Aku tengah berada di pesawat menuju Indonesia. Manager memutuskan untuk ikut pergi menemaniku. Sebisa mungkin aku menyamar menjadi orang biasa. Mengubah total gayaku dan mengenakan pakaian tanpa merek yang sudah dibelikan oleh manager untuk menghindari kemungkinan ada orang yang mengenaliku, begitu juga dengan manager. Mau tidak mau dia juga harus menyamar. Imbas dari menjadi manager kami, banyak fans, awak media bahkan orang biasa yang mengenalinya juga.
Awalnya aku mengira akan sulit untuk mendapatkan izin dari CEO. Tapi ternyata dia mengizinkannya, terlebih kami dalam kondisi masa rehat tanpa kegiatan untuk satu minggu ke depan. Namun jika aku harus lebih lama lagi di Indonesia, beberapa jadwal juga sudah direvisi dan beberapa yang diundur juga harus membayar penalti. Aku tak peduli.
Awalnya aku juga sedikit ragu, apakah dia bakalan memberi izin setelah apa yang terjadi di pulau kemaren, yang membuat agensi kewalahan menghadapi fans dan wartawan yang menyerbu. Meskipun sepertinya Hanna tak merasakan dampak apa-apa dari berita itu, terbukti dia selamat sampai Indonesia.
Aku menduga-duga, mungkin dia tak melihat media sosialnya karena sepertinya dia jarang sekali memeriksanya sekarang. Atau mungkin tak pernah. Kenapa aku yakin? Karena semenjak di rumah dia tak pernah lagi membalas pesan kami. Dia terlihat sibuk dan bahkan juga postingannya semenjak pertama datang ke Indonesia di batasi bagian komentarnya.
Kenapa aku yakin juga? Karena yang memberikan komentar tak sebanyak biasanya. Hanya beberapa orang yang seperti nya adalah kenalan Hanna. Setelah itu dia sama sekali tak pernah meng-upload story ataupun postingan lagi.
Pikiranku terus berkelana seenaknya, menduga-duga dan tak jarang berfikiran negatif. Perasaanku sebenarnya sudah tidak enak semenjak pertama Hanna berangkat untuk kembali ke Indonesia. Aku merasa kepergiannya kali ini, akan memisahkan kami. Entah kenapa aku bisa berfikiran seperti itu? Semakin hari perasaanku semakin dalam pada Hanna dan semakin perasaanku dalam, pikiran negatifku juga semakin merajalela. Apa aku nyatakan saja perasaanku pada Hanna? Sebelum dia dimiliki oleh orang lain.
Jun hyung juga pernah memberiku nasehat: "Kalau kamu memang mencintai Hanna, ungkapkan saja. Aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama padamu. Meskipun sepertinya dia bahkan tak menyadari perasaannya itu. Dia terlalu cuek untuk urusan asmara."
"Bagaimana kalau ternyata dia tak menyukaiku?"
"Tak ada salahnya untuk mencoba terlebih dahulu. Cinta memang tak bisa dipaksakan, tapi siapa yang tahu, jika ternyata dia ternyata mencintaimu juga? Mungkin saja dia malu untuk menunjukkannya. Atau mungkin saja ada hal yang menghalanginya untuk memiliki perasaan itu."
"Aku masih ragu hyung. Apakah Hanna akan bisa menghadapi publik kalau semisal hubungan kami bisa naik menjadi tahap lebih dekat lagi. Aku tak tega melihat dia berulang kali ditimpa masalah. Bahkan beberapa kali sampai membahayakan nyawanya."
"Kau harus memercayai nya, Hanna bukanlah wanita lemah. Dia bisa berada di posisi dan karirnya sejauh itu,. karena dia adalah wanita kuat. Jika tidak, tak akan mungkin dia bisa menjadi wakil ketua bidang kemanusiaan. Pengalamannya menghadapi orang-orang mungkin jauh lebih baik dan lebih banyak daripada kita. Dia terbiasa menghadapi ancaman perang secara langsung yang sewaktu-waktu bisa membahayakan nyawanya."
"Hyung benar, dia adalah wanita kuat. Tapi kalau semisal dia memiliki laki-laki lain yang dia cintai bagaimana?"
"Aku rasa tak mungkin. Dia terlihat seperti orang yang belum bisa move on dari masa lalunya."
"Aku juga merasa seperti itu. Dia seperti hidup di dunianya sendiri. Terkungkung oleh jebakan kenangan masa lalunya."
"Untuk itulah kau harus mengatakan perasaanmu secepatnya. Yakinkan dia, bahwa kau akan mampu menjaganya, membantunya untuk melupakan masa lalu yang kelam dan pastinya akan menerima masa lalunya, seburuk apapun itu. Kau sendiri apakah akan sanggup menerima masa lalunya? Seburuk apapun itu?"
"Tentu saja. Aku tak peduli dengan masa lalunya. Itu adalah masa lalu. Setiap orang juga memiliki masa lalu. Dia tak bisa dihakimi berdasarkan masa lalunya." Aku berkata mantap. Jun hyung tersenyum lebar padaku.
***
Kami sampai di Indonesia sore hari. Langsung segera keluar bandara menggunakan taxi bandara. Hyung tak mau mengambil resiko lebih banyak, jika kami menunggu jemputan dari abangnya Hanna. Ya, lelaki yang mengangkat teleponku kemaren ternyata benar abangnya. Dia juga menawari untuk menjemput kami di bandara, tapi aku langsung menolak.
Sepanjang perjalanan aku terus melamun. Memori ingatanku berputar-putar mengingat kenangan antara aku dan Hanna. Mengingat banyaknya kejadian naas yang menimpanya setelah dekat dengan ku. Apa aku harus merelakannya? Sepertinya nyawanya selalu dalam bahaya saat publik mengetahui kami semua tengah dekat dengannya. Tapi aku juga tak rela harus putus komunikasi dengan Hanna. Aku belum siap. Bertahun-tahun aku menantikan pertemuan kembali dengannya. Aku tak akan melepaskannya begitu saja, hanya karena permasalahan ini.
Taxi yang kami tumpangi sampai di rumah sakit setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Aku dan manager langsung menuju kamar tempat Hanna dirawat setelah menanyakan lokasinya pada perawat yang lewat. Sepertinya dia tak mengenali kami dengan penampilan ini. Terbukti setelah dia menjelaskan lokasi kamar Hanna, kemudian langsung pamit untuk pergi.
Langkahku semakin ragu saat kamar yang dituju sudah terlihat. Hatiku semakin deg-degan mengingat sebentar lagi akan bertemu kembali dengan Hanna. Manager mengetuk pintu kamar sedikit pelan kemudian membukanya. Aku mengikuti langkahnya memasuki ruang VIP tersebut. Tampak ada seorang perempuan muda dan seorang laki-laki yang aku kenali sebagai abang sepupu dan iparnya. Aku masih mengingat wajah mereka yang secara tak sengaja dulu terekam saat aku vidio call dengan Hanna saat terjadi insiden di kebun binatang.
Aku mengedarkan pandangan dan mendapati Hanna terbaring lemah di atas ranjang. Banyak alat bantuan hidup yang dipasang di tubuhnya. Seketika hatiku langsung terasa sakit saat melihatnya. Aku benar-benar tak tega melihat dia terbaring lemah seperti itu. Wajahnya terlihat damai dalam tidur meskipun sangat pucat. Hening, hanya suara mesin penunjuk detak jantung yang tengah berbunyi.
Abangnya berdiri menyambut kami. Ia mengulurkan tangannya yang aku sambut dengan hangat. Matanya terlihat ketara sekali menunjukkan jika dia tengah bersedih. Mungkin dia takut kehilangan Hanna atau mungkin dia masih syok, baru satu bulan lalu harus kehilangan Ibunya sekarang Hanna juga terbaring lemah dengan kondisi seperti ini.
"Bagaimana perjalanannya?" Tanyanya berbasa-basi menggunakan bahasa Inggris.
"Lancar," ujarku singkat.
"Syukurlah. Silahkan duduk, kalian harus istirahat sejenak. Aku sudah pesankan kamar hotel dekat sini. Kami juga menginap di sana." Aku mengangguk sekilas kemudian mendekat ke arah ranjang. Mereka membiarkanku berdua dengan Hanna dengan menjaga jarak dan di sofa kamar itu. Berusaha memberikan ruang untukku dan Hanna agar bisa menghabiskan waktu berdua lebih banyak.
Aku menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wajah cantiknya tampak damai meskipun sangat pucat. Aku kemudian meraih tangannya dan duduk di kursi di sebelah tempat tidurnya. Aku tak berbicara apa-apa. Hanya memandanginya. Hatiku menangis melihatnya. Aku ingin menangis secara langsung, tapi takut dia akan ikut bersedih melihatnya. Meskipun sekarang dia tak bisa melihatku karena dia masih belum sadar. Tapi aku tahu, dia bisa merasakan keberadaanku. Aku berharap seperti itu.
"Aku kembali sayang," bisikku. Cepat bangun, aku akan selalu berada di sampingmu. Aku akan menjagamu. Aku rindu mendengar celotehanmu. Aku kangen melihat tingkah konyolmu bersama anak-anak. Kamu harus bangun, anak-anak sangat merindukanmu juga. Mereka ingin berkumpul lagi dan bertukar cerita denganmu. Jun hyung berjanji akan memasakkan makanan enak untukmu.
Rein juga berjanji akan membelikan buku. Jacop akan memperlihatkan tariannya secara langsung padamu. Vlo dan Jeimin ingin melakukan atraksi konyol untukmu. Jeno berjanji akan membelikan banyak cemilan untuk mu. Dan aku? Aku berjanji akan memberikan semuanya padamu. Aku akan berusaha untuk berubah. Aku akan berusaha untuk bersikap lebih hangat lagi padamu. Tapi kau harus berjanji untuk bangun, ya?" Aku terus berceloteh pada Hanna dalam bahasa Korea. Tak peduli dia mendengarkan atau tidak, aku yakin hatinya bisa mendengar.
Ini sudah hari kesembilan Hanna terbaring di rumah sakit. Dia belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Dokter pun juga meminta kami untuk lebih banyak berkomunikasi lagi dengan dia, berharap itu bisa sampai ke dalam hatinya. Semoga cara psikologis ini bisa membuat dia cepat sadar.
Aku menggenggam tangan Hanna. Wajahnya tampak tenang. Aku mengusap pucuk kepalanya dengan sayang.
"Hanna, kapan kamu akan bangun? Kamu nggak kangen melihat cahaya Matahari? Kamu nggak kangen bernyanyi bersama? Oh iya, kalau dipikir-pikir kita sudah lama sekali ya belum duet bareng lagi. Sebenarnya aku punya banyak lagu untukmu. Tapi aku ingin menunjukkannya nanti saja kepadamu. Jadi kamu bangun ya, nanti kita bernyanyi bersama.
Hanna, kamu ingat sadar nggak? Kalau dipikir-pikir, kita ini seperti pasangan frozen nggak sih. Kita saling mengerti tapi kita jarang berkomunikasi. Hubungan kita seperti ombak, pasang surut. Kadang kita selalu terlibat setiap saat, kadang kita berpisah untuk waktu yang lama. Tapi aku heran tak ada kecanggungan sedikititpun saat bersua kembali denganmu. Kita berpisah untuk waktu yang lama tapi saat kita bertemu kembali aku serasa seperti habis bertemu kemaren denganmu." Sura terus mengajak Hanna berbicara sembari menggenggam erat tangannya.
"Hanna, ada banyak hal yang ingin aku lakukan denganmu. Berjalan di tepi pantai sembari menggenggam tanganmu. Bermain piano dihadapanmu. Memasakkan makanan kesukaanmu. Menonton acara televisi denganmu. Pergi ke taman bermain. Melihat salju pertama bersama. Berfoto di bawah guguran daun musim gugur.
Masih banyak lagi yang inginku lakukan denganmu. Aku ingin egois dengan cara berada di sisimu setiap detik selama 24 jam. Aku tak ingin kau bekerja lagi. Aku hanya ingin kau berada di sisiku saja, tak usah kemana-mana. Aku tak ingin berpisah lagi denganmu. Aku akan menjagamu. Aku tak ingin ada satu orangpun yang mencelakaimu."
Sura membawa genggaman tangannya pada Hanna ke pipinya. Bunyi alat detak Jantung menginterupsi keheningan di antara mereka. Sura hanya berdua dengan Hanna sekarang. Abangnya sedang pergi begitu juga dengan manager. Tiba-tiba saja alat pendeteksi kehidupannya berbunyi keras, dan badan Hanna langsung menggelinjang seperti kejang-kejang. Sura yang panik langsung menekan bel memanggil dokter.
Dokter segera bergegas masuk dan melakukan pertolongan pada Hanna. Berkali-kali mencoba melakukan pertolongan melalui alat kejut Jantung, tapi yang ditolong tak memberikan respon apa-apa lagi. Alat pendeteksi kehidupan pun hanya menunjukkan garis lurus tak terlihat naik turun lagi.
"Nona Hanna, dinyatakan pergi akibat serangan jantung mendadak pukul 10.00 WIB. Semoga almarhumah tenang di sana."
Dokterpun menatap Sura yang memandang tak percaya. Dia hanya menepuk bahu Sura. "Saya turut berduka cita." Dia pun pergi meninggalkan ruangan sementara perawat mencabut semua alat bantu kehidupan. Bang Yanuar yang baru datang langsung syok melihat apa yang tengah terjadi.
"Hanna, apa yang terjadi dengan Hanna?" Dengan histeris dia mencengkram bahu perawat.
"Kenapa kalian membuka alat bantu kehidupannya?"
"Maafkan kami pak. Nona Hanna sudah pergi." Perawat memandang dengan penuh penyesalan kemudian berlalu pergi.
Sementara Sura masih setia terpaku di tempatnya. Ini tak mungkin. Hanna tak mungkin pergi begitu saja. Hanna tak mungkin meninggalkanku. Dia pun segera berlari ke arah Hanna berbaring dan menangis tersedu-sedu di ceruk leher Hanna sembari menggenggam tangannya.
"Hanna, kamu hanya tidur saja kan? Kamu bangun dong. Jangan pergi. Aku ... aku belum mengatakan apa-apa padamu. Kamu bangun, jangan mengerjaiku seperti ini. Aku mohon bangun ya.
Hanna. Kamu tahu, ini sama sekali tidak lucu. Kamu memang cantik saat tidur. Tapi kamu lebih cantik lagi saat bangun. Jadi bangun ya. Aku ingin memandang wajahmu saat tertawa lagi. Aku ingin melihat wajah kesalmu saat dikerjai. Aku ingin memelukmu saat kamu menangis. Aku ingin mendengar semua keluh kesahmu.
Jadi aku mohon bangun ya. Aku janji. Aku akan melakukan apapun untukmu. Tapi kamu harus bangun. Jangan tinggalkan aku seperti ini." Sura kembali menangis. Sementara Yanuar juga sesegukan sembari ditenangkan oleh istrinya. Dia pun keluar sepertinya akan menghubungi keluarganya.
"Hanna."
"Hanna."
"Hanna." Hanya itu sekarang yang keluar dari mulut Sura. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Terlebih tubuh gadisnya sudah mulai dingin. Apakah dia benar-benar pergi? Sura masih tidak percaya.
***