"Hanna." Aku kaget mendengar namaku dipanggil. Aku seperti mengenal suara yang memanggil. Aku berharap itu hanya khayalanku saja. Aku kaget saat menoleh pada orang yang memanggil dari pintu kamar. Di sana ada Bang Nanda.
'Sejak kapan dia masuk ke kamarku? Darimana dia bisa tahu dimana aku dirawat. Ngapain dia disini. Satu hal yang penting, ngapain dia di Jakarta?' pikirku. Aku diam saja tak menjawab.
"Hanna, aku dengar kau kemaren menjadi korban kerusuhan. Bagaimana kabarmu sekarang?" ujarnya seraya mendekat ke arah tempat tidurku. Aku langsung memasang tampang waspada. Bagaimanapun sekarang aku sendiri di sini. Aku tak mau dia melakukan apa-apa padaku.
"Baik, " jawabku ketus. Aku tak berniat sama sekali untuk beramah tamah padanya.
"Syukurlah. Aku sangat kaget saat mendengarnya. Aku khawatir kau kenapa-kenapa." Wajahnya tampak lega tapi entah mengapa aku malah curiga dengan sikapnya.
"Terimakasih." Aku enggan untuk meladeninya. Bang Yanuar kemana sih? Kok lama banget pergi dengan Sura oppa. Padahal mereka tadi bilang hanya pergi sebentar untuk mengambil makanan. Lagi pula, laki-laki ini tau kamarku dari mana?
"Hanna."
"Ya."
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Dia menatapku dengan mengiba.
"Sampai aku mati, " jawabku asal.
"Jangan bicara seperti itu."
"Lalu aku harus seperti apa?" Aku balik bertanya.
"Tak bisakah aku mendapatkan kesempatan dan maaf darimu?"
"Aku sudah memaafkan."
"Benarkah? Terimakasih." Aku hanya diam, dia juga diam. Tampak ragu untuk melanjutkan percakapan kami.
"Hanna. Apakah kau akan pergi lagi sekarang?" tanyanya kemudian. Kenapa dia terlihat bertele-tele sekali dari tadi.
"Pergi kemana?"
"Ke luar negeri."
"Tentu saja, tempatku di sana bukan di sini." Pertanyaan macam apa itu.
"Tak bisakah kau menetap saja di sini? Aku.. aku.. aku berharap kau di sini." Dia tampak ragu-ragu dan mulai menyampaikan maksud sesungguhnya.
"Tidak."
"Hanna? Apa kau tak punya perasaan lagi padaku?" Akhirnya apa yang mau dia sampaikan keluar juga. Aku tak bisa menahan tawaku. Aku tertawa terbahak-bahak. Tawaku terdengar sinis dan mengejek.
"Kau bilang apa tadi? Kurasa, kau tak perlu bertanya pun sudah tahu sendiri jawabannya."
"Jadi kau masih ada perasaan padaku? Syukurlah." Wajahnya terlihat lega. Aku melongo tak percaya mendengar ucapannya. Darimana datang kepercayaan dirinya itu. Kenapa dia bisa pede sekali menganggap bahwa aku masih mencintainya. 'Go hell,' umpatku dalam hati.
"Are you kidding me?" Aku bertanya dengan kening berkerut.
"Kau tak usah menyembunyikan lagi perasaanmu, Na. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku menerima pengakuanmu itu. Kau tak usah malu." Dia mulai berani memandangku dengan senyum mengejek.
"Dasar gila. Kau kenapa sih, bang? Diselingkuhi uni Lia?" Aku menyindir pedas.
"Tidak. Dia bukan perempuan seperti itu." Apa maksud ucapanmu itu? Apa aku bertanya mengenai perempuan seperti apa istrinya itu? gumamku dalam hati.
"Aku tahu persis bagaimana perasaanmu. Aku yakin kau masih mencintaiku. Kali ini aku harap hubungan kita bisa kembali seperti dulu. Tak akan ada lagi yang menghalangi hubungan kita. Aku dengan senang hati akan menerimamu kembali. Kita bisa menikah dan hidup bahagia bersama."
'Fiks dia benar-benar gila,' pikirku.
"Kau sepertinya harus pergi ke dokter dan memeriksa kan kesehatan mentalmu itu. Pede sekali kau jika mengira aku masih mencintaimu." Aku berkata kasar dengan datar padanya. Tak ada lagi yang perlu di bicarakan baik-baik dengan laki-laki ini.
"Ayolah, Na. Aku tau. Selama ini kau masih sendiri karena kau belum bisa melupakanku. Lagi pula ..." Dia tampak ragu untuk meneruskan. "Lagi pula laki-laki mana yang mau denganmu. Kau sudah tidak ...." Aku melotot kaget saat dia akan berbicara tapi ucapannya diinterupsi oleh Sura. Aku tahu persis apa yang akan dia katakan jika saja Sura dan bang Yanuar tak datang.
"Aku mau dengannya. Aku adalah laki-laki yang akan menerima dan menjaganya. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan menjaga nya baik-baik, menyayanginya, dan memperlakukannya seperti Ratu. Ia akan menjadi satu-satunya wanita yang berhak mengisi hatiku." Sura berkata tajam.
Aku dan Bang Yanuar sampai tercengang mendengar ucapannya. Dia tengah menyatakan cinta padaku atau bagaimana? Kok nggak romantis sekali sih? Malah terdengar seperti akan mengajak perang. Harusnya kalau mau menyatakan perasaan padaku, jangan di Rumah Sakit kayak gini, terlebih aku masih berbaring lemah seperti ini. Apalagi ia malah mengucapkannya di depan mantanku lagi.
"Kau ngapain ke sini?" Bang Yanuar berkata kasar.
"Aku kesini ingin menjemput kembali Hanna." Ucapannya masih terdengar percaya diri sekali. Aku nyaris mual mendengarnya.
"Hahaha. Kau gila? Kau pikir dengan apa yang kau lakukan pada Hanna selama ini, aku akan membiarkan Hanna kembali padamu? Sampai matipun aku tak sudi punya ipar sepertimu. Aku tak akan membiarkan mimpimu menjadi kenyataan."
"Kau tak punya hak atas diri Hanna. Perasaan dan dirinya adalah haknya sendiri."
"Itu kau paham. Harusnya kau juga paham kalau Hanna tak mau lagi denganmu. Dia sudah memiliki kebahagiaannya sendiri. Bisa-bisanya kau datang dan dengan Pede menganggap Hanna masih belum move on."
"Kenyataan yang aku lihat seperti itu. Buktinya di umur segini dia masih jomblo."
"Jomblo? Siapa bilang aku jomblo." Aku pun angkat suara. Kesal karena semua ucapan yang keluar dari mulutnya seolah mengejekku terus.
"Kau buta atau bagaimana? Tak kah kau lihat calon suamiku berdiri dengan jelas dihadapanmu?" Aku mulai kesal dengannya, suaraku naik beberapa oktaf.
"Uda." Tiba-tiba saja Lia, istrinya dan kakaknya masuk.
"Kau kenapa kesini?"
"Aku ingin menyusul."
"Astaga. Ini reunian apa bagaimana? Kalau mau reunian tak usah di kamarku. Aku mau istirahat. Di sini bukan tempat untuk syuting drama. Ini Rumah Sakit tempat orang menyembuhkan penyakitnya bukan untuk menambah penyakit," ujarku sarkas.
"Bang, panggil satpam. Usir mereka dari kamarku. Aku tak bisa lagi berbaik-baik dengan mereka. Melihat tampang mereka membuatku mual."
"Sopan sedikit dong, Na. Kami datang ke sini baik-baik." Rita, kakaknya Bang Nanda menyela.
"Ini yang kalian bilang baik-baik? Menerobos masuk ke kamar orang, mengganggu ketenangan pasien dan bahkan memaksa-maksa," ujar Bang Yanuar.
"Kami datang ke sini baik-baik. Hendak memberikan kesempatan pada Hanna untuk bisa kembali dengan Nanda." Bang Yanuar melongo kaget. Mereka benar-benar gila. Mereka salah makan atau bagaimana? Kenapa semua ucapannya tak ada satupun yang terdengar masuk akal.
Sura mendekatiku. Dia kemudian memegang tanganku. "Kau mau keluar dari sini? Jalan-jalan mungkin." Dia berbicara dalam bahasa Korea padaku. Tampaknya dia tak tertarik lagi meladeni omongan orang-orang yang menurut nya mungkin juga terlihat gila. Ia pasti paham dengan ucapan mereka, karena sedari tadi kami menggunakan bahasa Inggris. Entah sengaja atau bagaimana aku juga tidak tahu bagaimana karena dari tadi Bang Nanda menggunakan bahasa Inggris.
"Boleh. Aku mau ke taman. Beli jajanan juga ya." Dia mengangguk dan tersenyum lembut. Kemudian dengan lancang menggendongku di hadapan Nanda dan keluarganya. Aku bisa melihat mereka tampak kaget. Kalau Bang Yanuar sudah mulai terbiasa melihat kelakuan Sura yang satu ini. Dengan hati-hati Sura meletakkanku di kursi roda. Kemudian mendorongnya menuju pintu.
"Na pergi jalan-jalan dulu ya bang." Aku berbicara dalam Bahasa Belanda pada bang Yanuar. Dia mengangguk.
"Hati-hati," ujarnya.
"Tunggu." Nanda mencoba menghentikan laju kursi roda. Tapi Sura meliriknya dengan tajam, terlebih saat Nanda memegang tanganku. Aku langsung menepisnya.
"Kau tak boleh melampaui batas, Bang. Ingat kau punya istri. Pikirkan perasaannya."
"Aku memikirkan perasaan Lia dan perasaanmu. Lia menginginkan kau untuk menjadi istriku dan ibu dari anakku. Aku mohon." Suaranya kali ini terdengar sedikit memelas.
"Hahahahahaha. Kau gila? Atas dasar apa aku harus mengabulkan permintaanmu? Kenapa kau bisa se-pede itu sih? Menganggap bahwa aku pasti akan menerima mu?"
"Karena kau sudah tidak perawan lagi. Mana ada lelaki yang sudi menerima perempuan tak perawan. Bahkan aku yakin laki-laki dihadapanmu yang mengaku sebagai calon suamimu, tak akan sudi lagi menerima bekas pakai dari orang lain. Hanya aku laki-laki yang menerima ketidakperawananmu itu."
Aku kaget bagai disambar petir saat mendengar ucapannya. Berani-beraninya dia membongkar masa lalu yang aku coba sembunyikan serapat mungkin. Aku yakin Bang Yanuar sangat kaget mendengarnya. Aku juga bisa melihat Lia dan Rita kaget. Mataku mengabut karena menahan amarah. Tapi hatiku ingin menangis. Aku ingin melihat ekspresi Sura, tapi tak berani. Aku bisa pastikan laki-laki itu kecewa padaku. Aku hanya menundukkan kepalaku.
"Harusnya kau bersyukur, aku mau menjadi suamimu. Setidaknya kau tak akan perlu menanggung aib seumur hidup karena tak ada yang mau menikahimu." Dia kembali mengoceh.
Aku ingin berlari dari kamarku. Pergi jauh-jauh atau kalau perlu mengubur diriku sendiri. Rahasia yang selama ini kusimpan dengan rapat dengan mudahnya dia bocorkan. Aku tak punya muka lagi untuk menghadapi orang-orang. Bagaimana mungkin dia bisa dengan gamblang membuka aibku dan aibnya? Kenapa dia egois sekali. Terlebih dia bilang apa tadi? Tak akan ada yang sudi memakai perempuan bekas pakai?
Memangnya apa yang salah dengan perempuan seperti itu? Kenapa dia yang mengagung-agungkan kesetaraan gender bisa berkata seperti itu? Kenapa stigma itu hanya harus melekat pada perempuan saja? Kenapa tak ada yang bilang; Perempuan mana yang sudi memakai laki-laki bekas pakai. Aku marah dan ingin menangis tapi tak bisa. Semua orang pasti kecewa dan mencemoohku sekarang.
Kepalaku rasanya berat sekali. Dunia terasa berputar tapi aku tak bisa untuk menghentikannya. Sekelabat mimpi buruk yang selalu menghantuiku mulai singgah dipikiranku. Aku ingin mati saja. Aku lelah terlebih setelah semua ini. Aku tak akan sanggup untuk menghadapi kemarahan bang Yanuar. Aku tak akan sangup untuk menghadapi orang-orang. Terlebih, aku tak akan sanggup kehilangan Sura. Aku tak ingin ditinggalkan. Memikirkannya saja sudah membuatku pening.
***