Diserang Lagi

1206 Kata
Aku tengah mengelilingi pusat perbelanjaan Singapura. Ternyata menyenangkan juga menghabiskan waktu sembari melihat deretan pedagang yang menjajakan jajanan dari berbagai belahan dunia. Aku berusaha sebaik mungkin untuk menjaga jarak dengan anggota Star One yang tengah syuting. Mengambil rute yang berbeda dengan mereka. Sebenarnya aku enggan untuk pergi ke sini. Karena bagaimanapun akan berbahaya jika aku terpergok berada di tempat yang sama dengan Star One. Tapi Honey bersikeras mengajakku. Dia ingin menciptakan banyak momen denganku. Mengingat bahwa selama ini kami jarang bersama. "Hanna, kamu mau permen kapas nggak?" Dia menunjuk seorang penjual permen kapas yang menjajakan dagangannya dideretan penjual makanan Korea dan jajanan Thailand. "Boleh. Ayuk." Akupun mengamit tangan Honey. Kemudian menariknya menuju penjual permen kapas itu. "Anda mau karakter apa nona?" Pria bertubuh besar dan berwajah sangar itu menunjuk sederetan contoh permen kapas yang dia buat. Ada banyak sekali macamnya, kebanyakan adalah karakter hewan. "Aku mau Kelinci." "Aku mau beruang," ujar Honey. "Okey ladies. Tunggu sebentar ya." Dia pun mulai menghidupkan mesinnya dan memasukkan gula. Perlahan-lahan membentuk karakter sesuai dengan yang kami pesan. Aku suka sekali melihat proses bagaimana gula itu berubah menjadi serat. "Hanna, hadap sini." Honeypun memanggilku. Aku langsung menghadapnya yang ternyata tengah memotretku. "Coba aku lihat." Dia pun menyerahkan ponselnya padaku. "Wah bagus. Coba kamu pose juga, aku fotokan." "Honey pun memasang posenya." Aku langsung memotretnya. "Mr pinjem ini ya." Dia menunjuk contoh karakter dari permen kapas. "Sure ladies." Honey segera mengambil karakter Panda dan mulai memasang banyak pose. Aku langsung memotretnya. "Nah begitu bagus." "Coba kamu nggak menghadap kamera." "Coba kamu pura memakannya." "Coba kamu pura-pura tengah mengambilnya dari abangnya " Aku terus menginstruksikan berbagai macam gaya pada Honey. Sahabatku itu dengan senang hati menuruti. Dia memang gila foto dari dulu. Aku hafal sekali. "Sudah dong Hanna. Gantian, sekarang kamu yang aku foto." Tanpa menunggu persetujuanku dia langsung mengambil ponsel dan menyerahkan karakter Panda padaku. "Nah coba kayak gitu saja. Pasang tampang polosmu." " Astagah. Kamu pucat sekali seperti orang sakit saja." "Benarkah?" "Iya." "Mungkin aku hanya kekurangan darah saja." "Benarkah? Kalau kamu merasa tidak sehat. Kita balik saja ke hotel." "Beneran. Aku baik-baik saja kok." "Baiklah." "Ini permen kapasnya nona. Dua untuk kedua nona yang cantik." Aku dan Honey menerima pesanan kami masing-masing sembari tersenyum. Aku bahagia sekali melihat karakternya yang lucu. Sampai tak sadar jika Honey mengambil potretku. "Mister, saya pesan satu karakter Kelinci." Aku kaget saat mendengar suara orang yang berbicara. Telingaku tak mungkin salah mengenali. Itu adalah suara Jeno. Aku berpura-pura tak melihatnya meskipun sekarang dia berada di sampingku. Terlebih dari sudut mata aku bisa melihat kamera merekamnya. Aduh bagaimana ini cara keluar. "Mister. Aku juga mau," teriak Jeimin yang berlari seperti anak kecil ke arah kami. "Loh,-" Dia menghentikan ucapannya sendiri saat melihatku. Tapi dia tak jadi melanjutkan ucapannya dan langsung berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa. Honey yang mengerti situasi langsung berjalan melewati Jeno dan Jeimin dan kemudian merangkulku untuk pergi meninggalkan penjual. "Ini untuk permennya mister. Ambil saja kembaliannya," ujarnya. "Terimakasih nona cantik. Sehat selalu." Dia menyeringai. Aku dan Honey bersiap untuk meninggalkan tempat kami membeli permen kapas. Tapi tiba-tiba sesuatu mendarat di wajahku. Keras sekali. Aku nyaris terhuyung karena benturannya sangat kasar. Sebuah telur mendarat tepat di pelipisku. Nyaris saja mengenai mataku. Jika meleset sedikit saja, bisa dipastikan mataku kenapa-kenapa, parahnya lagi mungkin aku bisa buta. Aku merasa ada yang mengalir di pelipisku. "Hanna," teriak Hanni. "Darah." Dia tampak panik. Tapi belum berhenti di sana. Telur lain kembali mendarat ke wajahku. Salah satunya berhasil mengenai mataku dengan keras. Aku kawatir sekali telur itu akan melukai mataku. Pikiran buruk langsung menjalar di otakku. Bagaimana kalau aku sampai buta? Aku yang masih linglung akibat lemparan telur pertama tak bisa mengelak dari lembaran bertubi-tubi telur yang lain. Jeno dan Jeimin yang tengah sibuk melihat penjual permen membuat permen untuk mereka langsung melihat ke arahku karena teriakan Honey. Mereka tampak kaget. Para kru langsung bergegas menolongku. Beberapa mencoba mengejar orang yang melempariku. Aku memandang sekeliling. Mataku rasanya berkunang-kunang sekali. "Hanna, kau tidak apa-apa?" ujar manager. Aku tak menjawab. Aku mencoba berpegangan pada Honey kemudian mengusap wajahku yang sudah dipenuhi telur dan darah. Mataku tak bisa melihat sebelah. Rasa panik mulai menguasaiku. Bagaimana kalau sampai aku beneran buta? Aku tak bisa membayangkannya. "Hanna." Honey tak mampu meneruskan ucapannya. "Bantu aku pergi dari sini," ujarku padanya. Honey langsung memapahku menerobos kerumunan staff Star One yang berusaha menolong. Aku tak ingin melihat mereka. Aku juga tak peduli dengan panggilan Jeimin dan Jeno. Sepertinya di sini tak ada anggota Star One yang lain. Mungkin mereka syuting di tempat yang berbeda-beda. Tergantung apa yang ingin mereka beli. Setelah sampai di mobil yang untungnya terparkir tak jauh dari tempat kami membeli permen kapas. Aku langsung masuk ke dalam mobil. Honey bergegas masuk ke bagian pengemudi dan kemudian melajukan mobilnya. "Kamu tahan sedikit ya. Kita akan segera ke Rumah Sakit." Honey menatapku dengan cemas sekali. Sementara aku tak bisa lagi menahan perih mataku. Aku ingin menangis dan tanpa bisa dikendalikan air mataku langsung tumpah. Honey kaget saat melihatku menangis. "Sakit banget ya? Aku minta maaf. Harusnya aku tak memaksamu untuk pergi ke sana tadi." Suaranya terdengar penuh penyesalan. Dia menyodorkan tisu padaku. Aku menerimanya dan membersihkan wajahku dengan hati-hati. Mataku masih tak bisa dibuka dibagian kiri. Sementara darah segar masih terus mengalir di pelipisku. Mata kananku juga terasa sakit. 'Apa orang yang melempariku berniat untuk membuatku buta? Aku semakin sedih membayangkannya. Aku punya salah apa pada mereka? Kenapa mereka kejam sekali padaku. Mengapa mereka selalu menggangguku? Padahal aku tak pernah mengusik hidup mereka.' Tangisanku semakin kencang. Sementara ponselku terus berdering. Aku tak peduli sama sekali. Akhirnya mobil sampai di Rumah Sakit. Honey bergegas turun dan langsung memapahku menuju Dokter. Meninggalkan mobilnya begitu saja setelah memberikan kunci pada satpam. Dia pikir ini hotel apa? pikirku. Tapi satpam berbaik hati untuk memarkirkan mobilnya. "Sus. Tolong." Dia berteriak panik. Perawat langsung berlari ke arah kami sembari membawa kursi roda. Aku langsung didudukkan di kursi roda dan di dorong ke ruang perawatan. Perawat dengan cekatan membersihkan sisa-sisa telur yang masih menempel di wajahku. Dokter yang baru datangpun segera memeriksa lukaku. Dia bolak-balik melakukan pemeriksaan. Lantas kemudian menyuruh perawat untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. "Kalau yang saya lihat lukanya cukup parah, cuma untung saja tak mengenai retina mata anda. Tapi sepertinya anda harus mendapatkan jahitan. Untuk pengecekan lebih lanjut kami akan bawa ke ruangan radiologi." Aku sedikit kaget saat mendengar harus di jahit. Tapi tetap menurut saat perawat membawaku ke ruangan Radiologi. Dokter langsung memeriksakan mataku yang masih saja belum bisa di buka. Setelah melakukan pemindaian. Aku kembali dibawa ke ruangan pemeriksaan lantas kemudian diberi anesti dan pelipisku di jahit. Aku masih sadar saat mereka melakukan semua proses itu. Hanya saja pengaruh anesti membuatku tak terlaku merasakan sakit. "Untuk sementara waktu anda jangan membuka mata dulu. Bagaimanapun mata anda masih trauma setelah mengalami cidera yang cukup parah. Tak hanya mata kiri anda. Mata kanan anda juga terbentur keras. Untuk sementara kami akan memasangkan perban agar segera cepat sembuh." Aku merasa dunia berhenti berputar. Bagaimana mungkin aku tak bisa melihat seperti ini? Aku tak bisa menerima kondisiku meskipun itu hanya sementara sampai lukaku mengering. Tapi aku yang sudah drop duluan karena semua pikiran-pikiran buruk menggerogoti akalku, semakin trauma dan tak menerima kenyataan yang terjadi. Mendadak aku menjadi benci pada semua orang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN