Sura benar-benar menepati janjinya. Dia tak pergi dari sisiku sedikitpun sampai aku dinyatakan sembuh. Bahkan dia tidur di rumah sakit. Dia hanya kembali ke hotel untuk mengambil baju. Dia bahkan mandi di kamar inapku. Dia sangat bawel persis seperti mak-mak komplek yang tengah bergunjing. Aku sampai kewalahan menghadapi kebawelannya. Seperti pagi ini;
"Na, bangun dulu. Obat nya harus di minum." Sura sedikit mengguncang bahuku. Aku menggeliat jengkel karena merasa tidurku yang nyenyak terganggu.
"Bentar oppa. Lima menit lagi," ujarku tanpa membuka mata. Aku semakin merapatkan selimut ke atas kepala.
"Ini sudah jam berapa? Nanti tidur lagi setelah makan dam minum obat."
"Ih, nanti oppa. Aku masih ngantuk." Merasa tak akan mendapatkan jawaban lagi dariku. Dia tak kehabisan akal. Sura kemudian menarik selimutku. Mendudukkanku dengan paksa. Bahkan tangannya dengan lancang menyentuh mataku dan membukakan kedua kelopak mataku dengan paksa.
"Oppaaa. " Aku berteriak kesal padanya. Sampai-sampai Bang Yanuar yang baru masuk langsung berjingkrak kaget mendengar suaraku.
"Astaga, pagi-pagi sudah mendengar kaleng rombeng saja," sindirnya pedas.
"Suaraku semerdu itu, kau bilang kaleng rombeng, Bang?" Aku mendelik kesal pada Bang Yanuar.
"Lah trus apa namanya? Mana ada suara merdu kek toa mesjid gitu. Apalagi kalau bukan kaleng rombeng. Lagian kalian kenapa lagi sih? Berantem mulu tiap hari. Heran deh."
"Sura oppa yang mulai." Aku menatap Sura dengan sewot. Sementara yang ditatap tampak santai. Sebelah tangannya masih sibuk menopang punggungku dan sebelahnya lagi menyodorkan gelas berisi minum. Aku menerima saja air yang dia sodorkan padaku tanpa berniat menggunakan tangan sendiri. Aku terlalu malas untuk menggunakan tanganku sendiri.
"Kalian itu,_"
"Kenapa?" Aku berbicara dengan itonasi yang masih tinggi.
"Sangat unik." Bang Yanuar menggeleng-geleng. "Sudahlah, aku mau pulang dulu ke hotel. Kalian berdua di sini baik-baik. Jangan berantem terus, aku sampai pusing mendengar aduan perawat yang masuk karena kalian berantem terus. Dan Sura, nanti kamu harus balik ke hotel. Sampai kapan kau akan menginap di Rumah Sakit seperti ini?"
"Aku hanya menunggui orang sakit," ujarnya tanpa melirik Bang Yanuar sedikitpun. Sekarang dia tengah sibuk menyuapiku dengan bubur dari Rumah Sakit. Bang Yanuar menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban Sura. Berbicara dengan Sura samasaja dengan berbicara dengan tembok. Membuat pusing kepala.
"Terserah. . terserah.. terseraaah." Bang Yanuar berteriak-teriak sendiri seperti orang kesetanan, meninggalkan kami berdua yang tengah memandangnya dengan heran.
"Kau apakan dia Oppa?" Aku menatap Sura dengan penuh tanya.
"Tau. Sedang banyak masalah mungkin." Aku nyaris menepuk jidat mendengar jawabannya. Pantas saja Bang Yanuar gemas. Laki-laki di sebelahku ini memang menggemaskan sekali. Saking menggemaskannya, aku ingin menampol-nya.
"Minum dulu obatnya." Aku menurut saja. Aku selalu menurut kalau di suapi. Entah itu makan nasi, minum, minum obat, makan buah. Pokoknya aku selalu menurut, karena aku malas untuk menggerakkan badanku sendiri. Mumpung Sura oppa bersedia menolong, kenapa aku harus repot-repot? Aku hanya bertengkar dengannya kalau dia menyuruhku disaat aku tengah enak tidur atau enak baca atau enak main ponsel.
"Kalau nurut gini kan enak," gumamnya seperti berbicara pada diri sendiri.
"Oppa." Aku memanggilnya. Sura menatapku dengan lembut. Tatapan yang sangat aku sukai sekarang.
"Kenapa?"
"Oppa kenapa sih? Akhir-akhir ini berubah jadi bawel banget."
"Kenapa memangnya? Kau merasa risih?"
"Ya nggak sih, tapi aku hanya heran. Oppa yang biasanya irit bicara sekarang nyinyirnya mengalahkan mak-mak."
"Kau mengataiku?"
"Bukan gitu ih. Jawab aja napa."
