Bukan Cuti Panjang

1763 Kata
Liburanku di Singapura tak berjalan semulus yang kuharapkan. Sura dan anggotanya sibuk syuting setelah selesai konser. Sementara aku? Aku sibuk dengan pertemuan-pertemuan gara-gara bossku mendadak meminta tolong untukku bekerja kembali di tengah cuti panjangku. Dia mengetahui aku tengah berada di Singapura. Tepat sekali karena di sini tengah diadakan pertemuan penting yang membahas isu terkait kekerasan yang terjadi di salah satu negara Asia. Sedangkan orang yang ditunjuk untuk menggantikanku tidak terlalu bisa menghandle pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Bukan karena tidak mumpuni tapi karena terlalu banyak pekerjaan yang biasanya aku handle dalam sekali waktu. Dia belum terbiasa dan tak bisa melakukan semua langsung sekaligus. Memang bossku seperti itu dia tipikal orang yang menginginkan kami mempunyai jurus seribu bayangannya Naruto. Jadi bisa langsung mengerjakan semua dalam waktu yang bersamaan . Makanya siang ini saat tengah makan siang dengan anggota Star One di kamar mereka, aku harus meladeni permintaan bossku. "Hanna. Kamu apa kabar?" ujarnya basa-basi "Sehat boss. Ada apa? Aku langsung to do point, karena aku yakin sekali dia menelepon pasti ada maunya. "Begini. Aku bukannya mau mengganggu cuti panjangmu. Tapi aku janji kali ini saja. Aku minta tolong." "Minta tolong apa boss?" "Minta tolong menghadiri pertemuan di Singapura bersama dengan Uniceff cabang Asia dan juga bersama Menteri. Orang yang aku minta menggantikanmu tengah ada tugas lain dan dia tak bisa secepat kamu dalam menyelesaikan tugasnya. Jadi dia tak bisa menghandle pertemuan penting ini. Aku juga ada pertemuan penting di Berlin. Sementara yang lain masih sibuk di kawasan konflik." Aku menghembuskan nafas berat. "Kapan memangnya boss?" "Pertemuannya dimulai siang ini sampai dua hari kedepan." Aku tersedak air minum saat mendengar ucapannya. "Kau gila?" teriakku tiba-tiba. Member Star One sampai mmkaget mendengar aku berteriak. Sura menepuk-nepuk lembut punggungku untuk meredakan sakit akibat tersedak. "Ini sudah siang dan kau minta aku untuk menghadiri pertemuan siang hari?" Aku mengoceh terus dalam bahasa Inggris. "Aku tahu. Aku sudah gila. Aku sudah mengatakan kau akan terlambat. Pertemuannya akan dimulai dalam 30 menit lagi. Kau bisa datang terlambat. Tak masalah." "Mwo?" Aku kembali berteriak. "Dalam tiga puluh menit. Gila, aku bahkan tidak tahu apa yang akan dibahas dalam pertemuan ini. Parah kau boss. Kenapa tak memberi tahuku dari kemaren." "Aku tahu. Aku kira kemaren penggantimu bisa mengikuti acara hari ini. Tapi ternyata karena tugasnya yang lain tertunda semua jadi molor dan sekarang malah kacau. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Tidak mungkin untuk membatalkan acara secara tiba-tiba. Makanya aku mohon padamu. Tolong bantu aku kali ini. Aku sudah menugaskan orang untuk menjemputmu dan juga menyiapkan bajumu." "Ye.. ye?" Aku bingung dengan maksud ucapannya. Belum selesai kebingunganku tiba-tiba manager masuk sembari membawa beberapa totebag. Dia menyerahkan padaku. "Apa ini manager?" "Katanya untuk kamu. Titipan dari si boss." Aku menerima dengan kesal. "Oke. Katakan padaku apa yang harus kulakukan dalm waktu tiga puluh menit ini." "Kau hanya perlu berganti pakaian secepat mungkin. Berangkat dengan orang yang membawakan pakaianmu. Membaca materimu di atas mobil dan mengikuti pertemuan." "Shiit." Aku mengumpat dengan kasar. Sura dan yang lain sampai kaget mendengarku mengumpat. Mereka belum pernah melihatku berbicara kasar. Tapi aku biasa mengucapkannya kalau tengah hilang kendali pada bossku ataupun teman-teman kerja di New York. Mereka hanya menganggap itu hal biasa karena tahu kalau aku tidak bersungguh-sungguh dengan umpatanku. Aku langsung mematikan panggilan dan berlalu ke kamar mandi. Tak memedulikan tatapan heran dari orang-orang yang berada dalam ruangan. Secepat kilat aku berganti pakaian. Sedikit berdandan. Jangan bayangkan aku berdandan memakai make up. Aku hanya memakai sedikit bedak tabur agar muka ku tak terlalu kusam dan