Aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti tour Star One. Tentu saja aku tak pergi bareng mereka. Aku pergi dengan pesawat yang berbeda dengan mereka. Aku sudah dibekali oleh mereka tiket VIP khusus untuk keluarga yang bisa digunakan untuk menonton mereka latihan ataupun menonton konser.
Aku sampai di Bandara Singapore pukul 02.00 siang. Ah, aku merindukan Matahari tropis ini. Singapore dan Indonesia tak terlalu berbeda untuk iklimnya. Bagaimanapun sejarahnya dulu, pulau ini pernah menjadi bagian dari Indonesia. Dulu sekali. Aku sudah tak ingat sejarahnya. Mungkin nanti aku akan mencari tahu dulu. Apakah itu benar atau tidak.
Aku pun mengambil ransel dari bawah bangku pesawat saat pesawat sudah berhenti sempurna. Aku memang duduk di kelas Ekonomi. Memang tipikalku dari dulu jika bepergian, tak suka duduk di kelas bisnis apalagi jajaran-jajarannya lebih ke atas lagi. Semua orang yang pernah bekerja denganku sangat hafal itu. Bahkan saat mau menghadiri rapat kusus sekalipun, aku tak mau duduk di kelas selain kelas ekonomi.
Orang-orang yang mengikutiku terpaksa harus ikut duduk di kelas ekonomi jika sudah demikian. Meskipun sempit dan tak memiliki privasi lebih. Tapi duduk di kelas ekonomi membuatku merasa lebih nyaman. Aku bisa membaur dengan siapa saja tanpa menimbulkan perhatian lebih. Aku tak suka perasaan terasing saat duduk di kelas lain. Ingatkan aku satu hal. Alasan utamaku adalah aku tak suka membuang-buang uang. Tentu saja.
Setelah pintu Pesawat di buka. Akupun membuka seatbelt dan kemudian ikut antri untuk turun. Wajahku langsung tersenyum sumringah saat kulitku terkena langsung sinar Matahari. Aku merindukan Matahari tropis. Tentu saja, bagaimanapun sekarang di Korea Musim Gugur. Udara mulai dingin karena sebentar lagi Musim Dingin akan datang. Sementara di sini? Negara yang di lalui oleh lajur Katulistiwa tak mengenal perubahan empat musim itu.
Aku keluar bandara kemudian menyetop sebuah taxi. Menyebutkan salah satu hotel tempatku menginap. Hotel yang sama dengan anggota Star One tentu saja. Siapa lagi yang memaksaku memilih hotel tersebut jika bukan Sura. Atau lebih tepatnya, dia sudah memesankan kamar untukku di sana. Orang kaya mah bebas, omelku padanya saat itu. Dia hanya tersenyum saat mendengar omelanku. Padahal aku tahu maksud sebenarnya dari tindakannya itu.
Dia tak mau aku jauh-jauh dari pandangannya sedikitpun. Ia memang suka sekali mengawasiku kemana-mana. Aku merasa seperti memiliki seorang kakek. Akhirnya aku memutuskan untuk menurut saja, tak ada gunanya juga membantah. Hanya akan memperpanjang masalah saja.
"Kita sudah sampai, nona," ujar pria yang mengendarai Taxi dengan menggunakan Bahasa Inggris yang kental sekali logat Jawanya. Aku tersenyum saat mendengarnya.
"Terimakasih," ujarku dalam bahasa Indonesia. Ia tampak sedikit terkejut mendengar ucapanku.
"Anda berasal dari Indonesia?" Dia kembali bertanya dengan sedikit berhati-hati, mungkin takut menimbulkan kesan tidak sopan.
"Ia mas, mas juga dari Indonesia?"
"Ia mbak, saya kuliah disini. Bawa Taxi untuk partime. Lumayan untuk menambah sangu," ujarnya.
"Wah, semester berapa kalau boleh tahu?"
"Sudah semester dua di magister, mbak. Lagi menyusun Tesis."
"Bidang apa mas?"
"Hukum Internasional, mbak."
"Wah, meneliti masalah apa, mas?" Aku malah menjadi semakin ingin tahu, lupa jika kami sudah sampai dari tadi. Lupa juga kalau kami baru kenal. Maklum, biasanya kalau di rantau bertemu dengan orang dari kota atau negara asal yang sama dengan kita akan merasa berkesan sekali. Seperti bertemu saudara sendiri.
"Saya meneliti HAM dan Perempuan di daerah Afrika Selatan, mbak."
"Wah bagus itu. Penelitian yang menarik. Semangat ya. Kalau butuh apa-apa bisa hubungi saya. "Aku pun mengeluarkan kartu namaku lantas kemudian menyerahkan kartu tersebut padanya. Kening pemuda itu sedikit berkerut, menatapku sedikit bingung. Dia menerima kartu dengan ragu-ragu. Aku hanya tersenyum kemudian membayar Taxi dengan uang lebih.
"Kebanyakan ini, mbak," ujarnya.
"Tak apa mas. Buat mas aja. Semangat ya kerja dan kuliahnya. Ingat! kalau butuh apa-apa mas bisa hubungi saya. Saya akan dengan senang hati membantu." Aku tersenyum tulus padanya. Pemuda itu kemudian melirik kartu nama yang aku berikan. Matanya langsung terbelalak saat membacanya.
"Mbak wakil ketua bidang kemanusiaan di PBB?" Dia menatapku tak percaya sekaligus takjub. Aku hanya tersenyum.
"Jangan lupa, kalau butuh bantuan terkait penelitianmu atau apapun terkait akademik, insya Allah aku akan membantu. Kalau tidak bisa, aku akan mencarikan orang yang bisa membantumu."
"Terimakasih banyak mbak. Saya benar-benar berterimakasih." Dia menatapku tulus yang kubalasi dengan anggukan.
"Siapa namamu mas? Saya Hanna," ujarku memperkenalkan diri.
"Andi mbak."
"Oke mas Andi. See you next time." Ia mengangguk ramah kemudian melajukan kendaraannya meninggalkan halaman hotel.
Aku pun melenggangkan kaki masuk menuju lobby. Mendekati resepsionis yang sudah berdiri menyambut dengan ramah.
"Ada yang bisa kami bantu nona?"
"Saya ingin check-in."
"Apakah sudah memesan sebelumnya atau mau kami bantu untuk mengecek kamar kosong?"
"Sudah, atas nama Rana Hanna," ujarku singkat. Kepalaku mendadak pusing. Padahal tadi masih baik-baik saja. Apakah aku mengalami jet lag?
"Ditunggu sebentar ya nona." Dia pun kemudian mengecek melalui layar komputer sembari mengetik-ngetik sesuatu. Lantas kemudian menyiapkan kartu akses dan meminta kartu identitasku untuk melakukan verifikasi.
"Ini kartu aksesnya nona. Anda bisa naik melalui lift di sebelah kanan menuju lantai 21. Apakah anda perlu diantarkan oleh Bell Boy?"
"Tidak usah, terima kasih." Aku pun menerimanya dan kemudian berlalu menuju lift. Memencet tombol 21. Tak ada orang lain di dalam lift tersebut.
Aku menghempaskan tubuhku saat sampai di dalam kamar hotel. Kamarku langsung merupakan bagian luar bangunan hotel karena memang kamar mewah jadi mempunyai jendela yang langsung menghadap ke luar. Dari ketinggian aku bisa melihat pemandangan kota di Singapura. Tapi aku sedang malas untuk menikmati pemandangan alam.
Mataku masih mengantuk dan kepalaku sakit. Aku merasa jet lag. Sebenarnya aku jarang sekali mengalami jet lag saat bepergian. Bagaimanapun aku sering bepergian selama ini. Tapi baru sekarang aku merasa Jet Lag seperti ini. Apa karena penyakitku kemaren yang menyebabkan kondisiku tak sebugar dulu lagi?
Aku nyaris tertidur beberapa saat. Aku dikagetkan oleh suara bel kamar yang berbunyi. Memang kamarnya memiliki bel sendiri. Dengan enggan aku pun bangkit dan membukanya tanpa mencoba untuk mencari tahu siapa yang sudah mengganggu tidur ayam-ayamku.
"Kau sudah sampai?" Suara Sura menginterupsi alam bawah sadarku yang masih belum sepenuhnya terjaga.
"Sudah." Akupun berlalu meninggalkannya kembali menuju kasur. Diapun masuk dan menutup pintu. Aku langsung berbaring kembali. Entah mengapa sekarang kepalaku terasa pusing.
"Kau baik-baik saja?" Sura bertanya dengan nada kawatir. Ia duduk di tepi tempat tidur dan kemudian menyentuh keningku. "Badanmu sedikit panas. Apa kau merasa jet lag?" Aku hanya mengangguk. Ia pun kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Beberapa saat kemudian aku mendengar bel kembali berbunyi. Ia bangkit dan membuka pintu.
"Terimakasih hyung," ucapnya.
"Apa Hanna baik-baik saja?" Aku bisa mengenal dari suaranya. Itu adalah suara manager mereka.
"Ia, dia hanya merasa jet lag. Aku rasa istirahat sebentar bisa membuat dia lebih baik."
"Baiklah. Suruh dia makan terlebih dahulu setelah itu baru istirahat. Kalau butuh apa-apa hubungi saja aku."
"Baik hyung. Terimakasih." Aku mendengar suara pintu ditutup. Sura kembali berjalan menuju ranjang. Aku tak membuka mata sama sekali. Mataku terasa sakit kalau dibuka. Sebenarnya aku lumayan sering mengalami sakit kepala jenis ini. Entahlah ini bisa dimasukkan kedalam penyakit kepala atau penyakit mata. Yang jelas, kepalaku akan terasa sakit berlanjut dengan mataku kemudian perutku akan terasa mual bahkan jika keadaan lebih parah, aku akan muntah.
"Hanna, diminum dulu obatnya ya. Kamu juga harus makan sedikit." Sura membelai pucuk kepalaku yang ditutupi hijab dengan lembut. Perlahan aku membuka mata dan melihatnya. Tanganku masih setia bertengger di atas keningku, untuk menghalangi cahaya langsung masuk ke dalam retinaku yang hanya akan mengakibatkan kepalaku lebih sakit lagi.
"Apakah matamu terasa sakit?" Aku sedikit kaget saat mendengarnya. Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Aku akui, Sura memang sangat peka selama ini. Dia bisa mengetahui apapun yang terjadi padaku hanya dengan sekali lihat saja. Ia bisa menebak dengan mudah kondisiku.
"Iya, mataku rasanya sakit sekali kalau melihat cahaya." Sura pun bangkit kemudian berjalan menuju jendela dan menutup korden untuk menghalangi sinar Matahari masuk. Ia kemudian mematikan lampu kamar di dekat kami dan menyisakan sedikit cahaya remang dari arah kamar mandi.
Ia kemudian kembali ke ranjang dan membantuku duduk. Aku hanya menurut padanya termasuk ketika dia menyuapkan bubur yang masih hangat. Meski enggan aku memaksakan diri untuk menelannya. Bagaimanapun aku merasa bersalah padanya. Ia datang ke sini untuk bekerja tapi juga harus mengurusku. Perutku terasa lebih hangat saat menelan bubur itu. Rasanya sedikit lebih baik.
"Oppa apa kau tidak sibuk?"
"Aku masih kosong sampai nanti malam."
"Kalau begitu harusnya kau beristirahat. Bagaimana pun kau juga baru sampai tadi pagi. Kau pasti lelah."
"Aku sudah beristirahat tadi sebelum kamu datang. Kau tak usah memikirkannya. Aku baik-baik saja. Hal yang paling penting sekarang adalah kau harus beristirahat dan cepat sembuh supaya bisa melihat aku latihan nanti malam."
Aku hanya tersenyum tak sadar jika bubur sudah habis. Kemudian Sura membantuku minum dan mengeluarkan obat dari tas kecilku. Ya dia memang hafal dengan kebiasaanku dalam menaruh barang. Dia tahu dimana aku menaruh obat dan lainnya. Aku heran kapan dia tahu mengenai hal remeh seperti itu. Dia kemudian menyodorkan obat yang aku terima dengan enggan.
Jujur saja aku sudah bosan hidup bergantung dengan obat-obatan itu. Padahal rasanya aku sudah sembuh, tapi tetap saja aku diharuskan untuk minum obat tanpa absen. Sialnya aku tak bisa bolos karena Sura selalu saja mengawasi. Meskipun dia tak selalu berada di sisiku. Tapi dia akan terus memantau dan memastikan aku meminum obat telat waktu.
"Nah, sekarang ayo tidur dulu supaya lekas baikan." Aku menurut saja. Mataku terasa makin sakit. Langsung saja aku memejamkan mata dan menutup kepalaku dengan selimut.
"Apakah sesakit itu?" ujarnya. Aku hanya mengangguk. Tanpaku duga Sura naik ke atas ranjang kemudian berbaring di sebelahku. Dengan lancang ia membuka selimut yang menutupi kepalaku kemudian menarikku menuju pelukannya. Aku kaget sekali dengan perlakuannya. Memang dia tak sekali ini melakukan itu padaku. Tapi tetap saja aku tak terbiasa. Aku ingin memprotes tindakannya tapi dia mengusap-usap kepalaku seraya berbisik lirih.
"Tidurlah. Aku akan menemani sampai kau tertidur." Aku ingin menolak tapi mataku bertindak lain. Aki benci kenyataan kalau sudah bersama Sura pikiranku selalu tak sejalan dengan tindakanku. Entah mengapa di dalam pelukan Sura tiba-tiba saja sakit mataku terasa berkurang dan mataku mulai terasa mengantuk. Aku pun tertidur beberapa saat kemudian.
Sura memandangi Hanna dan terus menepuk-nepuk punggungnya seperti tengah menidurkan anaknya. Sebenarnya jantungnya berdebar sangat kencang sedari tadi. Ia sama sekali tak bisa mengendalikan diri. Melihat Hanna merasa sakit seperti itu meskipun itu hanya jet lag membuat ia tak tega. Apalagi kondisi gadis itu belum sepenuhnya pulih. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah memaksanya ikut tour.
Entah darimana ia mendapatkan keberanian untuk naik dan tidur di sebelah Hanna serta membawa gadisnya ke dalam pelukannya. Ia seringkali heran dengar tindakan tiba-tiba yang tak hanya sekali ini pernah ia lakukan. Ia juga tahu kalau gadis itu merasa jengkel dan tak nyaman tapi ia juga ingin egois. Tubuhnya menginginkan sentuhan Hanna. Ia ingin terus berada di dekat Hanna.
"Maaf kan aku ya. Harusnya kamu beristirahat di Korea sekarang. Tapi aku malah dengan egois memaksamu ke sini. Cepat sembuh ya, supaya kamu bisa berjalan-jalan dan menenangkan pikiran di sini. Pasti kamu senang juga bisa di sini kan? Lingkungan Singapura tak terlalu berbeda dengan Indonesia. Iklimnya sama, jadi kamu pasti bisa mengobati kerinduanmu pada Indonesi di sini.
Sura pun ikut tertidur saat menidurkan Hanna. Ia tidur sembari memeluk Hanna dengan erat. Ia tak peduli jika ketiduran nanti untuk acara latihan.
***