Sura Salah Paham

1893 Kata
Aku terbangun sembari menatap langit-langit kamar. Kondisiku rasanya jauh lebih bugar dibanding sebelumnya. Aku menatap ke sebelah tempatku tidur, tak ada lagi Sura. Sepertinya dia sudah pergi. Aku pun meraih ponsel yang terletak di atas meja sebelah tempat tidur. Kemudian membaca pesan yang masuk. "Kalau kau sudah bangun, datang ke venue ya. Aku akan latihan di sana." Aku hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Sura. Aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Sepertinya dia sudah di sana dari tadi. Karena pesan yang dia kirimkan pukul 18.00. Aku segera bangkit dan bergegas mandi kemudian mengganti bajuku. Kali ini pilihanku jatuh pada sebuah gaun tunik. Entah mengapa rasanya aku ingin sekali tampil sedikit feminim malam ini. Aku memakai tunik dengan motif bunga tersebut kemudian memadukannya dengan lagging hitam. Aku memakai kerudung bewarna moca yang senada dengan warna tunicku. Aku mematut sekali lagi penampilanku. Lumayan seperti perempuan, pikirku. Aku tak menjamin seperti apa nanti reaksi mereka jika melihat pakaianku. Karena aku tak pernah sekalipun tampil feminim secara langsung dihadapan mereka. Aku segera keluar kamar menuju stadion yang tak jauh dari hotel. Aku menyetop sebuah taxi, waktuku mepet jika aku memaksakan diri untuk berjalan kaki. Meskipun sebenarnya stadion tidak terlalu jauh. Aku segera turun kemudian masuk sembari menunjukkan tiket yang sudah kupegang. Aku di antar oleh salah seorang staf menuju ke belakang panggung. Aku sedikit heran, bukannya aku harusnya berada di depan vanue? Entahlah, aku menurut saja. Mungkin kami memanh harus melewati ini jika ingin ke depan vanue. Aku memakai masker karena malas kalau sampai ada yang mengenaliku. "Silahkan duduk di sini nona. Anda bisa melihat mereka latihan dari sini. Ternyata aku di antar menuju bawah panggung hanya saja lokasiku berada tepat di sisi sebelah kanan panggung bukan di bagian depan. Aku melirik ke sekeliling tampak beberapa orang yang duduk di bagian tempatku duduk. Sementara itu di bagian lain lumayan ramai. Tampaknya mereka adalah penggemar yang kebagian jatah untuk masuk melihat mereka latihan. Suatu kehormatan sekali bagi pemegang tiket tertentu. Aku melihat Sura yang tengah melakukan olah vocal. Dia mengetes microphone beberapa kali. Memastikan suara yang keluar pas. Mereka memulai kembali latihannya. Aku memandang mereka tanpa kedip. Baru ini kali pertama aku menonton semi konser mereka secara langsung. Rasanya aku paham bagaimana rasanya berada di posisi penggemar mereka. Melihat mereka latihan seperti ini saja rasanya sudah menakjubkan sekali. Apalagi kalau melihat konser mereka langsung. Aku pun mengeluarkan ponsel kemudian memotret kakiku yang memakai sepatu berwarna putih. Untuk pertama kalinya aku kembali membuat story setelah sekian lama. Akunku sudah bisa di akses kembali. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kevin. Dia bersikeras untuk mencari kembali semua dataku. Meskipun aku menolak. "Kau pasti akan membutuhkannya suatu saat. Jadi aku akan mencarikannya untukmu. Oke, kau tenang saja. Ini urusanku. Urusanmu adalah beristirahat." Itulah yang dia ucapkan padaku saat dia ikut menjengukku di Indonesia dulu. Dia terus mengomel-ngomeliku terkait pentingnya data-data yang sudah hilang itu. Akhirnya aku mengalah dan menurut saja sebelum dia menguliahiku lebih jauh. "Here i am," tulisku. Langsung saja story yang baru kubagikan tersebut sudah di tonton oleh ribuan orang. Ada banyak komentar di DM yang masuk. Hanya saja aku tak pernah membukanya. Aku kembali menyimpan ponselku. Aku kemudian memandang kembali ke arah panggung. Kaget sekali saat mendapati Sura tengah melirik ke arahku. Meskipun hanya sepersekian detik. Aku yakin dia tengah mencari keberadaanku yang tak dia temukan. Sepertinya dia tak mengenaliku dengan pakaian ini. Aku tertawa penuh kemenangan. Bagaimana kalau sekalian aku kerjai saja dia. Mereka berhenti sejenak latihan pada pukul 20.30. Aku memandangi mereka yang turun panggung melewati bagian depan tempat aku duduk. Penggemar lain langsung berdiri menuju pagar pembatas antara jalan tempat mereka lewat dengan bangku tempat kami menonton. Mereka mencoba untuk menyapa anggota Star One. Aku melihat mereka membalas dengan senyum ramah. Aku yakin mereka juga melihat keberadaanku di sini. Tapi tak menyadari siapa aku. Mungkin mereka merasa heran melihatku, karena aku satu-satunya orang yang tak berdiri mendekat pada mereka. Sementara penggemar lain berteriak histeris sedari tadi. Aku hanya menatap mereka yang lewat dihadapanku. "Hanna nggak datang ya, hyung?" ujar Vlo saat mereka sudah sampai di ruang tunggu. "Aku rasa dia masih tidur." "Coba kau hubungi dia." Jun pun memberi usul pada Sura. Sura kemudian mengambil ponselnya dari manager dan menghubungi Hanna. Tapi gadis itu tak mengangkat teleponnya sama sekali. "Sepertinya dia masih tidur." "Tapi aku tanya pada petugas tadi sudah ada riwayat tiketnya yang masuk. Bagaimana mungkin dia belum datang. Dan petugasnya juga tak mungkin salah orang. Karena hanya beberapa orang yang bisa mendapatkan tiket untuk melihat kalian latihan. Tak mungkin jika mereka keliru," ujar manager. "Tapi aku melihat hanya..." ucapan Sura terputus. "Apa perempuan yang duduk dengan memakai gaun itu Hanna?" "Maksud hyung perempuan yang duduk di bagian kanan vanue yang dari awal hanya diam tak bereaksi sedikitpun saat melihat kita latihan meskipun para penggemar lain langsung berlari mendekati kita saat kita turun?" ujar Jeno. "Ya benar. Aku baru sadar, siapa lagi perempuan yang memakai jilbab yang merasa biasa-biasa saja saat melihat kita tampil kalau bukan Hanna-si," Jun terkekeh-kekeh senang memikirkannya. Memang itulah salah satu alasan mengapa mereka bisa langsung akrab dengan Hanna. Karena hanya dia gadis antik yang merasa biasa saja saat bertemu dengan kami. Jun masih ingat, bahkan Hanna tak mengetahui mereka itu siapa saat dia pertama kali bergabung sebagai model pengganti dadakan untuk syuting mereka. "Aku akan panggilkan dia ke sini." Managerpun berlalu meninggalkan mereka. *** Aku melirik jam, baru sepuluh menit semenjak mereka meninggalkan panggung. Aku mulai bosan, menyesal juga rasanya mengerjai Sura dengan mengacuhkan panggilannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. "Hanna-si?" ujarnya ragu. Aku mengenali suaranya, dia adalah manager. Entah sejak kapan dia ikut-ikutan memakai masker. Sepertinya dia tak ingin dikenali oleh fans saat memanggilku. Aku hanya berdiri mengikutinya tanpa menjawab sedikitpun. Kami sampai di sebuah ruang tunggu bertuliskan Star One. Manager membuka pintu kemudian masuk. Aku hanya mengekorinya dari belakang. Para member tampak tidur-tiduran begitupun Sura. Sepertinya mereka kelelahan sekali sehingga tak menyadari kedatangan kami. Aku menatap mereka dengan kasihan. Tapi kemudian mataku malah salah fokus pada makanan yang berada di atas meja. Mendadak perutku berbunyi. Aku baru ingat jika belum makan sama sekali setelah Sura menyuapkan bubur tadi siang. Aku benar-benar lapar sekarang. Aku melihat tak ada reaksi apapun dari anggota Star One, tampaknya mereka belum menyadari kehadiranku. Aku berharap tak ada seorangpun yang menyadari perutku berbunyi tadi. Tapi sepertinya harapanku belum terkabulkan karena manager langsung menatapku. Wajahnya sangat menyebalkan untuk dilihat. "Kau lapar?" tanyanya. Aku hanya mengangguk dengan malu. Mukaku rasanya panas sekali. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak. Anggota Star One langsung terbangun kaget saat mendengar gelak tawa manager mereka. Aku merenggut sebal. Dia benar-benar mengejekku sekarang. "Ya.. subaenim. Aku lapar tapi kau malah menertawakanku." Aku berteriak sebal padanya kemudian berjalan menuju kursi dengan meja yang dipenuhi oleh makanan. Kemudian dengan lancang mengambil salah satu snak dan membukanya. Akupun kemudian membuka maskerku dan menaruhnya di dalam tas. Memakan kripik tanpa mengindahkan siapapun. Rasanya aku dongkol sekali, ditambah rasa lapar membuat emosiku menjadi lebih meningkat. "Maaf, maaf. Habisnya wajahmu lucu sekali." Manager mendekat dan kemudian mengambil sebuah kotak bento dan kemudian menyerahkan padaku. "Makan nasi dulu, nanti baru ngemil lagi. Aku sudah memesankan bagianmu tadi." Aku menerima dengan mata berbinar-binar. Aku manarik lagi rasa kesalku padanya kemudian mengucapkan terimakasih. "Hanna-si?" Jun tampak mendekat, ia terlihat ragu untuk menyapa, sepertinya dia tak mengenaliku. "Napa, oppa? Kau lapar juga?" Aku menatapnya sembari menyuap makananku. "Kau benar-benar, Hanna nuuna?" Jeno juga mendekat dan duduk di depanku dengan wajah tidak percaya. "Tidak, aku kembarannya, Hanni," selorohku sembari memperkenalkan diri. "Aku serius, nuuna." Dia merenggut sebal padaku. "Hahaha. Yaiyalah aku Hanna. Memangnya siapa lagi yang duduk di depanmu ini jika bukan Hanna?" Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Kau tampak beda dan juga tambah lebih cantik,"ujarnya. "Apa kau sekarang sedang berusaha untuk merayuku? Aku masih sama, tak berbeda sama sekali. Hanya saja kali ini pakaian yang kukenakan memang berbeda. Kalian jahat sekali sih, mentang-mentang aku merubah penampilanku. Bisa-bisanya kalian tak mengenaliku tadi." Aku berpura-pura ngambek pada mereka. Sura yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi sebelahku diam saja. Dia mulai sibuk memakan makanannya yang ternyata adalah buah. Ia tampak tak terkejut sama sekali melihat penampilanku. Aku penasaran dengan pendapatnya tentang penampilanku kali ini. Astaga, sejak kapan aku jadi memedulikan hal seperti itu. "Kalian diet?" ujarku. Jeno mengangguk. "Aku tersiksa sekali, melihatmu makan itu tambah membuatku ingin makan nasi." "Rasain, wekk." Aku mengejek Jeno yang kemudian membalasku dengan melemparkan Anggur yang tengah dia makan. Aku menangkapnya dengan tepat kemudian memakannya. "Jangan bertengkar dulu. Habiskan makananmu Hanna," Sura menginterupsi sebelum aku memulai perang di meja makan dengan Jeno. Member lain pun mulai bergabung dan ikut makan Salad mereka. Aku menatap punya Sura dengan penuh minat. Sepertinya enak, tapi dia malah makan dengan ogah-ogahan. "Kau mau?" tawarnya saat melihatku terus-terusan memandangi Saladnya. Aku mengangguk bersemangat. Dia pun menyuapiku yang kuterima dengan senang hati. "Enak." aku menyeringai bahagia. Menggoyang-goyangkan kakiku seperti anak kecil. Dari dulu aku selalu menyukai buah-buahan, entah dalam bentuk apapun. Aku suka sekali. "Makan dulu makananmu, nanti aku minta hyung pesankan untukmu " "Nggak usah. Aku pikir, setelah dari sini aku mau berbelanja di Swalayan." "Kau mau pulang duluan?" ujar Rein. "Memangnya kalian selesai pukul berapa?" Aku malah bertanya balik. "Pukul sepuluh." "Ya sudah, aku akan menonton sampai selesai." "Good." Sura kembali menyuapiku tapi dengan makananku sendiri bukan dengan saladnya. "Setelah selesai minum obatmu." Aku hanya mengangguk. Tingkah laku Sura dan aku tak luput dari perhatian anggota lain yang saling pandang satu sama lain dengan penuh arti. "Jadi Hanna, selama satu minggu di sini, kau berencana pergi kemana?" ujar Vlo. "Sepertinya aku akan pergi ke suatu tempat." "Kemana?" ujar Sura. "Aku ingin menemui honey-ku." Jeno yang tengah minum langsung tersedak mendengar omonganku. Sementara Sura menghentikan makannya dan membalikkan badan menatapku. Anggota lain juga ikut berhenti dan menatapku. Mereka menatapku dengan aura seperti "Siapa pacarmu? Jangan harap mereka bisa memilikimu jika belum lolos seleksi." "Oppa pada kenapa?" Jeno membalas pertanyaan polosku dengan melemparkan Anggur. Aku menangkapnya dan kemudian memakannya. "Kau punya honey?" Sura bertanya dengan suara dingin. "Punya." "Bukannya kau bilang jomblo?" "Memangnya jomblo berarti tidak punya honey?" Dia hanya diam. Kemudian dia berdiri dan meninggalkanku yang diliputi tanda tanya besar. Apa yang salah sih? "Nuuna, kau membuat patah hati Sura oppa." "Loh, salahku dimana? Aku mau menemui temanku di sini. Kenapa dia bisa patah hati." "Jadi statusmu sama dia masih temenan?" Kali ini Jeimin ikut berkomentar. Aku mengangguk. Meskipun tak paham dengan maksud kata masih. Memangnya aku berkemungkinan akan pacaran apa dengan Honey. "Kalau begitu Sura masih punya harapan." "Apa sih. Kalian sepertinya salah paham deh. Aku tu mau menemui Honey, temenku. Temanku itu namanya Honey. Dan satu hal yang jelas, Honey itu adalah perempuan." Mereka saling pandang saat mendengar penjelasanku kemudian tertawa lebar. "Dasar. Kau membuat kami jantungan saja. Kau harus bertanggungjawab pada Sura," ujar Jacop. "Memangnya aku menghamilinya." Aku bersungut-sungut sementara mereka tertawa lebar melihatku. "Nuuna. Nuuna. Kau kalau ngomong selalu saja membuat orang jadi salah paham. Bisa nggak kalau ngomong selesai-selesai. Jangan menggantung seperti itu." "Ye, kalian saja yang selalu salah paham. Padahal caraku ngomong itu biasa saja." "Hahaha. Kalau cara ngomongmu biasa saja. Sura tak akan pergi meninggalkan meja makan seperti itu," ujar Jun. "Terserah. Terserah. Memang salahku. Dasar bawel." Aku melanjutkan makanku dengan ogah-ogahan karena masih kesal dengan mereka. Sementara member Star One bersiap untuk latihan selanjutnya. Sura sama sekali tak kembali lagi ke ruang ganti. 'Ah biarin aja lah dulu. Paling nanti baikan sendiri,' pikirku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN