Perkara Kelapa Muda

2036 Kata
Hari ini adalah hari terakhir kami di Singapura. Malam ini pukul 20.00 aku dan anggota Star One akan menaiki pesawat yang sama untuk kembali ke Korea. Awalnya aku ingin tinggal lebih lama karena boss memintaku untuk mengurus pekerjaan yang lain. Sepertinya dia melupakan fakta bahwa aku tengah cuti yang panjang. Jadi dia terus merecokiku dengan pekerjaan. Tapi Jun dan Rein bersikeras menyuruhku untuk menolak. "Berhenti menjadi people pleasure, Hanna-si," ujar Jun. "Kau itu diberikan cuti untuk memulihkan keadaanmu. Bukan untuk bekerja," sambung Rein. "Kau ikut kami pulang malam ini. Manager sudah memesankan tiket pesawat yang sama dengan kami. Nggak ada alasan untukmu menolak." Jun berteriak-teriak padaku. Bukan berteriak yang sebenarnya sih, memang gaya berbicaranya berapi-api seperti itu. "Kau lihat, Sura hyung bahkan diam saja. Malas untuk melarangmu karena tahu kau sangat keras kepala," sambung Rein lagi. "Sudah nuuna. Kali ini menurut saja dengan hyung. Bukannya kau ada kelas tembikar dan melukis? Bahkan kau sudah bolos satu minggu ini gara-gara kami. Masak kau mau bolos lagi." "Sudah, jangan omeli terus Hannanya," ujar Vlo. "Kalian nggak kasian apa melihat mukanya ditekuk terus seperti itu," sambung Jeimin. "Hanna pulang saja ya sama kita. Nanti oppa ajari menari deh," bujuk Jacop. Sementara Sura enggan berkomentar apa-apa. Aku hanya menarik nafas berat. Mereka kalau sudah mengomeliku seperti ini, kompak sekali. Telingaku sampai sakit karena diomeli terus. "Jadi bagaimana Hanna?" Kali ini manager ikut bersuara. "Aku pengen minum air kelapa," ujarku. "Eh?" "Bukannya kita akan kembali nanti malam. Aku harus makan dan minum sepuasnya dulu dong. Sayang banget sudah ke sini tak bisa minum air kelapa sepuasnya. Nanti di Korea susah nyarinya." "Kau antik sekali" komentar manager. "Aku manusia manager, bukan barang antik." Aku menggembungkan pipiku sebal karena diejek terus olehnya. "Nah gitu dong. Kalau nurut begini kan enak," komentar Jun. "Bagaimana aku nggak nurut. Kalian kompak mengomeliku seperti itu. Bikin sakit telinga aja. Telingaku sudah tercemar pagi-pagi. Kalau sampai aku budeg bagaimana?" "Hahaha. Habisnya kau jadi orang terlalu baik. Nggak bisa menolak. Selalu merasa tidak enakan," ujar Rein. "Arasso..arasso. Nanti aku akan berubah menjadi orang jahat." "Nggak gitu juga kali." "Jadi, mau minum es kelapa juga?" Sura akhirnya angkat suara. Aku mengangguk antusias. "Aku ingin minum langsung di buah Kelapanya. Memakan masakan Thailand dan cemilan buah tropis lainnya." "Astaga. Banyak sekali," omel Sura tapi dia tetap saja memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat setelah mengantarkan minuman untuk staff. Kami memang tengah berada di pinggir kolam di hotel. Areanya privasi karena sudah sepenuhnya di sewa oleh agensi agar anggota Star One memiliki privasi lebih. Sekarang masih pukul 10.00. Jadi masih punya waktu sampai jam 13.00 nanti. Mereka berencana untuk syuting berbelanja di pusat perbelanjaan Singapura. Aku juga diajak tapi enggan karena harus berada di area publik bersama mereka lagi. Bisa-bisa aku akan masuk berita lagi. Aku berencana akan jalan-jalan sendiri kali ini. Eh, ralat aku akan berjalan-jalan dengan Honey. Karena gadis itu terus memaksaku setelah tahu aku akan kembali ke Korea malam ini. "Pesanan anda, tuan," ujar seorang pelayan yang membawakan buah kelapa muda siap minum. Beberapa pelayan lain mengikutinya sembari membawa nampan berisi buah Kelapa untuk anggota lain dan juga staff. "Untuk makanannya sedang dalam proses memasak. Mohon ditunggu dulu." Sura mengangguk kemudian berterima kasih. Sura kemudian mengambil satu Kelapa Muda dan menyerahkannya padaku. "Kamu ingin dagingnya yang agak tebal atau yang muda?" "Aku ingin yang tebal, oppa." Ia kemudian menarik kembali buah Kelapa yang sudah disodorkan padaku dan mengganti dengan miliknya. "Kok diganti?" "Bukannya kamu ingin yang dagingnya lebih banyak?" "Bukannya itu buat oppa? Berarti oppa juga ingin dagingnya yang banyak. "Nggak masalah. Nanti aku bisa minta punyamu." Dia tersenyum padaku. "Curang. Bilang saja kau ingin merebut makananku." Aku bersungut-sungut padanya. "Nuuna. Aku ingin yang seperti punyamu juga." Jeno mengadu padaku. "Punyaku tipis sekali daging Kelapa nya." "Aish. Kenapa sih pada pengen dagingnya semua. Sini aku bagi." Aku pun mengeruk dagingnya dengan usaha penuh karena lumayan keras. Setelah mendapatkannya aku menyuapi Jeno. Dia tersenyum penuh kemenangan pada Sura yang langsung memasang wajah datar. "Buatku mana?" Aku melongo memandanginya dengan malas tapi tetap saja mengeruk dagingnya untuknya. Lantas kemudian menyuapi Sura. "Lagi nuuna." "Heehh?" Aku menggerutu dan menggembungkan pipiku dengan gemas padanya. Kemudian menyuapinya lagi. "Aku?" Sura tak mau kalah dari Jeno. Sampai akhirnya aku bergantian harus meladeni kedua pria dewasa yang tengah bersikap seperti anak-anak ini. "Hanna tak bisa menolak mereka sama sekali," komentar Jun yang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua anggotanya yang terus saja merecoki Hanna. Gadis itu tampak mendecak sebal karena tak jadi-jadi menyendok untuk dirinya sendiri. "Dia terlalu baik," ujar Jacop. "Oh tidak ralat. Sepertinya Hanna mulai emosi." Dia tertawa-tawa melihat Hanna yang kesal. Gadis itu menghempaskan buah Kelapanya ke atas meja dengan kasar. "Kalian menyebalkan. Aku yang pengen minum buah Kelapa tapi kenapa malah harus menyuapi kalian dari tadi." Hanna menghentak-hentakkan kakinya dengan sebal lantas kemudian berdiri meninggalkan Sura yang memandangnya dengan penuh penyesalan. Sementara Jeno tersenyum penuh kemenangan berhasil mengerjai Hanna dan Sura. "Hanna-si, kau baik-baik saja?" Manager mereka yang baru datang bertanya pada Hanna yang berjalan meninggalkan kursinya dengan wajah kesal. "Tau tuh. Kesal. Kesal. Kesaaaaalll." Dia berteriak tak karu-karuan kemudian pergi. "Kenapa dengan Hanna?" Manager memandang anak-anaknya dengan bingung. "Itu Jeno dan Sura membuat ulah lagi," ujar Jun. "Astagah. Kalian berdua ini kenapa sih? Selalu saja mengerjainya seperti itu. Sekarang Hanna kemana itu? Kalau dia sampai ngambek dan pergi bagaimana?" "Sepertinya tidak hyung." Rein menunjuk Hanna yang baru datang sembari menenteng nampan yang berisi dua buah kelapa. Ia bahkan berjalan melewati manager begitu saja tanpa menyapa sedikitpun. Wajahnya masih tampak kesal. Ia duduk dengan menghempaskan p****t di kursi santai kemudian meminum Kelapanya dengan santai serta memasang tampang. 'Tak ada yang boleh meminta buah Kelapaku. Awas saja kalau sampai ada yang berani.' Manager menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya. Sementara Jun dan yang lain cekikikan melihat Hanna. Gadis itu memang tak bisa marah. Dia hanya mengomel kesal lantas pergi untuk membeli sendiri buah Kelapa untuknya. Aku mengeluarkan ponsel kemudian memotret buah Kelapa yang tengah aku pegang. Lantas meng-uploadnya di postingan dan memberi judul. "Perkara buah Kelapa." Langsung saja postinganku mendapatkan banyak like dan komentar. "Eounni, kamu masih di Singapura?" "Wah ada apa ini dengan buah Kelapanya eounni? Kamu tengah bersama anggota Star One ya? Sura oppa juga membuat status mengenai Kelapa." "Eounni. Selamat berlibur." "Wah. Kau masih berada di Singapura, nona Rana." Aku melihat nama yang memberi komentar. Bukannya ini perwakilan Taiwan kemaren. Aku pun membalas; "Tentu saja. Aku kan kesini untuk liburan. Dan liburanku tertunda karena rapat kemaren." "Haha. Benar sekali. Sayang sekali aku sudah kembali ke Taiwan. Aku dengar kau tinggal di Korea sekarang. Nanti kalau aku ke sana. Kita bisa bertemu kan?" "Tentu saja." Dia membalas dengan emot love love. Aku diam saja tak menanggapi. Sementara anggota Star One yang membaca langsung berkomentar heboh. "Wah. Ada lope-lope untuk Hanna," ujar Jun. "Sepertinya bakalan ada saingan baru ini," komentar Jeno. "Wah, eounni. Siapa itu? Aku melihat profilnya. Ganteng sekali." Dan masih banyak komentar lain yang tak kubalas sama sekali. "Jadi siapa itu Xin?" Sura tiba-tiba berbicara padaku. "Seorang kenalan waktu rapat kemaren," ujarku tanpa menatapnya sedikitpun. "Jadi aku punya saingan baru?" Aku menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?" "Sepertinya dia tertarik padamu." "Lalu kenapa kalau dia tertarik padaku?" "Ya berarti sainganku bertambah." "Saingan apa sih? Memangnya kau tengah lomba lari?" Aku benar-benar tak mengerti. Bukannya apa? Otakku lagi malas untuk berfikir. "Astaga." Jeno yang gemas mendengar jawaban polosku langsung melempar cookies yang dia makan ke arahku. Aku langsung memakannya saat berhasil menangkap cookies tersebut. "Dasar nuuna tidak peka." Ia berteriak sendiri seperti orang kesetanan sementara aku hanya memandang dengan bingung. "Jeno kenapa sih?" Aku memandang bingung ke arah Jeimin. "Dia lagi kesambet." "Kesambet apaan siang bolong begini." "Kesambet keluguan Hanna. Sampai-sampai bikin orang greget," sahut Rein. "Ish. Malah aku yang disalahkan. Padahal aku diam saja dari tadi. "Terserah Hanna. Perempuan emang selalu bener," jawab Jun. "Ish, apaan sih. Aku pusing mendengarkan kalian." "Hahaha, Hanna. Hanna." Rein menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara aku bersungut-sungut kemudian meminum buah kelapaku. Kemudian makanan yang tadi dipesan Sura mulai datang. Aku pun mulai makan. Yang lain ikut mencomot hidangan. Aku biarkan saja tak protes sedikutpun. "Nuuna. Nanti kalau sudah di Korea kau akan mengajarkanku lagi kan?" Hmm, bagaimana ya? Aku pikir-pikir dulu deh." "Loh, kok gitu?" "Habisnya kau menyebalkan." Jeno melongo kanget mendengar ucapanku. "Sejak kapan aku yang menggemaskan ini menyebalkan?" Dia memandangku dengan wajah polos. Aku langsung melemparinya dengan kentang. Dia langsung menangkapnya dan memakan kentang tersebut. "Hanna. Makan dulu, nanti berantemnya dilanjutkan lagi," ujar Sura menghentikan peperangan kami. "Aduh oppa. Kamu kalau mau menghentikan orang yang tengah ribut jangan gitu juga dong. Masak nyuruh berantemnya dilanjutin nanti." "Lah, terus kalau nggak seperti itu memangnya kau mau kutegur?" "Hmm. Nggak juga sih. Habis tu Jeno yang duluan." "Loh, kok aku lagi yang disalahkan nuuna?" "Aku memang selalu salah dimatamu." Dia mulai memasang wajah dramatis. Bersikap seolah menjadi anak yang teraniaya dan aku adalah ibu tirinya. "Nggak mempan kalau kau berakting seperti itu," ujarku ketus. Tawa member lain langsung meledak begitu mendengar ucapanku. "Hanna. Hanna. Kau memang cocok sekali dengan Sura. Sama-sama savage," ujar Jeimin. "Ya dunk, kan jodoh." Kata-kata itu langsung saja meluncur dari mulutku tanpa sempat kurem. Tawa anggota Star One tambah keras sementara aku yang menyadari kesalahan ucapanku tak bisa lagi mencoba menyembunyikan rasa malu. Wajahku benar-benar memerah. Aku malu sekali. Aku langsung berlari meninggalkan mereka. Sepertinya kembali ke kamarku adalah jalan terbaik untuk menghilangkan rasa malu ini. "Hanna-si. Hanna-si. Dia kok lucu banget sih," ujar Jacop. "Kau tak mau menyusulnya, hyung?" ujar Jeimin. "Nanti saja. Sepertinya dia akan tambah malu kalau kususul sekarang." "Ternyata tanpa sadar dia sudah mengakui perasaannya sendiri," ujar Vlo. Aku malu sekali saat menyadari bahwa aku tanpa sadar mengakui perasaanku sendiri. Bagaimana mungkin dengan pedenya aku mengatakan bahwa aku dan Sura berjodoh. Aku menghentak-hentakkan kakiku di atas kasur sembari menyembunyikan kepala ku di bawah bantal. Aku sedang tengkurap di atas kasur. Aku pusing memikirkan cara untuk kembali ke tempat mereka dengan besikap seolah tak terjadi apa-apa. "Sialan. Ini semua gara-gara kelapa muda," umpatku. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung mengambilnya dari nakas. Oppa Sungkyu? Ada apa dia menelpon. Aku pun mengangkat teleponnya. "Hallo oppa, ada apa?" "Kau dimana sekarang? Mau bertemu denganku tidak?"ujarnya tanpa basa-basi. "Ada apa oppa mau bertemu denganku?" "Nggak ada sih. Pengen ngobrol-ngobrol aja. Sebenarnya aku mau membuka caffeku sendiri lusa. Sekarang aku tengah mencoba resep baru dan ingin supaya kamu bisa mencicipinya. " "Wah, benarkah? Cukae oppa. Semoga lancar ya. Aduh sayang sekali aku sekarang masih di luar Korea," ucapku penuh penyesalan. "Apa kau pergi ke Singapura?" "Kenapa oppa berfikir demikian?" "Aku hanya menebak. Soalnya anggota Star One kan tengah konser di sana. Kalau kau tengah berada di luar Korea, maka kemungkinan besarnya adalah di Singapura." "Haha. Kau kebanyakn main film detektif kayaknya oppa. Makanya suka sekali menebak. Tapi tebakanmu memang benar sih." "Hihi. Aku memang suka sesuatu yang berbau misteri." "Haha. Pantas saja." "Sayang sekali ya kau tak bisa mencicipi masakanku hari ini. Apa kau juga tak bisa datang lusa?" "Maaf. Tapi akan aku usahakan untuk datang lusa. Nanti malam kalau tidak ada halangan aku akan balik ke Korea." "Syukurlah. Aku kira kau tak bisa datang saat pembukaan nanti. Kalau begitu hati-hati nanti di jalan ya. Jangan lupa untuk datang lusa. Aku menunggumu. Nanti akan kukirimkan alamatnya. "Tentu. Terimakasih oppa." "Ya sudah, aku tutup ya?" Dia pun kemudian memutus sambungan teleponnya. Aku melihat waktu sudah menunjukan pukul 12.00. Sepertinya anggota Star One tengah bersiap untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Aku juga akan bersiap menuju sana. Karena Honey memaksaku untuk pergi dengannya kesana. "Ayolah. Kapan lagi kita pergi shopping bersama lagi? Kau nggak kangen apa sama aku." "Iya tapi aku malas berada dikeramaian." "Tak apa, aku yakin semua akan baik-baik saja. Nanti kau jangan jauh-jauh dariku. Kita aka menghindari rute yang akan dilewati oleh anggota Star One " "Kau mengajakku seperti ini apa nggak ada acara apa dengan keluargamu? Bukannya suami mu baru kembali. Harusnya kau quality timen dulu sama suami dan anak-anakmu." "Aku sudah meminta izin pada suamiku. Dia paham betul dan mengizinkanku pergi. Makanya ayok. Mumpung dikasih izin." Aku bersungut-sungut sebal. Susah sekali menolak permintaan mak-mak yang satu ini. Akhirnya dengan enggan aku menyetujui perminyaannya. "Baiklah kalau kau mau seperti itu. Aku akan pergi denganmu." "Good girl." Ya sudah sana beres-beres. Nanti aku jemput. Tunggu sana di hotel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN