Curhat

2168 Kata
Keesokan harinya aku bangun dengan mata yang terasa berat. Gara-gara perdebatan panjang antaraku dan Sura. Kami baru tidur pukul 04.00 subuh. Aku melihat sekeliling, dia tak terlihat lagi di dalam kamarku. Mungkin dia sudah pergi, pikirku. Aku melihat ponsel ternyata sudah jam 10.00. Astaga, sudah sesiang ini pantas saja dia sudah tidak ada. Kemudian aku menepuk judat sendiri seperti baru teringat sesuatu. Bukankah aku ada janji dengan Honey pukul 09.00? Aku melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan darinya Tanpa sempat membaca ataupun mengabarinya, aku langsung bergegas bangun dan mandi kemudian memakai pakaianku. Hari ini aku memang berencana menemui Honey dahulu sebelum sorenya menonton konser Star One. "Kau dimana Hanna? Aku sudah karatan menunggu dari tadi. Tidakkah kau lihat Matahari bersinar terik sampai aku terbakar seperti ini. Padahal aku suda menelponmu terus dari tadi bahkan mengirimkan pesan spam. Tapi tak kau gubris." Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Honey mengomel panjang padaku. Kakau sudah begitu, gadis itu akan terus berbicara tanpa jeda. Aku perlu menemuinya secepat mungkin. Aku membiarkan telepon masih tersambung sementara Honey terus mengomel tanpa kuladeni sedikitpun. Aku bergegas menuju lift tak memedulikan orang kanan kiri yang kulewati. Bahkan anggota Star One yang baru kembali dari sarapan luput dari penglihatanku. "Nuuna mau kemana itu? Dia sepertinya buru-buru sekali sampai tak melihat kita." Jeno mengomel pada anggotanya. "Mungkin dia ada janji. Menemui Honey mungkin. Bukankah dia bilang kemaren mau menemui Honey." Jun sedikit melirik ke arah Sura sembari melirik anggota lain. Mereka saling melempar pandangan penuh arti. Sementara Sura yang belum mendapatkan kejelasan mengenai siapa Honey langsung memasang wajah datar. Dia langsung membuka ponsel dan mengirim pesan pada Hanna. "Kamu mau kemana?" "Aku mau keluar sebentar oppa." "Mau kemana? Bertemu Honey?" "Iya. Bukannya semalam kau sudah tahu kalau aku mau menemui Honey." "Hmm. Titip salam pada Honeymu itu." "Lah, ngapain kamu nitip salam? Kamu suka sama dia?" "Suka? Ngapain aku suka sama laki-laki." "Laki-laki?" "Ya, kau bilang dia Honeymu berarti dia laki-laki kan?" "Hahaha. Kau lucu sekali oppa. Honeyku itu perempuan. Dia temanku, namanya Honey. Memangnya member belum memberitahumu kemaren?" "Hmm. Ya sudah. Hati-hati. Jangan lupa menonton konser nanti sore." Sura berusaha mengalihkan pembicaraan. "Siap boss." Gadis itu membalas sembari mengirim emot hormat. Sura memandang anggotanya dengan sebal. "Jadi Honey itu nama orang?" Jun mengangguk-angguk. "Kenapa tak ada yang bilang padaku?" "Ya salahmu sendiri kemaren malam langsung kabur begitu saja, hyung," ujar Vlo. "Lagian, bisa-bisanya kamu ngambekan gitu sama Hanna hanya gara-gara Honey." Jun tertawa terbahak-bahak melihat Sura yang memasang tampang datarnya. "Lain kali didengar dulu omongannya Hanna sampai selesai. Sudah tau dia kalau ngomong suka menggantung dan bikin salah paham begitu. Masih aja ditinggal pergi gara-gara ngambek," Rein ikut mengejek. Sura hanya diam menahan kesal. Benar juga, gara-gara si Honey, dia sampai meninggalkan Hanna dan selama latihan pun dia tak melirik sedikitpun ke arah tempat duduk Hanna. Bahkan semalam saat dia di kamar Hanna, dia berusaha mengontrol diri agar tak cemburu pada Honey. Cemburu? Ya dia sangat cemburu pada Honey. Dia cemburu pada semua laki-laki yang mendekati Hanna. Kecuali anggotanya sendiri. Karena mereka menganggap Hanna sebagai adik yang harus d jaga dan kakak juga bagi Jeno. Jadi dia tak merasa cemburu sedikitpun, meski terkadang Hanna lebih dekat dengan mereka dibanding dengan dirinya sendiri. Dia tak mempermasalahkan itu, asal jangan dengan orang lain. "Lagian, kamu kok bertingkah seperti itu sih hyuung. Sama sekali tak seperti dirimu." "Cinta yang membuat semuanya beda. Cinta yang membuat orang berubah. Cinta juga yang membuat seorang Sura hyung yang terkenal dingin, cuek, irit bicara, savage berubah menjadi orang lain di depan Hanna," ujar Jacop mendramatisir. "Ya, ya terserah kalian." Sura pun berlalu meninggalkan anggotanya yang tak berhenti tertawa melihat Sura kesal karena mereka usili. *** Aku memandang berkeliling mencari keberadaan Honey. Aku sudah sampai di rooftop pusat perbelanjaan tempat janjian dengan Honey. Mataku terpaku pada sosok cantik berhijab yang duduk di kursi pojok kiri dari tempat ku berada. Aku langsung berlari kecil ke arahnya. "Maaf, aku tadi ketiduran," ujarku penuh sesal saat duduk dihadapannya. Dia masih memasang tampang sebal padaku. " Lagian kamu ditelpon nggak diangkat. Kita janjian dari jam 09.00 lo. Harusnya kita tu nggak ketemu di sini tapi kamu, aish sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Bagaimana kabarmu, Na?" Akhirnya gadis itu mengalihkan pembicaraan. "Alhamdulillah aku baik. Kamu sendiri bagaimana?" "Alhamdulillah aku juga." "Udah lama banget ya kita nggak ketemu. Sepuluh tahun nggak sih?" "Benar banget dan kamu sekarang berubah banget. Jadi makin cantik dan lebih modis tentunya." "Kamu juga. Aku dengar kamu sekarang menjadi peneliti medis ya di sini?" "Iya, aku melamar magang saat melanjutkan S2 di sini. Ternyata tempat magangku dulu menawariku bekerja di tempat mereka saat aku lulus. Jadilah aku menetap di sini. Apalagi suamiku juga orang sini." "Benarkah? Wah selamat ya. Kalian menikah sudah berapa tahun? Hu, sayang sekali aku tak tahu kau menikah dan tak menghadiri pernikahanmu. Jahat sekali kau tak mengundangku." Aku berpura-pura merajuk padanya. "Sudah jalan 3 tahun. Kami juga sudah mempunyai satu orang putra berumur dua tahun. Maafkan aku, waktu itu semua terlalu mendadak, aku benar-benar lupa sama sekali dengan semua teman-teman kita. Bahkan beberapa teman disini juga lupa kuundang." "Hahaha, nggak apa-apa. Yang penting kau bahagia dan aku turut berbahagia untukmu." "Terimakasih. Kamu sendiri bagaimana? Aku kaget kemaren saat menerima pesanmu di IG. Aku bahagia sekali saat kau menghubungiku dan bilang kalau kau tengah berada di Singapura. Sebenarnya aku jarang sekali bermain media sosial. Aku juga jarang mengikuti berita terkini di grup sekolah kita dulu. Jadi aku tak terlalu mengetahui perkembangan teman-teman kita," tuturnya panjang lebar. Memang, di antara semua teman pondokku. Honey termasuk orang yang agak cuek dengan ponsel. Dia jarang sekali atau bahkan bisa dibilang tidak pernah update kehidupan pribadinya ataupun berinteraksi di grup sekolah kami. Aku memaklumi itu. Walaupun kami jarang sekali berkomunikasi atau bahkan tak pernah bukan berarti kami tak berteman. Terkahir kali aku saling kontakan dengan Honey adalah saat aku patah hati karena ditinggal menikajmh oleh bang Nanda. "Aku ya seperti ini. Sekarang aku tengah cuti panjang untuk waktu yang tak ditentukan." "Kenapa? Apakah terjadi sesuatu padamu?" "Banyak yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Hidupku berubah total dan aku juga banyak mengalami peristiwa yang tak pernah kuduga sama sekali sebelumnya." "Kamu baik-baik saja?" Dia menggenggam erat tanganku. "Mungkin aku terlihat baik-baik saja. Tapi aku sebenarnya lelah, Ni. Aku kadang sering berfikir untuk mengakhiri hidupku." Dia memandangku khawatir. Dari dulu aku dan Honey memang teman dekat. Aku selalu curhat dengannya begitu juga sebaliknya. Meskipun kami jarang bertemu semenjak lulus pondok, kedekatan kami tak luntur sendikitpun. Hanya saja semenjak aku melanjutkan S2 di McGill kami benar-benar putus komunikasi karena kesibukan masing-masing. "Kamu cerita sama aku, apa yang sekarang kamu rasakan. Kenapa kamu sampai berfikiran seperti itu?" "Banyak hal yang terjadi belakangan ini, Ni. Bang Nanda tiba-tiba datang lagi mengusik hidupku. Dia sampai menerorku untuk mau menikah dan menjadi istri keduanya. Aku yang secara mendadak terlibat dengan boyband Korea bernama Star One kemudian banyak memancing kecemburuan fansnya. Nyawaku bahkan nyaris menghilang di tangan fans fanatiknya. Aku juga nyaris kehilangan nyawa kemaren karena kerusuhan di Papua." "Kau terlibat kerusuhan di sana? Lalu bagaimana kondisimu sekarang?" Dia terlihat kaget mendengar ucapanku. "Iya, waktu itu aku menghadiri pertemuan untuk meredakan konflik di sana. Tapi tiba-tiba anggota pemberontak di sana menyerang tempat kami mengadakan pertemuan. Aku terkena tembakan di d**a tepat di atas jantung dan di ginjalku juga. Aku sampai harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena rusak akibat tembakan. Aku, aku juga sempat mati suri kemaren." Honey memandangku kaget. "Maafkan aku," sesalnya. "Maaf aku yang mengetahui sedikitpun kejadian yang menimpamu." Honey menggenggam tanganku erat. Air matanya mengalir mendengar ceritaku. "Lalu bagaimana dengan p*********n oleh fans fanatik itu?" Aku pun menceritakan secara sekilas pada Honey termasuk soal kepulanganku ke Indonesia karena kematian bibi serta hal itu juga yang menyebabkan aku bisa bertemu lagi dengan istri bang Nanda dan mendengar permintaan konyol dari nya dan ustazah Milna. Honey mencak-mencak saat mendengar ceritaku terkait permintaan konyol mereka. "Gila sekali mereka, seenak jidat begitu memintamu menikah. Mereka kira luka yang selama ini kamu rasakan bisa disembuhkan begitu saja. Jangan, Na. Jangan pernah menerimanya. Aku akan jadi orang pertama yang menentang hubungan kalian kalau kau sampai balikan dengannya." Wajah Honey merah padam, ia terlihat kesal sekali. Aku tersenyum padanya. "Tidak, Ni. Aku tak berniat menerimanya sedikitpun. Aku tak ingin menambah luka dihatiku. Karena semua kejadian yang tiba-tiba itulah aku merasa seperti ini. Aku lelah dengan semua kejadian yang menganggu hidupku itu. Aku capek hidup di bawah sorotan orang-orang. Jiwaku sudah tidak sehat semenjak dulu ayah berkhianat dan ibu pergi ditambah dengan pengkhianatan bang Nanda. Tapi semua rasanya masih bisa kutahan karena ambisiku untuk membalaskan dendam pada orang-orang yang meremehkanku. Sekarang, setelah aku mendapatkan semua keinginanku. Pangkat, jabatan, kehormatan, harta. Di sini rasanya masih kosong, Ni." Aku menunjuk hatiku. "Aku merasa semua tak ada artinya. Aku masih merasakan kekosongan di jiwaku. Aku bingung, apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak tahu. Apakah karena hatiku sudah lama mati, makanya aku merasa kosong seperti ini? Belum lagi semua mimpi-mimpi buruk masih menghantuiku hampir di setiap malam. Aku sampai harus berkonsultasi dengan psikiater dan mengkonsumsi obat yang diresepkan untukku. Aku harus apa, Ni?" Honey menatapku dengan penuh rasa cemas. Ia ikut sedih mendengar ceritaku. Telebih saat mendengar aku ingin bunuh diri. "Cinta, Na. Kamu hanya butuh cinta untuk menyembuhkan semua. Dari apa yang aku dengar, sepertinya keterlibatanmu dengan boyband terkenal Korea pasti tak hanya soal kenal saja tapi juga ada asmara kan di dalamnya?" Aku mengangguk mengiyakan. "Ada salah satu anggotanya bernama Sura. Meskipun dia tak pernah mengungkapkan secara langsung. Tapi dari semua perlakuannya padaku. Segala perhatiannya. Aku yakin jika dia mencintaiku. Terlebih saat aku koma kemaren dia selalu ada di sisiku. Dia jauh-jauh datang ke Indonesia bahkan mengorbankan karirnya hanya untuk merawatku. Tapi aku takut, aku takut berharap. Aku takut membuka hatiku. Aku takut kecewa, Ni." "Kamu harus yakin, Na. Buka hatimu dan lupakan masa lalumu. Kamu harus percaya dengan dia. Kamu harus mencoba untuk menyerahkan kepercayaanmu pada dia. Aku yakin, dia bukanlah laki-laki yang sama seperti bang Nanda. Aku yakin dia tulus mencintaimu. Aku yakin dia mencintaimu dengan segenap raganya. Kamu harus bangun dan buka natamu lebar-lebar. Dunia tak sesempit itu untuk menemukan orang yang tulus menyayangi kita. Berikan kesempatan pada dia. Beri dia waktu untuk membuktikan cintanya padamu. Beri dia kesempatan agar bisa memenangkan hati kamu. Beri dia kesempatan untuk menjadi penawar luka dalam hatimu. Aku yakin setelah itu, Oase di hatimu yang sudah mengering itu akan berair kembali." Honey memandangku dengan senyum. Dia berusaha meyakinkanku melalui genggaman tangannya. "Aku akan sepenuhnya mendukungmu. Apapun keputusanmu akan kudukung. Aku hanya berharap kamu tak menyia-nyiakan cinta darinya hanya karena ketakutanmu akan masa lalu." "Kamu benar, Ni." Selama ini aku terlalu hidup dalam masa lalu. Aku dihantui bayang-bayang masa lalu." Aku memandang Honey dengan wajah berterimakasih. "Makanya, kamu harus belajar untuk membuka hatimu ya Na. Aku yakin Sura adalah laki-laki yang tepat untuk mengobati hatimu yang patah. Aku memang belum pernah bertemu dengannya. Hanya saja saat mendengar dari ceritamu aku yakin sekali kalau dia adalah laki-laki yang tepat." "Baiklah, aku akan mencobanya." "Good girl. Aku akan selalu mendoakan kalian. Semoga kalian bahagia dan bisa bersatu." "A...mi..n. Terimakasih, Ni. Terimakasih sudah mau mendengarkan curhatku." "Tentu saja, kita kan sahabat. Kalau ada apa-apa, kau cerita saja padaku. Aku akan dengan senang hati mendengar ceritamu." Aku tersenyum padanya. "Nah, sekarang waktunya kita makan bersenang-senang." Honey berteriak antusias. Aku tertawa melihatnya. Dia memang selalu bersemangat seperti itu. "Jadi anak-anakmu dimana?" ujarku sembari memakan hidangan dihadapanku. "Hihi, mereka tengah bersama ayahnya sekarang.". "Apa suami mu libur juga?" "Ia, dia libur seminggu ini. Makanya aku sedikit bisa bebas dari kesibukan pekerjaan dan mengurus anak." "Dasar, malah nyari kesempatan." "Hahah, kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin donk." "Arasso. Arasso." "Dasar. Mentang-mentang tinggal di Korea malah ikutan bicara pakai bahasa Korea padaku." "Hihi. Maafkan aku. Sudah menjadi kebiasaanku ngomong campur-campur sekarang. Bahkan aku sering tak sadar saat melakukannya." "Tentu saja, hal yang wajar kalau kamu menguasi banyak bahasa. Semua kosa kata mendadak muncul diotak kita. Bahkan terkadang membuat kita lupa bahasa yang sebenarnya. Aku juga merasakannya saat bertemu keluarga suamiku. Mereka kan masih menggunakan bahasa Taiwan ya. Karena memang berasal dari sana. Aku sampai terkadang berbicara pakai bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Minang, bahkan bahasa Sunda saat berbicara pada mereka. Apalagi aku tak terlalu jago menggunakan bahasa Taiwan. Kalau sudah begitu aku langsung panik. Aku ngomong apa sih tadi." "Benar banget, aku juga gitu. Lucunya misa aku di Korea, aku sering keceplosan ngomong pakai bahasa Indonesia. Tapi saat aku di Indonesia aku malah keceplosan ngomong pakai bahasa Korea. Belum lagi soal dialek. Kadang aku suka mencampurkan dialek dari banyak bahasa. Akibatnya orang-orang yang mendengarnya menjadi bingung saat mendengar ucapanku." "Iya, merek padahal harusnya tahu artinya, tapi karena kita mengucapkannya dalam dialek yang berbeda mereka jadi bingung sendiri. Apa yang kita maksudkan itu sama dengan yang mereka pahami atau bagaimana." "Haha.. memang kalau sudah berbicara mengenai bahasa dan budaya. Lucu sekali." "Iya. Benar banget." Kami terus mengobrol sembari mengingat kejadian-kejadian lucu saat sekolah dulu ataupun membahas apapun yang melintas di kepala. Aku bahagia sekali bisa bertemu dengan Honey. Rasanya seperti mendapatkan obat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN