Aku kira dengan mengambil jeda yang lumayan panjang. Suasana rapat bisa lebih kondusif. Ternyata sama saja seperti sebelumnya. Aku tengah memandang perwakilan Tailand dan Jepang yang tengah berdebat. Mereka masih bersikeras mempertahankan pendapat mereka sebelumnya. Sementara peserta lain tetap terpecah menjadi dua kubu. Akhirnya aku pun angkat tangan untuk menyelesaikan permasalahan.
"Saudara sekalian bisa duduk dulu. Saya rasa kita tak perlu melanjutkan lagi perdebatan yang tak berkesudahan ini. Saya sudah mengambil keputusan untuk permasalahan ini. Menimbang semua masukan dan dampak yang akan diterima."
Mereka menuruti ucapanku dan kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Jadi apa keputusan anda madam?" ujar perwakilan Singapura.
"Saya akan mengesahkan undang-undang ini dengan catatan beberapa revisi dalam pasalnya." Aku mengetuk palu untuk menegaskan bahwa keputusanku sudah final. Tampak banyak perwakilan yang mendesah kecewa tapi mereka juga tak menolak. Melanjutkan rapat dan berdebat bukan solusi yang baik.
Keputusan yang aku ambil juga tak sepenuhnya tak mereka setujui. Akhirnya setelah menyebutkan revisi-revisi yang perlu dilakukan untuk undang-undang terbaru. Mereka mengangguk setuju dan rapatpun resmi dibubarkan. Kami menutup dengan foto bersama dan masing-masing mengundurkan diri setelah sedikit berbasa-basi denganku.
"Ternyata rumor tentang anda benar nona. Saya belum pernah bertemu anda secara langsung tapi boss anda selalu memuji anda setiap saat. Saya sangat penasaran ingin bertemu dengan anda. Ternyata kita bertemu di sini," ujar perwakilan Taiwan. Ingatkan aku akan wajah gantengnya. Jika saja aku gemar menghalu aku akan memasukannya ke dalam daftar perhalu-anku.
"Anda terlalu memuji. Saya hanya melakukan semampunya."
"Tidak. Apa yang saya ucapkan adalah benar tulus. Oh iya perkenalkan nama saya Xin Kwan Li." Ia menyodorkan tangannya yang aku terima. Genggamannya sangat erat menandakan dia orang yang tegas dan percaya diri.
"Rana Hana."
"Nona Rana. Bolehkan saya memanggil begitu?" Aku hanya mengangguk.
"Kalau boleh saya ingin bertukar kontak dengan anda. Siapa tahu kita bisa saling bertukar pikiran."
"Tentu." Aku pun mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi chatku kemudian mengarahkan barcode padanya.
"Terimakasih nona Rana. Sebaiknya anda pulang. Tampaknya anda kelelahan sekali. Saya dengar anda masih dalam masa pemulihan akibat kejadian di Indonesia kemaren."
"Anda tahu darimana?"
"Tentu saja saya tahu, seluruh dunia juga tahu. Anda nyaris saja kehilangan nyawa karenanya. Anda juga diberitakan tengah menjalani cuti panjang untuk pemulihan. Tadi saya sedikit terkejut melihat anda yang hadir dipertemuan ini."
"Iya, saya memang tengah cuti panjang. Kebetulan karena saya berada di Singapura dan orang yang menggantikan saya harus melakukan tugas penting lain. Boss meminta tolong saya untuk mengambil alih."
" Hmm. Begitu. Anda termasuk orang yang tak enakan untuk menolak juga ya." Dia menebakku tepat sasaran. Aku hanya tersenyum sedikit menanggapi ucapannya.
"Kalau begitu saya pamit permisi dulu," ujarku.
"Oh tentu, silahkan nona Rana. Berhati-hatilah di jalan." Aku mengangguk hormat kemudian berlalu. Asistenku mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara. Kami sampai di parkiran dan segera meninggalkan gedung pertemuan menuju hotel tempatku menginap.
Aku menerawang memandang jalanan Singapura. Negaranya kecil tapi megah sekali. Aku penasaran bagaimana kehidupan masyarakatnya di sini. Apakah tidak jauh berbeda dengan negara metropolitan lain.
"Nona kita sudah sampai." Aku melirik sekilas ternyata mobil sudah berhenti tepat di depan lobi. Aku memandang Frans yang menjadi asistenku beberapa hari ini.
"Terimakasih untuk bantuannya selama beberapa hari ini. Semoga kita bisa bekerjasama lagi di lain waktu."
"Saya juga berterimakasih sudah diberi kesempatan untuk mengikuti agenda penting seperti ini. Saya belajar banyak dari anda."
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu."
"Baik nona. Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan saat anda kembali nanti. Nikmati liburan anda selama di Singapura." Aku tersenyum padanya kemudian turun dari mobil. Setelah mobilnya meninggalkan hotel aku berbalik menuju kamarku.
Aku naik lift menuju lantai 21. Sekarang sudah pukul 00.00. Hotel terasa sunyi, mungkin karena penghuninya sudah tidur. Aku keluar dari kotak persegi itu setelah bunyi denting menandakan lift sudah sampai ditujuan. Berjalan dengan gontai menuju kamarku. Rasanya badanku benar-benar remuk. Sepertinya enak jika ada yang memijatku.
Aku berjalan menunduk sampai depan pintu kamarku. Bahkan aku tak menyadari kehadiran Sura yang tengah berdiri di antara kamarku dan kamar tetangga. Aku mengeluarkan kartu akses dan segera masuk saat pintu sudah terbuka. Aku kaget karena tiba-tiba ada yang mendorong pintu saat aku akan menutupnya.
"Kau tak melihat kehadiranku?"
"Oppa, astaga sejak kapan kau di sana. Membuatku jantungan saja."
"Aku sudah berdiri di sini dari tadi. Kau bahkan tak melirik sama sekali dari tadi." Dia pun masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Maaf, aku sama sekali tak menyadari keberadaanmu di sana."
"Apa pertemuannya sudah selesai?" Aku mengangguk sembari membuka blazer kemudian duduk di pinggir ranjang. Sura langsung berjongkok di hadapanku. Aku kaget sekali karena dia tiba-tiba menarik kakiku. Ia kemudian melepaskan sepatu yang sudah menyiksaku beberapa hari ini. Perlakuan manisnya itu membuat Jantungku berdebar tak karuan.
"Sudah kubilang, jika memakai sepatu baru kau harus memakai plester luka supaya tumitmu tidak lecet. Padahal tadi sudah diobati tapi kenapa malah seperti ini lagi."
"Aku lupa. Maafkan aku tadi saat mandi aku mencopotnya. Nanti aku obati. Aku ingin mandi dulu."
Sura tiba-tiba bangun dan secara tiba-tiba juga dia langsung menggendongku. Aku menjerit kaget melihat perlakuannya padaku.
"Ya, kau mau bawa aku kemana?"
"Bukannya kau bilang ingin mandi?"
"Aku memang ingin mandi. Tapi aku tak minta digendong olehmu."
"Aku juga tak bilang kalau kau minta digendong," ujarnya datar sembari terus melihatku.
"Oppa turunkan aku." Aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa maluku. Mukaku sudah semerah Tomat. Sura yang melihat hanya tersenyum gemas melihat tingkah Hanna. Ia bahagia sekali melihat gadis itu malu-malu. Ia menurunkan Hanna dengan hati-hati di atas meja wastafel di kamar mandi. Bukannya pergi ia malah mengungkung Hanna dengan kedua lengannya sementara wajahnya menatap wajah Hanna.
Aku tak bisa menahan kegugupanku. Apa yang akan dia lakukan? Sejujurnya aku takut berada di situasi seperti ini. Aku bukan orang polos yang tak tahu hal apa yang bisa terjadi di antara dua orang lawan jenis yang berada dalam satu ruangan yang sama. Aku takut membayangkan hal buruk akan menimpaku kembali. Sementara Sura tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajahku.
"Jadi kau ingin mandi di bawah pancuran atau mandi berendam?"
"Heh?" Aku menatap heran padanya.
"Bukannya kau bilang ingin mandi. Kalau kau ingin berendam aku akan menyiapkannya untukmu."
"Tidak usah oppa. Sudah terlalu larut untuk berendam. Aku ingin mencuci muka saja. Tak ingin mandi. Mendadak rasanya dingin sekali saat sudah di dalam kamar mandi." Aku berkata jujur padanya, sama sekali tak mengada-ada.
" Ya sudah." Dia kemudian meraih pinggangku dengan satu gerakan menurunkanku dari atas meja wastafel. Aku kaget dengan perlakuannya yang tiba-tiba itu. Dia kemudian membalikkan badanku menghadap cermin. Kemudian membuka hijabku. Aku hanya melongo tak percaya melihat tindakannya. Dia kesambet dimana sih?
Sura kemudian mencuci wajahku bahkan memakaikan facial foam. Ia juga membantuku menyikat gigi tak lupa mengeringkan wajah dan tanganku. Sementara aku? Jangan tanya lagi kondisiku seperti apa. Jantungku berdetak tak karuan sedari tadi. Terlebih dia terus memelukku dari belakang. Hangat tubuhnya serasa menenangkan bagiku. Aku ingin terus berada dalam pelukannya.
"Nah sudah selesai. Aku ingin membantumu lebih lanjut tapi kurasa tak mungkin?"
"Heh?" Aku menatapnya bingung.
"Bukannya kau harus mengganti pakaianmu?" ujarnya dengan wajah tak berdosa.
"Oppaaaa," teriakku. Sementara ia hanya tertawa terbahak-bahak. Meninggalkanku sendirian di kamar mandi dengan baju ganti yang entah kapan sudah ada di sana.
Aku keluar dari kamar mandi setelah mengganti baju. Dia mendapatkan baju ini darimana sih? Aku tak merasa punya baju seperti ini. Apa dia meneteng sesuatu tadi saat masuk ke kamar? Aku tak bisa mengingatnya sama sekali. Baju yang kupakai adalah sweater kebesaran yang bahkan menutupi lututku. aku juga memakai celana training. Akhirnya aku memasukkan bajuku ke dalam celana dan menggulung lengan baju yang sangat panjang itu kemudian melipat kerah di leherku.
"Oppa kau yang membawakan baju ini?" Aku bertanya pada Sura yang sudah duduk di sofa. Dihadapannya ada bermacam hidangan yang aku yakin baru saja diantarkan oleh pelayan hotel. Hidangannya banyak sekali. Apa dia berencana untuk menghabiskan semua itu malam ini? Aku menyusul duduk disebelahnya.
"Aku membelikannya untukmu. Apa kau suka?"
"Kapan kau membelikannya? Aku suka, tapi heran kenapa kau selalu memberiku baju yang kebesaran seperti ini?" Aku langsung teringat baju yang dia pinjamkan saat pertama kali bertemu dulu. Aku menepuk jidat sendiri.
"Kenapa kau menepuk jidat seperti itu?"
"Aku baru ingat kalau baju yang kau pinjamkan saat kita pertama bertemu dulu belum kukembalikan."
"Untukmu saja."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Terimakasih. Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku." Sura menatapku kemudian menyuapkan nasi untukku. Dia juga menyuapkan lauk padaku.
"Pertanyaan yang mana?" Aku memandangnya dengan gemas.
"Kenapa kau suka sekali memberiku baju kebesaran seperti ini?" Susah payah aku akhirnya mengucapkannya karena mulutku penuh dengan nasi.
"Karena aku tak suka jika kau berpakaian sexi di depan orang lain."
"Memangnya aku pernah berpakaian seperti itu di depan orang?"
"Tidak dan tak boleh." Aku memutar bola mata sebal padanya. Mulai lagi sikap posesifnya yang tiba-tiba itu. Sura selalu begitu, sikapnya sering membuatku tak bisa berkata apa-apa.
"Jadi, ah nggak jadi deh. Aku sudah tahu jawabannya."
"Kau mau bertanya apa memangnya?"
"Jadi oppa akan menginap lagi di sini malam ini?"
"Tentu saja."
"Dan aku tak bisa mengusirmu pergi?
"Jadi kau mau mengusirku?"
"Terserahmu deh oppa. Mau menginap di sini. Mau menginap di balkon, di kamar mandi, di dapur pun bebas."
"Kenapa kau kesal begitu?"
"Ih pakai acara nanya lagi."
"Sudah, sudah. Habiskan dulu makanannya baru kita gelut lagi."
"Astagah. Kau benar-benar sesuatu."
"Kau ingin melihat sesuatu yang lain dari diriku?"
"Apa memangnya?" Aku memandangnya dengan penasaran.
"Misalnya saat aku merayumu."
"Oppaaa," teriakku padanya. "Kau kepentok dimana sih?"
"Kau malah mendoakanku."
"Aish, sudahlah. Terserahmu saja."
"Oke kalau begitu aku mau tidur sambil memelukmu malam ini." Aku memandanginya dengan wajah sengit.
"Haha, aku hanya bercanda. Kau serius sekali."
"Tapi kenyataannya tetap saja saatku terbangun. Kau selalu memelukku. Aku nggak suka oppa."
"Jadi kau tak suka berada dipelukanku?"
"Aish,-" Aku tak bisa menjawab. Atau lebih tepatnya aku adalah orang yang sama sekali tak bisa berbohong. Jadi aku tak bisa berkata apa-apa padanya.
"Nah, kau sendiri suka kan berada dalam pelukanku."
"Aku, aku." Mendadak mukaku terasa merah sekali. Aku benar-benar mau karena ketahuan olehnya. Munafik sekali jika aku tak suka berada dipelukannya.
"Sudah, tak usah dikatakan. Ayo makan lagi." Kami pun makan sampai semua hidangan tandas. Sura kemudian membersihkan peralatan makan dan mengumpulkannya di pantry.
"Ini susumu." Sura kemudian menyerahkan segelas s**u yang aku terima. Aku pun meminumnya hingga tandas.
"Oppa besok ada kegiatan apa?"
"Besok kami seharian akan syuting di hotel. Kalau kau bagaimana? Apa berencana keluar dan menemui temanmu lagi?"
"Sepertinya aku juga hanya akan di hotel saja. Honey sepertinya tengah menghabiskan waktu dengan keluarganya. Mumpung suaminya masih di rumah."
"Memangnya apa pekerjaan suaminya?"
"Suaminya seorang pilot pesawat."
"Wah, pasti jarang juga ya di rumah."
"Ia. Dia sendiri di rumah merawat anak-anaknya sembari bekerja."
"Apakah kau tetap berencana akan bekerja nanti saat sudah menikah?" Aku kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Sura.
"Kamu kok malah bahas aku sih?"
"Aku kan ingin tahu."
"Hmm. Aku mungkin akan di rumah saja. Aku ingin melihat perkembangan anakku setiap hari. Aku ingin anakku mendapatkan perhatian terbaik dari diriku nanti."
"Kau kan selalu sibuk bekerja seperti ini. Apakah kau tak akan merasakan kesepian nanti kalau tak bekerja?"
"Aku memang sering memikirkan kemungkinan itu. Makanya mungkin nanti aku akan mencoba belajar menulis lagi. Supaya aku tetap bisa bekerja, di rumah dan mengawasi keluargaku."
"Good. Kau di rumah saja. Tak perlu kerja di luar lagi. Kau bisa mulai menulis." Aku memandang Sura penuh arti.
"Kau menyuruhku di rumah seolah kau mau menafkahiku saja. Aku adalah gadis yang terbiasa bekerja dan punya uang sendiri. Berhenti bekerja dan tak memiliki penghasilan akan membuatku tak tahan. Aku tak mengandalkan uang dari suamiku saja nanti. Bagaimana kalau ternyata gaji suamiku juga pas-pasan. Aku tak akan bisa membeli cemilan sepuasnya kalau tak bekerja sendiri."
Sura tertawa mendengar jawaban Hanna. Dia kira gadis itu tak mau berhenti bekerja karena takut tak bisa belanja dan shopping. Ternyata dia takut berhenti bekerja hanya karena takut tak bisa belanja cemilan. Dia memang gadis unik. Sura sudah melihatnya semenjak bertemu Hanna.
Gadis itu tak pernah memakai pakaian bermerek. Semua yang dia pakai biasa saja. Prinsipnya sepertinya asal membuat nyaman saja. Dia juga tinggal di apartemen sederhana. Padahal Sura yakin kalau Hanna mempunyai uang yang lebih dari cukup untuk meladeni gaya hidup mewahnya sehari-hari. Tapi gadis itu tak melakukannya. Dibilang pelit, dia juga sama sekali tak pelit terhadap orang lain. Bahkan ia pernah mendengar percakapan anggota staff stasiun TV dulu yang tengah kesulitan uang. Hanna langsung memberikannya uang begitu saja tanpa bertanya lebih lanjut. Gadi itu benar-benar baik dan sangat sederhana.
"Kau bisa menikah denganku nanti. Aku akan membelikanmu cemilan sepuasnya." Hanna tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Sura.
"Dasar tukang gombal."
***