Duniaku serasa runtuh saat Bang Nanda dengan tega mengumumkan jika aku sudah tak perawan lagi. Aku yakin Bang Yanuat kecewa berat padaku. Begitu juga dengan Sura, dia pasti kecewa sekali. Aku tak berani memalingkan pandanganku ke belakang untuk melihat kedua laki-laki yang begitu menyayangiku itu. Aku memegang roda kursi roda. Bersiap untuk pergi. Tapi Sura menahan kursi.
"Siapa bilang tak ada laki-laki yang sudi? Kau berfikiran sempit sekali jadi orang. Orang yang tulus mencintai seseorang tak akan pernah memaksakan cintanya. Dia juga tak akan mempermasalahkan seperti apa sifat, asal usulnya, latar belakang keluarganya ataupun kondisinya sekarang.
Tentu saja dia akan dengan senang hati menerima masa lalu dari perempuan yang dia cintai itu. Masa lalu adalah masa lalu. Tak akan kembali dan tak akan bisa diubah. Tak ada yang perlu dibahas lagi mengenai masa lalu. Dia pernah ada hanya sebagai pelengkap cerita dan sebagai pelajaran. Tak akan bisa diubah apalagi untuk diulang kembali."
"Hahaah. Sok sekali kau berkata seperti itu. Ya, ya. Ada laki-laki yang akan menerima perempuan yang sudah menjadi bekas orang lain. Tentu saja karena laki-laki itu juga sudah sering melakukannya dengan perempuan lain." Bang Nanda tertawa mengejek. Aku kaget sekali melihat dia. Kenapa ucapannya begitu kejam sekali. Dia tak seperti biasanya. Apakah dia tak sadar jika ucapannya sangat menyakitiku. Aku sama sekali tak mengenalinya.
"Oh ya? Tapi sayang keinginanmu tak tercapai. Hanna adalah perempuan pertama dalam hidupku. Dia juga akan menjadi perempuan pertama yang akanku sentuh. Tentu saja setelah nanti kita sah menikah di mata agama dan negara. Sampai saat itu aku akan menjaga dia seperti permata yang berharga." Sura balik menjawab dengan wajahnya yang terkesan sinis dan dingin.
Aku terharu mendengar perkataan Sura. Dia benar-benar seperti malaikat penolong dalam hidupku. Hatiku menghangat seketika. Aku bisa merasakan ketulusan dalam ucapannya. Aku ingin menangis tapi masih kutahan. Sementara Bang Nanda tampak tak berkutik dan tak menjawab.
"Sekali bekas tetap saja bekas," ujar Rita dengan kasar. Kata-katanya menusuk sekali ke hatiku. Mendadak mimpi burukku kembali padahal tadi sudah menghilang. Aku membayangkan semua orang menghina dan melempariku dengan batu. Badanku terasa kaku. Aku merasa mual kembali dan ingin muntah.
"Bukankah adikmu itu juga sudah menjadi bekas?" Aku tak bisa lagi menahan ucapanku. Rita sudah menyiapkan kata-kata untuk menbalasku, tapi Bang Yanuar menyela.
"Sura, tolong bawa Hanna keluar." Suara Bang Yanuar terdengar penuh amarah. Aku yakin dia sudah menahan diri sedari tadi. Sura menurut tak peduli jika Nanda terus berteriak dibelakang mencoba menghentikan kami. Kemudian aku mendengar suara pukulan, cacian dan luapan amarah dari Bang Yanuar.
"b******k. Apa yang kau lakukan pada adikku, ha? Beraninya kau menyentuhnya. Beraninya kau merusaknya. Kau diamanahi oleh Ibunya untuk dijaga baik-baik tapi kau malah merusaknya. b******k kau. Kau bilang apa tadi? Bekas? Kau juga bekas, brengsek." Bang Yanuar benar-benar kalap. Aku khawatir dia akan membunuh orang. Istrinya yang baru datang, kaget mendengar keributan di dalam kamarku.
"Ada apa, Na?" Dia memandangku cemas.
"Bisa tolong tenangkan Bang Nanda? Sebelum dia membunuh orang," ujar Sura. Dini langsung berlari ke kamar. Sura terus mendorong kursiku menuju taman meninggalkan keributan yang mereda karena di lerai oleh satpam yang berlarian masuk ke kamarku.
Aku memandangi hamparan Bunga dalam diam. Semua terasa hambar. Padahal biasanya aku senang sekali saat dibawa ke taman. Pikiran-pikiran buruk terus berputar dalam ingatanku seperti kaset rusak. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Tiba-tiba saja Sura memeluk leherku dari belakang. Aku bisa merasakan wangi parfumnya yang selama ini selalu berhasil membuatku tenang. Aku menyukai aromanya itu.
"Menangislah. Tak ada yang perlu ditakutkan. Tak ada yang perlu untuk ditahan. Menangislah agar kau lega." Air mataku langsung lolos tanpa bisa dikendalikan. Aku menangis sampai tersedu-sedu. Sura masih setia memeluk leherku. Entah pinggangnya tidak sakit atau dia tahan saja dari tadi. Padahal aku masih duduk di kursi roda. Untung saja tak ada orang di taman.
"Menangislah. Keluarkan semua bebanmu. Setelah itu kau pasti akan merasa lega. Lupakan semuanya dan kembalilah untuk menata hidup yang baru," ucapnya lagi.
Aku berhenti menangis dan melepaskan pelukan tangannya di leherku. Kemudian berbalik menatapnya. Air mata masih membasahi wajahku. Sambil membersihkannya aku mengomentari Sura.
"Pinggangmu tak sakit oppa? Dari tadi membungkuk seperti itu."
"Hahaha.. Tawa Sura meledak mendengar ucapanku. Dengan gemas dia memutar kursi rodaku agar menghadap ke arahnya. Kemudian dia berjongkok dihadapanku dan mengacak-acak jilbabku. Dia kemudian membantu membersihkan air mataku.
"Kenapa kau menggemaskan sekali sih." Dia bahkan sekarang dengan santai membersihkan ingusku. Tampak tak jijik sama sekali. Aku merasa sangat malu dengan perlakuannya. 'Apa dia tak jijik padaku?'
"Oppa. Apa aku boleh bertanya?"
"Tentu, kau mau bertanya apa?" Tatapannya benar-benar lembut. Aku merasa Jantungku berdebar tak karuan. Mendadak aku menjadi salah tingkah.
"Apa kau tak jijik padaku?"
"Kenapa? Kenapa aku harus jijik padamu?" Dia mengangkat sebelah alisnya.
"Setelah kau mengetahui semua tentang diriku." Dia tak menjawab dan hanya memandangiku. Kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Aku sebenarnya kecewa." Teg, Jantungku terasa sakit saat mendengarnya. Dia benar-benar kecewa padaku.
"Aku kecewa karena tak bisa bertemu denganmu lebih dahulu dibanding dia. Aku kecewa karena tak bisa menjagamu dari dia. Aku kecewa karena tak bisa membunuhnya, bahkan untuk sekedar memukulnya saja aku tak bisa. Aku kecewa karena tak bisa membalaskan rasa sakit hatimu padanya."
Aku memandanginya tak percaya. Dia kecewa hanya karena itu? Dia bukannya kecewa karena mengetahui fakta tentangku? Aku masih belum percaya ada laki-laki yang seperti itu. Apa karena dia berasal dari Korea yang lebih terbuka dibanding Indonesia?
"Oppa, apa kau serius? Apa kau tak kecewa padaku karena, karena ...." Aku tak meneruskan ucapanku.
"Tentu saja. Aku tak pernah main-main selama ini. Aku tak kecewa padamu. Aku tak kecewa dengan keadaanmu."
"Apa kau benar-benar yakin dengan ucapanmu?"
"Tentu saja. Aku sangat yakin."
"Terimakasih. Terimakasih karena tidak memandangku dengan sebelah mata. Terimakasih karena sudah mau menerima masa laluku. Terimakasih karena tak menghakimiku." Aku kembali menangis.
"Cup cup cup. Sudah, tak usah menangis lagi untuk hal seperti itu. Kau wanita cantik, tegas, cerdas dan baik. Kau pantas untuk berbahagia dan kau juga pantas untuk mendapatkan cinta. Jangan lagi berdiri di masa lalumu. Lepaskan kenangan burukmu dan melangkahlah ke depan. Aku akan dengan senang hati memegang tanganmu agar kau tak terjatuh lagi." Tangisanku malah tambah kencang saat mendengar ucapannya.
Tuhan, bolehkah aku berharap semoga dia adalah jodohku? Aku menangis tersedu sementara Sura setia memelukku. Ia menepuk-nepuk punggungku. Membiarkanku menangis tanpa berusaha menghentikannya lagi. Mungkin dia ingin membuatku lega.
Bang Nanda dan Bang Yanuar ternyata dibawa ke Kantor polisi karena menyebabkan keributan di rumah sakit. Aku kaget saat mengetahuinya dari perawat yang bertugas merawatku. Memang benar, saat aku kembali ke kamar dengan Sura. Tak kudapati satu pun mereka.
"Lalu bagaimana sekarang, Sus?" Aku bertanya karena cemas dengan Bang Yanuar.
"Kamu tenang saja Han. Semoga masalah bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Mereka dibawa karena bertengkar dan bahkan yang satunya sampai memukul satpam."
"Bang Nanda?" Aku melongo tak percaya. Ada apa sebenarnya dengan laki-laki itu. Kenapa dia berubah sekali
"Entahlah, aku tak mengetahui namanya. Yang jelas dia laki-laki yang bertengkar dengan abangmu. Pokoknya kamu tenang saja ya. Abang kamu akan baik-baik saja." Aku hanya mengangguk. Sementara perawat menyelesaikan tugasnya mengganti sprei tempat tidurku.
"Sus, apakah Hanna masih belum boleh pulang? Atau apakah tidak bisa dia dipindahkan ke luar negeri saja?" Sura bertanya.
"Hmm, bisa saja sih. Melihat kondisi Hanna juga sudah membaik. Dia hanya perlu pemulihan saja. Untuk keputusan lebih lanjut nanti bisa menunggu pemeriksaan dokter. Kalau memang sudah tak apa-apa lagi, Hanna bisa pulang. Atau jika ingin melanjutkan perawatan lebih lanjut lagi bisa di pindahkan ke luar negeri.
Tapi Hanna harus tetap berkonsultasi dengan psikiater. Bukannya kau punya psikiater pribadi kan? Kau bisa berkonsultasi nanti dengannya. Psikiatermu di sini juga bisa berkomunikasi lebih lanjut mengenai langkah apa sebaiknya yang akan diambil."
"Baik sus, terimakasih." Dia mengangguk dan kemudian pamit pergi.
"Nah, sekarang waktunya tuan putri minum obat dan tidur." Aku langsung merenggut. Laki-laki ini bisa sekali mengacaukan suasana hatiku.
"Oppa.." rengekku.
"Nggak ada, nggak mempan. Cepat buka mulut." Akhirnya aku menurut. Tak ada gunanya melawan Sura. Dia lebih keras kepala lagi dibanding diriku.
"Oppa nggak makan?"
"Nanti setelah kamu?"
"Oppa nanti makan dimana?"
"Mungkin pesan saja seperti biasanya."
"Ya sudah nanti aku bantu pesankan." Sura mengangguk, dia sama sekali tak menolak karena memang tak paham cara memesan makanan di sini. Biasanya Bang Yanuar yang selalu membelikan makanan atau memesannya. Kali ini tak bisa karena sepertinya mereka masih di kantor polisi.
"Uh, aku baru ingat. Tadi nggak jadi jajan." Aku mendecak sebal. Sura langsung mengacak jilbabku denhan gemas.
"Nanti kita pesan sekalian. Kau mau jajan apa?"
"Aku pengen Siomay, Bakso, Cilok, Cilor."
"Kau belum sembuh sepenuhnya Hanna."
"Biarkan saja. Kan Dokter juga tidak melarang."
"Ya sudah deh, sebahagiamu." Aku nyengir dan melanjutkan makanku. Sura masih setia dengan pekerjaannya menyuapiku.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan enggan dia mengangkatnya.
"Kenapa?" Ternyata panggilan video call.
"Hanna-si mana hyung." Aku mendengar itu adalah suara Vlo.
"Hanna," teriak Jeimin.
"Nuuna."
"Ih, kalian jangan dorong-dorong dong," protes Jacop. Aku terkekeh mendengar keributan yang mereka timbulkan. Sementara Sura memutar bola mata dengan malas. Dia kemudian menyerahkan ponsel padaku. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Hallooo," teriakku.
"Wah Hanna sudah sembuh. Wajahnya berseri-seri sekali. Habis dapat jajan ya dari Sura," ujar Rein asal.
"Kok oppa tau? Sura oppa berjanji untuk mentraktirku Bakso, Siomay, Cilor, Cireng."
"Astaga, kau masih di rumah sakit tapi sudah mau makan semua itu?"
"Tentu saja. Aku sudah sehat dong. Makanya boleh makan itu."
"Aku juga mau nuuna."
"Ayok ke sini. Nanti aku traktir sepuasnya. Kalau perlu abang-abang dan gerobak baksonya sekalian aku bawakan."
"Hu... Aku pengen kesana," ujar Vlo.
"Aku iri dengan Sura hyung. Kami di sini tak bisa libur," ujar Jeimin.
"Ke sini liburan."
"Aku juga mau. Tapi manager tak membolehkan. Padahal jadwal kami kosong seminggu ke depan."
"Tentu saja tak dibolehkan. Kalau kalian ke sini. Aku yang akan gila nanti."
"Bagaimana kalau kamu saja yang ke sini?" ujar Jun.
"Hmm.. hmm.. gimana ya? Ke sana nggak ya? Aku malas e."
"Is, gayanya. Padahal sudah kangen sama kami," ujar Vlo.
"Hahaha. Liat nanti saja oppa. Oiya kalian tidak mau bicara dengan Sura Oppa?"
"Nggak. Kami menelepon untuk melihatmu. Bukan untuk melihat Sura." Aku terkekeh mendengar jawaban Jun.
"Jahat kalian," ujar Sura. Setelahnya kami tetap berbicara sampai satu jam lamanya. Ada saja yang mereka katakan. Aku tak bisa berhenti tertawa. Terutam ketika melihat Jacop yang terus-terusan bertengkar dengan Jun. Ataupun Jeimin yang adu mulut dengan Vlo. Mereka memang moodbuster sekali bagiku. Aku berharao bisa terus seperti ini dengan mereka.
***