Korea Lagi

1505 Kata
Aku memandangi laut lepas dihadapanku. Rasanya lega sekali bisa kembali ke sini. Korea. Kali ini aku kembali lagi atas desakan Bang Yanuar. Dia tak mau aku tinggal di Indonesia. Dia khawatir keselamatanku akan terancam lagi jika di Indonesia. Terlebih dari Bang Nanda dan keluarganya. Setelah terkahir kali membuat keributan di Rumah Sakit, mereka kembali lagi. Ternyata mereka tak jera memintaku untuk menjadi istrinya. Belakangan aku mengetahui penyebabnya. Bukan hanya karena istrinya memang tengah sakit. Tapi keluarga mereka tengah terjerat hutang besar. Selain itu dia juga ingin naik mencalonkan diri untuk menjadi anggota dewan rakyat di sebuah partai politik. Tentunya butuh sokongan uang yang besar dan relasi yang banyak. Dengan kondisi keuangan yang carut marut, tercetus ide gila itu dari pikirannya. Mencariku untuk dijadikan istri. Selain untuk mengambil simpatisan publik dengan skenario, istrinya tengah sekarat dan menginginkan suami menikah lagi agar ada yang menjaga anak dan suaminya kelak. Hal paling penting adalah karena aku adalah seorang wakil ketua Badan Keamanan PBB. Tentunya dengan menikahiku, selain bisa mendapatkan uang dia juga bisa mendapatkan relasi dan dukungan yang lebih luas lagi. Gila, bagiku pikirannya benar-benar sudah tak masuk akal lagi. Aku tak tahu jika dia bisa separah itu. Dulu dia pernah melakukan hal parah padaku saat kami masih berhubungan. Menuduhku main dibelakangnya dengan laki-laki lain. Aku dituduh sebagai perempuan panggilan. Sekarang setelah putuspun dia tetap saja gila. Aku bersyukur bisa terbebas darinya lebih awal. Akan lebih pusing lagi jika aku sudah terlanjur menjadi istrinya. Sekarang aku tak menyesal putus dengannya. Aku juga tak akan mengenang-ngenang dia lagi. Aku benar-benar jijik melihatnya sekarang. "Bagaimana perasaanmu?" Jun oppa bertanya padaku. "Lebih baik oppa. Rasanya lega sekali bisa kembali lagi ke sini." Aku memandangi Jun yang duduk di sebelahku. Dia memang sengaja mengajakku ke sini sore ini karena Sura masih sibuk dengan jadwal penggantinya. Akibat dari merawatku selama di Indonesia. Dia berada di Indonesia hampir selama satu bulan. Tentu saja aku dan Jun Oppa tak hanya berdua. Ada Jeno dan Vlo juga yang menemani. Mereka tengah sibuk bermain pasir. Sementara yang lain memiliki jadwal masing-masing. Bisa gawat kalau kami hanya berdua di sini. Nanti muncul skandal baru lagi. Hanna dan Jun, Star One tertangkap bermain api di pantai xxx. Aku bergedik ngeri membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Bisa-bisa bukan hanya kejadian seperti kemaren yang menimpaku. Mungkin kami semua yang akan menjadi sasaran amukan penggemar nantinya. "Kau tahu kenapa air laut yang terlihat tenang seperti itu bisa sangat menyeramkan di waktu bersamaan?" Tiba-tiba Jun bertanya padaku. "Kenapa memangnya oppa? "Karena dia berusaha keras untuk menjaga keindahan di dalamnya agar tak ada seorangpun yang berani melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab padanya. Begitu juga dengan manusia, disaat mereka tenang justru malah terlihat menyeramkan. Karena mereka berusaha untuk menyembunyikan kebaikan di dalam diri mereka agar tak semudah itu dimanfaatkan oleh orang lain." "Jadi aku harus menjadi orang pendiam, begitu maksud oppa?" "Bukan. Kamu hanya perlu sedikit menjadi misterius dan tenang agar orang-orang tak lagi memanfaatkanmu." "Bukannya kau sendiri juga nggak bisa bersikap tenang oppa?" Aku meledeknya. "Hyaa, kalau dinasehati orang itu dengarkan saja. Jangan ada bantahan-bantahan lain." "Hahaha. Arasso-arasso. Aku paham kok maksudmu, oppa." "Good girl. Apa rencanamu selanjutnya?" "Hmm, aku ingin travelling sih. Keliling Dunia hanya untuk jalan-jalan." "Yah, kau akan meninggalkan kami lagi dong?" "Mungkin oppa. Bagaimanapun aku cuti panjang tahun ini. Alangkah lebih jika aku memanfaatkannya. Bosan juga jika tak punya pekerjaan seperti ini." Memang benar, semua pekerjaanku sudah di ambil alih oleh orang yang untuk sementara waktu menggantikan posisiku. Aku juga sudah lama tidak menerima job sebagai penerjemah. Aku juga tak mungkin mengambil kerja paruh waktu lagi di stasiun TV. Pasti kemanapun aku pergi akan ada yang menguntitiku. Aku malas menjadi pusat perhatian. "Bagaimana kalau kamu di sini saja? Mengelilingi Korea juga bukan ide yang buruk. Ada banyak tempat yang tentunya belum kamu jelajahi. Atau bagaimana kalau mengambil kursus pembuatan Tembikar atau kursus Melukis. Itu bisa membantu pemulihan mental dan menjaga ketenangan diri juga. Atau belajar meracik Kopi?" "Ide bagus juga oppa. Aku belum pernah melakukan semua itu. Boleh juga untuk dicoba." "Oke, nanti aku bantu untuk mencarikannya. Rein juga pasti mau membantu. Dia lebih paham soal seni seperti itu. Aku yakin dia mempunyai banyak kenalan di bidang seni." "Kau memang yang terbaik oppa." Aku mengacungkan kedua jempol padanya. "Jangan memujiku, umurku sudah terlalu tua untuk menerima pujian." "Bukannya kau memang suka dipuji? Aku yakin sekarang hatimu seperti taman Bunga." "Terus saja mengejek orang tua ini." Dia bersungut-sungut padaku. Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya. "Nuuna, kau tak mau berfoto?" Jeno berteriak dari arah bibir pantai. Dia dan Vlo tampak sedang sibuk berfoto. Padahal tadi mereka masih bermain pasir. Sejak kapan mereka beralih profesi. Eh, kok malah profesi sih. "Aku? Aku nggak suka di foto." Tapi bukannya mendengarkan perkataanku. Jun malah mendorongku agar mendekati mereka. "Nah, nah di sana. Bersikap natural saja nuna. Jangan kaku begitu. Astaga, perasaan kau kalau di suruh jadi model bisa. Tapi kok giliran foto buat diri sendiri nggak bisa." Jeno terus mengomel padaku. Padahal yang memotret adalah Vlo, tapi Jeno ikut-ikutan sibuk mengatur gayaku. Aku cemberut karena kesal di cerewetin terus oleh Jeno. Vlo terus memotretku, tak memedulikan pertengkaranku dengan Jeno. "Oppa dari tadi memotret apa sih? Perasaan aku belum melakukan pose apapun dari tadi." Vlo hanya tersenyum misterius padaku. Aku curiga padanya. Bau-baunya ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. "Mana oppa, aku lihat hasilnya." Saat aku mencoba mendekatinya, dia malah lari. Kurang ajar memang pria satu ini. Aku ikut lari mengejar dan akhirnya kami saling kejar-kejaran. Sampai-sampai Jun kewalahan menghentikan kami. Jeno malah kesenangan karena bisa lomba lari. Aku tersandung oleh kaki sendiri. Nyaris saja tubuhku tersungkur ke Pasir jika seseorang tak segera menyambar tanganku. Aku kaget saat tangan itu menyambar dan menarikku. Aku menoleh dan mendapati Sura Oppa menatapku dengan wajah lelah. "Belum juga kutinggal satu minggu sudah pecicilan lagi." Aku hanya cengengesan tak berniat membela diri. "Oppa ngapain ke sini? Nggak kerja?" "Sudah selesai. Aku akan beristirahat selama dua hari. Jadi aku menyusul ke sini. Bagaimana? Menyenangkan menghabiskan waktu di sini?" "Tentu saja. Tempatnya bagus dan tenang. Tak banyak orang juga. Rata-rata mereka adalah orang tua yang tak terlalu mengenal kalian. Jadi aku bisa bebas di sini." "Bebas ngapain? Bebas main kejar-kejaran?" Aku memasang wajah sebal saat mendengar ucapannya. Kami tengah berjalan menuju Vlo yang sudah bersandar di pohon karena kelelahan. Dia sepertinya tak berniat untuk main kejar-kejaran lagi denganku. "Ih, itu semua gara-gara Vlo Oppa. Dia memotretku, tapi tak mau memperlihatkan hasilnya. Padahal dari tadi aku itu belum memasang pose apapun. Malah sibuk bertengkar dengan Jeno." "Mana ada aku bertengkar dengan nuna." Jeno yang mendengar ucapanku langsung menyahut tak terima. "Itu tadi." "Aku hanya membantumu untuk mendapatkan hasil foto yang bagus." " Bodo amatlah. Intinya kamu tetap ngajakin berantem." Jeno menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapanku. 'Perempuan memang selalu benar,' pikirnya. "Terserah deh. Nuuna memang selalu benar." "Biarin. Wekkk." Aku menjulurkan lidah pada Jeno. Sura hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku. "Dasar menyebalkan. Kita nggak temenan lagi." Jeno berpura-pura ngambek padaku. "Oh ya? Yakin nggak mau temenan lagi? Ya sudah, padahal rencananya mumpung aku selo. Aku mau membuka les meretas gratis." Aku melirik-lirik Jeno seraya memainkan kuku jari Sura. Entah sejak kapan aku memegang tangannya, aku sendiri juga tidak tahu. Tanganku memang suka usil secara tak sengaja. Aku sering tak sadar saat melakukannya karena memang tanganku tak suka berdiam diri. "Nuuna beneran mau mengajariku?" Matanya langsung berbinar-binar menatapku penuh harap. Aku gemas sekali melihat tingkahnya yang seperti anak Anjing yang menantikan majikannya mengajak main. "Hmm. Gimana ya? Tapi aku nggak menerima murid yang tidak mau temenan sama aku." "Aku tarik lagi ucapanku. Aku akan berteman dengan Nuuna selamanya." "Hmm. Bagusnya gimana ya? Jun oppa ada saran?" Jeno langsung menatap Jun yang tengah asik menyiapkan bekal kami. "Kok nanya aku sih. Harusnya nanya pawang kamu sendiri." Aku mengerutkan kening. "Pawang?" "Itu noh. Orang yang tangannya kamu mainin terus dari tadi. Nggak sadar apa?" Aku langsung melirik ke arah tanganku yang tengah memainkan jari Sura. Sementara empunya hanya diam saja tak terlihat keberatan sama sekali. Aku langsung melepaskan tangannya dan tertawa cengengesan. "Hihi. Sorry oppa. Aku tak sadar." "Jariku sampai kebas karena kau pelintir terus dari tadi." "Maaf boss. Saya mengaku salah." "Jadi bagaimana nuuna?" Jeno memandangku dengan penuh harap. "Hmm. Bagusnya gimana ya? Hmm bagaimana ya? Hmm." Aku terus mengulur-ulur waktu sampai Jeno memasang wajah kesal. Aku tertawa melihat ekspresinya. "Arasso. Arasso. Aku akan mengajarimu saat kamu luang nanti. Mungkin satu kali dalam seminggu, bagaimana?" "Benarkah? Tentu saja aku mau. Kalau perlu kau menginap di dorm. Aku akan merelakan kamarku untukmu." " Lalu kau menumpang di kamar yang lain?" "Gampang itu, nanti aku menyelusup di kamar Sura hyung tengah malam. Dia tak akan memarahiku." "Kau mau melakukannya diam-diam tapi sudah memberi tahu orangnya terlebih dahulu." Aku menggeleng-geleng kepala melihat Jeno. Ia hanya tertawa cengengesan. "Sepertinya ide yang bagus juga kalau Hanna menginap di dorm," sahut Vlo. "Lalu aku akan masuk daftar pencarian orang dalam waktu satu malam? Oh tidak. Terimakasih untuk tawarannya. Aku tidak mau berurusan lagi dengan penggemar kalian. Mereka sangat pencemburu." "Hihi. Mereka begitu karena mencintai kami." "Terserah. Aku tidak peduli." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN