Jeda

1938 Kata
Aku merasa pusing tujuh keliling. Bukan karena apa-apa? Ini sudah hari ketiga pertemuan, tapi perdebatan antara anggota musyawarah belum menemukan titik terang. Setiap orang bersitegang ingin mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sementara kami hampir tidak tidur selama tiga hari ini. Aku merasa de javu kali ini. Ini seperti kejadian sebelum aku tumbang untuk pertama kalinya di Korea. Tidak lucu jika aku juga tumbang kali ini. Bisa-bisa aku tak akan bangun untuk selamanya. "Tidak bisa, kau harus lihat sendiri bagaimana keadaan rakyatnya di sana. Jika kau memaksakan kehendak untuk mendesak pimpinan partai mengesahkan undang-undang. Otomatis, keadaan perempuan akan semakin terdesak," ujar salah satu perwakilan negara Thailand. "Yang benar saja. Kalau kita tidak mendesak partai untuk mengesahkan undang-undang, justru hal tersebut yang akan membahayakan keadaan perempuan di sana," balas salah satu perwakilan negara Jepang. Aku pusing melihat mereka berdua. Dari awal pertemuan, mereka berdua paling sering bersitegang dan tidak terima dengan pendapat satu sama lain. Sementara perwakilan dari negara lain cenderung memihak salah satu dari mereka. Hingga terciptalah dua kubu yang saling berlawanan dalam kelompok rapat. Aku berkali-kali menghembuskan nafas kasar. Kondisiku belum sepenuhnya stabil. Sementara pertemuan kali ini sangat menguras tenaga dan emosi. Di satu sisi aku paham dengan pendapat yang menyetujui disahkannya undang-undang. Di sisi lain aku juga tidak menyetujui. Bukan bagaimana, keduanya saling memberikan dampak yang negatif. "Sebaiknya pertemuan kita jeda dulu," ujarku akhirnya mengetengahi perdebatan mereka. Semua orang langsung memandangku saat mengeluarkan interupsi. "Sepertinya iya. Kita sudah tiga hari berada di sini. Jeda hanya untuk tidur dan makan. Kita terus berdebat tanpa henti. Bukannya menghasilkan solusi yang ada malah membuat kita menemukan jalan buntu." Salah satu perwakilan negara Korea menyetujui usulanku. "Baiklah. Sepertinya usulan bu ketua benar. Kita harus mengambil jeda sejenak. Dari awal kita terus berdebat tanpa henti," ujar perwakilan Thailand mengalah. Semua orang yang hadir setuju. "Baiklah kita kembali lagi setelah makan malam. Aku harap semua orang kembali dengan pendapat masing-masing yang lebih masuk akan dan netral. Kita mengadakan pertemuan ini untuk mencapai titik terang, dan menenukannsolusi untuk permasalahan yang terjadi. Bukan untuk mementingkan pendapat kita masing-masing." Aku pun segera berdiri dan mengangguk pada semua orang yang hadir. Kemudian berlalu pergi. Sekarang masih pukul 14.00, masih ada banyak waktu sampai makan malam nanti. Aku ingin sekali pulang ke hotel tempatku menginap dan Star One. Aku ingin beristirahat. Badanku rasanya tak karu-karuan. Selama dua hari hanya tidur sebentar setiap harinya dan itu pun di kamar istirahat di gedung pertemuan yang disediakan oleh panitia. Jangan berfikiran bahwa setiap pertemuan, kami akan beristirahat di hotel mewah. Tak semua seperti itu. Jika keadaan mendesak ataupun acara lebih padat dari seharusnya tak jarang kami harus tidur dimana saja. Tak ada yang protes, karena kami adalah anggota kemanusiaan bukan wakil rakyat. "Anda berencana kemana nona?" ujar asisten yang menemaniku selama pertemuan di sini. "Aku ingin kembali ke hotel, beristirahat dan mengganti pakaian juga. Sepertinya penampilanku sudah tidak karuan lagi selama beberapa hari ini," ujarku sedikit bercanda. "Kalau begitu biar saya antarkan." Aku mengangguk saja sembari berjalan ke arah parkiran. Tak ada niat untuk menolak tawarannya. Bukannya lebih cepat jika dia mengantarkanku ke hotel. Aku menerawang memandang jalan raya. Tiba-tiba saja aku teringat ponselku. Sudah tiga hari aku mengacuhkan ponselku. Bahkan aku belum mengabari Sura sama sekali. Setelah terakhir kali kami melakukan panggikan video call. Entah mereka masih di sini atau tidak? Harusnya mereka masih di sini. Karena jadwal pulangku ke Korea dan mereka memang disamakan dari awal. Aku juga tidak tahu jadwal mereka untuk hari ini apa? Apakah mereka sedang beristirahat di hotel atau bagaimana. "Sudah sampai nona," ujar asistenku bernama Frans itu memutus lamunanku. Aku segera keluar mobil setelah mengucapkan terimakasih. Aku kemudian berjalan menuju lift langsung memencet tombol 21. Benda persegi itu membawaku menuju lantai 21. Mataku terasa berat sekali, aku sampai terakuk-akuk beberapa kali karena saking mengantuknya. Aku keluar dari lift saat benda persegi itu berhenti di lantai 21. Aku keluar tepat dengan kedatangan anggota Star One yang berniat untuk masuk lift. "Loh, Hanna-si mau kemana?" Aku yang masih setengah terpejam mengangkat wajah menuju sumber suara yang aku kenal sekali itu adalah suara Jacop. Semua member lain langsung melihatku. Di sana juga ada manager mereka. "Ah, oppa. Kalian mau kemana?" Aku salah turun lantai ya. Kenapa kalian dari lantai ini?" Aku berniat untuk masuk kembali tapi tanganku di tahan oleh Sura. "Tidak. Kami memang tadi kesini untuk memanggilmu mengajak makan bersama. Kau sudah pulang? Kau kemana saja berapa hari ini? Tak pernah mengangkat teleponmu? Sura memberondongku dengan banyak pertanyaan yang seperti angin lalu di telingaku. Mataku mengantuk sekali. "Ah, eh. Maaf, aku sibuk rapat jadi tak mengecek ponselku." Sura langsung menarikku mengikuti mereka ke lantai tempat mereka menginap. Aku mengikut saja dan kembali masuk ke dalam lift. Aku berdiri di pojok belakang persis di belakang Sura. Rasanya perjalanan menuju lantai 30 lama sekali. Aku sampai menopangkan kepalaku ke punggung Sura dan tanpa sadar Kemudian tertidur. "Sepertinya nuuna lelah sekali," ujar Jeno sembari melirik Hanna "Dia sepertinya kurang tidur dan terlihat kacau sekali," ujar Rein. "Biarkan dia makan dulu setelah itu suruh dia beristirahat,"ujar manager. Aku kaget saat lift berhenti di lantai 30. Sura berbisik pelan di telingaku. "Kau mau aku gendong ke kamar?" Mataku langsung membelak kaget dan memandangnya. Dia hanya tersenyum melihatku. "Oh, eh nggak usah oppa." Aku segera mengikuti mereka ke ruang khusus tempat kami biasa makan bersama maupun jika ingin masak. Sepertinya ini adalah ruangan khusus VIP yang ingin memiliki privasi. Saat sampai Sura langsung menarik kursi dan mendudukanku di sana. Aku menurut saja, melihat dia mengambilkan nasi untukku sementara Jun memberikanku s**u. Aku langsung meminumnya. "Kau tampak kacau sekali Hanna," ujar Vlo. "Aku mengantuk sekali oppa," rengekku. "Mataku tak bisa melek sama sekali." Aku memandangnya dengan mata hampir terpejam. "Kau tidur berapa jam berapa hari ini?" ujar Jeimin. "Entahlah, aku rasa 2 jam perhari." "Kau tidur dimana?" ujar manager. "Di ruang istirahat di gedung pertemuan." "Memangnya mereka tak menyediakan hotel?" "Ada. Hanya