Aku berjalan di taman yang penuh dengan hamparan Bunga Putih. Sepertinya aku mengenal tempat ini. Bukankah ini tempat yang dulu aku mimpikan juga saat pernah bertemu dengan Ibu? Aku terus berjalan tak memedulikan kakiku yang luka-luka akibat menginjak tanah, kerikil, maupun reranting kayu yang tajam. Aku berjalan selama berhari-hari. Tak merasakan haus maupun lapar sama sekali. Meskipun lelah, aku terus berjalan. Berharap jika sampai di ujung, aku bisa bertemu dengan Ibu.
Tampak sebuah gerbang kuno berdiri kokoh dirambati oleh Mawar Putih. Aku mendekat. Semakin aku mendekat, semakin aku bisa melihat dengan jelas bahwa di sana ada sesosok wanita yang berdiri menanti. Setelah aku berada di jarak pandang yang cukup dengan mataku. Aku bisa melihat bahwa wanita itu adalah Ibu. Tak memedulikan kakiku yang berdarah-darah. Aku berlari, jatuh dan bangun kembali. Tapi semakin aku berlari, gerbang itu terasa semakin menjauh. Ibu hanya melihatku dengan tersenyum. Aku berusaha mengejarnya lebih kencang lagi.
Akhirnya aku bisa sampai di gerbang itu. Kini kakiku sudah mati rasa dan penuh dengan tanah bercampur darah. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah wanita yang kini berdiri dihadapanku.
Aku tersenyum lega melihatnya. Rasa rindu yang selama ini aku tahan serasa dibayar lunas saat melihatnya. Tapi kali ini Ibu tak berbicara apa-apa padaku. Dia hanya mengulurkan tangannya. Aku pun menyambut uluran tangan itu dan berjalan mengikutinya. Semakin aku berjalan masuk ke dalam gerbang itu. Suasana semakin gelap. Tapi aku tetap mengikuti Ibu yang berjalan lurus di sebelahku. Tiba-tiba saja aku mendengar teriakan seseorang memanggil namaku.
"Hanna.. Hanna." Aku mendengar suara laki-laki yang terdengar familiar. Sebenarnya beberapa hari ini aku sudah mendengar suara itu, tapi aku tak bisa lagi mengingat dimana pernah mendengarnya. Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Sebuah sileut seseorang terlihat tengah berdiri di gerbang. Dia terus memanggilku. Aku menatap Ibu. Ibu tersenyum padaku dan melepas tanganku. Mengisyaratkan padaku untuk pergi mengikuti suara yang memanggilku.
Aku tak mau tapi tubuhku berkata lain. Aku mendekati sumber suara itu. Saat sudah dekat aku terkejut melihatnya. Sura. Ternyata suara dia yang selama ini kudengar. Dia mengulurkan tangannya yang segera aku terima. Aku mengikutinya yang berjalan ke arah aku datang tadi dan tiba-tiba semua gelap.
Aku mengerjap silau berusaha untuk menyesuaikan mataku dengan keadaan sekitar. Hal yang pertama kali aku lihat adalah wajah kaget bercampur lega dari Sura. Aku melihat beberapa tetes air mata tampak membekas di wajahnya. Matanya juga tampak merah. Sementara tangannya menggenggam tanganku dengan erat, seolah tak ingin berpisah denganku sedikitpun. Apakah dia menangis? Kenapa dia menangis? Terlebih kenapa dia bisa ada di sini? Apakah aku masih bermimpi? Tapi ini tampak nyata sekali.
Akupun mengedarkan pandangannya dan mendapati Bang Yanuar dan istrinya menangis sesegukan. Sementara itu keponakanku tak terlihat. Aku kembali melihat Sura. Dia sepertinya masih terpana. Aku pun memanggilnya. Meskipun tenggorokanku rasanya kering sekali, aku memaksakan diri untuk mengeluarkan suara.
"Sura oppa." Kali ini dia benar-benar sadar dan langsung menghambur memelukku.
"Aku takut sekali. Aku takut kamu pergi. Kamu, kamu tadi pergi meninggalkan kami." Suaranya tercekat di sela tangisannya. Aku benar-benar kaget melihat dia menangis. Sama sekali tak sesuai dengan image-nya selama ini. Kalau saja tak memikirkannya yang seperti orang patah hati itu, mungkin aku sudah tertawa terbahak-bahak. Dia memelukku erat sekali. Tak memedulikan Bang Yanuar dan istrinya yang masih bingung dengan situasi yang mereka lihat.
"Abang." Panggilku. Dia langsung mendekat, memandangku dengan tidak percaya.
"Kamu benar-benar kembali, Na?" Bukannya tersenyum atau bagaimana dia malah ikutan menangis. Bahkan suara tangisannya terdengar seperti raungan anak kecil di telingaku. Istrinya memandangku dengan lega, kemudian sibuk menenangkan suaminya.
"Aku kira kamu pergi menyusul Ibu. Aku kira kamu juga akan meninggalkan kami. Marta sampai pingsan saat aku mengabari kau telah ...." Bang Yanuar tak meneruskan ucapannya. Tangisnya malah semakin kencang. Sementara Sura masih menangis memelukku.
Astagah, apa sih yang sebenarnya terjadi. Kenapa kedua laki-laki ini cengeng sekali. Aku mendengar suara pintu di buka dengan kasar. Aku menoleh ke pintu dan mendapati Manager setengah berlari menerjang masuk dan tampak kaget melihatku. Mulutnya menganga lebar seperti tengah melihat hantu.
Aku memandanginya dengan tatapan memohon dan dengan lemah menggerakkan tanganku menunjuk ke arah Sura. Mengisyaratkan supaya Manager segera menarik Sura sebelum dia membunuhku dengan pelukannya yang terlalu kencang itu. Aku merasa kesulitan bernafas.
Manager mendekat dan langsung menarik Sura. "Hanna-si kau hidup kembali?" ujarnya tak percaya. Aku menatapnya dengan heran.
"Memangnya aku sudah mati?" Aku balik bertanya.
"Kalau kau tak meninggal. Tak mungkin mereka menangis seperti anak kecil begitu." Manager melirik Sura dan bang Yanuar yang masih saja menangis.
"Astaga Bang. Bisa berhenti nangis nggak? Kepalaku pusing mendengarnya. Tangisanmu mengalah-ngalahi tangisan Tiara saja."
Bang Yanuar cemberut tapi menuruti keinginanku. "Aku akan panggilkan dokter dulu." Dia pun segera berlari keluar diikuti istrinya.
"Kau baik-baik saja?" Akhirnya Sura bisa menguasai diri. Dia menatapku lekat dengan mata yang menurutku sangat penuh dengan cinta, lega, bahagia. Entahlah bercampur aduk.
"Tentu saja. Aku baik-baik saja." Aku mencoba menggerakkan tanganku seperti biasa yang selalu aku lakukan jika mereka bertanya. Bukannya menjadi keren karena berusaha untuk terlihat kuat, aku malah terpekik merasakan ngilu di d**a sebelah kiriku.
"Kau baik-baik saja? Hati-hati, kau baru saja dioperasi. Mana yang sakit? Turunkan tanganmu pelan-pelan." Sura tampak panik sekali. Dia membantuku menurunkan tangan kembali ke atas kasur.
"Manager, mereka pada kesambet dimana sih?" Aku menatap Manager penuh tanya, sementara yang ditatap hanya bisa mengangkat bahu. Pasrah melihat sikap dua laki-laki yang menyayangiku itu. Begitu setidaknya pemikiranku.
Dokterpun masuk dan segera memeriksaku. Dia melakukan pengecekan berkali-kali untuk memastikan kondisiku. " Semua normal. Dengan istirahat yang cukup, dalam waktu dekat nona Hanna bisa pulih. Jangan banyak pikiran dan berhati-hati saat menggerakkan tanganmu. Pasti masih terasa ngilu. Kau baru saja menjalani operasi di area sekitar Jantung dan Ginjalmu." Aku mengangguk paham.
"Aku bersyukur sekali, anda bisa kembali nona. Ini benar-benar keajaiban. Anda masih diberikan kesempatan untuk menemui orang-orang yang mencintai Anda." Dokter mengerlingkan matanya ke arah Sura dan Bang Yanuar. Mereka berdua tampak sangat kacau.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya atau suster." Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Bang Yanuar mengantarkan dokter kembali ke pintu.
"Jadi sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Aku memandangi Sura.
"Sembilan hari." Suaranya terdengar nelangsa.
"Selama itu? Lalu berapa lama oppa dan manager di sini?"
"Delapan hari."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Manager juga, bagaimana dengan anak-anak?"
"Tenang saja Hanna. Semua sudah di atur. Untuk sementara anak-anak dibantu oleh Manager lain yang tak terlalu sibuk. Tapi aku harus kembali dalam waktu beberapa hari. Mereka ada jadwal di luar negeri. Aku tak mungkin membiarkan mereka pergi tanpa pengawasan."
"Apakah Sura Oppa juga akan ikut?"
"Tidak. Aku akan tetap di sini sampai kau sembuh. Aku tak akan pergi kemana-mana."
"Bagaimana dengan jadwalmu?"
"Semua jadwalku sudah di tunda untuk dua minggu ke depan. Kau tenang saja. Jangan mikirin apa-apa." Aku mendesah berat. Bagaimana mungkin aku tak memikirkan apa-apa. Pasti dia akan terkena penalti karena melanggar kontrak. Berapa kerugian yang harus dia bayar.
"Sudah kubilang jangan memikirkan apapun!" tegurnya. Aku mendengus sebal.
"Kalau aku nggak berfikir, berarti aku mati." Aku pun menutup mata, malas untuk meladeninya.
Sura hanya tersenyum melihat kelakuan Hanna. Gadisnya telah kembali. Artinya dia bisa lagi mendengar kebawelannya. Sekarang tujuan hidupnya sudah berubah. Dia akan melakukan apapun untuk Hanna. Dia tak peduli jika hal itu harus mengorbankan karirnya sekalipun, yang sebelumnya menjadi separuh tujuan hidupnya. Tapi Hanna mungkin tak akan senang jika dia bersikap seperti itu.
"Aku akan memperjuangkan semuanya. Termasuk kamu dan hubungan kita," gumam Sura.
"Kamu tidur?"
"Tidak." Hanna kembali membuka matanya. "Oppa tak mau mencuci muka dulu? Penampilanmu benar-benar berantakan sekali." Hanna tersenyum mengejek melihat Sura yang awut-awutan. Sura berdiri tapi tidak untuk mencuci muka. Dia mengambil gelas kosong dan menuangkan air ke dalamnya kemudian mendekat kembali pada Hanna. Membantu gadis itu duduk sembari menopang badannya dan menyodorkan minum. Hanna menerima dengan senang hati, tenggorokannya kering sekali dari tadi.
Setelah minum, ia membantu Hanna untuk berbaring kembali. Kemudian berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia kembali dengan wajah yang lebih segar. Kemudian duduk kembali di kursi sebelah tempat tidur Hanna.
"Oppa."
"Ya?"
"Apa tadi kau memanggilmu saat aku pergi? Apa selama ini kau mengajakku berbicara?"
"Apa kau mendengarnya?" Sura terlihat antusias. Hanna pun mengangguk.
"Apa ... apa oppa tak mau kehilanganku?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Hanna. Ia sangat penasaran, terlebih kalau diingat-ingat selama dia tak sadar. Ada banyak curhatan Sura yang dia dengar. Walaupun tak semuanya dia ingat.
"Aku tak mau kehilanganmu. Tentu saja. Semuanya tak ingin kehilanganmu. Makanya kamu nggak boleh pergi ya. Aku janji, aku akan melakukan apapun untukmu."
"Benarkah?"
"Iya, aku janji."
"Baiklah. Aku akan membuat daftar listnya dulu." Hanna tersenyum jahil pada Sura. Sementara Sura hanya mengelus-elus pucuk kepala Hanna dengan sayang.
'Aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tak memintaku pergi dari hidupmu' gumamnya dalam hati.
***