Sura tampil memukau di atas panggung. Aku memerhatikannya tanpa berkedip sedikitpun. Tapi sepertinya dia masih marah padaku. Dari awal latihan sampai akhir dia tak lagi melirik ke bangku tempatku duduk. Aku mendesah berat, rasanya sedikit kecewa. Tapi aku telan begitu saja. Biarkan saja, nanti juga baik sendiri pikirku. Ternyata latihan mereka lebih lama dari yang aku duga. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
Aku mulai mengantuk, berkali-kali menguap. Aku terus mengecek ponsel untuk melihat jam. Waktu terasa berjalan lambat. Lama kelamaan nyanyian mereka seperti lagu pengantar tidur untukku. Tanpa sadar aku tertidur dengan posisi masih memegang ponsel. Orang yang tidak tahu hanya akan mengira bahwa aku tengah main ponsel. Apalagi layar ponselku tetap hidup. Aku sering membiarkan pengaturan layarku hidup dalam waktu lama jika kubuka, hanya karena aku malas untuk membuka kuncinya kalau saat terdesak seperti perlu melihat sesuatu di ponsel sebagai rujukan untuk mencatat sesuatu.
Waktu menunjukkan pukul 24.00. Para member telah selesai latihan. Mereka kelelahan sekali saat turun panggung. Terlebih para penggemar berkerumun jadi mereka lupa sama sekali dengan Hanna yang masih duduk di bangku penonton. Padahal mereka berjanji untuk ikut Hanna pulang bersama.
"Aku capek sekali," ujar Vlo saat mereka sampai di ruang istirahat.
"Aku juga," sahut Jeno.
"Hyung, ayok pulang," rengek Jeimin pada manager.
"Ayok, kalian sudah kemasi semua barang? Kalau sudah ayo kita pulang. Nggak ada yang ketinggalan kan?"
"Nggak ada," sahut mereka kompak. Melupakan sama sekali keberadaan Hanna. Merekapun kembali ke hotel tanpa beban. Latihan malam ini sangat melelahkan karena antusias fans sangat tinggi.
Aku terbangun karena kaget ada yang menepuk bahuku. Aku langsung melihat waspada, ternyata itu adalah petugas stadion.
"Nona, latihannya sudah selesai," ujarnya dengan ramah.
"Astaga, sudah berapa lama?"
"Sudah dari tiga puluh menit yang lalu." Aku menepuk jidat dengan gemas. Bagaimana mungkin aku ketiduran di sini tanpa seorang pun yang menyadarinya. Setelah mengucapkan terimakasih aku pun langsung pergi keluar stadion.
Di luar mulai sepi. Para penggemar sudah menghilang sedari tadi. Aku sedikit bingung mau pulang pakai apa, tak terlihat ada taxi lagi yang lewat. Mau jalan kaki juga pasti gelap, ya iyalah gelap ini malam. Aku gemas sendiri dengan diriku. Aku pun membuka map dan mencari rute untuk menuju hotel. Lumayan, untuk berjalan kaki ke sana menghabiskan waktu 30 menit. Sebenarnya aku tak takut berjalan malam. Hanya saja karena kondisiku yang masih lemah, aku takut jika sesuatu terjadi aku tak bisa melakukan perlawanan apa-apa.
Tiba-tiba saja perutku berbunyi, aku lapar sekali. Aku pun berjalan dengan tergesa-gesa, sedikit takut karena ternyata lebih sepi dari pada dugaanku. Aku kira karena ini Singapura dan kota besar akan tetap ramai di tengah malam. Ternyata jalan dari stadion ke hotel lumayan sepi. Tak ada lagi orang yang lalu lalang. Aku melihat di kanan jalan ada minimarket 24 jam. Perutku lapar sekali, aku pun segera ke sana.
Aku membuat mie dan nasi instan kemudian mengambil beberapa sosis dan mencampurnya menjadi satu. Aku juga membeli s**u. Entah sejak kapan aku terbiasa meminum s**u. Aku duduk di kursi luar dan makan sembari sesekali memerhatikan jalanan. Awalnya aku ingin main hp tapi ternyata daya batraiku habis. Aku memutuskan untuk menikmati makan malamku saja.
"Hyung, kamu nggak tidur?" ujar Vlo pada Sura.
"Belum mengantuk." Sura masih selonjoran di atas sofa sembari berbaring.
"Kau sendiri kenapa belum tidur?" ujar Jeimin pada Vlo. Ya mereka tengah berada di dapur khusus untuk tamu karena mereka memesan beberapa kamar di lantai VIP yang juga menyediakan dapur dan ruang tamu privat yang terhubung dengan kamar.
"Tiba-tiba saja mataku tak mengantuk lagi sehabis mandi," adunya.
"Kalian seperti kelupaan sesuatu nggak sih?" Jun yang baru bangun karena terlihat matanya yang memerah dan rambut kusut langsung menodong member yang tengah berkumpul dengan pertanyaan absurdnya.
"Kelupaan? Sepertinya tidak ada. Kau meninggalkan sesuatu di stadion, hyung?" ujar Vlo.
"Tidak, aku tak bawa banyak barang dan juga semua sudah dibawakan tadi oleh asisten. Tapi aku merasa kita melupakan sesuatu. Aku sampai terbangun lagi karena merasa melupakan sesuatu." Mereka saling pandang dengan bingung. Bahkan Sura juga bingung mereka melupakan apa-apa.
"Gawat," teriak Jeno tiba-tiba.
"Apanya yang gawat?" ujar Jun yang kaget mendengar teriakan Jeno.
"Kita melupakan nuuna."
Sura langsung insaf, dia baru teringat akan Hanna. Jujur saja karena dia kesal dengan gadis itu. Dia sampai lupa kalau gadis itu ikut melihat konser mereka tadi. Bahkan dia sama sekali tak melirik ke arah bangku tempat Hanna duduk. Jadi dia tak tahu apakah gadis itu ada di sana atau tidak tadi saat mereka pulang.
"Memangnya dia belum pulang? Rasanya tadi saat turun panggung aku tak melihatnya di bangku penonton," ujar Jeimin.
"Kau yakin? Penggemar ramai sekali lo tadi yang mendekati kita. Hanna pasti ketutupan mereka," ujar Vlo.
"Sura, kau hubungi dulu ponselnya!" perintah Jun. Sura segera menghubungi ponsel Hanna. Tapi nomornya tidak aktif.
"Tidak tersambung." .
"Coba cek ke kamarnya." Sura segera berlari ke kamar Hanna. Ia mengetuk perlahan tapi tak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. 'Apa Hanna sudah tidur?' Tapi kenapa sepertinya sunyi sekali di dalam.
"Ada yang bisa dibantu Mr?" Seorang pegawai hotel yang kebetulan lewat mendekati Sura yang tampak seperti orang kebingungan.
"Apa pemilik kamar ini sudah kembali?" Dia bertanya meskipun ragu apakah akan mendapatkan jawabannya.
"Sepertinya belum. Harusnya kalau sudah kembali cahaya di gagang pintu berubah warna karena kartu akses yang di taroh di tempat lampu. Benar saja, Sura melihat gagang pintu lain mengeluarkan cahaya bewarna hijau d bagian tempat kita menempelkan kartu aksesnya. Sementara di kamar Hanna masih gelap.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih."
"Sama-sama tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Pegawai itu segera meninggalkan Sura yang masih terlihat kebingungan.
Sura kembali mencoba menghubungi Hanna, tapi gadis itu tak bisa dihubungi. Dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 01.30. Sejujurnya dia bingung harus melakukan apa. Meminta bantuan manager tidak mungkin. Pasti sudah beristirahat. Ia juga kasihan jika harus mengganggu istirahat managernya itu. Ia paham sekali bagaimana lelahnya dia mengurus anggotanya.
Belum lagi saat dia merengek meminta bantuan terkait Hanna. Managernya akan dengan senang hati membantu. Saat Sura yang panik dan ragu antara mau mencari Hanna keluar hotel ataupun kembali ke kamar meminta bantuan member lain. Sebuah suara mengagetkannya sekaligus membuatnya lega.
"Oppa ngapain di sini malam-malam? Oppa nggak tidur?" Sura melihat Hanna yang tampak sedikit pucat daripada biasanya. Bahkan keringat mengalir di pelipisnya. Sepertinya gadisnya itu kelelahan. Ia langsung saja memeluknya karena merasa lega sekali.
"Kau darimana saja? Kenapa tak menjawab teleponmu?"
"Maaf, ponselku kehabisan daya."
"Mana kartu aksesmu?" Hanna langsung menyerahkannya pada Sura yang kemudian membuka pintu kamar dan menariknya ke dalam. Gadis itu hanya menurut, merasa heran dengan sikap Sura. Kemudian Sura melepas cekalannya dan berjalan menuju tempat tidur.
***
Aku masuk dan langsung melepas sepatu kemudian mengambil pakaian ganti. Tak memedulikan Sura yang tengah duduk di atas ranjang memerhatikan gerak gerikku. Aku gerah sekali akibat berjalan tadi. Sebenarnya aku ingin mandi tapi sekarang sudah terlalu malam. Akhirnya aku hanya mencuci wajah dan berganti pakaian. Aku pun keluar dan mendapati Sura yang masih duduk di tepi ranjang. Aku kira dia sudah pergi, sedikit menyesal karena rambutku kubiarkan terlihat tanpa menutupinya dengan sesuatu.
Aku hanya mencapol asal rambutku ke atas. Aku juga cuma memakai baju kaos berlengan pendek yang kebesaran. Jangan lupakan bahwa sekarang aku bahkan hanya memakai celana hot pants saja yang tentu saja tak kelihatan karena bajuku lebih panjang dibanding celanaku. Sura sedikit kaget melihat penampilanku. Aku yang sudah kepalang basah dan lupa jika di ruangan itu ada Sura, akhirnya hanya pasrah dan berjalan ke arahnya.
"Kau tak kembali ke kamarmu, oppa?" ujarku datar. Sebenarnya aku kesal pada dia karena dia ngambek dan mereka semua melupakannya.
"Jadi kau kemana? Kenapa lama sekali pulang?" Dia mengalihkan pembicaraan. Aku tak langsung menjawab dan langsung menuju kulkas mengambil eskrim yang tadi aku beli di minimarket yang sebelum mandi tadi kumasukkan ke dalam kulkas. Duduk di atas sofa dan menghidupkan televisi. Sura yang merasa diacuhkan ikut menyusul dan duduk di sebelahku.
"Kau tak menjawab pertanyaanku," ujarnya sedikit mernggut.
"Aku tadi ketiduran di stadion," jawabku singkat.
"Bagaimana bisa?" Dia berteriak padaku.
"Ya bisalah oppa." Aku tak kalah berteriak juga padanya.
"Kau tahu kan kalau itu sangat berbahaya? Bagaimana kalau sesuatu terjadi. Kenapa kau tidur sembarangan seperti itu." Suara Sura mulai lebih meninggi.
"Salah siapa yang bilang kalau latihannya cuma sampai jam 22.00. Aku ngantuk dan ketiduran karena menunggu kalian terlalu lama. Aku juga bangun karena dibangunin panitia. Aku juga tak minta tidur di sana." Aku merenggut kesal. Kemudian memakan eskrimku dengan kasar.
"Lalu kenapa tak langsung pulang?"
"Nggak ada taxi lagi, aku juga lapar jadi singgah dulu makan di minimarket."
"Jadi kau jalan kaki?" Aku hanya mengangguk tak berniat untuk menjawab.
"Ini sudah malam Hanna. Kenapa tak menghubungiku atau manager ataupun yang lain." Dia melunakkan suaranya karena sepertinya tak ingin aku lebih berteriak lagi menjawab pertanyaannya.
"Sudahku bilang bateraiku habis. Kamu bawel sekali oppa. Lagian siapa juga yang melupakan aku, sampai aku ketinggalan di stadion saja tak ada yang sadar." Aku menatap tajam Sura. Ia terdiam tak mampu menjawab, sepertinya tebakanku benar. Mereka lupa jika harus pulang bersamaku. Aku sebenarnya tak mempermasalahkannya. Cuma aku juga kesal karena disalah-salahkan terus.
"Mianne," ujarnya penuh penyesalan. Aku hanya diam dan memakan es krimku sembari menonton televisi. Terjadi keheningan yang panjang di antara kami. Tak ada yang berniat untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
"Kau tidak mau kembali ke kamarmu?" ujarku akhirnya.
"Tidak. Aku akan tidur di sini," jawabnya datar.
"Kau gila?" Aku memandang Sura dengan wajah tidak percaya. Apa yang akan dikatakan oleh orang jika dia ketahuan berduaan denganku di dalam satu kamar hotel. Meskipun tak terjadi apa-apa diantara kami, tapi tetap saja orang akan salah paham. Bisa-bisa gosip antara kami kembali merebak.
Aku tidak mau menjadi bahan gosip lagi. Aku sudah capek menjadi pusat perhatian bahkan hujatan publik. Terlebih jika sampai fans mereka marah. Aku tak sanggup lagi menanggung semua kejadian yang tiba-tiba menimpaku itu.
"Aku akan tidur di sini. Aku tak akan kemana-mana meskipun kau usir sekalipun. Sana cepat habiskan es krimmu dan tidur." Aku memandang Sura dengan wajah tak percaya. Dia juga memandangiku tajam. Dia memang selalu seperti itu, terkadang dia lembut dan pengertian. Terkadang dia sangat keras kepala, dingin dan tak terbantahkan. Aku hanya menghela nafas berat. Tak berniat untuk mendebatnya lagi.
"Oppa tidur saja duluan. Besok pagi ada kegiatan lagi kan."
"Aku akan menunggumu."
"Es krimku masih banyak oppa. Kau sebaiknya cepat tidur. Ini sudah jam berapa." Aku memandangnya sengit.
Dia yang gemas langsung menggigit eskrim yang tengah kumakan. Aku memelototinya, kaget dengan tindakannya. Atau lebih tepatnya aku kesal karena dia makan es krimku.
"Ya, oppa. Es krimku." Aku merenggut kesal padanya.
"Salah sendiri makan kok lama banget."
"Ih, kau menyebalkan sekali. Sana pulang ke kamarmu. Aku nggak mau melihatmu malam ini." Aku memanyunkan bibirku.
"Sudah kubilang, kau usirpun aku tak akan pergi dari sini." Dia menantangku dengan melipat kedua tangannya. Aku yang kesal mendorong bahunya meskipun tenagaku lebih lemah darinya.
"Sana jauh-jauh. Aku nggak mau dekat-dekat oppa." Aku mencebik kesal dan menggigit habis es krimku. Kemudian berdiri untuk mengambil es krim lain.
"Kau mau kemana?"
" Ke Antartika."
"Kau marah padaku?" Aku tak menjawab sama sekali, kemudian membuka kembali kulkas dan mengambil kotak es krim.
"Astaga, kau berniat untuk tidak tidur atau bagaimana?" Sura yang gemas langsung berdiri kemudian tiba-tiba menggendongku ala bridal style.
"Ya, turunkan aku oppa. Kau ini kenapa sih? Membuat kesal saja."
"Tidur. Jangan makan es krim lagi." Dia menggendongku ke arah ranjang.
"Aku nggak mau tidur. Aku tu mau makan es krim. Kau paham nggak sih?" Aku memandangnya sengit. Sementara Sura menarik nafas berat. Dia gemas sekali melihat gadis yang tengah berada dalam gendongannya ini. Terlebih wajah merenggutnya sangat menggemaskan. Sura mencoba menahan diri untuk tak menciumnya. Jika sampai dia lancang melakukan itu. Bisa dipastikan Hanna akan menghadiahkan bogem mentah untuknya.
"Kau bawel sekali." Sura pun menurunkan Hanna du atas ranjang. Gadis itu masih memeluk es krimnya dengan erat, seolah dia mengatakan jangan ambil es krimku. Aku nggak sudi untuk berbagi. Sura menarik nafas dan menghembuskannya dengan pasrah.
"Jadi kau tetap mau makan es krim?" Hanna menggangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku akan tidur denganmu malam ini. Di ranjang yang sama." Gadis itu melotot kaget.
"Kau gila?" Dia berteriak nyaring. Sura tak peduli, dia langsung naik dan duduk di sebelah Hanna. Bahkan dia dengan lancang menarik Hanna dalam pelukannya. Gadi itu memiringkan badannya dan menatap Sura.
"Kau kesambet dimana oppa?" Dia kemudian membuka tutup es krimnya dan mulai makan.
"Kesambet tadi di jalan." Sura pun ikut memakan es krim Hanna saat gadis itu bersiap untuk memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Sura langsung memegang tangannya dan mengarahkan ke mulutnya sendiri.
"Oppa." Dia mendecak sebal.
"Pelit sekali. Masak nggak mau berbagi."
"Nggak mau. Aku pelit kalau soal es krim."
"Termasuk padaku?" Sura langsung menarik tengkuk Hanna dan mendekatkan wajahnya pada Hanna. Gadis itu langsung salah tingkah. Perlakuan Sura yang selalu tiba-tiba berhasil membuat Jantungnya berdetak tak karuan. Sura tertawa melihat wajah Hanna yang sudah semerah Tomat.
"Kau lucu sekali." Dia kemudian mencubit pipi Hanna. Dan kembali memakan es krim gadis itu. Kali ini Hanna tak protes sama sekali. Bahkan gadis itu masih sibuk mematung. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Akhirnya Hanna melanjutkan makan es krimnya.
"Jadi kau jadi pergi besok pagi untuk menemui Honeymu itu?"
"Tentu saja."
"Jam berapa?"
"Jam 09.00"
"Pagi sekali. Kapan kau istirahat kalau begitu."
"Aku sudah akana beristirahat kalau saja kau tak merecokiku terus dari tadi."
"Arasso. Arasso. Tak bisakah kau tak menemuinya?"
"Aku sudah berjanji oppa. Lagian kenapa sih kau melarangku pergi menemui Honeyku?" Sura tak menjawab.
"Ayok tidur. Es krimmu sudah habiskan. Sekarang sudah pukul 04.00."
Sura pun mengambil kotak es krim yang masih dipegang Hanna kemudian membuangnya ke kotak sampah yang ada di dapur. Ia kembali ke ranjang dan berbaring di sebelah Hanna. Ia tak peduli dengan tatapan protes dari gadis itu. Langsung saja dia menarik Hanna ke dalam pelukannya dan membelai rambutnya dengan lembut sampai gadis itu tertidur. Ia sendiri pun juga sudah berpindah ke alam mimpi.
****