Aku berjalan cepat menuju asrama Star One dari stasiun kereta bawah tanah. Berusaha bersikap senetral mungkin agar tidak terkesan mencurigakan. Aku sebenarnya khawatir jika sewaktu-waktu ada wartawan ataupun fans nyasar memergokiku ke tempat ini. Tapi aku tetap harus datang ke tempat mereka. Mau bagaimana lagi? Lebih tidak lucu lagi kan kalau mereka yang datang ke apartemenku? Itu pastinya akan lebih mengundang perhatian lagi. Aku berjalan santai melewati pintu penjagaan, karena mereka sudah sangat hafal denganku.
"Lo, Hanna-si, kamu ngapain di sini?" Aku kaget saat mendengar ada suara laki-laki dari belakang. Akupun menoleh ke arah sumber suara tersebut. Keningku sedikit berkerut karena tidak mengenali orang yang menyapaku.
"Ini aku, Kim Sunggyu. Kita pernah bertemu di acara jalan-jalan ke Indonesia."
"A... Suggyu oppa. Maaf, aku tak mengenalimu. Kau tampak berbeda dari biasanya."
Memang, pria itu terlihat lebih tampan dengan setelah tuxedo dan sepatu mengkilat yang dia gunakan. Rambutnya juga di tata sedemikian rupa dengan memperlihatkan sedikit keningnya. Kesan tampan dan misterius tak bisa dihindari dari penampilannya itu. Aku bisa pastikan, penggemarnya akan berteriak histeris jika mengetahui penampilannya sekarang. Pantas saja aku tak mengenalinya.
Aku bertemu dengannya dulu sewaktu menjadi salah satu freelance di acara jalan-jalan stasiun TV. Waktu itu dia hanya menggunakan kaos oblong ataupun kemeja pantai dan penampilannya sangat santai. Sangat berbeda dengan penampilannya sekarang yang sangat formal.
"Tidak apa-apa. Kau mau kemana?"
"Mau menemui teman," ujarku.
"Teman? Oo Star One?" Aku hanya diam, tak menjawab sembari berfikir. Soalnya hanya mereka selebriti lain yang tinggal di sini."
"Memangnya aku harus bertemu selebriti jika ingin ke apartemen ini?" ujarku sedikit bercanda.
"Haha. Tidak juga sih. Soalnya karena kau sepertinya selalu sibuk dan juga terkenal. Makanya aku kira orang yang kau temui adalah selebriti."
"Haha. Aku tak sepenting itu, oppa."
"Kau penting. Kalau tidak, nggak mungkin satu negara mengenalmu."
"Kau jangan mengejekku oppa." Aku berpura-pura merenggut padanya.
"Jangan marah begitu. Oiya, apa aku boleh minta ID-mu?"
"Buat apa oppa? Jangan bilang kalau kan nge-fans padaku." Aku menggodanya sembari membuka ponselku dan menunjukkan ID-ku. Dia pun menscan ID-ku.
"Hahaha, anggap saja seperti itu."
"Oiya, oppa mau kemana dengan pakaian seperti itu?" Aku yang memang dasarnya selalu penasaran tak bisa mengerem mulutku untuk tidak bertanya padanya.
"Aku ada acara di salah satu stasiun TV. Apa kau mau ikut?"
"Oh tidak, terimakasih. Big no." Dia tertawa melihat reaksiku.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Sebelum aku terlambat menghadiri acara."
"Tentu oppa. Hati-hati di jalan."
"Siap boss. Dan terimakasih untuk ID nya." Dia tertawa lebar kemudian pergi meninggalkanku. Astaga, dia ganteng sekali. Untung saja aku bukan tipikal orang yang mudah terpesona dengan rupa orang lain. Kalau tidak, bisa dipastikan aku akan histeris melihatnya. Dia benar-benar tampan.
Aku segera berbalik menuju unit Star One. Kelamaan ngobrol dengan Kim Sunggyu membuatku lupa tujuan awal kedatanganku ke apartemen ini. Aku menekan bel saat sudah sampai di depan kamar mereka. Tapi sepertinya tak ada yang mendengar. Tak ada seorangpun yang membukakan pintu meskipun aku sudah menekan bel berkali-kali. Aku mulai kesal, kemana mereka sebenarnya?
Jenuh memencet bel dan berdiri selama 15 menit. Akupun menelpon ke Sura Oppa, tapi ia tak mengangkatnya sama sekali. Aku mencoba beberapa kali, tetap saja sama. Akhirnya aku mencoba untuk menghubungi yang lain. Hebatnya tak ada satupun yang mengangkat teleponku. Apa mereka lagi ada syuting? Tapi kok tadi nyuruh aku ke sini. Aku kesal sendiri. Aku mencoba memencet bel untuk terakhir kali.
"Ya, siapa?" Aku mendengar Jeno menjawab.
"Paket bom," jawabku asal. Aku mendengar suara tawa dari interphone kemudian tak lama setelah itu pintu di buka. Aku nyaris saja menyembur Jeno dengan segala macam u*****n. Tapi mulutku langsung aku rem saat melihat mereka menyambutku.
"Surprise," kor mereka kompak. Aku kaget. Sura oppa bahkan memegang sebuah kue dengan lilin angka 28 di atasnya. Jun tampak menggunakan topi kerucut. Jeno dan Jeimin membunyikan peluit lidah yang sering dipakai orang saat merayakan ulang tahun. Kau bayangkan saja sendiri apa yang aku maksud. Otakku sedang tidak dalam keadaan baik untuk mengingat apa namanya. Rein, Vlo dan Jacop ikut melemparkan konfeti sebagai efek kejutan mereka.
"Masuk dulu nuuna." Jeno menarikku sedikit agar dia bisa menutup pintu. Kemudian mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Aku kaget bukan main saat mereka menyanyikan lagu untukku. Jadi ini kejutan ulang tahun untukku?
Astaga, kenapa aku malah merasa miris melihat umurku yang ternyata sudah 28 tahun saja. Ingin menangis tapi memang itulah kenyataannya. Tapi ini luar negeri, mereka tak akan memandang umurku sudah tua. Hanya saja aku masih belum terbiasa dengan culture yang satu itu.
Bagiku yang terbiasa dengan usia di Indonesia, umur segitu malah membuatku merasa tua sekali. Tapi bagaimanapun aku tetap terharu dengan kejutan yang mereka buat. Terlebih juga ada manager yang tengah merekam. Tentu saja merekam acara kejutan ulang tahun untukku. Jadi tidak ada sensor kali ini.
"Ayo tiup lilinnya dan jangan lupa ucapkan permohonanmu," ujar Sura. Akupun menuruti dan meniup lilin. Saat api padam mereka langsung bertepuk tangan. Aku tak bisa menyembunyikan wajahku yang berseri-seri sedari tadi. Kemudian aku mengucapkan permohonanku dalam hati.
"Tuhan aku berharap bisa bahagia seperti ini lebih sering. Aku berharap bisa dikelilingi oleh orang-orang seperti mereka lebih lama."
"Kau mengucapkan permohonanan apa?" Jun memandangku penasaran.
"Rahasia dong." Aku mengedipkan sebelah mata padanya.
"Jangan-jangan kau memohon agar bisa segera menikah dengan Sura." Dia meledekku.
"Hyung kapan kau akan melamar nuuna?" Jeno ikut memanas-manasi.
"Nanti, setelah wamil." Tawa mereka langsung meledak saat mendengar jawaban Sura. Sementara aku hanya tersenyum mesem-mesem mendengarnya. Dia serius atau bercanda? Setelah wajib militer berarti satu tahunan lagi, karena beberapa bulan lagi mereka akan berangkat menjalani wajib militer.
"Cie, Hanna langsung berfikir. Berapa lama lagi waktu yang harus dia habiskan untuk menunggu lamaran Sura hyuung." Jeimin meledekku. Aku merasa seperti Kucing yang tertangkap basah. Mukaku langsung memerah.
"Cie, mukanya langsung memerah gitu," tambahnya. Aku melirik Jeimin oppa dengan kesal.
"Oppa. Awas saja ya nanti. Kau tak akanku lepaskan." Aku berdecak sebal.
"Hahaha. Takut. Hanna galak."
"Sudah, jangan digoda lagi. Ayo duduk dulu dan biarkan Hanna memotong kuenya," ujar Jacop. Kami menurut dan langsung menuju sofa. Sura segera menyerahkan pisau untuk memotong Kue padaku. Akupun memotongnya.
"Jadi siapa yang akan dapat potongan pertama?" Vlo mulai kembali menggoda. Aku memandang mereka berkeliling. Kemudian berdiri memutari mereka. Sedikit mengerjai mereka yang tampaknya berharap untuk mendapatkan potongan pertama dariku. Aku tak akan terperangkap lagi kali ini. Enak saja. Mau mengerjaiku lagi? Kau harus berfikir ribuan kali. Aku kemudian berhenti dan berjalan tiba-tiba ke arah manager yang tengah merekam.
"Potongan pertamanya untuk manager yang sudah bersabar merawat anak-anaknya sehingga mereka bisa sesukses ini dan aku diberi kesempatan untuk bertemu mereka." Manager tampak kaget saat aku menyuapinya tapi dia menerimanya. Tampak terharu dengan pilihanku.
"Terimakasih Hanna-si. Semoga panjang umur dan kau bahagia serta sehat selalu. Aku berharap kebahagiaan akan selalu mengiringi langkahmu," ujarnya tulus.
"A..mi..n. Terimakasih manager. Terimakasih untuk semuanya." Aku membalas dengan senyuman yang tak kalah tulus.
"Oke, potongan keduanya untuk siapa nuuna?"
"Tak ada potonga kedua. Semua langsung akan kupotong." Aku tertawa jahil pada mereka. Kemudian memotong kue dan memberikan secara acak pada mereka.
Jacop usil mengoleskan krim kue ke pipiku. Aku yang tak terima langsung membalasaskan pada Jeimin. Jeimin yang merasa tak punya salah langsung balas dendam pada Vlo. Vlo yang tak terimapun melanjutkan pada Jun. Jun membalaskan pada Rein. Rein menggeleng-gelengkan kepala akibat ulah usil kami.
Jeno pun mengambil lagi krim dan mengoleskan pada Sura. Sura mengernyitkan keningnya karena ikut terkena imbas. Kami saling pandang karena ada satu orang yang belum kena yaitu manager. Dengan kompak kami langsung mencolek krim dan berlari mengejar manager.
Manager yang tengah fokus mereka langsung kaget melihat kami berhamburan menyerbunya. Ia tak sempat mengelak dan langsung berlepotan krim kue yang langsung memenuhi wajahnya.
"Kalian kompak ya kalau mau mengerjai orang tua."
"Hahaha." Kami tertawa terbahak-bahak melihat tampang manager yang awut-awutan. Bahkan bajunya pun ikut kotor akibat ulah tak bertanggungjawab dari tangan kami.
"Hyung wajahmu lucu sekali." Jun tak bisa berhenti tertawa. Sementara tangannya sibuk mencolek kembali krim dan mencoba membalurkannya ke wajahku secara diam-diam. Untung saja aku bisa mengelak, alhasil Sura yang berada di belakangku yang terkena imbasnya. Mukanya langsung penuh dengan cetak tangan dari Jeno.
Sura langsung memasang tampang wajah pasrah. Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya ditambah dengan kondisi wajahnya yang berlepotan. Benar-benar tak bisa dikondisikan. Aku sampai menepuk-nepuk bahu Jun yang berdiri di sebelahku karena tertawa.
"Ketawain aja terus. Bahagia banget liat orang menderita." Sura bersungut-sungut memandangku. Aku saling pandang dengan Jun kemudian sama-sama tertawa terbahak-bahak.
"Sudah, sudah oppa. Aku sakit perut gegara kebanyakan tertawa," ujarku pada Jun.
Tapi kemudian saat aku memandang wajah Sura tawaku kembali meledak. Terlebih saat mendengar suara tawa Jun. Akhirnya yang lain ikut tertawa. Entah menertawakan Sura atau menertawakan tawa kita sendiri. Sementara Sura hanya memasang wajah sebal. Setelah beberapa menit akhirnya kami berhasil meredakan tawa. Aku pun terbungkuk-bungku menuju sofa. Perutku masih sakit karena kebanyak tertawa. Yang lain pun ikut menyusul duduk.
"Jadi apa harapanmu untuk kedepan?" ujar Vlo.
"Aku hanya ingin supaya tetap bisa hidup bahagia."
"Tentu. Semoga saja."
"A..mi..n."
"Nuna aku punya sesuatu untukmu," ujar Jeno. Ia kemudian berjalan ke kamarnya, tak beberapa lama ia kembali sembari menenteng sebuah kado yang sangat besar. Aku sampai melongo kaget karena ukurannya sebesar tubuh manusia. Aku curiga jangan-jangan isinya adalah manusia.
"Tada. Kejutan untuk nuna." Dia pun mengamitku untuk mendekatinya. Aku menurut saja. Coba dibuka nuuna. Aku pun membuka pitanya dan merobek kertas bagian atas. Sebuah kardus kulkas langsung terpampang. Aku nyaris tertawa melihat kardusnya. Ternyata mereka kalau membungkus kado juga pakai kardus bekas ya.
Aku pun membuka penutupnya dan kaget melihat boneka besar karakter Sura yang biasanya dijual sebagai marcandise di dalamnya. Bisa ya bonekanya di buat sebesar ini. Jeno membantuku mengeluarkannya dari kardus. Kemudian mendorongnya ke dalam pelukanku. Bonekanya benar-benar besar. Sama tinggi denganku.
"Biar nuna kalau kangen sama hyung bisa dipeluk malam-malam." Dia tertawa terbahak-bahak usai mengatakannya padaku. Aku hanya melongos. Peluk sih peluk. Tapi nggak boneka segede gaban kayak gini juga. Yang ada aku kaget setiap malam terbangun melihat boneka sebesar ini. Bahkan bisa kupastikan bonekanya bisa menjadi ganti kasur untukku saking gedenya. Tapi aku hargai pemberiannya.
"Terimakasih Jeno. Kau pengertian sekali," ujarku tulus. Pengertian yang kumaksud adalah karena sudah memberiku hadiah. Bukan embel-embel dari hadianya.
"Nah, bonekanya ditaruh dulu. Aku juga punya sesuatu untukmu," Jun pun menyerahkan sebuah kado yang lumayan besar seukuran kotak sepatu padaku.
Benar saja saat aku buka isinya ternyata adalah sepatu .. keluaran terbaru berwarna putih. Dia tahu sekali seleraku, memang aku selalu memakai sepatu bewarna putih. Tak pernah memakai warna lain. Aku pecinta sepatu putih, entah sepatu running, walking shoes, sport dan sejenisnya. Aku memandangnya dengan wajah berseri-seri. Aku tahu persis harga sepatu ini. Benar-benar mahal. Aku sendiri meskipun punya uang tak mau membelinya. Bagiku hal tersebut hanya membuang-buang uang saja.
"Oppa, cukae, saranghaeo." Aku memberikan tanda hati padanya yang langsung diterima Jun dengan gaya ala-ala orang yang tengah ditembak panah asmara.
"Ih nuuna. Cuma Jun hyung yang dikasih kayak gitu. Aku kan juga mau." Jeno bersungut-sungut padaku. Aku tertawa sembari memberikan tanda hati dengan mengangkat kedua tanganku di kepala membentuk love. Dia langsung tersenyum sembari memberikan tanda hati menggunakan jari jempol dan telunjuknya.
"Hanna, ini hadiah untukmu." Jeimin menyerahkan kado berukuran kecil padaku.
"Terimakasih oppa." Aku memberikan senyuman terbaik padanya. Kemudian membuka kadonya. Ternyata adalah alat penangkap mimpi.
"Itu supaya kamu nggak bermimpi buruk lagi setiap malam." Aku memandangnya dengan penuh terimakasih. Meskipun aku tak percaya dengan benda-benda seperti itu. Tapi aku menghargai niat baiknya.
"Saranghaeo oppa." Aku pun memberi tanda hati lagi padanya.
"Dan ini untuk Hanna-si." Jacop memberikan jadinya padaku. Aku pun langsung membukanya. Ternyata isinya adalah album mereka.
"Jadi oppa menyuruhku menjadi anggota fans club kalian," ujarku sembari bercanda.
"Hahaha. Betul sekali. Selamat kamu sudah bergabung menjadi fans vvvvvip kami." Aku tertawa terbahak melihat tingkahnya.
"Arasso. Arasso. Cukae oppa. Saranghaeo."
"Saranghaeo." Dia memberikan tanda hati padaku.
"Ini kado untukmu." Rein dan Vlo berbicara berbarengan padaku.
"Wah, oppa. Kalian kompak sekali. Terimakasih." Aku pun membuka kado dari Vlo terlebih dahulu. Ternyata isinya adalah ponsel keluaran terbaru dari produk apel yang digigit. Lengkap dengan segala aksesorisnya dan nggak usah tanya lagi. Di balik casingnya ada gambar mereka. Aku tertawa melihatnya. Dasar narsis sekali. Kemudian aku membuka punya Rein. Sesuai dugaanku. Dia memberiku hadiah buku. Buku tentang psikologi.
"Saranghaeo oppa." Aku memberikan kedua tanda cintaku dari tanganku kepada mereka berdua.
"Nah sekarang waktunya kado dari Sura." Manager angkat suara setelah sekian lama hanya diam sembari merekam.
"Loh, manager nggak ngasih aku hadiah?" Aku sedikit mengerjainya. Bukan benar-benar berniat meminta hadiah tapi ternyata dia benar-benar menyiapkan hadiah untukku.
"Ini untuk Hanna-si."
"Wah, manager beneran menyiapkan hadiah untukku? Padahal aku hanya bercanda."
"Tentu saja donk. Ayo dibuka." Aku pun membuka kado darinya. Ternyata isinya adalah tiket menonton di bioskop. Dan ada dua lagi.
"Manager ngecein aku ya. Ngasih tiket dua. Trus aku pergi sama siapa? Aku mengingat lagi jika tak punya teman lagi di Seoul. Ae-Ri sudah pindah beberapa bulan lalu ke Jepang. Ikut bergabung dengan anak cabang perusahaan stasiun televisi yang di Jepang.
"Hihihi... Rahasia donk."
"Lah malah rahasia-rahasiaan lagi."
"Haha. Nanti kamu akan tau sendiri. Sekarang lihat kado dari Sura dulu." Aku pun mengalah. Sura menyerahkan sebuah kado berukuran lumayan kecil padaku. Aku kaget saat membukanya karena isinya ternyata adalah album khusus lagu-lagu yang dia ciptakan untukku. Aku memandangnya tak percaya. Bahkan album itu memiliki judul sendiri. "My Girl"
"Ini beneran untukku oppa?"
"Tentu saja."
"Hyung sampai begadang lo saat menciptakan lagu yang terakhir," ujar Vlo.
"Benarkah? Terimakasih." Aku benar-benar merasa terharu. Tak hanya untuk hadiah yg diberikan oleh Sura tapi juga oleh mereka semua. Mereka sangat baik sekali padaku.
"Masak cuma terimakasih aja," Jun memanas-manasi.
"Lalu apa lagi?" Aku bertanya dengan wajah yang benar-benar polos. Tawa anggota Star One langsung pecah saat melihat tampangku.
"Hanna-si. Hanna-si. Polos banget sih? Malah pakai nanya lagi. Peluk kek." Jacop langsung mendorongku sedikit ke arah Sura. Untung saja aku bisa menahan diriku sendiri sebelum beneran jatuh ke dalam pelukan Sura.
"Hya, oppa," teriakku sembari berlari mengejar Jacop. Dia langsung berlari menghindariku dan yang lain ikutan berlari saling bersembunyi di punggung Sura. Aku sampai kewalahan menghadapi mereka. Aku heran, umur mereka itu sebenarnya berapa sih? Sementara itu Sura hanya pasrah menjadi benteng di antara aku dan anggotanya. Sementara itu manager hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan kami."
"Kalian benar-benar absurd," ujarnya.
***