Aku terbangun keesokan harinya dengan perasaan yang lebih baik. Kali ini benar-benar lebih baik. Tubuhku terasa ringan dan tak ada lagi rasa mual ataupun pusing. Hanya telapak tanganku yang masih berdenyut parah akibat kejadian semalam. Tolong ingatkan aku untuk mengintrogasi seseorang mengenai siapa dalang dari kejadian semalam. Aku tak mendapati lagi Sura Oppa disampingku. Sepertinya dia sudah terlebih dahulu bangun. Aku pun ikut bangun dan pergi untuk mencuci muka atau mungkin mandi.
"Kau sudah baikan, nuna? Jeno mengagetkanku.
"Tentu." Aku terus berjalan karena tak suka jika ada yang melihatku sebelum mencuci muka. Nyaris saja aku terjungkal karena tidak melihat ada akar kayu yang menyembul di pasir. Seseorang dengan sigap memegang lenganku.
"Nggak usah lari-lari. Sarapannya nggak akan habis meskipun kau telat sedikit. Bagaimana keadaan tanganmu?" Suara Sura oppa terdengar jelas di telingaku. Tanpa memandangnya lagi, aku langsung berlari ke kamar mandi. Melupakan peringatannya tadi. Sura hanya menggeleng heran melihat tingkahku yang kadang abstrak itu.
Aku mandi dan menyegarkan diri. Berusaha untuk lebih berhati-hati karena kondisi tanganku yang terluka. Perasaanku menjadi jauh lebih baik. Aku menerawang memikirkan mimpiku semalam. Apa harus aku menerima Sura dan membuka perasaanku? Bukannya aku geer. Tapi aku tahu jika Sura menyimpan rasa padaku. Sudah terlalu banyak tanda-tanda yang dia tinggalkan.
Aku kaget ketika mendengar ada gedoran di pintu kamar mandi. "Hanna-si, kau tak pingsan di dalam kamar mandi, kan?" Itu suara Jun oppa.
"Tenang saja. Aku baik-baik saja." Buru-buru aku segera memakai baju, melupakan telapak tanganku yang terluka dan kemudian keluar kamar mandi. Jun menyidikku dari atas hingga ke bawah kaki. Memastikan apakah ucapanku benar atau hanya akal-akalanku saja.
"Aku benaran nggak pingsan di kamar mandi, oppa."
"Habis, kau lama sekali di dalam. Aku sudah bolak-balik dari tadi mengecek. Tapi kugedor pun kau diam saja. Aku kira kau sedang apa awalnya. Makanya aku tak menggedor lebih lanjut."
"Benarkah? Maaf, aku tak mendengarnya." Berarti aku melamun cukup lama di kamar mandi.
"Lain kali jangan melamun lagi di kamar mandi. Kita harus segera memulai syuting. Sutradara tiba-tiba menginginkan langit pagi ini untuk syuting. Kita harus melupakan sarapan pagi untuk kali ini."
"Siap boss." Aku pun berjalan mengikuti Jun oppa. Singgah sebentar ke tenda dan kemudian menuju lokasi syuting. Sebenarnya aku pengen sarapan dulu. Tapi karena sudah tidak sempat lagi. Akhirnya aku pun mencoba menahan lapar saja. Benar saja, saat kami sampai di bibir pantai, semua kru sudah bersiapa di posisi masing-masing. Sutradara langsung menginteruksikan stylish nuuna untuk mendandaniku, menyuruhku berganti pakaian dan menyembunyikan luka telapak tanganku dengan sebaik mungkin. Aku hanya menurut saja. Aku tak mendapati lagi keberadaan keluarga Sura, sepetinya mereka sudah pulang.
"Hanna, coba kau berdiri di sana. Sepertinya kau harus mengulang adegan dengan Jeimin." Aku pun mengikuti instruksi Sutradara.
"Hanna, coba berdiri agak minggir."
"Hanna, coba pegang tangan Sura."
"Hanna, coba tertawa lebih lepas lagi."
"Hanna, coba berjalan lebih pelan."
"Hanna, Hanna, Hanna." Astaga, aku sampai pusing mendengar instruksinya. Akhirnya setelah 3 jam syuting pagi itu kelar.
Aku segera berlari ke arah kursi santai. Melihat ada Kelapa Muda yang entah datang dari mana, langsung saja aku meneguknya sampai habis. Tenggorokanku benar-benar kering.
"Ya... Nuna. Itu kan punyaku. Jeno bersungut-sungut sebal." Dia berkacak pinggang melihat kelakuanku.
"Mianne, aku kira bukan punyamu." Aku hanya nyengir.
"Punya nuna kan yang itu." Jeno menunjuk gelas berisi es kelapa.
"Ih, nggak mau. Buat kamu aja. Kelapa itu lebih enak diminum langsung."
"Astagah. Padahal Sura Oppa sudah capek-capek mengerok dagingnya." Jeno menepuk jidatnya sendiri mendapati kelakuan absrud-ku.
"Iya kah?" Aku menatap Sura oppa dengan perasaan bersalah.
"Nggak apa-apa. Lain kali aku nggak akan mengerok nya lagi."
"Ya, oppa jangan ngambek gitu donk. Sini aku bantu mengerok punyamu juga." Aku berjalan ke arahnya. Tapi Sura memegang erat Kelapanya dan langsung meminumnya langsung sampai tersedak.
"Ya, hati-hati dong. Kalau sampai pingsan gegara keselak gimana?" Aku mengomel-ngomel sembari menepuk keras punggungnya.
"Ya nanti tinggal kasih nafas buatan." Aku langsung menepuk punggungnya dengan keras. Makin lama dia makin absurd. Sementara yang dipukul hanya tersenyum miring.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung mengangkatnya. Telepon dari Bang Yanuar. Perasaanku tidak enak. Terlebih melihat ternyata ada banyak panggilan tak terjawab darinya. Aku menjauh untuk mencari tempat yang lebih sepi.
"Assalamualaikum bang, ada apa?"
"Waalaikumsalam. Bagaimana kabar mu, Na? Sehat?" Suaranya terdengar serak, seperti orang habis menangis.
"Alhamdulillah sehat, abang dan keluarga bagaimana?"
"Alhamdulillah sehat juga." Sejenak tak ada yang berbicara. Perasaanku tambah tidak enak. Bang Yanuar menarik nafas berat.
"Ada apa bang? Apa terjadi sesuatu?"
"Mama .... " Bang Yanuar tak melanjutkan ucapannya.
"Ada apa dengan bibi?" Perasaanku semakin tidak enak.
"Bibi sudah pergi, Na. Tadi Subuh." Badanku langsung kaku. Aku bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Membiarkan ponselku masih tersambung dan tanganku mengawang. Pikiranku langsung melayang seketika, mendadak otakku nge-bug.
"Na, kamu masih di sana?"
"Hanna pulang bang, dengan pesawat tercepat. Tapi Hanna minta, langsung kebumikan bibi. Jangan menunggu Hanna," ujarku tak mengindahkan pertanyaannya.
"Iya, Na. Kamu hati-hati ya."
"Abang juga, sabar ya bang. Bibi sekarang sudah tenang."
"Iya." Dia pun kemudian mematikan ponselnya.
Aku bergegas berjalan menuju sutradara yang tengah bersiap mengambil syuting selanjutnya.
"Ada apa Hanna? Kenapa mukamu pucat sekali? Apa tanganmu sakit lagi?"
"Sutradara, aku rasa, aku tak bisa melanjutkan syuting kali ini. Aku minta maaf." Aku menunduk penuh penyesalan.
"Kenapa? Pasti ada alasannya kan?" Sutradara masih sibuk dengan kameranya.
"Aku harus pulang."
"Pulang? Situasi masih kurang baik untuk pulang, Na. Pasti di apartemenmu sekarang masih banyak wartawan dan fans. Terlebih setelah kejadian tadi malam. Aku yakin publik juga sudah tahu."
"Bukan, aku harus pulang ke Indonesia."
"Kenapa tiba-tiba?" Sutradara yang semula masih memeriksa letak kameranya langsung mengalihkan perhatian sepenuhnya padaku.
"Bibi saya meninggal. Dia orang tua satu-satunya bagi saya sekarang. Saya harus pulang."
"Astaga, saya turut berduka cita. Baiklah, kau bisa pulang. Syuting untuk bagianmu bisa ditunda."
"Aku rasa tidak perlu Sutradara. Anda bisa mencari penggantiku."
"Kenapa? Kau tidak mau kembali lagi?" Sutradara terlihat kecewa.
"Entahlah. Hanya saja, aku rasa kepulanganku kali ini, akan sulit bagiku untuk kembali. Aku tak ingin membuat anda lebih kecewa lagi, jika nanti tak bisa menepati janji."
"Baiklah. Aku akan tetap menunggumu sampai batas waktunya nanti. Kau kabari saja aku kepastiannya."
"Terimakasih, Sutradara." Sekali lagi aku membungkuk hormat dan segera pergi. Sutradara menatap punggungku yang menjauh darinya dengan sedih. Entahlah, mungkin karena terlalu banyak beban yang aku pikul akhir-akhir ini.
Aku menemui manager Han agar meminta seseorang mengantarkanku dengan perahu. Air mata yang sedari tadi aku tahan sebenarnya sudah ingin meledak. Tapi aku masih menahannya.
Kehilangan Bibi sama saja seperti kehilangan ibu bagiku. Setelah kepergian ibu, bibi adalah orang tua pengganti bagiku. Sekarang bibi juga pergi. Aku tak punya orang tua lagi.
"Hanna, ada apa? Kenapa kau buru-buru seperti itu?" Akupun menceritakan sekilas pada Manager Han. Dia kaget dan kemudian mengusap pundakku, memintaku untuk bersabar.
"Baiklah. Aku akan meminta Kapten Kapal untuk mengantarmu. Aku juga akan menghubungi seseorang untuk mengantarmu kembali ke Seoul.
"Tak perlu. Aku yang akan mengantarnya." Sura tiba-tiba muncul. Dia mendengar pembicaraan kami.
"Sura, kau jangan gegabah." Manager Han tampak tak senang.
"Aku tak peduli."
"Sura,_"
"Manager benar, oppa. Kau tak boleh gegabah. Aku baik-baik saja meskipun sendiri."
"Kau tak sedang baik-baik saja!" tegasnya.
"Aku baik-baik saja!" ucapku tak kalah tegas. Tapi air mataku malah pecah menunjukkan jika aku kini tengah tak berada dalam kondisi baik-baik saja. Aku tak kuasa lagi menahannya. Hatiku benar-benar perih. Terasa kosong sekali. Sura membawaku dalam pelukannya.
"Baik lah, kalau kau bersikeras. Aku akan meminta tolong Hyung untung menjemputmu di seberang dan mengantarkan ke Seoul. Itu akan lebih cepat dibanding kau naik kendaraan umum. Kau tak boleh menolak lagi untuk kali ini."
"Baiklah." Aku hanya mengangguk pasrah. Kemudian aku pun bergegas pamit seperlunya pada semua orang dan langsung naik Kapal. Sura menatapku tak berkedip sampai Kapal menjauh. Aku juga melakukan hal yang sama.
"Akankah kita bertemu kembali? Kalau memang jodoh, aku yakin Tuhan punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita," gumamku.
"Kau boleh pergi sejauh mungkin, tapi aku akan terus mengejarmu. Aku berharap pada Tuhan, bahwa kau adalah jodohku," ucap Sura dari seberang.
Saat aku sampai di seberang, abangnya Sura sudah menunggu. Ia hanya bertanya beberapa kali padaku sekedar berbasa-basi. Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Menatap jalanan yang kami lewati. Pikiranku melayang kemana-mana. Semua memori mendadak berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku ingin menangis tapi air mataku rasanya sudah kering.
"Hanna-si, kita sudah sampai." Aku kaget saat abangnya Sura menepuk pelan bahuku. Aku langsung melihat kesekeliling. Benar saja, kami sudah sampai di Bandara Internasional Incheon. Aku pun keluar mobil diikuti oleh abangnya Sura.
"Terimakasih, oppa. Terimakasih sudah mau mengantarkanku." Aku membungkuk hormat.
"Tak masalah. Kau yakin baik-baik saja?" Dia menatapku khawatir. Aku hanya mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam bandara dan bergegas check-in. Untung saja Ae ri membantuku mendapatkan tiket. Dia meneleponku ketika aku masih berada di atas kapal. Dia sangat kaget mengetahui kejadian yang menimpaku di pulau. Dia lebih kaget lagi saat mendengar aku akan pulang ke Indonesia karena bibi meninggal. Awalnya dia memaksa untuk ikut, tapi aku berhasil meyakinkan dia bahwa semua baik-baik saja. Ia pun akhirnya mengalah. Aku juga melarangnya menemuiku di bandara.
Aku mengeluarkan ponsel kemudian memotret plang petunjuk arah di bandara. Kemudian membuat postingan;
'Sayap-sayapku sudah patah seutuhnya. Akankah aku bisa terbang kembali atau kah aku akan merangkak saja di bumi? Aku pulang, bukan untuk menyembuhkan hati. Tapi untuk menyambut luka yang lebih besar lagi. Bagaimana pun aku mencoba bertahan, tapi aku tak sekuat itu. Kini beberapa bagian hatiku sudah dibawa pergi oleh seseorang yang sempat menggantikan posisi Ibuku. Tapi aku tak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya. Semoga Tuhan menempatkan di Surga.'
Postinganku langsung mendapat banyak like dan komentar.
"Hanna, yang sabar ya. Aku turut berduka cita." Putri teman pondokku berkomentar, sepertinya dia sudah tahu mengenai kepergian bibi.
"Kak, kamu kenapa?"
"Kak, apakah ini tentang Sura oppa? Ataukah tentang kejarian kemaren?"
"Kak, kami melihat berita. Katanya ada yang menyerangmu saat di Pulau. Kami sangat mengutuk keras kejadian itu. Apa kau baik-baik saja?"
"Eounni, kau pergi meninggalkan Korea? Lalu bagaimana dengan Sura oppa?"
Aku mematikan ponselku karena pesawat bersiap untuk lepas landas. Aku memandangi keluar, menatap awan putih yang disiram oleh cahaya Matahari. Kalau saja ini penerbangan biasa, mungkin aku akan dengan senang hati melontarkan kalimat tasbih. Tapi sekarang pemandangan secantik itu sama sekali tak menarik bagiku. Air mataku kembali luruh. Aku sekuat mungkin berusaha menahan agar tetangga sebelahku tak terganggu. Mendadak perjalanan Korea-Indonesia terasa sangat lambat. Terlebih aku tak bisa tidur sama sekali.
***