Cerita Masa Lalu

1464 Kata
"Hanna, kamu dimana?" Sura bertanya padaku dari seberang melalui telepon. "Aku ada di apartemen. Memangnya kenapa oppa?" "Kamu bisa ke sini nggak? Aku punya sesuatu yang ingin diperlihatkan." "Memangnya mau memperlihatkan apa?" "Kesini saja dulu." "Arasso.. arasso." "Apa mau dijemput?" "Jangan bercanda oppa." "Hahaha..Siapa tau kamu mau dijemput." "No and never. Aku nggak mau menjadi bulan-bulanan fans-mu. Mereka mengerikan kalau lagi marah." Aku bergedik sendiri membayangkan. Memang sih, ucapanku sama sekali belum terbukti. Tapi mencegah lebih baik daripada mengobati. Aku tak mau berurusan dengan sesuatu yang mengganggu ketenangan hidupku lagi. "Oke, hati-hati di jalan ya. Kamu naik mobil sendiri atau naik bus?" "Sepertinya aku naik.mobil saja." "Jangan ngebut. Cek selalu spidometermu itu saat jalan." "Ia.. ia. Oppa bawel banget sih. Kapan berangkatnya kalau begini?" Dia tertawa kembali mendengar protesku. Aku mohon jangan sering tertawa, jantungku terasa tidak sehat, pikirku. Akhir-akhir ini dia selalu banyam tertawa padaku. Sialnya, aku selalu terpesona saat dia tertawa. Tak jarang tingkahku menjadi bulan-bulanan oleh anggota Star One yang lain. Mereka akan mengejekku jika sudah begitu. "Arasso. Hati-hati di jalan." Dia pun kemudian mematikan sambungan teleponnya. Aku menatap layar ponsel sambil tersenyum-senyum sendiri. Tanpa sadar aku mungkin benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Tapi aku ingin menyembunyikan perasaanku. Bagaimanapun, aku sama sekali tak pantas untuknya. Sura berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Semantara aku sangat tidak pantas untuknya. Terserah jika orang-orang berfikir bahwa aku terlalu pesimis. Memang begitu kenyataannya, soal asmara aku selalu pesimis. Ingatanku melayang pada kejadian di Indonesia. Beberapa hari setelah keributan yang diciptakan oleh bang Nanda di kamarku yang membuat semua orang akhirnya mengetahui rahasiaku. Tak hanya sampai di sana. Mereka tak kapok menerorku bahkan mengancam akan menyebarkan aibku. "Sebarkan saja. Aku tak peduli. Kalau kau menyebarkannya, bukan aku yang akan terkena getahnya. Tapi suamimu itu. Bagaimana mungkin seorang dosen memiliki kelakuan b***t seperti itu bahkan sekarang ingin mencalonkan diri menjadi anggota dewan lagi. Kau pikir siapa yang akan sudi memilihnya nanti? Sebaiknya kau berhenti menggangu hidupku. Kau hanya membuang-buang tenaga saja. Aku tinggal di luar negeri. Bahkan kewarganegaraanku sekarang sudah resmi menjadi warga Amerika. Di sana pikiran orang-orangnya lebih terbuka. Mereka tak akan menghinaku hanya karena aku rak perawan lagi. Jadi hentikan omong kosongmu itu dan urus saja keluargamu. Aku bukan lagi Hanna yang dulu yang bisa kalian tindas semaunya." Aku meninggalkan taman Rumah Sakit dimana Lia masih berdiri mematung mendengar ucapan tajamku. Niatku untuk menenangkan diri di taman buyar sudah akibat kehadiran dia. Kemaren bang Nanda kemarennya lagi kakak iparnya. Ada apa sih dengan keluarga mereka. Aku mengetahui niat buruk mereka dari orang yang kuutus untuk menyelidiki mereka. Tak sulit bagiku untuk melakukannya, mengingat relasiku ada dimana-mana. Aku kembali ke kamar dengan perasaan dongkol. Ternyata di dalam sudah ada bang Yanuar. "Kamu habis darimana?" "Taman, bang. Sura oppa kemana?" "Dia tadi balik ke hotel." Aku hanya mengangguk kemudian naik ke atas ranjang. Tiba-tiba suasana di antara kami terasa canggung. Tak ada satupun yang memulai percakapan untuk beberapa saat. "Na, apa benar yang dikatakan oleh Nanda kemaren?" Bang Nanda tampak berhati-hati memulai percakapan denganku. Sepertinya ia takut menyinggungku atau membuatku drop kembali. Aku memandanginya dengan sedih lantas kemudian mengangguk. Ia tampak menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya dengan berat. "Apa yang terjadi? Apa dia memaksamu?" Suara Bang Nanda tak terdengar seperti menghakimiku. Aku sedikit lega karena dia tak langsung menyerangku. Bahkan dia tak menamparku saja sudah syukur sekali rasanya. Semenjak keributan itu, dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Sepertinya dia ingin menenangkan diri sendiri sebelum bertanya lebih lanjut kepadaku. Mungkin dia takut akan mengasariku jika dia menginterogasiku saat itu juga. Aku kembali mengangguk. Ingatanku kembali pada tahun pertama kuliah. Waktu itu aku bermain di kosannya. Aku sering bermain di kosan seniorku. Entah sekedar mengisi waktu ataupun bertanya terkait pelajaran. Aku kira awalnya akan baik-baik saja. Mengingat kami sama-sama dari Pesantren. Ingatkan aku jika memang semua adalah kesalahanku. Tak pandai menjaga diri. Aku pikir akan baik-baik saja main di sana, terlebih pintu kamar juga dalam keadaan terbuka. Tapi di sanalah semua berawal. Hari itu gelagatnya tampak mencurigakan. Berkali-kali memandang kanan kiri dan orang di jalanan. Memang tipikal kosannya adalah kosan dengan masing-masing pintu langsung menghadap ke teras. Terlebih di luar, sebelah kamarnya langsung berdampingan dengan jalanan gang. Pintu kamar memang selalu di buka separoh saja. Hari itu tak ada seniorku yang lain di sana. Mungkin karena status kami berpacaran makanya dia pergi dari kos, enggan untuk menjadi Nyamuk. Tiba-tiba saja dia mendekapku yang duduk di sebelahnya yang tengah membaca. Aku kaget karena selama ini belum ada yang berani menyentuhku. Badanku langsung kaku, tak bisa bergerak. Aku berusaha tenang dan berpikiran positif. 'Mungkin dia hanya ingin merangkul saja,' pikirku. Tapi kemudian tangannya mulai berani dan merayap ke area sensitifku. Spontan aku langsung berusaha melepas tangannya, tapi tenaganya lebih kuat. Aku merasa tubuhku kaku sekali. Aku ingin berteriak dan ingin berlari meninggalkan kamarnya. Tapi badanku tak merespon sedikitpun. Aku ketakutan. Apa yang harus aku lakukan? Berbagai macam pikiran hanya sekedar melintas di dalam otakku. Tubuhku tak mampu melakukan perlawanan. Aku baru sadar bahwa semua sudah terlambat saat dia selesai melakukannya padaku. Aku lebih tercengang lagi saat dia tiba-tiba menangis. 'Kenapa malah dia yang menangis? Harusnya aku yang menangis. Kenapa dia melakukan itu padaku? Kenapa dia mengkhianati kepercayaanku?' "Kamu tidak perawan lagi?" ujarnya. Aku melongo kaget tak percaya. Inginku tampol wajahnya sekuat mungkin. Tapi tanganku tak kuasa bergerak. Aku hanya tidur memunggunginya. Sama sekali tak berniat untuk bergerak, apalagi pergi meninggalkan kos nya. Aku membiarkan dia merapikan pakaianku agar tak ada orang yang curiga. Air mataku sudah kering terlebih dahulu sebelum sempat aku tumpahkan. Semenjak saat itu, dia kerap kali menggagahiku. Mengungkit bahwa kami adalah pasangan yang saling mencintai. Aku adalah miliknya. Dia adalah laki-laki terbaik karena mau menerimaku apa adanya meski sudah tak perawan lagi. Aku sedih mengingat fakta yang satu itu. Betapa kurang ajarnya dia karena menganggapku sudah tak perawan lagi hanya karena tidak ada darah yang keluar. Bukannya dalam pelajaran di pondok dulu juga disebutkan. Tak semua perempuan perawan memiliki selaput dara. Mungkin aku adalah salah satunya. Karena memang selama ini tak ada satu orangpun laki-laki yang sudah menyentuhku. Jangankan menyentuhku seperti yang dia bayangkan. Memegang tanganku saja, dia adalah orang pertama. Jadi aku yakin sekali bahwa aku masih perawan. Aku merutuk menyesali diri dikemudian hari. Mengingat-ingat kebodohanku di masa lalu. Kenapa aku tak melarikan diri waktu itu? Kenapa aku tak menolaknya? Mengapa aku tak mencoba membela diri? Dan masih banyak penyesalan lain yang bercokol diingatanku. Hal itu juga yang menjadi penyebab mimpi-mimpi burukku dan membuatku harus menerima konsultasi dari psikiater. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Sebesar apapun penyesalanku, semua tak akan berguna lagi. Bang Yanuar mengeram geram saat aku selesai menceritakannya padanya. Ia menarikku dalam pelukannya sembari menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Memang dia lumayan sering memelukku semenjak Ibuku meninggal. Sekedar untuk menenangkanku dan menguatkanku. "Maafin Abang ya, Na. Harusnya Abang bisa menjaga kamu. Harusnya Abang lebih memantau kamu lagi. Harusnya abang ada saat kamu terpuruk sendiri. Abang merasa berdosa pada Ibumu." "Semua sudah berlalu Bang. Tak ada yang perlu disesalkan. Salah Hanna juga yang tak bisa menjaga diri ." "Tidak, kamu sama sekali tidak salah. Laki-laki b******k itu yang salah. Lihat saja kalau dia kembali mengganggumu. Akan kupastikan dia menerima balasan yang lebih." Aku menatap bang Yanuar dengan penuh terimakasih. Aku bersyukur dia tak menyalahkanku dari awal. Bahkan dia tak melampiaskan emosinya padaku secara langsung. Ya mungkin aku yang dulu tak seluwes sekarang yang bisa mengutarakan pendapatku dengan mudah. Bagaimana pun aku dulu adalah anak yang pendiam. Mungkin karena itu aku tak bisa membela diri dari orang yang melecehkanku. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa aku belajar ilmu bela diri. Aku mempelajarinya saat bang Nanda resmi pergi dari hidupku. Aku tak ingin bertemu Nanda Nanda yang lain di kemudian hari. Jika dipikir-pikir bodoh sekali aku yang terus-menerus mau melakukan hal itu dengannya dan cinta mati sekali padanya. Mungkin karena pikiranku terlalu sempit dulu. Aku yang berasal dari pondok sudah terdoktrin untuk percaya bahwa tak ada laki-laki yang akan menerima perempuan jika sudah tidak perawan lagi. Makanya dulu aku dengan sekuat tenaga mempertahankan hubunganku dengan Bang Nanda. Meskipun kerap kali harus makan hati menghadapinya dan keluarganya. Kini aku sadar, ada banyak laki-laki berpikiran terbuka di dunia ini. Contohnya saja Sura Oppa. "Aku adalah laki-laki yang akan menjaganya. Aku tak peduli dengan masa lalunya. Hal yang paling penting bagiku adalah kebahagiaannya," ucapannya pada Bang Nanda masih terngiang-ngiang di kepalaku. Benarkah dia setulus itu padaku? Hidup di tengah pengkhianatan membuatku selalu meragukan orang lain. Kadang aku buta untuk melihat kebenaran dan ketulusan orang lain. Tak mudah bagiku untuk memercayai orang lain. Aku akan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Jika memang dia jodohku, aku akan sangat bersyukur menerimanya. Jika tidak, biarlah aku merelakannya. Aku harap dia akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Perempuan yang sebanding dengannya. Aku berharap dia bisa bahagia walaupun bukan denganku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN