Berubah

1746 Kata
Aku menepati janji untuk mengajari Jeno cara meretas. Aku hanya mengajarkan dasar-dasarnya saja. Aku tak mau mengajarkan yang lebih. Bagaimanapun kalau sampai dia melakukan sesuatu yang tidak baik, itu akan merugikan dirinya sendiri. Sementara itu aku juga mendaftar di kelas pembuatan tembikar yang diadakan dua kali dalam satu minggu. Aku juga mendaftar di kelas lukis yang juga diadakan dua kali dalam satu minggu. Sura sendiri kembali pada rutinitasnya. Begitu juga dengan anggota lain. Aku hanya bertemu mereka sebanyak satu kali dalam satu minggu saat aku mengajari Jeno. "Nuuna apakah seperti ini?" Dia menunjukkan kebolehannya meretas ponselnya sendiri. Aku akui dia cepat sekali belajar. Padahal baru tiga kali aku ajarkan. "Benar. Kau harus lebih perkuat lagi pertahananmu. Jangan sampai meninggalkan jejak." "Siap boss." "Hanna-shi, makan dulu." Jun menginterupsi kesibukan kami yang terus berkutat di depan layar laptop selama hampir tiga jam. "Iya oppa. Sebentar." Aku terus mengajarkan Jeno sementara waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Kami bahkan belum makan siang karena terlalu asyik untuk melanjutkan pelajaran. Jeno bahkan seperti orang yang tak berniat untuk meninggalkan tempat duduknya. Aku terus berkutat di depan laptopku. Tak melihat jam lagi. "Makan dulu. Nanti dilanjut lagi." Sura mengagetkanku yang tengah berkonsentrasi dengan layar laptop. Dia menyentuh tanganku. Aku nyaris saja terlonjak. Kapan dia datang? Mengapa aku tak menyadari kedatangan nya sama sekali? "Oppa? Kau mengagetkanku saja. Mengapa aku tak mendengar kedatanganmu? Kapan kau kembali?" Aku memandanginya dengan heran. "Aku sudah di sini hampir satu jam. Kau terlalu asyik dengan laptopmu. Bagaimana mungkin kau bisa menyadari kedatanganku. Bahkan kau saja tak sadar jika aku sudah duduk di sini sedari tadi." Aku hanya tertawa cengengesan. Menggaruk kepalaku yang tak gatal. " Maaf oppa, aku memang suka seperti itu kalau sudah terlalu fokus dengan layar laptop. "Hmm. Aku dicuekin terus kalau sudah begitu. Ayo makan dulu. Nanti dilanjut lagi." "Nggak ah, oppa. Nanggung. Sedikit lagi selesai, biar Jeno tak perlu lagi mengulang dari awal." "Tapi sepertinya ia juga sudah kelaparan dari tadi." Sura mengisyaratkan supaya aku memandang Jeno dengan menunjuk Jeno menggunakan bibirnya. Benar saja, Jeno sudah duduk anteng di atas kursi sembari memakan makanannya. Aku melongo kaget karena ditinggalkan begitu saja. Bahkan dia tak melepaskan pandangannya dari makanan. "Dasar tak setia kawan. Bagaimana mungkin dia meninggalkan gurunya begitu saja. Aku bersungut-sungut, kesal melihat Jeno yang makan bahkan tanpa melihat padaku sedikitpun. Sura tersenyum dan menarik tanganku serta menuntunku menuju meja makan. "Ayok, nggak ada alasan lagi kan untuk menunda makan." Aku hanya menurut. "Jahat ya kamu. Teganya makan duluan dan meninggalkan sensei." Aku berpura-pura marah pada Jeno. "Hehe, maaf sensei, daku mengaku salah. Daku sangat kelaparan karena melewatkan makan siang. Makanya langsung tancap gas saat melihat Jun hyung menghidangkan makanan." Dia tertawa cengengesan. "Hmm. Dasar, bilang dong kalau kau sudah menahan lapar dari tadi." "Habis, nuuna sepertinya semangat sekali saat mengajar. Aku jadi tidak tega untuk menginterupsi." "Aku memang seperti itu dari dulu. Kalau sudah berada di depan layar suka lupa waktu. Lain kali langsung saja menginterupsiku. Aku tak akan sadar jika sudah melewatkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari kalai tak diingatkan." "Siap sensei." Dia mengangkat tangannya hormat ala militer padaku. Aku menyendokan nasi ke dalam mulut. Sementara Sura sibuk menambahkan lauk untukku. Hanya ada kami berempat kali ini. Karena anggota lain memiliki jadwal masing-masing. "Kapan kau akan mulai mengikuti kelas tembikar? ujar Sura. "Besok oppa. Jam 5 sore." "Oke, hati-hati ya. "Tentu." "Oppa sendiri kapan mau berangkat ke Singapura?" " Kami berangkat dua hari lagi dan akan di sana selama satu minggu. Kau yakin tidak mau ikut ke sana?" Sura memandang penuh harap. Akhir-akhir ini dia memang suka sekali membujukku untuk mengikuti acara tour mereka. Tapi aku enggan untuk ikut karena aku tak mau memperlihatkan kedekatan kami. Aku masih belum siap kembali menjadi pusat perhatian orang-orang. "Tidak oppa. Kamu harus fokus dengan para penggemar. Nanti kalau mereka tau aku di sana. Mereka bisa kecewa berat." Sura tampak kecewa saat mendengar penolakanku untuk kesekian kalinya. Akhir-akhir ini ia selalu menunjukkan ekspresinya secara terang-terangan. Entah itu saat dia bahagia, sedih, kecewa bahkan marah. Semuanya ditunjukkan langsung kepadaku. Bahkan sikap konyolnya sekalipun. Aku seperti melihat sisi mengejutkan dari dirinya jika sudah begitu. "Kalau aku kangen bagaimana?" Aku langsung tersedak saat mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Bahkan Jeno dan Jun langsung pura-pura batuk. Begitulah kenyataannya, Sura sekarang lebih ekspresif daripada biasanya. Sesering apapun aku mendengarnya. Aku masih belum merasa terbiasa. Karena dia yang aku dan orang-orang kenal tak seperti itu. Tapi sekarang dia seperti menjadi orang lain ataukah memang sifatnya seperti itu sebenarnya. Hanya saja dia terlalu malu untuk menunjukkannya. "Cie, Hyuung. Pepet aja terus." Jeno tertawa jahil. "Lanjutkan. Jangan kasih kendor," sambung Jun. "Ih, oppa. Aneh-aneh aja omongannya " Aku berusaha menetralkan suasana hatiku. Jantungku berdebar tak karuan sedari tadi. Aku hanya berharap mukaku tak memerah. Sebisa mungkin aku mempertahankan sikap normalku. Aku tak ingin mereka berfikiran yang tidak-tidak. "Loh? Kenapa aneh-aneh? Aku nggak lagi becanda atau bagaimana," ujar Sura tak terima. "Ya deh, terserah orang tua. Orang tua memang selalu benar." Aku bersungut-sungut padanya. "Perempuan itu yang selalu benar. Bukan orang tua," koreksinya. "Oh iya ya." Aku langsung memasang wajah nyengir padanya. "Jadi bagaimana kalau aku sampai kangen?" Astaga, dia masih saja mau lanjut untu membahas permasalahan kangen. "Oppa. Kalau kau kangen nanti bisa vidio call. Kan gampang. Apa gunanya ponselmu itu," ujarku asal. "Tetap saja beda." Entah aku yang salah dengar atau memang benar adanya. Suara Sura bahkan terdengar seperti orang merajuk. Jun dan Jeno bahkan saling lirik dan saling lempar senyum penuh arti. Meskipun Sura kerap melakukannya akhir-akhir ini, tapi aku masih belum terbiasa dengan perubahan sikapnya yang hampir Seratus Delapan Puluh derajat itu. Oh salah, hampir 240 derajat. "Ih, kamu itu harus fokus sama tour oppa. Jangan seperti itu terus. Ingat, kalau kamu sampai membuat penggemar kecewa. Aku tak mau lagi bertemu denganmu. Aku akan pindah ke luar negeri." Aku pun mengeluarkan ancaman padanya. Memang senjata perempuan adalah mengancam, pikirku sembari tertawa dalam hati. " Ya deh. Terserah. Wanita mah bebas." Sura langsung membuat jarak denganku. Dia terlihat seperti orang yang tengah merajuk. Aku sampai melongo kaget saat melihatnya. Fiks, dia benar-benar berubah dua ratus empat puluh derajat. Tidak kali ini dua ratus sembilan puluh derajat. "Hahahaha." Tawa Jeno dan Jun langsung pecah. "Aduh Hanna-si. Turuti saja kemauan Sura kali ini. Dia sampai ngambek seperti itu lo. Aku belum pernah lo melihat Sura bertingkah seperti itu," ujar Jun. Dia masih sibuk tertawa sampai air matanya keluar. "Benar nuuna apa yang dikatakan oleh Jun hyung. Kamu turuti saja kemauannya Sura hyung. Aku belum pernah melihat dia bertingkah seperti itu. Astaga kok lucu sekali." Jeno bahkan sampai mengeluarkan ponselnya. Ia tak ingin melewatkan momen langka seperti ini. Sementara Sura terlihat acuh, tak peduli. Aku hanya bisa mengusap-usap d**a. Sabar, orang-orang ganteng mah bebas. "Ya sudah, aku akan mempertimbangkannya. Jangan ngambek begitu dong oppa. Sama sekali tidak lucu lo." Aku akhirnya mengalah dan kemudian membujuk Sura oppa. "Banarkah?" Wajahnya kembali sumringah mendengar ucapanku. Astaga, sekarang dia seperti anak Anjing yang menggemaskan. "Akan aku pertimbangkan. Tapi aku tak janji untuk menepatinya. Kita lihat saja nanti. Bagaimana pun, aku masih belum siap untuk muncul kembali di tengah publik. Hidup seperti ini lebih nyaman dan tenang." Memang benar, setelah menghilang dari hadapan publik. Rasanya kecemesan dan mimpi burukku berkurang. Aku tak lagi sering dihantui memori buruk dan juga pikiran-pikiran negatif. Terlebih aku tak main media sosial lagi sekarang. Jadinya terasa lebih tenang lagi. "Oke, aku tunggu keputusanmu." Sura mengakhiri acara merajuknya. Ia kembali menarik kursi dan duduk mendekat dengan Hanna. Ia bahkan dengan santai menyuapi Hanna yang hanya menurut saja. Mereka berdua seperti orang yang lupa daratan. Tak ingat bahwa bukan cuma mereka berdua yang ada di ruangan itu. Ya sudahlah. Aku hanya bisa pasrah kali ini. Mau bagaimanapun memang benar yang dikatakan Sura, aku tak bisa menyembunyikan diri terus seperti ini. Aku harus bangkit dan mulai menata kembali hidupku. "Jadi setelah ini apa yang ingin kau lakukan?" "Hmm. Jeno kamu masih mau melanjutkan pelajaran atau bagaimana?" Alih-alih menjawab pertanyaan Sura, aku mengalihkan perhatian pada Jeno yang masih sibuk makan dihadapanku. Sementara itu kami sudah selesai makan. "Hmm, sepertinya kita sambung next aja nuuna. Aku capek sekali. Aku pengen main game dulu." Nyaris saja aku menepuk jidat saat mendengar jawabannya. "Kalau capek ya istirahat. Bukannya main game. Astaga, obat macam apa itu. Bilang saja kalau kau memang pengen main game." "Hahaha. Kau tahu saja nuna. Aku pengen main game dulu." "Ya sudah. Kalau begitu setelah makan aku akan pulang." "Eh, jangan." Sura langsung menarik tanganku yang tengah memainkan sumpit. Aku menatapnya dengan penuh tanya. "Kenapa memangnya?" "Kau di sini saja dulu. Aku ingin memperlihatkan lagu baruku padamu." Dia memandangku dengan tatapan mengiba. Astga, apa kabar dengan jantungku. Kenapa dia menggemaskan sekali? Dan kenapa makin kesini tambah menggemaskan. "Hadeh. Memangnya kau tak ada jadwal lagi hari ini oppa?" "Nggak ada. Lagi pula seharian besok kami semua libur. Persiapan keberangkatan ke Singapura." "Ya sudahlah kalau begitu. Aku akan tetap di sini untuk melihat lagu barumu itu. Lama-lama dorm ini jadi rumahku juga ya," omelku. Mereka tertawa mendengarkan ocehanku. "Kalau begitu nuuna menyewa kamar di sini saja? Biar kita bisa satu apartemen dan nggak perlu susah-susah dan sembunyi-sembunyi lagi kalau mau bertemu. "Kau gila? Kau menyuruhku membayar apartemen dengan harga selangit ini?" Aku memandanginya tak percaya. "Loh kenapa? Aku yakin gajimu melebihi kami. Terlebih dengan jabatan dan pekerjaan-pekerjaan sampinganmu itu." "Kau tau darimana kalau aku punya pekerjaan sampingan?" "Loh, semua orang juga tahu kali nuna?" Aku memandanginya dengan kening berkerut. Benarkah semua orang tahu kalau aku juga membuka jasa penerjemah? "Tahu darimana?" "Astaga nuuna. Kan kau bekerja di stasiun TV kemaren. Semua orang juga tahu itu." "Oala, kirain aku apa." Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Aku pikir ucapan Jeno apa ternyata yang dia pikirkan malah lain lagi. Kami sama-sama salah paham. "Memangnya kau punya kerja sampingan yang lain nuna?" Jeno memandangku curiga. Aku memang tak mengambil job menerjemahkan lagi semenjak masuk rumah sakit kemaren. Tapi mungkin ke depan masih. Memang benar apa yang dikatakan Jeno. Jika semua pendapatanku digabungkan. Aku punya uang berlebih-lebih jika hanya ingin menyewa atau membeli satu unit apartemen di tempat yang sama dengan mereka. Tapi perlu diingat, aku membenci segala macam bentuk pemborosan. Dan aku sama sekali tak mau mengeluarkan uang hanya untuk memiliki apartemen mewah. Apartemenku sekarang lebih dari cukup untuk sekedar tidur dan beristirahat. "Aku kok curiga nuna punya pekerjaan lain ya?" Jeno memandangiku penuh selidik. "Benarkah Hanna? Kamu punya pekerjaan sampingan lain?" ujar Sura. "Nggak." Aku langsung menjawab dengan cepat. Memang benarkan kalau aku tak punya pekerjaan sampingan lain untuk sekarang, di waktu ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN