Mataku tak bertahan lama meskipun aku tertawa terus sedari tadi. Usai makan aku tak membantu mereka membereskan meja. Aku langsung berjalan menuju kursi pijat yang tersedia di sudut ruangan yang menghadap jendela. Aku langsung menghempaskan pantatku dan bersender. Baru beberapa detik mataku langsung terpejam.
"Hanna kemana?" ujar manager.
"Loh, tadi kan nuuna ada di sini." Jeno memandang berkeliling dan menemukan Hanna tengah tidur di kursi pijat.
"Itu dia orangnya."
Sura yang baru saja kembali ke dapur langsung berjalan menuju Hanna. Ia mendekat untuk memastikan apakah Hanna benar-benar tidur atau tidak.
"Dia tidur?" tanya manager. Sura pun mengangguk mengiyakan.
"Lebih baik dibawa saja ke kamar. Di sini kurang privasi soalnya. Kita juga ada syuting di sini."
Sura mengangguk menyetujui usulan manager. Dia pun segera menggendong Hanna ala bridal style. Untung saja untuk menuju kamar mereka tak perlu keluar lorong. Karena memang ruangan tempat mereka sekarang seperti sebuah apartemen. Kamarnya saling terhubung dengan ruangan ini. Jadi ada dua pintu di kamar. Satu pintu keluar menuju lorong hotel satu pintu menuju tempat ini. Setiap kamar akn diberikan kunci akses menuju tempat ini jika memang yang memesan masih orang yang sama.
Sura segera masuk ke kamar yang ia dan Jacop tempati. Tak mungkin untuk membawa Hanna kembali ke kamarnya di lantai 21. Bisa-bisa mereka dipergoki di tengah jalan. Ia segera membaringkan Hanna di tempat tidur. Melepaskan sepatu heelsnya dan membuka blazernya. Kalau saja gadis itu sadar dia pasti sudah menghadiahkan sebuah bogem mentah untuknya karena telah lancang membuka bajunya.
Sura memerhatikan kaki Hanna yang terlihat lecet dan terluka akibat memakai sepatu tinggi. Ia mendesah berat kemudian mengambil kompresan dan kotak obat. Dengan telaten ia mulai mengobati Hanna. Berusaha agar gadis itu tak terbangun. Tapi sepertinya dia tak akan terbangun karena tampaknya Hanna nyenyak sekali tidurnya. Ia bahkan tak bergerak sama sekali dari tadi.
"Kalau nggak bisa memakai sepatu tinggi, jangan dipaksakan," ujar Sura lirih.
"Aku juga nggak mau pakai sepatu tinggi." Sura kaget mendengar jawaban Hanna. Dia langsung mendongak melihat gadis itu. Tapi matanya tetap terpejam. Sepertinya dia hanya mengigau. Ia memandang Hanna dengan gemas kemudian melanjutkan pengobatannya ke kaki Hanna. Setelah selesai ia pun duduk di tepi tempat tidur dan mengusap-usap rambut Hanna. Ia tadi juga mencopot jilbab Hanna.
"Jadi kamu kerja apa saja tiga hari ini? Apakah tidak lelah? Bukannya kamu tengah cuti panjang. Kenapa kamu tak menolak saja permintaan bossmu itu?" Sura terus nengoceh kepada Hanna yang tengah tertidur.
"Kamu belum sembuh sepenuhnya. Harusnya kamu beristirahat. Sepertinya pilihanku membawamu ke Singapura adalah salah."
"Oppa, kamu ngapain ngomong sendiri dari tadi. Aku lagi males ngomong." Sura menatap Hanna yang tiba-tiba menjawab pertanyaannya dengan mata terpejam. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Hanna hingga jarak antara mereka tinggal 5 cm saja.
"Kau tidak tidur?"
"Aku tidur."
"Lalu mengapa kau menjawab terus dari tadi?"
"Oppa juga ngapain berbicara sendiri dari tadi. Aku mengantuk dan malas untuk menjawab pertanyaanmu di mimpiku." Sura tertawa gemas melihat Hanna. Ternyata dia benar-benar mengigau dan lucunya bisa nyambung menjawab ucapannya. Mengingat ia juga seperti itu kemaren membuat dia tersenyum. Apa kita memang jodoh makanya bisa kompak seperti itu. Sura pun kemudian berbaring di sisi Hanna dan membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Sudah, tidur dulu. Jangan mimpi yang macam-macam." Sura menepuk-nepuk lengan Hanna sampai ia tertidur sendiri. Untung saja dia tak ada jadwal syuting sampai nanti malam. Jadi tidak masalah jika dia tak kembali ke ruang makan.
***
Aku mengerjap berusaha untuk membuka kedua kelopak mataku. Rasanya masih ingin tidur tapi aku rasa sudah sangat lama tidur dan masih ada rapat yang harus diselesaikan. Setelah bersusah payah membuka kedua kelopak mataku. Hal pertama yang aku lihat adalah d**a bidang seseorang. Aku sedikit kaget dan baru sadar jika tubuhku tengah berada dalam pelukan seseorang yang aku yakini adalah Sura. Aku bisa mengetahuinya dari parfum yang tercium di hidungku.
Aku mendongak melihat ke arah Sura. Dia tengah tertidur nyenyak. Aku ingin beranjak dari pelukannya tapi enggan. Pelukannya sangat nyaman sekali. Aku ingin berlama-lama dalam dekapannya. Aku mendengar suara detak Jantung Sura yang tepat berada di bawah telingaku. Suaranya terdengar stabil dan sedikit keras.
Aku memandang jari-jari Sura yang tengah memegang lenganku. Aku ingin menyentuhnya tapi takut akan membangunkannya. Dengan hati-hati aku membalikkan badanku agar bisa memunggunginya untuk melihat jam. Masih pukul 16.30. Sepertinya aku baru tidur satu jam saja karena aku ingat sekali kami menyelesaikan makan pukul 15.30. Aku kira sudah jam berapa? 'Apa sebaiknya aku tidur lagi saja ya? Lumayan jika aku bisa tidur satu jam lagi. Nanti tinggal mandi dan bersiap berangkat ke gedung pertemuan.
Aku yang tengah melamun dikagetkan oleh Sura yang sudah memeluk pinggangku dari belakang. Bahkan dia menarikku dalam pelukannya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku. Ia juga meletakkan kakinya di atas kakiku. Apa dia mengira aku guling. Aku ingin membebaskan diri darinya tapi tidurnya nyenyak sekali. Aku merasa tak enak untuk mengganggu. Terlebih ia malah memelukku lebih erat lagi. Aku membiarkannya begitu dan kemudian ikut tidur.
***
Sura terbangun sembari memandang Hanna yang tengah memunggunginya. Ia pun segera mendekat dan memeluk perutnya serta mengunci kakinya ke atas kaki Hanna. Ia juga menyurukkan kepalanya di ceruk leher Hanna. Ia tak ingin berpisah sedikitpun dari gadis itu. Rasanya menenangkan sekali bisa terus berada di dekat gadis itu. Setelah itu ia kembali melanjutkan tidurnya.
'Apakah kita tak bisa berlama-lama seperti ini? Aku ingin berada di sisimu terus setiap hari.'
***
Aku terbangun dengan tubuh lebih segar. Tak ada Sura lagi di tempat tidur. Sepertinya dia sudah pergi berangkat syuting. Aku bergegas memakai jilbab kemudian keluar kamar menggunakan pintu yang langsung terhubung ke lorong. Berhati-hati agar tak ada orang yang memergoki. Kemudian langsung menuju kamarku di lantai 21.
Aku segera bergegas mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Frans yang dia berikan sebelum aku turun dari mobil. Untung saja Sura membawanya ke kamar tempatku tidur tadi bersama dengan tas dan ponselku. Jadi aku tak perlu kembali ke ruang tempat makan tadi untung mengambil barang-barangku.
Aku mengganti pakaianku dengan pakaian baru. Modelnya tak jauh berbeda dengan baju yang aku kenakan sebelumnya. Hanya saja kali ini kemejanya bewarna putih dan jilbabnya bewarna hitam. Aku segera memakai sepatu heelsku dan bergegas turun ke lobby dimana Frans sudah menunggu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Setengah jam lagi rapat akan dilanjutkan.
"Anda sudah siap nona?" sambutnya saat aku keluar dari pintu masuk hotel. Aku mengangguk kemudian bergegas masuk ke mobil.
"Istirahat anda cukup?"
"Lumayan untuk menjernihkan pikiranku kembali."
"Syukurlah. Semoga kita bisa segera mengambil keputusan dan menyelesaikan pertemuan ini."
"Semoga saja. Aku berharap mereka tidak bertengkar lagi nanti."
"Iya nona. Saya juga berharap seperti itu." Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara kami. Aku mengunci mulutku sampai kami tiba di gedung pertemuan. Aku mengedarkan pandangan ke jalanan yang kita lewati. Tiba-tiba saja aku teringat Sura. Kemudian aku membuka ponsel dan mandapati pesan darinya.
"Kau sudah berangkat?"
"Sudah, ini masih di jalan."
"Kenapa tak memberi tahuku?"
"Hehe maaf oppa. Tadi aku sedikit terburu-buru."
"Jangan lari-lari. Kakimu itu sudah lecet karena sepatu tapi tetap saja lari-lari seperti itu."
"Arasso. Aku tidak telat kok. Jadi aku akan berjalan normal nanti. Oppa tidak syuting?"
"Ia, ini aku tengah menunggu giliran. Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Good luck."
"Siap oppa. Semangat juga kerjanya." Aku mengakhiri chatingan dengan Sura tepat saat kami sampai di hotel. Aku pun turun kemudian berjalan menuju ruang pertemuan. Sementara Frans mengikutiku dari belakang.
***