Star One menyanyi dengan indah dihadapanku. Aku benar-benar terpukau dengan penampilan mereka.
"Cinta, Na. Hanya itu yang kamu butuhkan untuk mengobati lukamu." Perkataan Honey terus membayang-bayang diingatanku.
Aku menatap lekat Sura yang tengah menghibur penggemarnya. Dia memang benar-benar berbeda saat berada di atas panggung. Kadang dia bertingkah lucu dan kocak. Kadang dia terlihat dingin dan tak tersentuh. Apa aku harus mengikuti saran dari Honey? Aku jadi teringat mimpiku dengan Ibu dulu. Ibu memintaku untuk membuka hati dan belajar memaafkan masa lalu.
Tapi baru saja aku mencoba untuk membuka hati. Ada saja yang menghalangi kami untuk bersatu. Aku tak tahu lagi bagaimana sekarang jika aku membuka hati. Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi lagi? Aku kemudian membuka ponsel dan meng-update postingan di berandaku bersama dengan Honey. Foto kami berdua di meja makan restoran yang diambilkan oleh pelayan. Aku dan dia saling berangkulan dan tertawa bahagia ke hadapan kamera.
"Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat. Tapi rasanya baru kemaren kita bersua dan saling berebut makanan di asrama sekolah. Akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama dengan ibu peneliti." Akupun menandai akun Honey.
"Wah, siapa itu ka? Cantik sekali."
"Kaka cantik sekali pakai hijab."
"Kaka sudah lama tidak muncul di dunia maya, sekarang tambah cantik saja. Tapi kakak juga terlihat lebih kurus. Kaka harus jaga kesehatan dan makan yang banyak ya. Jangan banyak pikiran. Biarkan saja orang ngomong hal jelek tentang kita. Netizen yang julid jangan didengar ka." Aku memberi tanda suka pada komentar aku bernama pipitliani itu.
"Ka, kaka lagi di Singapura? Kaka pergi melihat konser SO juga ya? Aku ingin juga melihat mereka, tapi kehabisan tiketnya. Ka, sampaikan salamku sama Jeno oppa ya."
"Wah, sepertinya kaka beneran menonton konser SO."
"Wah, ada Honey. Kamu nemu dia dimana, Na?" Putri teman pondokku berkomentar.
"Gila, Honey setelah menghilang sekian lama. Nongol-nongol makin cantik aja," komentar Hasna.
"Aku nemu dekat patung Singa tadi," balasku pada Putri.
"Ia, aku sampai pangling melihat kecantikannya," ujarku pada Hasna.
"Ka.. kamu nonton Sura oppa konser ya. Wah, aku tak sabar menunggu kabar bahagia dari kalian."
"Ka, kami bahagia melihatmu kembali. Setelah semua hal yang menimpamu. Kami turut bersedih dan mengecam tindakan orang yang mencelakaimu dulu. Kami juga sedih saat mendengar berita terakhir saat kau terjebak kerusuhan di Papua."
"Eounni. Sarangheo. Jangan sakit lagi ya. Kasian Sura oppa. Oppa benar-benar terpuruk saat kau sakit. Sekarang kami melihat di konser dia bisa tertawa lepas lagi. Kami yakin itu karenamu eounni."
Aku menutup ponselku. Banyak sekali komentar lain yang tak akan habis jika k****a terus. Sekilas aku menemukan komentar negatif tadi tapi tak k****a. Aku tak ingin merusak suasana hatiku.
Aku kembali memfokuskan perhatian ke penampilan Star One. Mereka sedang mengitari panggung dan kebetulan tepat di hadapanku. Ya, kursiku sekarang adalah paling depan dihadapan mereka. Aku tersenyum melihat penampilan mereka. Penampilan mereka memang memukau.
Mereka tengah berhenti bernyanyi dan tengah berbincang dengan para fans. Aku hanya tertawa melihat lelucon mereka. Aku berharap tak seorangpun mengenaliku karena aku sudah memakai masker dan mengganti baju yang kugunakan saat menemui Honey tadi. Lagi pula di kanan kiriku tak ada yang duduk. Jadi lumayan aman dari penglihatan penggemar lain. Aku melupakan satu hal, sehebat apapun samaranku. Tapi tetap saja aku akan terlihat mencurigakan karena sedari tadi sepanjang pertunjukan mereka, aku hanya duduk tak bergerak sedikitpun. Aku juga tak ikut menyuarakan nama mereka. Aku benar-benar menarik perhatian sekali.
"Nah, sekarang waktunya kita melihat unjuk kebolehan anggota Star One. Kita mulai dari siapa dulu ya?" ujar pembawa acara.
"Vlo ... Vlo...." teriak penggemar.
"Oke mari kira mulai dari Vlo." Vlo pun langsung maju dan memeragakan kebolehan barunya yaitu salto. Para penggemar langsung berteriak histeris. Terlebih saat melihat perutnya sedikit tersingkap akibat baju kaos yang dia gunakan ikut turun saat dia salto. Semua anggota mendapat giliran sampai akhirnya Sura. Sura kemudian berjalan sembari tersenyum dan memasukkan tangannya ke dalam saku.
Kemudian saat aba-aba dimulai dia mengeluarkan jarinya yang berbentuk hati. Para penggemar langsung histeris. Sementara aku sedikit terpaku melihatnya. Bukannya geer tapi arah tangan Sura tepat berada dihadapanku. Terlebih senyum manisnya. Jantungku langsung berdetak tak karuan. Ah sudahlah, sepertinya aku mulai gila. Aku gila karena berimajinasi aneh tentang Sura.
Kalau dipikir-pikir selain imajinasiku yang aneh. Aku sendiri juga aneh. Di antara sekalian banyak penggemar cuma aku yang tak membawa lightning atau pun embel-embel lain kepunyaan mereka. Aku yakin banyak pasang mata yang melihat dengan aneh padaku. Terlebih saat mereka menyorakkan fansite aku cuma diam saja.
Acara pun berakhir pukul 21.00 malam. Aku tetap duduk di tempat sementara anggota Star One sudah turun kembali ke belakang panggung. Saat vanue mulai sepi aku pun ikut berdiri dan berjalan keluar. Perutku berbunyi karena lapar, namun sepertinya untuk makan di luar bukanlah pilihan yang bagus. Nanti aku terlibat drama aneh seperti kemaren malam lagi.
Akhirnya aku pun naik taxi untuk kembali ke hotel. Karena memang aku tak memiliki janji untuk pulang bareng mereka. Tanpa mengecek kembali ponsel aku pun mandi dan berganti pakaian. Aku kemudian meminta layanan kamar dengan memesan beberapa menu pembuka, hidangan utama dan hidangan penutup. Nafsu makanku semenjak keluar dari Rumah Sakit memang sedikit naik. Aku bisa menghabiskan makanan lebih banyak dari biasanya.
Tiba-tiba pintu kamar diketok. Aku bergegas membukanya, ternyata dari layanan kamar. Setelah menghidangkan makananku pelayan itu pamit. Aku memberi sedikit tips padanya. Aku mulai memakan beberapa hidangan. Beberapa saat kemudian, pintu kamar kembali diketuk. Dengan ogah-ogahan aku bangkit dan membuka pintu. Sura. Dia sepertinya selesai mandi karena rambutnya masih basah. Dia langsung masuk tanpa permisi padaku. Akupun menutup kembali pintu kamar.
"Kau baru pulang oppa?" Aku melirik jam ponsel yang menunjukkan pukul 23.00.
"Sudah dari tadi. Aku mandi dan bebersih dulu."
"Kamu nggak makan?" Dia hanya menggeleng.
"Kenapa nggak makan? Diet lagi?"
"Tidak. Niatnya tadi ingin mengajakmu makan bersama. Tapi sepertinya kau sudah makan duluan." Aku hanya nyengir dan kemudian mengambil sesuap nasi goreng dan menyuapi Sura. Dia menerima suapanku begitu saja.
"Anak-anak yang lain nggak makan?"
"Kami makan masing-masing malam ini. Ada yang sudah tidur juga. Mereka terlalu capek. Jadi tak semuanya mau makan."
"Kamu nggak capek?"
"Capekku hilang saat melihatmu." Sura berbicara dengan wajah datar bahkan itonasi suaranya juga datar. Aku nyaris saja melongo tidak percaya mendengar ucapan gombalnya yang sama sekali tak terdengar romantis itu. Aku terus saja menyuapinya dengan semua hidangan yang aku pesan. Dia sama sekali tak menolak. Kami makan dalam diam sampai semua hidangan tandas.
"Besok konsernya jam berapa, oppa?"
"Sama seperti biasa," ujarnya sembari membantuku membereskan alat-alat makan dan menaruhnya di pantry kamar hotel.
"Kau ada acara dari pagi?"
"Kami akan mulai sedikit syuting setelah tengah hari. Sampai waktu itu bebas. Kenapa memangnya?"
"Nggak ada. Hanya menanyakan jadwalmu supaya kau tak lupa." Aku kemudian kembali menuju sofa dan menghidupkan televisi. Sura mengikuti dan duduk di sampingku. Aku masih mengenakan jacket hodie dan celana training. Walaupun sebenarnya aku merasa gerah dengan pakaianku. Tapi aku enggan untuk membukanya. Biarkan saja, AC nya juga hidup. Jadi nggak panas-panas amat.
"Kenapa kamu pulang duluan tadi?"
"Lalu aku harus pulang kapan?"
"Kau kan bisa bareng sama kami."
"Kau gila?"
"Aku tak gila."
"Kalau oppa nggak gila. Oppa nggak akan memintaku untuk pulang bersama kalian. Kau mau membuatku masuk mesin pencarian teratas lagi?"
"Haha. Memangnya kenapa?"
"Ogah." Aku bersungut-sungut kesal pada Sura terlebih dia menertawaiku.
"Arasso... arasso. Kau tak perlu cemberut seperti itu." Dia mengusap-usap pucuk kepalaku sembari mengacak-acaknya.
"Ya, jangan dikucel-kucel gitu dong oppa." Aku memegang tangannya karena kesal dan balas mengacak-acak rambutnya. Kami berakir saling menjahili satu sama lain. Aku tak bisa berhenti tertawa terlebih saat Sura berusaha untuk menggelitikku. Sesaat aku lupa diri, lupa siapa aku, lupa siapa dia. Lupa bahwa kami berbeda jenis kelamin.
"Sudah... sudah oppa. Aku mengaku kalah. Ternyata kau gigih juga ya." Dia pun menghentikan aksinya. Aku memegang perutku yang sakit karena kebanyakan tertawa. Untung saja badanku dan luka bekas operasiku baik-baik saja. Kalau tidak bisa dipastikan semua lukaku kembali terbuka akibat terlalu banyak bergerak. Aku kembali menonton televisi. Tak ada lagi pembicaraan antara aku dan Sura.
Tiba-tiba aku menguap. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. Perutku yang kekenyangan menambah berat mataku. Sura kemudian tanpa permisi menarikku ke dalam pelukannya. Membuat kepalaku bersender di dadanya. Ia menepuk-nepuk bahuku dengan tangan kiri dan mengusap-usap rambutku dengan tangan kanannya.
"Tidur gih."
"Oppa mau tidur di sini lagi?"
" Iya."
"Padahal oppa punya kamar sendiri. Ngapain tidur di sini coba. Lagian apa kata Jacop oppa kalau oppa tak pulang terus."
"Nggak masalah. Mereka tahu aku di sini." Aku mengangkat kepalaku. Menatap Sura yang kita tepat berada di hadapanku. Bahkan jarak wajahku dan wajahnya hanya 5 cm. Aku sendiri ragu jika bergerak sedikit saja, mungkin sesuatu akan terjadi. Dia tampak menelan ludahnya dengan susah payah akibat ulahku. Tapi aku tak peduli.
"Kau itu sebenarnya kenapa sih oppa? Kita itu laki-laki dan perempuan. Tak seharusnya berada dalam satu ruangan berdua seperti ini."
"Biarkan saja. Kan kita tidak melakukan apa-apa."
"Ya walaupun tidak melakukan apa-apa. Tetap saja itu tak baik." Dia tak menjawab tapi langsung menarikku kembali agar tidur diperlukannya.
"Sttt. Tidurlah. Biarkan seperti ini untuk sementara saja." Aku akhirnya diam dan mengalah. Lama kelamaan mataku terpejam sendiri akibat di tepuk-tepuk oleh Sura. Entah mengapa, tidurku selalu nyaman saat bersama dengannya.
Sura yang melihat Hanna sudah tertidur segera menggendongnya menuju tempat tidur. Lantas kemudian ikut menyusup dan berbaring disebalah Hanna setelah menyelimuti gadis itu. Wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan saat tidur. Sura tak bisa menahan diri untuk tak mengecup pipi Hanna.
Ia tersenyum setelah melakukannya. Kalau Hanna sampai tahu, bisa dipastikan ia akan mengomel. Gadis itu selalu mengomel. Ia tak suka disentuh-sentuh. Tapi Sura suka sekali menyentuhnya. Entah itu memegang tangannya, memeluknya atau pun mencuri kecupan saat dia tak tahu.
Sura kemudian mengecup kening Hanna dan berbisik, "Selamat tidur sayang. Semoga mimpimu indah." Ia pun kemudian ikut tidur sembari menelusupkan lengannya ke leher Hanna dan menjadikannya tangannya sebagai bantal untuk Hanna. Bahkan sepertinya gadis itu merasa nyaman karena langsung saja Hanna memiringkan tubuhnya ke arah Sura dan memeluknya.
Sura tersenyum bahagia saat melihat kelakuan gadis itu. Ia tak peduli jika yang dilakukan oleh gadis itu semata hanya karena mengira dia adalah guling. Yang terpenting Hanna merasa nyaman dengan perlakuannya. Tak lama ia ikut menyusul Hanna menuju alam mimpi.
***