"Karena ...." Sura sengaja menjeda ucapannya. Membuatku tambah penasaran saja.
"Karena?"
"Karena aku perlu nyinyir untuk mengatur gadis bandel sepertimu." Dia pun menyudahi kegiatan menyuapiku. Aku memandangnya dengan muka cemberut.
"Ih, nggak gitu juga oppa. Aku serius tau."
"Aku juga serius."
"Aish, terserah kau sajalah." Aku mengalihkan pandanganku darinya. Melipat kedua tengahku sembari berdecak sebal.
"Jangan ngambek dong."
"Siapa juga yang ngambek."
"Itu. Kalau ngambek kayak gitu nanti mulutmu kayak Bebek." Sura tertawa setelah mengejekku.
"Congor mu itu ya oppa. Mintak di tabok."
"Apa artinya congor?" Dia memandangiku bingung.
"Congor adalah ...." Kali ini aku yang menggantung ucapanku.
"Apa?"
"Cari tau aja sendiri. Weekk." Aku menjulurkan lidahku padanya dan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesalnya.
"Kau mulai berani menjahiliku ya sekarang."
"Biarin. Bodo amat." Sura mendelik kesal padaku. Aku tertawa dalam hati. Dia benar-benar banyak bicara sekarang. Dia berubah, menjadi lebih hangat. Dia juga sangat pengertian. Dia langsung paham keinginanku tanpa harus banyak dijelaskan. Dia lebih banyak bertindak dibanding berbicara. Memang ciri khasnya sendiri. Dia mengungkapkan kasih sayangnya dengan caranya sendiri.
***
"Oppa. Kau sudah tidur?" Aku memanggilnya.
"Belum." Jawabnya. Seperti biasa, setiap malam Sura memang selalu tidur di kamarku. Dia tidur di sofa. Sementara aku di tempat tidur. Bang Yanuar dan istrinya tidur di hotel. Tiara sendiri tak ada di sini. Selama aku di rawat, Tiara dititipkan ke neneknya di Yogya. Anak itu bahagia sekali saat mengetahui bahwa dia bisa bermain dengan Nenek nya dari pihak Ibu. Jadi dia sama sekali tidak menanyakan kemana Ibu dan Ayahnya.
Sementara Kak Marta dia tak bisa ke sini karena tengah hamil. Dia rajin memantauku lewat video call. Terlebih setelah mendengar aku meninggal. Dia tak pernah absen menelepon tiga kali dalam sehari. Dia gak jauh berbeda dengan Bang Yanuat. Saat pertama menelepon setelah aku dinyatakan hidup kembali. Dia menangis meraung-raung. Kupingku sampai sakit saat mendengarnya. Suaminya sendiri sampai kewalahan menenangkannya.
"Kak, kau diam dulu kenapa? Sakit kupingku mendengar tangisanmu. Ingat, kau lagi hamil. Nanti dedek bayi jadi ikutan cengek kek emaknya kalau udah lahir."
"Kau sama sekali tak pengertian. Aku lagi sedih bahagia kek gini. Malah disumpah-sumpahi."
"Siapa yang nyumpahin?"
"Itu apa namanya kalau bukan nyumpahi?"
"Sudah, sudah. Marta diam dulu ya. Kasihan itu Hanna masih sakit." Akhirnya suaminya melerai pertengkaran kami. Aku tersenyum penuh kemenangan. Sementara Marta memberengut sebal karena tak dibela. Akhirnya semenjak hari itu dia selalu menelepon minimal tiga kali sehari. Hanya untuk merecokiku untuk minum obat. Aku tersenyum sendiri mengingatnya.
Aku memandang ke arah sofa tempat Sura tengah berbaring. Sebenarnya aku merasa tak enak jika Sura tidur di sini. Tapi dia tak mau meninggalkanku sendiri. Padahal aku tidur sendiri pun juga tidak masalah. Ada dokter dan perawat yang siap siaga jika terjadi sesuatu.
Mereka juga selalu berkeliling setiap beberapa jam pada malam hari. Kalau-kalau ada pasien yang membutuhkan bantuan. Tapi Sura bersikeras untuk menginap. Dia tak memedulikan resiko apa nanti yang bisa terjadi jika dia dan aku kedapatan lagi sedang berduaan. Bukan hanya berduaan, jika publik tahu dia di sini saja sudah pasti menimbulkan keributan. Apalagi jika tahu aku dan dia hanya berdua dalam satu ruangan setiap malamnya. Bisa-bisa publik heboh dan menghujatku lagi.
Aku sudah capek meladeni omongan netizen. Tak membuka lagi media sosialku semenjak terkahir kali ponsel lamaku hilang, membuatku merasa lebih tenang. Memang benar kata orang, jika ingin mengistirahatkan mental. Berhenti memegang ponsel terlebih berselancar ke dunia maya. Aku hanya memegang ponsel untuk bermain game. Tak pernah membaca berita juga.
Aku juga tak tahu mengenai tanggapan publik terhadap kejadian yang menimpaku. Tentunya dunia tahu, karena saat kejadian wartawan meliput kerusuhan itu dan tentu saja berita menyebar kemana-mana baik di dalam maupun luar negeri.
Boss-ku bahkan juga berkunjung ke sini melihat keadaanku. Sekitar dua minggu setelah aku di rawat. Dia di temani Kevin dan beberapa orang dari perwakilan PBB di Indonesia datang ke kamarku. Reaksinya saat melihatku seperti biasa. Ia menatapku dengan sedih. Terus-terusan mendesah berat, prihatin melihatku yang selalu saja ditimpa masalah.
"Kau aku berikan izin cuti panjang. Kau mau berapa lama? Satu tahun? Dua tahun?"
"Kau mau memecatku boss?" Saat itu tak ada Sura di kamar. Dia ikut Bang Yanuar ke hotel untuk mengganti pakaian dan mandi. Karena semua pakaian yang dia bawa ke Rumah Sakit sudah kotor.
"Aku bilang memberimu cuti, bukan dipecat. Pikiranmu itu selalu saja negatif terus. Heran."
Aku hanya tertawa menanggapi boss-ku itu. Dia memang selalu pengertian kalau soal anak buahnya yang sakit atau tertimpa suatu kemalangan. Tapi kalau kami baik-baik saja, jangan harap dia akan berlaku seperti ini juga. Jiwa setannya akan kembali. Seenaknya menyuruh dan menindas kami dengan permintaan-permintaan konyolnya.
"Tapi apa itu tidak masalah? Bagaimana nanti dengan pekerjaanku."
"Tak masalah, aku akan menunjuk wakil pengganti sementara. Kesehatanmu lebih penting sekarang. Kau harus benar-benar pulih dan untuk pulih kau tak boleh memikirkan banyak hal. Setelah pulih kau baru nanti datang kembali padaku. Kursimu akan selalu kosong. Orang yang akan menggantikanmu hanya sebagai penjabat sementara.
Tentu saja kau akan tetap di gaji. Bagaimana pun, kau seperti ini saat menjalankan tugas. Kau bisa kembali dengan selamat saja sudah menjadi kabar baik bagi kami. Kami sangat terkejut saat mendengar laporan kerusuhan itu. Terlebih, kau yang seharusnya diberi perlindungan yang ketat malah sama sekali tak mendapatkan jaminan keselamatan."
Memang, saat kerusuhan itu terjadi. Semua berjalan dengan sangat cepat. Bukannya tak ada orang yang ditugaskan untuk menjagaku. Namun karena aku tak suka di kawal kemana-mana, saat itu aku bersikeras menyuruh mereka menunggu di tempat yang agak jauh dari ruang pertemuan. Sehingga saat pemberontak menyerbu masuk, mereka terlambat untuk menghalangi. Tapi mereka tak terlambat menyelamatkanku. Kalau mereka terlambat sedikit saja mungkin peluru lain juga akan ikut bersarang di tubuhku.
"Sudahku bilang jangan melamun. Kau selalu saja melamun." Aku kembali tersadar dari lamunan panjang yang entah sudah sampai kemana-mana.
"Iya, iya bawel. Semakin lama kau semakin bawel saja oppa."
"Kau memanggilku, ada apa?" Dia mengalihkan pembicaraan.
"Hmm. Apa kau tak mau pulang ke hotel?"
"Kau tak mau aku menginap di sini?" Dia balik bertanya padaku.
"Ya, aku merasa tak enak saja jika ada orang yang mengetahuimu menginap di sini. Kalau kau sampai ketahuan bagaimana?"
"Aku tak peduli dengan kata orang. Aku tak akan pergi kemanapun. Kau harus selalu berada di bawah pengawasanku. Aku akan pastikan itu." Dia berkata dengan tegas tak mau dibantah.
"Ya sudahlah." Aku diam sejenak.
"Hmm, oppa. Apa yang akan kau lakukan jika ternyata saat itu aku tak selamat?"
"Aku tak akan memaafkan diriku seumur hidup."
"Kenapa begitu? Itukan bukan salahmu."
"Memang bukan. Tapi aku merasa gagal karena tak bisa menjagamu." Bisikan lirihnya yang masih terdengar sampai di telingaku.
"Sudah, ayo kita tidur. Kau dilarang keras begadang."
"Iya bawel." Akupun segera menarik selimut dan menutupi wajahku. Kebiasaanku kalau susah tidur. Sebenarnya aku tak mengantuk sama sekali. Tapi untuk melanjutkan perdebatan tengah malam begini dengan Sura bukanlah pilihan yang bagus. Ia akan melakukan segala cara untuk membuatku tidur.
"Selamat tidur," ujarnya.
***