Sudah sebulan lebih aku berada di rumah. Banyak hal yang berubah semenjak aku pulang. Termasuk statusku kali ini. Entah bagaimana ceritanya, aku pun di minta untuk mengajar di Pondok tempatku bersekolah dulu. Ustad meminta ku untuk mengajar sementara waktu, mengabdi, agar adik-adik kelas bisa meniru jejakku, yang kini masih bekerja sebagai wakil ketua bidang Kemanusiaan di PBB.
Boss-ku juga sudah tahu. Dia sama sekali tak keberatan. Selama aku bisa selalu siap sedia untuk mengikuti pertemuan penting dan semua laporan ku kelar. Aku juga diminta untuk memantau perkembangan kasus kemanusiaan yang ada di Indonesia. Aku jadi tambah sering bolak-balik mengelilingi Indonesia
Perlahan, orang-orang mulai melupakan kenyataan bahwa aku pernah menjadi bagian dari Star One dahulunya. Isu-isu mengenaiku juga surut dengan sendirinya. Orang-orang yang aku temui juga perlahan tidak lagi mengungkit berita yang pernah beredar. Aku bersyukur. Tapi ada satu hal juga yang berubah. Aku juga putus kontak dengan Star One.
Sewaktu mengunjungi Indonesia Bagian Timur. Aku kehilangan ponsel, laptop dan semua barang penting lainnya saat di Bandara. Parahnya, aku tak bisa mengembalikan dataku, entah akun sosial ataupun nomorku. Aku juga enggan meminta tolong Kevin untuk mengembalikan. Alhasil aku tak pernah lagi bermain sosial media maupun membuat akun yang baru. Aku ingin menata hidupku kembali. Beristirahat dari dunia maya akan membantuku menata hati.
"Rana, Kamu baik-baik saja? Baru pagi seperti ini malah sudah bengong saja." Ustadzah Milda mengagetkanku. Salah satu hobi ku sekarang adalah bengong. Terlebih saat tidak ada aktifitas. Entah mengapa, aku merasa ada yang kurang semenjak kepulanganku ke Indonesia.
"Hehe, maaf Ustazah. Rana tadi hanya tengah memikirkan ulangan tengah semester yang harus diadakan minggu besok. Rana belum menyiapkan soal-soalnya."
" Kamu santai saja. Pelan-pelan saja mengerjakannya. Kalau butuh bantuan apa-apa bilang ya. Pokoknya nggak boleh dipendam sendiri."
"Siap, Ustazah." Aku tersenyum lebar.
"Kamu tidak ada kegiatan keluar kota minggu ini?" Semua orang di sekolah tahu jika aku sering keluar kota secara mendadak. Saat itu terjadi, aku harus melimpahkan tugas mengajarku pada guru lain ataupun pada anak-anak yang lebih senior.
"Sepertinya belum ada ustazah. Belum ada pemberitahuan."
"Kalau begitu kamu sibuk nggak akhir pekan, Sabtu?"
"Insya Allah tidak, Ustazah. Kenapa memangnya?"
"Mau temani Ustazah untuk menemui seseorang nggak?"
"Hmm. Boleh, jam berapa dan dimana?"
"Jam 14.00 di Cafe Taruko."
"Baik ustazah. Nanti Hanna akan mengosongkan jadwal."
"Terimakasih ya." Aku mengangguk dan tersenyum. Ustadzah Milda berlalu meninggalkanku. Aku menyibukkan diri dengan membuat soal untuk UTS. Bagaimana pun, lebih baik menyicilnya daripada membiarkan menumpuk dan dikerjakan saat sudah mepet deadline.
Pada saat tengah mengerjakan, tiba-tiba aku mendengar samar suara lagu Star One. Suaranya berasal dari sound sistem di salah satu rumah warga disekitar pondok. Hatiku langsung berdetak cepat. Aku langsung teringat Sura.
"Apa kabarnya? Kalau boleh jujur, aku mungkin merindukannya sekarang. Padahal kami baru satu bulan lebih belum bertemu. Tapi aku sudah putus komunikasi sama sekali dengannya. Aku juga jarang menonton berita. Jadi tidak tahu perkembangannya.
Baru saja aku ingin membuka hati untuk Sura. Semua mendadak berubah dengan cepat. Aku harus kehilangan komunikasi dengannya. Di rumah juga, semua orang sibuk menjodoh-jodohkanku terlebih kakek-kakekku. Apalagi mereka tahu, semenjak kepergian bibi artinya tak ada lagi orang tua yang akan menjagaku. Bang Yanuar tak mungkin menjadi waliku. Meskipun kami keluarga tapi kami bukanlah Mahram. Jadi aku juga tak mungkin untuk selama nya tinggal dengannya. Tak baik dipandang.
Begitulah katanya, meskipun Bang Yanuar sudah menganggapku sebagai adik kandung sendiri. Dan dia sama sekali tak mempermasalahkan status kami. Begitupun aku. Tapi tetap saja di mata agama tak etis, jika aku seorang gadis muda tinggal di rumahnya. Meskipun ada anak dan istrinya. Tapi tak ada lagi orang yang lebih tua sekarang.
"Apa kabar kalian, oppa? Aku kangen bertemu dan bercanda dengan kalian. Di sini, aku merasa kosong. Sibuk menjadi seorang tenaga pendidik tak membuatku mudah untuk melupakan kesepianku. Aku juga belum bisa kembali, meskipun sejujurnya ingin sekali. Aku harus menahan-nahan hati. Aku juga semakin sering berkonsultasi dengan psikiaterku melalui video call. Selain itu, aku juga rutin mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan. Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan kewarasanku.
***
Sabtu aku menepati janji untuk menemani Ustazah Milda. Kami bertemu di area parkir sebelum sama-sama masuk untuk menemui orang yang ingin dia temui.
"Nah, itu dia," ujarnya sembari menunjuk seseorang, yang nyaris membuat Jantungku melompat dari tempatnya karena kaget melihatnya. Dia adalah istri Bang Nanda. Ada apa ini? Mengapa Ustazah Milda mau aku menemaninya menemui dia. Padahal dia sendiri tahu, hubungan kami sama sekali tak baik.
Aku masih berdiri kaku beberapa saat. Ustadzah Milda mengamit tanganku untuk berjalan menuju meja tempat istri Bang Nanda duduk.
"Assalamualaikum, sudah lama menunggu Lia?"
"Waalaikumsalam, tidak kok uni. Aku juga barusan sampai." Mereka saling berjabat tangan. Aku sebenarnya enggan, tapi juga ikut berjabat tangan. Dia memandangku dengan senyum yang tak bisa kuartikan.
"Jadi begini, Na. Sebenarnya tujuan Ustazah untuk mengajakmu kali ini. Lia ingin meminta bantuanmu." Tanpa basa-basi ustazah Milda langsung menyampaikan maksud dari pertemuan kami.
"Bantuan apa ustadzah?" Aku sama sekali tak melirik Lia dari tadi. Dia tampak gelisah dan juga lebih pucat dari biasanya.
"Hanna." Tiba-tiba dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku bisa merasakan dingin tangannya. Dia seperti orang sakit.
"Aku, aku minta maaf untuk perlakuanku padamu selama ini. Aku, tak sepantasnya melakukan semua itu padamu." Aku hanya diam. Ustadzah Milda memandangiku, aku memandanginya balik.
Aku kemudian menarik nafas berat. "Sudah aku maafkan uni. Semua sudah berlalu juga. Tak ada yang perlu didendamkan lagi."
"Benarkah? Syukurlah. Wajahnya tampak lega.
"Aku, Aku.." Dia tampak ragu-ragu untuk berbicara. "Aku sebenarnya ingin meminta bantuanmu."
"Bantuan apa uni?" Aku memandanginya penuh arti. Ada apa gerangan dia sampai mau menemuiku dan meminta maaf dan sekarang sampai meminta bantuanku?
"Aku.." Dia ragu-ragu untuk mengucapkannya. Wajahnya tampak pucat. Kemudian dia tiba-tiba bersimpuh di lantai. Aku kaget sekali. Untung saja tak ada orang yang bisa melihat kami, karena kami duduk di meja pojok yang terhalang sebuah pot besar.
"Aku mohon." Dia memegang kedua tanganku dan meletakannya di atas kepalanya, menunduk padaku.
"Aku mohon, menikahlah dengan Bang Nanda."
Jedar, aku merasa seperti disambar petir di siang bolong. Permintaan Konyol apa yang dia ajukan padaku. Di antara semua hal yang sudah kuduga-duga. Aku sama sekali tak menyangka dia akan mengucapkan itu. Apa dia sudah gila? Aku langsung menarik tanganku.
"Apa maksud uni?"
"Aku, aku tak bisa hidup lebih lama lagi di dunia ini. Aku mengidap penyakit kanker tulang stadium akhir. Dokter bilang umurku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Aku tak ingin Bang Nanda sendiri setelah aku tinggalkan. Aku ...." Dia tak meneruskan ucapannya.
Aku memandangnya tak percaya. Aku ikut sedih mendengar penyakitnya, tapi aku sama sekali tak berminat mendengarkan permintaannya. Bagaimana mungkin, setelah semua hal yang dia lakukan padaku. Kini dengan kurang ajarnya dia memintaku untuk menikah dengan Bang Nanda. Apa dia pikir hatiku mudah sekali untuk disembuhkan?
Aku segera menarik tangan yang dia genggam. Aku kemudian berdiri. "Maaf uni, aku tak bisa mengabulkan permintaan uni. Aku pamit dulu."
Ustadzah Milda menahan tanganku. "Tenang dulu Hanna. Semua bisa dibicarakan dengan kepala dingin."
"Maaf Ustazah, aku sudah berbicara dengan kepala dingin. Kalau tidak, sudah dari tadi aku pergi."
"Hanna, duduk dulu." Akupun menurutinya.
"Hanna, aku tahu ini semua tak mudah bagimu. Tapi tolonglah pikirkan lagi. Kasihan anak-anaknya Lia kalau sampai nanti mereka harus kehilangan ibunya di usia belia. Mereka masih membutuhkan bimbingan dari ibunya."
"Ya, aku juga tahu Ustazah. Umur tak ada yang tahu. Harusnya Ustazah sendiri paham. Kita tak boleh berburuk sangka pada Allah. Ini malah percaya pada dokter dibanding sama Allah. Harusnya kita malu sebagai seorang pendidik." Aku berbicara tanpa basa-basi. Kulihat wajah Ustadzah Milda tampak memerah mendengar sindiranku.
"Hanna, aku paham. Aku mengaku salah untuk hal itu. Tapi tidak kah kamu bisa memikirkannya lagi. Kita juga harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya." Dia masih tampak berusaha membujukku.
"Kenapa? Kenapa harus aku di antara jutaan wanita?" Aku memandang mereka.
"Karena dari dulu sampai sekarang Bang Nanda masih mencintaimu," ujar Lia yang terdengar seperti keluhan ditelingaku.
"Tapi maaf, aku tak mencintainya lagi. Sejak saat dia meninggalkanku."
"Kau bisa mencobanya lagi, Na. Cinta datang karena terbiasa," ujar Ustadzah Milda. Aku memandanginya dengan kesal. Dari tadi ucapannya seperti memojokkanku terus.
"Maaf, aku tak akan memungut lagi sampah yang sudah kubuang," ucapku kasar. Ustadzah Milda sedikit kaget mendengar ucapanku. Sementara Lia mukanya merah padam.
"Hanna." Ustadzah Milda menggeleng-geleng tak percaya.
"Maaf Ustazah. Bukannya Hanna durhaka atau bagaimana pada Guru. Tapi kali ini Hanna benar-benar tak bisa terima permintaan konyol ini. Harusnya Ustazah lebih paham dari siapapun lukaku. Luka yang bahkan sampai sekarangpun masih menganga di hatiku. Aku sudah mulai belajar ikhlas dengan hidupku beberapa waktu belakangan ini. Jangan rusak semuanya dengan permintaan konyol yang tak berperasaan seperti ini.
Lagi pula, perlu aku kasih tahu. Sudah ada seseorang yang mengisi hatiku sekarang. Entah benar atau tidak. Aku hanya akan berdoa pada Allah di sepertiga malam, semoga dia adalah jodohku. Dia adalah laki-laki yang berusaha keras menyembuhkan lukaku. Dia yang sabar merawat luka itu. Jadi aku tak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku berterima kasih dengan pertemuan ini. Setidaknya, dengannya aku bisa mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Permisi."
Tanpa menunggu jawaban mereka. Aku pun langsung pergi meninggalkan Restoran. Sepanjang perjalanan berkali-kali aku memukul stir mobil dengan kesal. Tiba-tiba ponselku berbunyi, telepon dari pusat.
"Ya boss?"
"Kau dimana?"
"Lagi di jalan. Kenapa?"
"Aku sudah menyiapkan tiket. Sekarang kau berangkat ke Papua. Kau harus menghadiri pertemuan darurat di sana." Dia langsung memutuskan telepon. Aku memberhentikan mobil dan melihat email masuk. "Penerbangan jam 19.00," gumamku. Segera saja kupacu kendaraanku menuju rumah. Aku perlu mempersiapkan beberapa baju untuk kubawa selama pertemuan di sana beberapa hari.
***