memoleskan lipgloss. Kemudian memakai jilbab berwarna biru yang senada dengan kemeja biruku. Sementara rok dan blazerku bewarna hitam. Aku mengumpat lagi melihat sepatu tinggi yang harus kukenakan. Ingatkan aku untuk mengomeli orang yang ditugaskan untuk membelikan pakaianku. Mengapa dia memberiku sepatu hak setinggi 10 cm. Memangnya aku mau pergi melakukan peragaan busana apa? Aku mematut diri sekilas. Sudah 10 menit berlalu, artinya aku hanya punya sisa waktu 20 menit lagi. Aku bergegas keluar sedikit berlari. Dengan kasar membuka pintu kamar mandi yang menyebabkan semua perhatian langsung tertuju padaku. Aku tidak peduli, yang perlu kulakukan adalah berlari secepat mungkin ke mobil agar aku bisa segera membaca materi untuk siang ini. "Hanna, kau mau kemana?" Jun bertanya padaku. Aku berhenti dan langsung meliriknya. Nyaris saja terjengkang oleh sepatu yang dikenakan. "Aku ada urusan mendadak oppa. Sepertinya aku tak akan pulang tiga hari ini. Ah, atau aku akan pulang telat. Entahlah aku tak tahu." "Ada apa memangnya?" ujar Sura. "Ada pertemuan mendadak yang harus kuhadiri di tengah cuti panjangku," ujarku dengan nafas berat sehingga terdengar seperti keluhan. "Bukannya kau tidak sedang bertugas?" "Aku ceritakan nanti. Aku pergi dulu. Aku sudah terlambat. Oh, sial. Tinggal lima belas menit lagi. Bisa gila aku." Aku langsung berlari menuju pintu sembari terus mengumpat. Aku melihat orang yang ditugaskan untuk menjemputku sudah menunggu. "Mari kita berangkat nona." Aku mengikutinya tanpa menjawab sedikit pun. Aku berkonsentrasi sepanjang jalan berusaha agar tak terjatuh karena sepatu tinggi yang kugunakan. Sementara anggota Star One saling menatap dengan penuh tanya. "Aku kaget saat mendengar nuuna mengumpat tadi. Dia bukannya terdengar menyeramkan malah terlihat lucu." Jeno tertawa terbahak-bahak membayangkan saat Hanna mengumpat dari tadi. "Haha. Kau benar. Akhirnya kita melihat sisi lain dari Hanna. Dia termasuk orang yang tenang dan sabar selama ini saat bekerja. Tapi aku baru saja melihat sisi lain dari dia." Rein berkomentar menyetujui ucapan Jeno. "Harusnya dia tak kuajak ke Singapura. Kalau datang ke sini malah membuatnya harus bekerja," sesal Sura. "Sudahlah. Nggak apa-apa. Hanna akan baik-baik saja kok. Hubungi saja dia terus dan ingatkan dia setiap waktu, agar tak terlalu memforsir tenaganya dalam bekerja. Dia juga belum pulih," ujar manager. "Ya, hyung benar." "Ya sudah ayo kita bersiap-siap juga untuk mulai syuting." Mereka langsung berkemas untuk melanjutkan syuting program acara mereka sendiri. Sementara Hanna. Dia sibuk membaca materi selama di atas mobil. Karena materi yang harus dipelajari sangat banyak. Dia hanya membaca secara sekilas. Mereka sampai di tempat pertemuan satu menit sebelum acara dimulai. Hanna langsung turun disambut oleh kerumunan wartawan. "Hanna, sudah lama sekali anda tidak muncul di hadapan publik. Bukannya anda tengah dalam masa rehat panjang untuk pemulihan pasca kerusuhan kemarin?" ujar salah satu wartawan. "Hanna, seperti yang saya lihat. Sepertinya anda ke sini untuk menghadiri konser Star One juga ya?" "Hanna, apa komentar anda terkait isu kekerasan yang terjadi?" Aku sedikit kewalahan saat menghadapi banyak pertanyaan wartawan yang mengerubuniku seperti lebah. Untung saja para pengawal langsung mengiringku untuk masuk ke gedung pertemuan. Sementara orang yang ditugaskan untuk menjemputku mencegah wartawan untuk bertanya lebih lanjut. "Semua akan kami jawab nanti setelah pertemuan selesai dilakukan. Ada banyak hal yang harus dibahas sekarang yang tak bisa dijawab begitu saja." Aku memasuki ruang pertemuan dan membungkuk sedikit sebagai bentuk hormat dan menjabat tangan Kepala Mentri Singapura. Aku juga berjabat tangan dengan beberapa orang lain. Setelahnya kami duduk ditempat masing-masing dan memulai pertemuan. "Bagaimana kabar anda nona?" ujar Menteri Singapura. "Alhamdulillah saya baik-baik saja." "Saya turut berduga atas apa yang menimpa anda kemaren." "Terimakasih atas kepedulian anda. Saya bisa selamat juga karena doa anda." Aku memasang senyum terbaikku. "Anda memang pandai memuji. Ayok kita mulai saja pertemuan kali ini." "Boleh tuan, kita mulai saja. Supaya lekas mendapatkan solusinya juga." Pertemuan pun dimulai yang dibukakan oleh seorang moderator. Setelah itu ada kata sambutan sedikit dari salaha satu menteri Singapura yang hadir. Kemudian dilanjutkan olehku. Kami tengah membicarakan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di beberapa negara seperti Kamboja dan lainnya. Pertemuan pun mulai memanas saat kamj memasuki acara inti. Aku punya firasat buruk terkait pertemuan ini. *** Sura terus menatap layar ponselnya. Sudah dua hari Hanna tak pulang kembali ke hotel. Ponselnya juga tak diangkat. Apakah pertemuannya tak berjalan lancar lagi? Hanna hanya pernah membalas pesannya saat hari pertama dia mengikuti pertemuan. Saat itu Sura mengirimkan pesan padanya. "Kau sudah makan?" "Sudah oppa. Baru saja aku makan. Kau sendiri sudah makan?" "Sudah. Kau makan apa jam segini? ini sudah jam 08.00 malam Hanna." "Ia, tadi sempat terjadi perdebatan panjang makanya kami tak bisa makan dulu. Akhirnya baru bisa beristirahat sebentar saat ini. Setelah ini pun pertemuan akan kembali dilanjutkan. " Kau baru beristirahat setelah sekian lama dan sekarang harus kembali bekerja lagi? Sura menatap tak percaya pada Hanna. Ia memandang gadis itu dengan sedih. "Hanna. Tak bisakah kau berhenti saja bekerja di sana? "Oppa kenapa bilang seperti itu? "Aku tak mau melihatmu mengahabiskan waktu seperti itu di tempat kerja. Kau bisa memilih pekerjaan lain yang lebih ringan dan membuatmu mempunyai banyak waktu luang." "Oppa, aku mau bertanya satu hal. Kau merasa kesal dan ingin berhenti tidak saat bekerja sebagai penyanyi?" "Tidak, aku menyukainya. Secapek apapun aku akan tetap mengerjakannya. Aku bahagia saat melakukannya." "Nah, begitu juga denganku. Aku bahagia sekali saat melakukan pekerjaanku sekarang. Karena cita-citaku dari dulu adalah bekerja di bidang kemanusiaan. Aku ingin untuk terus menolong orang lain. Membantu orang keluar dari permasalahan mereka sangat menyenangkan untukku. Aku merasa seperti orang yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain." "Baiklah kalau memang kau berfikir begitu. Tapi tak bisakah kau mengambil skala yang lebih kecil saja? Kau bisa memulainya dengan cara yang lain." "Tentu, aku tahu. Tapi untuk saat ini aku masih ingin me jadi bagian dari organisasi ini." "Baiklah Hanna. Tapi ingat kau harus jaga kesehatan. Aku tak mau kau sakit lagi. Kalau sampai kau sakit lagi karena pekerjaanmu itu. Aku akan mengirimkan surat pengunduran dirimu pada bossmu." "Bagaimana caranya coba. Kau jangan mengada-ada oppa. Sudah sana kamu lanjut syuting. Aku juga setelah makan akan lanjut kembali mengikuti rapat." "Masih ada setengah jam lagi. Kau juga kan masih beristirahat setengah jam lagi. Aku masih ingin melihatmu. Jadi aku tak akan pergi. Dan jangan mengusirku apalagi mematikan teleponku. Aku akan menerormu." "Ancaman seperti apa itu? Kau benar-benar pemaksa sekali." "Iya donk. Oiya obatmu tak lupa kau bawa kan?" Aku tak menjawab pertanyaan Sura dan hanya menyengir lebar. "Ya, kau ini. Sudah jelas kau harus rutin minum obat. Malah nggak dibawa." Aku hanya tersenyum. "Baiklah aku akan mengantarkan obatmu ke sana." "Ya kau gila opa? Aku tak mau. Kau bisa menimbulkan kerusuhan kalau ke sini." Aku berbicara sedikit berbisik karena masih ada beberapa orang yang tengah makan di meja sekitarku. Aku sengaja tak membaur dengan mereka. Karena bagaimana pun aku memang suka menyendiri. "Aku memang gila karenamu." "Gombal aja terus sampai aku merasa eneg mendengarnya. Aku memasang wajah masam padanya. "Haha. Ada yang eneg mendengar ombalanku. Kalau ada orang lain yang mendengar. Mereka pasti sudah jingkrak-jingkrak kesenangan." "PD sekali dirimu. Sudah ya oppa. Aku harus kembali. Ada beberapa dokumen juga yang harus k****a. Kau juga harus bersiap syuting lagi." "Baiklah, kabari aku terus dan jaga kesehatanmu. "Siap bos." Teleponpun dimatikan dan aku kembali ke ruang rapat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN