek hidup ditengah incaran orang-orang yang tak menyukai kenyataan aku dan kalian dekat. Aku capek. Bisa nggak kalian pergi saja."
Aku tak bisa lagi menahan diri. Aku tak peduli jika kata-kataku akan menyakiti mereka. Lebih baik jika seperti itu, supaya mereka bisa pergi tanpa rasa penyesalan. Sebenarnya apa yang aku ucapkan tak sepenuhnya dari hatiku. Tapi aku lebih memilih logikaku bermain meskipun perasaanku tak ingin kehilangan. Sudah waktunya aku melepaskan diri dari mereka. Agar aku tak menjadi benalu lagi dalam karir mereka.
"Nuuna, apa kau serius dengan perkataanmu?" Aku bisa mendengar suara Jeno dari arah hadapanku. Sepertinya di arah pintu masuk.
"Ya. Aku serius," ujarku lantang. Semakin mereka sakit hati padaku. Semakin bagus untuk kelangsungan hubungan kami. Aku tak ingin lagi membuat mereka merasa terbebani.
"Kau pasti becanda," ujar Vlo.
"Kau pasti mengatakannya hanya karena tengah marah," sambung Jeimin.
"Terserah kalian percaya atau nggak. Satu hal yang jelas, aku tak akan melibatkan diri lagi dengan kalian. Silahkan pergi, aku yakin kalian masih berdiri di pintu masuk."
Aku sedikit kaget dengan ucapan pedas yang kulontarkan. Bahkan Sura pun menarik tangannya yang sedari tadi masih memegang pipiku. Dia sepertinya kecewa padaku. Terserahlah, aku tak peduli. Itu lebih baik. Aku kemudian berdiri secara tiba-tiba tak memedulikan pecahan gelas yang masih berserakan di lantai. Aku menahan diri untuk tak menjerit karena sakit akibat pecahan menusuk kakiku.
Aku berjalan sembari meraba-raba. Bahkan Sura yang duduk di hadapanku pun aku tabrak begitu saja. Aku mencoba meraih dinding. Pecahan kaca semakin dalam menusuk kakiku. Aku tak peduli. Aku menabrak sofa dan nyaris saja terjungkal kalau aku tak segera memegang sisi-sisi atas yang bisa kuraih.
Tiba-tiba aku merasa kosong. Tiba-tiba aku merasa hampa. Mengapa mereka diam saja? Apa mereka benar-benar kecewa mendengar ucapanku? Apa mereka benar-benar berniat pergi meninggalkanku? Ah, sudahlah ngapain lagi aku memikirkan itu. Tapi aku tak bisa menghindari diri dari kesedihan. Aku marah, putus asa dan kecewa.
Mendadak semua kenangan buruk menjalar di otakku. Semua berputar bagai kaset rusak. Air mata merembes bahkan membasahi perbanku. Aku yakin setelah ini lukaku akan basah lagi. Tapi aku tak peduli. Bahkan kakiku rasanya sudah mati rasa. Aku masih berjalan dan menabrak anggota Star One yang berdiri di tempat mereka tadi. Entahlah, mungkin. Aku juga tak tahu kebenarannya. Hanya dugaanku saja.
Tak ada satupun yang bersuara. Mereka bahkan tak berusaha untuk menghentikanku. Aku meraba pintu dan kemudian mendorongnya, tapi baru saja kakiku akan melangkah keluar. Tiba-tiba saja tubuhku sudah melayang ke udara. Aku kaget sekali. Aku tahu sekali siapa pelakunya.
"Lepaskan aku. Aku mau pulang." Aku berteriak sembari memberontak dalam gendongannya.
"Kau akan pulang nanti malam bersama kami. Nanti setelah semua lukamu itu diobati. Kau gila ya berjalan tanpa alas kaki seperti itu dengan luka beling." Sura berteriak kembali padaku. Sepertinya dia benar-benar marah. Tak kutemukan lagi kehangatan dalam suaranya. Apa dia kecewa? Apa dia sakit hati padaku? Tapi bukankah itu lebih baik.
"Lepas. Aku tak mau digendong olehmu." Aku terus saja berteriak. Tak peduli jika mereka melihatku seperti apa. Rasanya frustasi sekali melihat kehidupanku. Aku lelah. Aku ingin menyerah.
"Diam atau aku cium." Aku kaget saat mendengar ucapannya. Mendadak mulutku kaku dan aku sama sekali tak berani untuk bersuara. Aku tak ingin dia melakukan apa yang tadi dia ucapkan. Melihat aku tak memberontak lagi dia kemudian menurunkanku dengan hati-hati di atas kasur. Aku mendengar Jeno berteriak memanggil dokter.
Apakah mereka benar-benar tak meninggalkanku? Apa mereka tak syuting? Bukannya mereka tengah syuting? Apa karena aku mereka menghentikan acaranya lagi. Rasa bersalah kembali menggerogotiku. Aku tak kuat menahan semua ini. Rasanya sangat menyakitkan saat mengetahui bahwa semua ini tak akan pernah terjadi kalau saja aku tak mencoba mengakrabkan diri dengan mereka. Aku merasa perutku mual. Bagaimana kalau karenaku karir mereka hancur? Kepalaku mendadak pening.
"Berhenti menyalahkan dirimu untuk semua yang sudah terjadi." Aku kaget saat mendengar ucapan Sura. Dia sepertinya paham betul apa yang tengah kurasakan.
"Tau apa kau? Kau tak mengerti," ujarku ketus.
"Aku mengerti dan aku tahu sekali apa yang ada dipikiranmu itu. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Berhenti merasa bersalah terhadap orang lain. Kau memikirkan apa? Memikirkan karir kami yang akan terganggu? Memikirkan semua masalah yang menimpa kami?" Aku berniat untuk menjawabnya tapi dokter sudah datang memasuki kamar. Dia terkejut melihat apa yang terjadi. Kemudian menyuruh suster memindahkanku ke kamar lain.
***