saja masing-masing perwakilan kebanyakan mendapatkan hotel yang jauh dari gedung pertemuan sehingga akhirnya kami tidak pulang. Tidak cukup waktu untuk pulang hanya untuk sekedar tidur. Panitia menyediakan banyak kamar istirahat di gedung pertemuan. Lagipula tak ada waktu untuk tidur." "Jadi sekarang pertemuannya sudah selesai?" ujar Jeno. "Belum. Mereka terus berdebat panjang yang membuatku pusing. Aku menjeda pertemuan sampai setelah makan malam. Jika terus dilanjutkan dengan kondisi mereka yang kelelahan. Bisa-bisa terjadi baku hantam nanti." Aku sedikit tertawa. Sementara Sura sibuk memasukkan lauk ke dalam piringku. "Ayo cepat makan, jangan ngobrol terus. Setelah ini tidur," ujarnya menginterupsi. Aku menurut saja. Sementara itu member lain sibuk makan sembari tertawa. Aku juga ikut tertawa melihat mereka. Ada saja tingkah konyol mereka yang membuat perutku sakit karena kebanyakan tertawa. "Kau ingat saat Vlo mencoba untuk membuka tutup botol minumannya?" ujar Jun. "Tapi tutup botolnya malah menghantam hidungnya sendiri." Jeimin langsung tertawa ngakak mengingat kejadian yang menimpa Vlo. "Hyung sampai menangis gara-gara tutup botol." Jeno mengejek-ejek Vlo. "Benarkah?" ujarku. "Ia, dia langsung mengadu pada Sura," ujar Jun. Kami tertawa tak henti-hentinya. "Trus apa kata Sura Oppa?" "Dia hanya mempuk-puk hidung Vlo kemudian pergi." Aku semakin tertawa mendengar jawabannya. Astaga, mereka konyol sekali. Bagaimana bisa Vlo menangis hanya karena tutup botol. Mereka memang benar-benra lucu. Tak salah jika setiap saat tawa mereka meledak kemana-mana. "Ejek aja terus," ujar Vlo tak terima. "Hahaha. Kau benar-benar lucu oppa." Aku memegang perutku yabg terasa begah karena kekenyangan dan juga kebanyakan tertawa. "Bahagia sekali kau melihatku menderita Hanna." "Hihi, mianne. Habisnya kau lucu sekali." "Tapi kau tahu. Ada yang lebih lucu lagi selain persoalan tutuo botol?" "Apa?" Aku memandangnya dengan penuh penasaran. "Sura Hyung masak sambil tidur tengah malam kemaren hanya karena kau tak bisa dihubungi. Aku sampai kaget saat mendengar suara ribut di dapur. Saat kucek ternyata itu Sura oppa. Bisa-bisanya dia memasak dengan mata terpejam seperti itu. Herannya waktu kutanya dia bisa menjawab tapi matanya tetap terpejam." "Banarkah?" "Ia aku tanya, kau masak apa hyung? Dia bilang, dia masak telur orak-arik untuk Hanna. Katanya kau sudah kembali dan sangat kelaparan sekali. Aku sampai merinding saat mendengar ucapannya. Karena aku sama sekali tak melihat keberadaanmu di sini. Terlebih dia juga masak dalam keadaan mata terpejam. Tapi kompornya tak dihidupkan. Dia hanya mengaduk terus kemudian duduk di meja makan dan tidur." Tawaku meledak saat mendengar cerita Vlo. Sementara Jun dia sudah menangis karena tertawa terus. "Benar banget. Aku sampai kaget saat bangun subuh-subuh mendapati teflon berisi telur di atas kompor dan Sura tertidur di meja makan," ujar Jun. "Dan kau tak membangunkannya semalam oppa?" tanyaku pada Vlo. "Tidak, aku keburu kabur duluan karena takut melihatnya." Aku tertawa mendengarnya. Untung saja Sura tak menghidupkan api ataupun memakai pisau. Kalau sampai hal itu terjadi bisa-bisa dia terluka. Vlo tetap memastikan dia tetap tak berbuat yang aneh-aneh sebelum meninggalkannya sendiri. "Kau jahat meninggalkannya seperti itu. Kenapa nggak dibangunkan saja sih?" "Aku sudah mencobanya tapi dia malah mengajakku ngobrol." Aku tak bisa membayangkannya sama sekali. Bagaimana semua itu bisa terjadi. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bukannya semalam aku sangat ingin makan telur orak-arik? Ah, tapi ini nggak mungkin. Pasti cuma pikiranku saja. Aku menepis kemungkinan itu. Semua cuma kebetulan. "Oppa, apa kau benar-benar tak sadar saat itu?" Aku memandang Sura dengan penasaran. "Aku tak tahu. Saat bangun aku kaget sudah berada di dapur saja." "Lalu Jun oppa juga tak membangunkan Sura oppa?" Aku bertanya pada Jun. "Tidak. Aku kira dia bangun dan tidur di sana karena kelaparan. Ternyata malah karena tidur dari semalaman di sana. Makanya aku hanya buru-buru memasak supaya dia bisa makan." "Aku masih tak bisa membayangkannya. Kok mengerikan ya. Jangan-jangan Sura oppa benar-benar melihat seseorang yang mirip denganku kemudian ke dapur dan masak untuknya." Aku melirik Vlo yang sedari awak sudah ketakutan. Dia memandangku dengan sebal. "Aku nggak dengar. Aku nggak dengar," teriaknya. Aku dan yang lain langsung tertawa terbahak-bahak melihatnya. "Astaga. Kau penakut sekali oppa. Lagian mana mungkin hal itu terjadi. Kau malah percaya begitu saja." "Lalu kenapa hyung bisa seperti itu?" "Kali aja dia bermimpi lalu dalam mimpinya bertemu denganku dan aku meminta dia untuk memasak telur orak-arik." "Benarkah bisa seperti itu?" "Aku mengangguk mantap pada Vlo." Dia tampak mendesah lega mendengar ucapanku. Aku berusaha menahan tawa sembari melirik member lain. Jeno yang usil pun tiba-tiba memakai topeng menyeramkan dan mendekati Vlo. Vlo yang tak menyadari kehadiran Jeno masih berusaha untuk bersikap normal. "Oppa, aku ingin dimasakkan spagetti." Bisiknya dengan menyeramkan di belang Vlo. Vlo yang kaget langsung menoleh tapi tak mendapati siapapun. Sementara Jeno langsung menunduk bersembunyi. Aku dan yang lainnya berusaha bersikap seperti biasa. "Kalian mendengar suara perempuan nggak sih?" Vlo memandangi kami? "Suara perempuan? Suara perempuan apa? Hanya ada aku kan perempuan di sini. Stylish nuuna dan yang lain tengah keluar." "Benarkan kalian tak mendengar suara perempuan?" Kami kompak menggeleng. Vlo berusaha untuk melupakannya kemudian melanjutkan makan. Jeno kembali berdiri dan berbisik lagi di telinga Vlo. "Oppa kenapa kau tak memasakkannya untukku?" Vlo langsung menoleh dan berteriak kaget saat mendapati topeng wajah menyeramkan tepat menghadapnya. "Aaa." Dia berteriak histeris kemudian mendorong Jeno dan berlari meninggalkan kursinya. Dia mendekat ke arah Sura dan mengadu. "Hyung. Disana." Dia menunjuk-nunjuk ke arah Jeno. Tanpa memikirkan sama sekali jika itu adalah Jeno. Dua terus berteriak tak karuan. "Hanna." Dia juga mengadu kepadaku nyaris hampir menangis. Aku yang tak tega melihatnya langsung saja menghentikan permainan. "Sudah, sudah. Kau tak perlu takut begitu. Itu hanya Jeno yang memakai topeng." "Benarkah?" Dia melepaskan rangkulannya pada Sura. "Benar. Jeno buka topengmu. Kasian tu oppa." Aku tak bisa menyembunyikan tawaku lagi. Aku pun terkikik saat melihat ekspresinya. Jun sudah memukul-mukul meja karena tak kuat lagi tertawa. Begitu juga yang lain. Sura hanya diam saja. Sementara Vlo bersungut-sungut kesal karena merasa dikerjai. "Kalian jahat. Malah mengerjaiku seperti itu." "Habisnya kau penakut sekali oppa. Masak percaya kalau yang begituan ada. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN