Aku benar-benar tak habis pikir dengan Lia, istrinya bang Nanda. Bisa-bisanya dia dengan tidak tahu malu memintaku untuk menjadi istri Nanda. Terlebih ustazah juga seperti mendesak dan memojokkanku. Membawa-bawa nama agama dan kemanusiaan lagi. Mereka pikir hatiku baik-baik saja apa selama ini? Mereka pikir apakah mudah untukku menata kembali hati setelah sekian lama?
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Berkali-kali mendesah kesal dan kemudian menatap ke luar jendela pesawat. Hari ini ada pertemuan di Papua. Kemaren malam aku langsung bertolak ke Papua yang harus transit dulu di Jakarta baru kemudian ke Makassar. Pagi ini pesawatku dari Makassar langsung berangkat menuju negeri Cendrawasih itu.
Ada permasalahan di salah satu negeri Cendrawasih ini. Negeri yang indah ini tengah memanas akibat adanya kelompok yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Mereka melakukan p*********n pada pos-pos keamanan. Bahkan beberapa warga sipil ikut menjadi korban tak bersalah. Aku iba dengan mereka sebenarnya. Mungkin penyebab mereka melakukan itu karena tidak melihat adanya kehangatan ketika bergabung dengan Indonesia. Bagaimanapun masyarakat etnik Papua masih banyak mendapatkan diskriminasi. Padahal saat dulu mereka juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Gara-gara permasalahan kemaren, aku sampai tak bisa berkonsentrasi sepanjang pertemuan. Berkali-kali aku didapati melamun.
"Jadi bagaimana bu?" Salah seorang anggota pemerhati HAM di sana menanyaiku. Aku yang masih bengong, dikejutkan oleh senggolan salah seorang yang menjadi sekretarisku selama pertemuan ini.
Aku mengerjap kaget dan langsung menatap mereka. Semua orang kini tengah menatapku, menantikan jawaban apa yang akan aku berikan.
"Menurut saya, permasalahan kali ini kita tak bisa terburu-buru untuk mengambil keputusan. Terlebih kita juga tak terlalu paham dengan situasi apa yang sebenarnya terjadi. Jika kita memandang secara fakta yang tampak saja, memang peristiwa kemarin sangat melanggar HAM dan tentu saja membahayakan sekali bagi masyarakat sipil.
Namun, kita juga perlu menyusuri apa penyebab mereka melakukan ini. Bagaimana pun, menurutku mereka juga masih menjadi bagian Indonesia. Mungkin, memang terkesan seolah melindungi mereka dan membenarkan perbuatan mereka. Tapi kita juga harus menempatkan diri di posisi mereka dan mencari tahu, apa sebenarnya tuntutan mereka. Apa tak ada cara lain selain pemusnahan? Apa mereka tak bisa untuk ditemui dan ditanyakan dulu perihal tuntutannya dan kemudian diajak bernegosiasi?"
Aku menatap para peserta rapat untuk menyatakan jawaban mereka. Beberapa orang tampak menghembuskan nafas berat.
"Bukannya kita tak pernah mencoba untuk melakukannya. Hanya saja perbedaan sudut pandang, acapkali membuat negosiasi berjalan terhambat dan berujung bentrok. Bahkan tak sering berakhir rusuh dan menyebabkan terjadi pertumpahan darah. Kami hanya tak ingin lagi ada korban di pihak tak bersalah. Menurut kami satu-satunya jalan terbaik adalah memusnahkan sebelum bertambah mengerikan." Salah satu peserta mengutarakan pendapatnya padaku.
Aku berfikir dalam hati. Apa benar kita ini sebenarnya ada pihak yang tak bersalah dan mereka adalah pihak yang bersalah? Aku sedikit pusing mendengarkannya. Acapkali kita terlalu sering menilai sesuatu tanpa berusaha untuk menempatkan diri kita sendiri di posisi mereka. Tapi aku juga tak bisa egois dengan mempertahan pendapatku.
Aku kembali menatap sekitar. Mereka terlihat saling melemparkan argumen. Aku hanya menyimak dan berusaha mencerna terlebih dahulu. Pikiranku mendadak buntu, tak bisa berkonsentrasi sama sekali.
Tiba-tiba terjadi keributan dari arah luar. Terdengar teriakan, tembakan senjata dan suara sepatu yang saling berlomba menggesek lantai. Aku kaget, semua berjalan dengan cepat. Benar-benar secepat kilat. Tiba-tiba pintu di buka akibat hantaman yang sangat keras. Lalu terdengar suara tembakan. Aku kaget, semua orang kelimpungan. Beberapa orang berusaha melindungiku. Tapi terlambat, sebuah peluru menyasar di perutku. Kemudian satu lagi menyasar tepat di atas jantungku. Aku langsung roboh seketika.
Aku masih bisa menatap sekitar, beberapa peserta lain juga tumbang, sebagian masih bisa berusaha keluar menyelamatkan diri. Terdengar jeritan panik dan terlihat darah dimana-mana. Perutku mendadak mual dan kepalaku pusing. Aku beristighfar dalam hati. Tuhan, apakah sekarang waktunya untuk pergi? Aku masih bisa mendengar tembakan dan langkah-langkah kaki kasar. Sepertinya aparat keamanan sudah datang. Mendadak semua menjadi gelap.
***
Perasaanku tidak enak sedari tadi. Sepertinya ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Tiba-tiba saja pikiranku melayang pada Hanna. Sudah satu bulan lebih aku putus kontak dengannya. Aku masih setia memantau media sosialnya, tapi dia hanya pernah update sekali kemudian sepertinya tak membukanya lagi karena tak ada satupun komentar balasan yang aku lihat.
Member yang lain juga tampak mencoba menghubunginya tapi percuma. Nomor ponselnya juga tidak aktif saat ku hubungi melalui aplikasi telepon, tapi aku belum mencoba menghubunginya secara langsung melalui telepon biasa, bahkan aplikasi chatnya juga cuma centang satu menandakan dia tak pernah membuka pesannya.
Aku mondar-mandir tak jelas di ruang latihan. Enggan untuk melanjutkan latihan menari. Jacop yang melihatku langsung berhenti menari dan mendekatiku.
"Ada apa hyung? Kenapa kau terlihat gelisah terus dari tadi? Apa kau masih memikirkan Hanna?"
"Entahlah, perasaanku tidak enak sejak tadi. Aku ... aku takut terjadi apa-apa padanya. Dia tak pernah lagi membalas pesan, bahkan dia tak membacanya sama sekali selama ini." Jacop menatapku dengan iba. Memang benar, hampir satu bulan ini aku selalu uring-uringan. Bahkan aku sering tak konsentrasi saat latihan. Meskipun aku berusaha mati-matian tak menunjukkannya saat bekerja. Pikiranku dipenuhi oleh Hanna.
"Coba saja untuk menghubunginya lewat telepon biasa. Mungkin dia akan mengangkatnya kali ini," saran Jun hyung padaku.
Biasanya aku akan menolak saran itu karena aku takut akan mengganggu Hanna. Sebenarnya aku mengetahui nomor teleponnya saat memakai ponselnya waktu itu. Nomor teleponnya dan nomor yang terdaftar di aplikasi berbeda. Aku tak pernah mencoba menelpon langsung. Tapi kali ini aku menurut saja. Beberapa kali menelpon tetap tak diangkat. Aku sampai putus asa. Aku mencoba sekali lagi dan kemudian diangkat.
"Hallo." Terdengar suara laki-laki di seberang. Aku merasa duniaku berhenti berputar. Apa Hanna benar-benar sudah menemukan tambatan hatinya? Pikiranku langsung melayang kemana-mana.
"Hallo. Ada apa ya?" Suara di seberang berbicara dalam bahasa Indonesia. Aku sedikit mengerti, karena secara diam-diam aku mulai belajar Bahasa Indonesia semenjak kembali bertemu Hanna untuk pertama kalinya di Korea.
"Hanna-si." Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku.
"Apa ini Sura?" Mendadak laki-laki itu mengubah bahasa menjadi bahasa Inggris meskipun suaranya terdengar ragu. Mungkin dia takut salah orang.
"Benar," jawabku cepat.
"Apa kau mencari Hanna?"
"Ia, apakah dia ada di sana? Aku tak bisa menghubungi nya." Lalu aku dengar suaranya tampak menghela nafas berat. Perasaanku tambah tidak enak.
"Hanna ada di sini," ujarnya.
"Apa aku bisa berbicara dengannya?" Aku sedikit ragu untuk mengucapkannya. Tapi aku harus melakukan ini, kalau memang laki-laki itu adalah pemilik hati Hanna, sekarang aku akan belajar untuk menerima. Hal terpenting bagiku adalah kebahagiaan Hanna. Meskipun bahagianya Hanna bukan berasal dariku. Aku akan merelakannya.
"Aku tak bisa memberikannya pada Hanna." Hatiku langsung mencelos. Aku sudah pasrah.
"Karena ... " ucapannya menjeda. Aku berfikir, mungkin karena dia tak suka Hanna aku ganggu.
"Karena Hanna sekarang belum siuman." Aku kaget setengah mati mendengar ucapannya. Ada apa dengan Hannaku? Apa aku salah dengar?
"Hanna kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya? Dimana dia sekarang?" Aku memberondongi laki-laki itu dengan banyak pertanyaan. Suaraku terdengar panik. Bahkan member lain ikut mendekat mendengar aku mengucapkan kalimat yang panjang seperti itu. Hal yang jarang aku lakukan.
Aku mendengar helaan nafasnya. "Hanna sekarang tengah dirawat di salah satu rumah sakit Jakarta. Kemaren dia tertembak sewaktu menghadiri pertemuan di Papua. Operasinya sudah dilakukan. Tapi dia belum sadar, bahkan dokter ragu apakah ia bisa bertahan. Bagaimanapun satu peluru berhasil merusak Ginjalnya dan membuat satu Ginjalnya harus diangkat. Satunya lagi nyaris mengenai Jantungnya. Meskipun operasinya berhasil, jika dalam tiga hari dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya."
Aku kaget mendengar penjelasannya. Duniaku benar-benar terasa berhenti. Hannaku tak boleh pergi secepat itu. Aku bisa merelakannya menjadi milik orang lain. Tapi aku tak bisa merelakannya jika dia harus meninggalkanku secepat itu. Dengan susah payah aku menelan ludah dan berkata: " Hanna dirawat dimana? Aku akan kesana."
"Apa kau yakin? Dunia akan gempar mengetahui kau di sini. " Sepertinya laki-laki itu mengetahui siapa aku. Aku masih penasaran dia itu siapa. Apa dia abangnya Hanna?
"Aku tak peduli. Aku akan mengambil tiket penerbangan tercepat ke Indonesia."
"Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu. Berhati-hatilah, aku yakin Hanna tak akan senang jika kau kenapa-napa." Sekarang aku yakin seratus persen jika laki-laki itu mengenalku.
Usai memutuskan sambungan, aku langsung berbicara pada manager yang kebetulan masuk ke ruangan latihan. "Hyung, aku ingin membatalkan seluruh jadwalku satu minggu ke depan. Entahlah, mungkin satu bulan ke depan."
"Kau bercanda?" Manager menatapku tak senang.
"Apa sesuatu benar-benar menimpa Hanna?" Rein menyela.
"Dia ... dia di rawat di Rumah sakit dan masih koma," ujarku lirih.
"Astaga. Apa yang terjadi pada Nuna?" Jeno menatapku.
"Dia kemaren tertembak." Tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulutku.
Manager segera bergegas keluar dan berjanji akan mengurus semuanya dengan CEO. Aku berharap bisa segera bertemu dengan Hanna. Gumam kekawatiran terdengar dari mulut anggotaku yang lain. Tapi aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan apa yang tengah mereka bicarakan. Pikiranku hanya fokus tertuju pada Hanna. Beberapa saat kemudian Manager masuk.
"Ayo berkemas. Aku sudah mengantongi izin. Beberapa jadwalmu bisa dimundurkan. Beberapa lagi juga bisa tapi harus membayar pinalti. Aku akan menemanimu ke Indonesia." Aku mendesah lega. Setelah berpamitan dengan member lain. Aku pun pergi ke dorm dengan manager. Diperjalanan aku memesan tiket untukku dan manager. Untungnya masih ada penerbangan malam ini.
"Tunggu aku. Aku tak akan membiarkan kau pergi kemanapun."
***